
Noah yang baru bangun tidur terkejut dengan pemandangan yang waw di lihat, istrinya sedang menyusui dan banyak tanda merah hasil ukiran nya semalam.
Suara tawa Noah terdengar nyaring dan membuat anaknya takut dan menangis seketika. Naomi menatap tajam sang suami, kenapa ia tega membangunkan putranya padahal ia ingin menidurkan sang putra lebih dulu sebab ingin membersihkan diri dan menutupi bekas karya Noah.
"Mas..." Naomi yang marah langsung memberikan sang putra pada papanya.
"Eehh... dia menangis kenapa tidak kamu diamkan dulu Aydin?" penuh kebinggungan.
"Dia sudah diam di pelukan kamu, jadi mas harus tanggung jawab aku mau mandi dulu!" pergi meninggalkan Noah dan putranya.
Noah meratapi kesedihan ulahnya sendiri, tau begini pasti ia tidak tertawa kencang dan mandi bersama pastinya pagi ini. Noah merasakan ada yang aneh di lengannya kenapa hangat rasanya.
"Aydin, kamu ngompol ya." Menciumi wajah Aydin dengan gemas. Sedangkan Aydin sudah merasa tidak nyaman dan bergerak terus mau tidak mau Noah menggantikan popok meski ia agak binggung memasang popok seperti ini.
Naomi yang baru selesai mandi langsung mengambil pakaian di dalam ruang pakaian dan langsung mengenakannya dari pada ia di lahap lagi oleh suaminya. Setelah itu Naomi langsung mendekati sang suami dan anaknya.
"Mas... celana kamu basah, Aydin ayo mandi dulu ya." Naomi membawa Aydin turun ke lantai satu.
Seperti biasa Aydin langsung di mandikan air hangat seperti kemarin oleh salah satu pekerja rumah ini.
__ADS_1
"Aku bisa sebenarnya memandikan Aydin sendiri, buktinya selama tinggal di perkebunan aku bisa. Kenapa sejak di sini aku di perlakukan seperti ini, ha...h apa orang kaya semua seperti ini?"
Naomi kembali naik ke atas mengambil perlengkapan bayinya. Noah yang sudah rapi dengan pakaian casualnya.
DDRETT...
DDRETT....
Noah menyambar ponselnya.
"Hallo ada apa?"
"Naomi kamu di sini ya, saya mau ke kebun terlebih dahulu ada masalah." Mencium dan memeluk sang istri.
"Hati-hati mas," saat Noah melepas pagutan pada bibir nya.
2 hari kemudian.
Shandra yang melihat cucu menantunya tidak bahagia langsung menghampiri.
__ADS_1
"Sedang memikirkan anak nakal itu, Naomi grandma ingatkan tidak baik seorang ibu menyusui banyak berpikir negatif, kasihan baby Aydin jika ibunya banyak pikiran." Shandra menyentuh pipi Aydin.
"Iya grandma," jawab Naomi berusaha tersenyum.
"Bagaimana aku tidak hawatir grandma, sudah 2 hari ia tidak pulang bahkan tidak menelponku atau pun mengirim pesan. Istri mana yang tidak gelisah sang suami seperti ini. Aku bukan takut tetapi hanya waspada jika mas Noah menyakiti aku lagi."
"Apa kamu sudah makan siang Naomi, seperti nya grandma belum melihat kamu makan siang. Pergilah dulu untuk makan Naomi biar Aydin grandma yang jaga." Shandra mengayun-ayunkan kereta dorong Aydin.
"Baiklah grandma," Naomi yang tidak semangat langsung menuju ruang makan.
Makanan 2 hari ini terasa hambar untuk di santap, padahal makanan di kediaman ini sangat enak jika suasana hati baik dan tidak sedan terkena tekanan batin. Namun karena Naomi banyak pikiran membuat cita rasa di lidah nya sangat hambar tak berselera lagi.
"Kenapa rasa nya hambar sih, sudahlah aku makan sampai kenyang dulu daripada kelaparan saat memberi susu Aydin."
Shandra yang melihat sang cucu nakalnya baru kembali langsung menggampar pundaknya.
"Dasar anak nakal, kemana saja mengapa tidak mengabari Naomi hah?" Shandra marah-marah.
"Ampun grandma, ponsel saya jual dulu grandma untuk menutup gaji karyawan yang ada di perkebunan hari ini dan mulai hari ini perkebunan di tutup sementara karena merugi parah dan tanaman strawberry semua mati karena hama," Noah langsung duduk dan bersandar di sofa.
__ADS_1
Shandra langsung meratapi kesedihan sang cucu kemudian ia menyarankan untuk pergi ke perusahaan papanya mulai besok. Tapi Noah masih berpikir keras lagi untuk mengatakan iya atau tidak serta alasan yang lebih tepat nya, kalau dulu perkebunan strawberry alasannya untuk saat ini tidak ada lagi dan mau tidak mau sepertinya ia harus terjun di bisnis turun temurun dari sang grandpa.