Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
20. Noah menangis


__ADS_3

Bar terhitz.


Beberapa minggu ini Noah menghabis kan banyak waktunya ke sebuah club untuk menenag kan pikiran nya yang kacau balau, Naomi tidak di temukan keberadaannya sampai saat ini apakah dirinya baik-baik saja atau tidak.


"Kamu kemana sih Naomi, bahkan penerbangan seluruh kota ini sudah di cek namun tempat tujuanmu tidak ada di sana. Sebenarnya kamu kemana sih." Mengoyangkan gelas wine.


Ada seorang wanita penghibur datang dan bergelayut manja di paha Noah, Noah yang masih dalam keadaan sadar langsung menyuruhnya pergi.


"Kamu dimana sih Naomi." Mengacak-acak rambutnya.


Barista club ini langsung mendekati Noah dan menanyakan perihal yang sama seperti kemarin-kemarin. Dan jawabannya pun sama Naomi dan Naomi.


"Kamu tau gak, dia pergi meninggal kan saya begitu saja tanpa pamit bahkan ponselnya saja ia tinggalkan," keluh Noah pada Maxim sang barista tersebut.


Maxim hanya tersenyum kecut lagian dia juga sudah mendengar dari Edwin adik dari Noah sendiri, ya mereka bertiga berteman sejak kecil selain orang tua masing-masing masih bersahabat anak-anaknya ternyata juga bersahabat karena seumuran dengan Noah Derryl.


"Cih... maka nya jangan suka mainin wanita kena kutukan kan sekarang, mampus...." Umpat Maxim yang sedang menuangkan wine produk keluaran terbaru club ini.

__ADS_1


Noah hanya meminum sedikit wine yang ada di gelas nya tersebut, ia ingin berubah tidak seperti kemarin-kemarin.


"Saya balik dulu ya, bye...," meninggal kan uang di bawah gelas wine namun uangnya kurang.


"Dasar gila kamu Noah, uang sepuluh ribu." Maxim mengumpat Noah habis-habisan untungnya club ini ramai suara musik jadi umpatan Maxim tidak terdengar.


Club yang berdiri 3 tahun ini masih milik keluarga Maxim ini adalah anak cabangnya yang ada di kota ini, masih ada banyak di kota-kota besar lainnya yang berdiri bahkan di Luar Negri pun juga ada tentunya dengan nama yang sama Bar Terhitz.


Noah yang berada di dalam mobil hanya memukul stir mobilnya berkali-kali, tanpa Noah sadari air matanya lolos begitu saja dari pelupuk mata nya. Seorang Noah Derryl menangis gara-gara cinta itu adalah hal yang sangat luar biasa, sedari kecil Noah tidak pernah menangis meski pun ia terjatuh saat bermain atau bersepeda dengan teman-temannya.


Satu bulan telah berlalu.


Naomi yang masih berkerja saat ini bersikap biasa-biasa saja, sebenarnya banyak yang menggunjingkan Naomi ini itu tapi dengan kesabaran nya yang luar biasa Naomi mampu menghadapi ini semua, kini usia kandungannya menginjak 9 minggu.


"Maaf kan mama mu ini ya nak, belum bisa membelikan kamu makanan yang bergizi dan banyak," memegang perutnya yang masih rata meski sudah merasakan ada benjolan di perut bawahnya.


"Naomi sini." Panggil Anggi pada Naomi.

__ADS_1


"Iya ada apa?" tanya Naomi kebinggungan.


"Eemmm... kamu di suruh pak Eman untuk ke ruangan nya!" Anggi menatap wajah Naomi yang terkejut dan Anggi sudah bisa menebak jika saat ini Naomi pasti kehilangan pekerjaannya.


Naomi yang sudah tau jika dirinya akan berhenti berkerja menata perasaannya dengan kokoh sejak ia mengetahui dirinya berbadan dua. Dan benar saja Naomi hari ini terakhir berkerja di tempat pengepakan kertas di pabrik ini.


Setelah mendapat pesangon Naomi berpamitan pulang, ada rasa kecewa dalam hatinya apalagi usia kandungannya yang masih dua bulan dan artinya masih kurang tujuh bulanan lagi waktu perjalanan melahirkan dan untuk kebutuhan makan selanjutnya bagai mana.


Sesampai di rumah Naomi hanya menatap lembaran uang yang cukup untuk makan sebulan tanpa beli apa-apa yang lainnya, tapi jika ada kebutuhan mendadak pasti hanya cukup untuk dua minggu saja.


"Bagaimana ini, uang tidak cukup aku harus mencari pekerjaan untuk persiapan lahiran nanti." Naomi memasuk kan uang tersebut ke dalam dompet dan yang lainnya ia berikan untuk bu Dea.


Klotek sesuatu jatuh dari dompet Naomi, dan kebetulan bu Dea melihatnya. "Naomi itu," menujuk benda yang di pegang Naomi.


"Ini milik papanya anak saya bu Dea," memasuk kan kembali kartu debit pemberian Noah.


Naomi hanya menghela nafas saat bu Dea sudah pergi.

__ADS_1


__ADS_2