
Noah tersenyum setelah di tampar Naomi, ia memegang pipinya yang terasa panas. Noah menekan ikon ponselnya dan menyuruh anak buahnya untuk mengikuti di mana Naomi tinggal sekarang.
Shandy yang berada di kediaman Noah Derryl hanya pusing kenapa setelah menikah saja Noah tidak peduli sama sekali dengan dirinya.
"Sial... percuma juga aku hamil, meskipun ini bukan darah dagingnya tapi setidaknya hargai kenapa. Untung sewaktu di rumah papa dan grandma aku bilang jika ini anak Noah. Mau tidak mau kamu menikah denganku, tapi... mengapa ia tetap mengacuh kan aku, sial... pasti ini gara-gara Naomi lagi. Awas kamu Naomi, saya akan buat kamu kehilangan bayi yang kamu kandung. Meski pun itu anaknya Maxim."
Shandy yang tidak tau jika yang di dalam kandungan anak Noah, jika Shandy sampai tau kebenarannya pasti kehidupan Naomi dan anak nya tidak akan aman.
Pasar Malam.
Shandy yang sudah mengikuti Naomi dia diam-diam mau menusuk Naomi tepatnya di perut buncitnya.
Naomi yang tidak sadar di ikuti membiarkannya lagian ini tempat ramai mungkin tujuannya sama. Sebenar nya Naomi curiga dengan gerak gerik Shandy yang mencuriga kan sedari tadi. Karena di sini selain banyak pedangang kaki lima juga ada wahana yang siap untuk di naiki. Naomi penepis pikiran buruknya tapi.
Jllebb....
Tiba-tiba Naomi terkena tusuk bagian perut dan menyebab kan Naomi banyak kehilangan darah. Orang-orang segera mengrumuni Naomi sementara Shandy yang menusuk Naomi berlalu pergi entah kemana. Maxim yang melihat Naomi di kerumuni orang banyak langsung menghampirinya dan menolong Naomi.
__ADS_1
Rumah Sakit Umum.
Naomi sedang di tangani oleh Dokter membuar Maxim cemas tidak karuan. Orang tua Maxim yang mendapat kabar langsung menuju tempat di mana Naomi di tangani saat ini.
"Maxim bagaimana keadaan Naomi dan bayi nya?" tanya Zaza.
"Maxim belum tau ma," duduk dengan tidak tenang.
Lampu operasi sudah padam, setelah menunggu. Dokter yang baru keluar langsung mendapat kan pertanyaan dari Ron dan Zaza berturut-turut.
"Dok bagaimana keadaan menantu dan cucu saya?" Ron sangat hawatir.
Ruang perawatan.
Ron dan Zaza masuk terlebih dahulu saat ini. Sementara Maxim keluar membeli makanan dulu.
"Nak bagaimana keadaan mu, apa yang sakit?" tanya Zaza sambil menyentuh perut buncit Naomi.
__ADS_1
"Ini, yang terkena tusuk!" menujuk kan bagian perut kiri nya.
"Sabar ya nak, kamu harus kuat ada bayi di sini." Memberi semangat pada Naomi.
"Bagaimana ini jika suatu hari mama dan papanya Maxim tau jika ini bukan cucu kandungnya, pasti mereka akan membenciku. Aku tidak boleh diam aku harus berbicara jujur." Naomi berpikir keras kemudian saat ia akan berbicara.
Maxim masuk ke dalam ruangan ini dan menggagal kan rencana Naomi yang ingin sekali berbicara jujur.
"Kamu pasti lapar, makan dulu ya. Oh ya ma... pa... Maxim juga beliin untuk mama dan papa. Makanlah dulu juga." Maxim memberikan makanan kepada kedua orang tuanya.
Naomi memakan bubur yang baru saja di beli Maxim, dengan telaten Maxim menyuapi bubur ke mulut Naomi sesekali mengusap sisa bubur di sudut bibir Naomi.
"Makan di suapi saja masih belepotan." Terus menyuapi Naomi.
Ron dan Zaza yang melihat anaknya yang segitu perhatiannya pada sang istri merasa bahagia. Akhirnya ada yang bisa meluluhkan hati Maxim yang sedingin es dan sekeras batu ini. Jadi mulai sekarang tidak perlu capek-capek mengatur perjodohan lagi untuk Maxim kedepannya.
"Maxim, Naomi. Papa mama mau pulang dulu. Maxim jaga dan rawat Naomi dengan baik jangan sampai terulang lagi untung menantu dan calon cucu kami selamat kalau tidak kamu yang akan habis." Ron memberi tatapan tajam pada Maxim.
__ADS_1
"Nak jika Maxim berperilaku kasar, telpon mama ya," Zaza memberikan kecupan hangat di dahi Naomi.
Selepas kepergian kedua orang tua Maxim, kecanggungan terjadi lagi. Hanya saling menatap kemudian melempar tatapan ke arah lain.