Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
22. Kesabaran seorang Ibu


__ADS_3

Naomi yang sedang berjalan-jalan merasa kan perutnya yang tidak nyaman akhirnya beristirahat untuk memulih kan keadaan nya.


"Ada apa sih sebenarnya, kenapa sakit perut aku. Jangan-jangan seperti kejadian dulu, enggak-enggak aku tidak boleh kehilangan bayiku untuk ke dua kalinya, meski pun aku harus menderita. Aku siap dan terima asal kan aku tidak kehilangan harapanku di dunia ini." Guman dalam hati sambil mengelus perutnya.


Setelah perutnya membaik, Naomi melanjutkan perjalanannya. Ia pulang membawa sayuran dari kebun sebenarnya jarak kebun dan rumah tidak jauh tapi karena perut tidak bisa di paksakan dari pada terjadi hal-hal yang tidak di inginkan terulang kembali.


Dea yang melihat Naomi mengelus perutnya sambil membawa sayuran hanya tersenyum, ia hafal jika sang bayi yang ada di dalam perut tidak bisa di ajak kerja sama pagi ini seperti kemarin-kemarin.


"Bu, kenapa sayuran di kebun tidak sebagian di jual saja." Meletak kan beberapa sayuran di atas meja.


"Yang mau beli siapa Naomi, semua warga desa ini memiliki kebun masing-masing dan rata-rata tanaman nya sama kecuali bahan makanan pokok seperti beras dan jagung." Tersenyum sambil mengupas bumbu.


Dea sebenarnya sudah melarang Naomi untuk ke kebun karena tempatnya yang naik turun perbukitan, meski pun tidak jauh letak perkebunan karena di bawah rumahnya namun karena harus turun dari kediaman ini. Karena Naomi keras kepala dan tidak mau diam membuat Dea kualahan menghadapi kemauan Naomi yang sedang hamil muda ini.

__ADS_1


Masakan akhir nya selesai, kini Naomi mengambil beberapa sayur yang ia makan tanpa nasi seperti orang nyidam saja tidak mau ada nasi di makanannya dan menyebab kan Naomi sering turun ke kebun untuk mengambil sayur namun ya lagi-lagi sekali makan saja.


Di pedesaan ini tidak ada kompor gas semua masih menggunakan kayu bakar untuk memasak, jadi jika sering makan seperti Naomi resikonya hanya satu cari kayu bakar sebanyak-banyaknya juga selain makanan.


"Bu sepertinya kayu bakar nya sudah mau habis, Naomi cari kan ya." Bangkit dari kursinya.


"Tidak usah Naomi, bapak tadi katanya pulang sore akan membawa kayu bakar," ucap Dea berbohong agar Naomi tidak pergi.


Naomi pasrah jika sudah menyangkut pak Alim, bagaimana pun pak Alim juga ikut berperan bahkan pimpinan di dalam rumah ini. Jika Alim tau Naomi kesakitan tadi pasti langsung mencari bidan atau dukun bayi untuk memeriksa kandungan Naomi seperti beberapa minggu yang lalu.


Tak terasa siang hari.


Ada beberapa tetangga yang membicara kan Naomi seperti biasanya, namun Naomi yang sudah kebal dengan ucapa orang-orang di sini membiarkannya. Memang benar jika Naomi salah jalan dalam hidup ini makanya ia mengalami nasib yang teramat sedih seperti ini.

__ADS_1


"Eh... lihat tuh cantik-cantik hamil sendirian tanpa suami, kasihan ya." Ucap salah satu ibu-ibu yang di dengar langsung oleh Naomi.


"Sabar Naomi, kamu harus kuat menghadapi ini demi dia yang ada di dalam perutmu saat ini." Naomi hanya melirik dari ekor matanya tanpa berani menatap kerumunan ibu-ibu yang tengah pergi ke kebun.


Naomi yang masuk ke dalam rumah memasang wajah cerianya seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya barusan. Dea yang sedari tadi mendengar nya hanya menebah dada nya berkali-kali, setelah Naomi masuk Dea hanya menyuruh Naomi yang sabar dalam menghadapi ini semua.


"Sabar Naomi demi dia, jangan menyerah ibu dan bapak akan membantu kamu." Mengusap surai rambut Naomi.


Naomi yang merasakan kehangatan yang di berikan Dea membuat desiran bahagia di hatinya, beginikah rasanya di sayang seorang ibu.


"Terimakasih bu," sambil tersenyum sangat manis, Dea membalas dengan senyuman juga.


***

__ADS_1


Kita ambil hikmah ya teman-teman jika masih memiliki orang tua sayangi dan jaga dengan baik, di luaran sana masih banyak yang mengharap kan kasih sayang orang tua.


Terimakasih yang sudah mampir, like sama rate ya teman-teman jika sudah mampir. Dukungan kalian penyemangat ku😊


__ADS_2