
Noah pergi ke sebuah bar ia minum sangat banyak ia memilih menghabiskan banyak minuman untuk melepas semua beban pikiran. Setelah habis beberapa botol Noah kembali ke rumah, seperti sudah biasa saja bahkan Noah masih saja bisa mengendarai laju mobilnya sepeti orang yang tidak mabuk sama sekali.
Febby yang baru saja berkencan di salah satu hotel dengan kekasihnya kini berpamitan pulang, karena ini sudah malam hari. Ia tidak ingin suami curiga padahal sang suami sudah tau. Febby melihat kesana kemari mencari keberadaan sosok Noah namun tidak menemukan Noah dimana pun ia berada.
"Aman, setidaknya ia tidak tau kan perbuatan ku hari ini. Lagian ia tidak pernah sekali pun masuk ke dalam kamarku setelah menikah." Febby berlalu pergi.
Sementara Noah menuju rumah sederhana Naomi, seperti suami yang menemui istrinya saja namun dalam kenyataan Naomi seperti simpanan orang kaya saja.
TTOOKK
TTOOKK.
Naomi yang hendak memejamkan mata karena sibuk setelah Noah pergi kini harus berjalan lagi untuk membuka pintu siapa malam-malam seperti ini bertamu padahal ia sama sekali tidak membuat janji bertemu seseorang. Ccekkleek..., Naomi terkejut dengan wajah acak-acakan seperti frustasi saja.
"Mas, kenapa kesini." Belum sempat Naomi mendapat jawaban dari Noah, Noah sudah menyambar bibir Naomi dengan penuh penekanan. Naomi segera melepas ciuman tersebut dan.
PPLLAAKK....
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Noah dan membuat Noah langsung tersenyum. Noah berjalan mendekati Naomi.
"Maaf, biarkan aku tidur di rumah mu malam ini." Noah berjalan menuju kamar satu-satunya yang ada di rumah ini.
Naomi berjalan menggerutu, "eehh seenaknya mau tidur di kamar aku, boleh menginap tapi tidur di situ." Menunjuk ruang tv.
Noah menganggukkan kepala dan langsung merebahkan dirinya di kursi depan tv.
"Dasar, sudah punya istri di rumah yang cantik body bagus bak gitar spanyol masih saja menginap di rumah ini, yang tidak ada apa-apanya bahkan saya sama sekali tidak menarik, tomboy iya badan lurus kayak jalan yang baru di aspal juga iya, tidak ada istimewanya sama sekali." Naomi menatap tubuhnya yang biasa-biasa saja.
Setelah memikirkan banyak hal Naomi menatap langit-langit kamar berharap hari esok akan lebih baik lagi kehidupannya.
Pagi hari.
__ADS_1
Naomi bangun kesiangan ia menatap jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Naomi segera keluar dari kamar dan menuju kamar mandi, namun ia curiga saat ia buang air kecil. Ada yang keluar dari jalan lahir gumpalan kecil. Seketika Naomi menutup mulutnya, ia terisak di dalam kamar mandi meratapi anak yang belum sempat lahir di dunia ini telah tiada. Dan saat ini masih berumur 5 minggu.
"Mas tolong saya," Naomi sedikit teriak berharap Noah mendengarnya, untung jarak ruang tv dengan kamar mandi tidak jauh.
Noah yang sudah bangun sedari tadi langsung menuju kamar mandi, ia melihat banyak darah berceceran di lantai. Kemudian ia menatap Naomi yang menangis saat menatap gumpalan kecil yang ada di lantai.
Tanpa pikir panjang Noah langsung membantu Naomi dan mengambil sapu tangan yang ia miliki untuk membungkus gumpalan kecil tersebut.
Rumah Sakit.
Noah menunggu di luar sambil menantikan Naomi selesai di periksa dan di bersihkan rahimnya. Setelah selesai Dokter menyarankan untuk lebih berhati-hati saat mengandung di usia rentan seperti ini.
Noah menemui Naomi setelah di pindahkan di ruang rawat pasien. "Bagaimana keadaanmu saat ini?" mengusap lembut ubun-ubun Naomi.
"Menyedihkan, seperti yang mas lihat." Jawab ketus Naomi.
"Maaf jika saya membuat masalah dalam hidupmu," Noah menagkupkan kedua tangannya.
Noah masih senantiasa menunggu Naomi bangun dari tidurnya sesekali ia menatap ponselnya untuk melihat apa ada email yang masuk melalui ponselnya. Ternyata ada beberapa kolega yang mengirim pesan lewat email dan satu orang yang di suruh melacak pemilik plan nomor motor yang kemarin ia suruh untuk menyelidikinya.
"Cih... ternyata kamu ya si anak mami, pantas saja aku tidak asing dengan plat nomor itu ternyata adik sepupu ku tercinta. Edwin Derryl." Noah hanya tertawa kecil bagaimana ia cukup terkejut dengan permainan yang Febby mainkan tidak puas dengan adik sepupunya, kakak sepupu pun jadi santapan juga.
DDRREETT
DDRREETT.
Noah menelpon Edwin lewat vidio call.
Edwin yang sedang berada di perusahaan cabang terkejut dengan telpon mendadak dari sang kakak.
"Kak Noah ada apa?" Menyapa sambil menyengir kuda.
__ADS_1
"Cari bukti tentang kekasihmu, saya ingin menceraikannya secepatnya." Ucap Noah tanpa basa basi.
"Maksud kakak siapa? si Febby!" jawab santai Edwin.
"Masih saja play boy ternyata, cepat cari saja. Berhasil aku kasih mobil sport keluaran terbaru tahun ini." Memperlihatkan kunci mobil yang ia bawa dari kemarin.
Edwin yang mendapatkan iming-iming seperti itu langsung siap bergerak cepat. "Oke saya akan laksanakan tugas demi brumm...," Edwin jingkrak-jingkrak kegirangan.
"Nih orang kurang waras atau terlewat waras sih," Noah mematikan sambungan telpon.
Noah menatap wajah pucat Naomi dan menyentuh pipi cantik Naomi.
"Aku mencintaimu Naomi, tapi apa kamu mau menerimaku," Noah segera pergi dari hadapan Naomi dan keluar dari ruang rawat Naomi.
Noah yang merasakan perut lapar hanya menahan menunggu Naomi sadar, karena ia tau Naomi tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya saat ini. Naomi mulai bangun ia menatap seluruh ruangan namun tidak menemukan keberadaan Noah.
"Kemana dia, saya di tinggal sendirian lagi." Naomi menunduk sedih dan hampir metenes kan air matanya lagi. Namun suara pintu terbuka membuat Naomi segera menghapus air matanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Naomi, aku baru saja membelikanmu makan siang. Ayo makanlah dulu." Sambil menyuapi Naomi.
"Apa kamu sudah makan?" mengerutkan alisnya.
"Belum, saya menunggu kamu bangun dan makan barulah saya nanti akan makan!" di iringi senyum termanisnya.
"Makanlah juga, saya tidak mau berhutang budi apa pun dengan kamu mulai saat ini." Naomi memalingkan wajahnya.
Noah lebih baik mengalah saat ini demi kebaikan Naomi yang baru saja kehilangan bayi kecil yang di harap-harap kan hadir.
***
Slow update
__ADS_1