
Noah yang sudah selesai makan menatap wajah cantik Naomi yang tidak pernah luntur meski ia marah dan tidak mau berbicara pada Noah.
"Saya tinggal ya nak Noah, Naomi." Pak Alim mengajak sang istri pergi ke rumah pak RT setempat untuk meminta izin ada tamu yang menginap di rumahnya agar tidak menimbul kan fitnah. Yang berakibat adanya penggerebekan dadakan.
Setelah ke pergian Dea dan Alim, suasana masih sunyi-sunyi saja bahkan Naomi tidak menatap Noah sama sekali, ia begitu muak jika melihat Noah apalagi poteret nya dengan Shandra Lee masih terngiang-ngiang dalam pikiran nya.
"Kamu boleh marah dengan saya Naomi, tapi kamu pikirkan juga anak kita." Noah berusaha menggengam tangan Naomi namun dengan cepat Naomi tarik.
"Saya sudah bahagia sebelum mas datang, kenapa mas datang kesini dan mencari saya? untuk apa mas untuk menyakiti saya lagi. Atau mau memberi kabar jika mas akan menikah." Naomi tidak bisa menagis lagi, air matanya sudah kering karena sikap dan perilaku Noah yang egois dan tidak memikirkan pihak yang dirugikan saat ini.
"Tidak Naomi sayang, saya tidak akan menikahi siapa pun lagi selain kamu," Noah memeluk erat tubuh Naomi yang sedikit berisi sekarang.
Naomi menyunggingkan senyum tidak percayanya dengan ucapan Noah yang teramat keramat ini, hari ini bilang A besok B dan selanjutnya. Yang terngiang-ngiang dalam pikiran Naomi hanyalah bohong dan bohong belaka.
__ADS_1
"Bualan mu sungguh patut di acungi jempol mas, pantas jika mas menjadi aktor saja sangat meyakin kan peranmu, MAAS...," Naomi memberikan penekanan di akhir kalimat nya.
"Terserah kamu mau bilang apa sayang, saya tidak perduli karena saya sadar diri jika saya banyak menorehkan luka di hati dan tubuh kamu," mengusap dan mencium dahi Naomi berkali-kali.
Naomi yang sedari tadi di pelukan Noah merasa sangat nyaman, mungkin sang bayi ingin berada di pelukan sang papa. Lucu juga seperti mendapat ke kuatan mendadak di tubuh Naomi yang sering kelelahan. Helaan nafas panjang Naomi terdengar di telinga Noah, secara sadar Noah langsung melepas dekapan nya tersebut.
Noah mengusap lembut perut Naomi yang sudah nampak menojol karena Naomi badan nya tidak gemuk jadi sangat terlihat, meski pun saat ini berat badan Naomi sedikit bertambah.
"Baik-baik di dalam ya nak, papa dan mama menantikan kehadiran kamu dalam kehidupan kami," mengusap dan mencium dengan penuh cinta.
"Nak Noah Naomi," sapa Alim.
Noah langsung menatap pak Alim dan juga Dea dengan tersenyum.
__ADS_1
"Istirahat lah, saya mau berbicara dengan pak Alim dan bu Dea," mencium pipi Naomi kanan kiri.
Naomi dengan menurut langsung menuju kamar dan merebahkan dirinya di ranjang, senyum tersirat di kedua ujung bibir Naomi hari ini sangat sangat begitu indah dimana sang pujaan hati datang menemui nya.
"Kenapa seperti sewaktu SMA dulu saat mas Noah memberikan senyum nya," gumam lirih Naomi sambil menggigit ujung bantal nya. Naomi yang malu langsung menutupi wajah nya dengan bantal, setelah merasa pengap ia membuka nya.
Noah dengan Alim dan Dea berada di ruang tamu dan berbicara pelan agar Naomi tidak mendengar pembicaraan saat ini.
"Begini nak Noah, kami sudah meminta izin pak RT setempat jika kamu menginap di kediaman ini sebagai suami Naomi," jelas Alim pada Noah.
"Terimakasih pak bu atas bantuan nya. Oh... ya bu ini untuk bapak dan ibu anggap saja sebagai rasa terima kasih saya pada bapak dan ibu karena menerima saya dengan baik." Dengan senyum menawan nya Noah memberi kan amplop pada Alim dan Dea.
Alim melihat tebalnya uang yang di berikan Noah terkejut, uang sebanyak ini. Alim menyodorkan kembali uang tersebut namun Noah tetap bersih kukuh memberikannya dan berakhir Alim mau tidak mau menerima nya.
__ADS_1
Noah berjalan mendekati kamar Naomi dan membuka pintu yang memang tidak di kunci oleh Naomi. Ia tatap tubuh Naomi yang tidak menggunakan selimut apalagi saat ini cuaca dingin tanpa pikir panjang Noah menyelimuti tubuh Naomi.
"Ccupp... selamat malam sayang, jangan bersedih lagi karena ulah saya." Mengusap pipi Naomi.