Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
18. Kehidupan baru part 2


__ADS_3

Pagi hari.


Naomi membuka matanya saat terdengar sayup-sayup suara Adzan Subuh. Naomi segera bangun dan membersih kan dirinya, ia merasa tak enak hati jika menumpang tampa membantu keluarga ini. Naomi mengambil peralatan sapu yang ada di teras rumah dan mulai membersihkan area rumah ini.


Dengan senang hati Naomi melaku kan nya karena sudah biasa juga sedari kecil mengerjakan ini semua, termasuk pekerjaan ringan karena rumah ini tidak besar seperti kediaman Derry dan Megantara.


"Bu saya mau bantu memasak." Naomi mendekati bu Dea istrinya pak Alim.


"Neng Naomi, ini bantu kupas dan potong sayur kol," memberikan nampan dan sayuran pada Naomi.


Dengan senang hati Naomi menerima nya, pak Alim yang berencana ke perkebunan pagi ini langsung berpamitan berangkat, bekal sudah siap sedari tadi dan yang saat ini di masak untuk makan pagi dan siang nanti.

__ADS_1


Setelah sarapan pagi Naomi berbicara serius dengan bu Dea.


"Ada apa neng Naomi, sepertinya ada yang penting." Dea tersenyum ramah.


"Begini bu, saya berterima kasih banyak pada pak Alim dan bu Dea yang mau menampung saya sampai pagi ini, rencananya saya akan mencari tempat untuk tinggal saya tidak enak disini bu," Naomi menyodorkan uang pada Dea.


"Tinggal lah disini Naomi, saya dan suami saya sudah memutus kan dari semalam agar neng Naomi tetap tinggal disini saja," Dea mengembalikan uang tersebut.


"Tapi saya tidak enak bu, ibu terima saja ini buat beli sembako dan saya akan berkerja di tempat ini untuk menyambung hidup. Saya tidak enak hati bu." Naomi tertunduk binggung saat ini.


Naomi yang melihat bu Dea menerima uang tersebut sambil tersenyum membuat Naomi sangat bahagia pagi ini.

__ADS_1


"Andai orang tua ku perduli dengan ku seperti bu Dea dan pak Alim, pasti aku tidak mengalami nasib dan kemalangan seperti ini. Hidup sendirian padahal aku punya orang tua bahkan kakek juga masih hidup, apa salahku ya Tuhan." Naomi tetap menyunging kan senyumnya meski hatinya terluka.


Meski Naomi kekurangan kasih sayang semenjak lahir tetapi tidak menjadikan ia seorang yang selalu mencari perhatian seperti kebanyakan anak lain, berbuat kenakalan ini itu. Naomi lebih berusaha menjadi diri sendiri dan berusaha dengan sepenuh hati meski pun usahanya sia-sia.


Naomi meratapi dirinya sendiri di teras samping rumah sederhana ini, di dalam kepala nya terngiang-ngiang perilaku Noah pada nya, bahkan memori lama terulang kembali dalam bayang-bayang mata nya. Andai waktu itu ia tidak dengan mudah menyerah kan benda berharganya mungkin saat ini ia tenang tanpa takut maju kedepan lagi.


Saat ini apa yang mau di banggakan, terlahir dari luar pernikahan, di usir orang tua dan keluarga nya sendiri. Di tambah lagi dengan kebodo*annya yang begitu mudah tertipu oleh seoran Noah Derryl.


"Neng Naomi mikirin apa, apa neng Naomi memikir kan orang-orang yang neng tinggal merantau?" tanya bu Dea dengan duduk di sampingnya.


"Eehh... tidak bu, saya sedang memikirkan pekerjaan di sini, saya ingin mencari uang juga bu," elak Naomi.

__ADS_1


"Ohh... saya kira sedang memikirkan keluarga mu. Nanti coba suami saya sewaktu pulang nanti siang, siapa tau membutuhkan pekerja di gudang kayu." Bu Dea menepuk pundak Naomi dan pergi dari hadapan Naomi.


Naomi berharap lebih, semoga ada pekerjaan untuknya saat ini meski pun hanya bersih-bersih atau sejenisnya di tempat terpencil ini.


__ADS_2