
Noah menatap wajah Naomi yang sangat cantik saat sedang hamil seperti ini. Naomi yang di tatap Noah terus-terusan membuatnya salah tingkah.
"Kenapa kamu terus melihat ku apa ada yang aneh dengan tubuhku?" melihat dirinya sendiri.
"Tidak ada, kamu terlihat sangat cantik Naomi. Pasti Maxim memperlaku kan kamu sangat baik, ia beruntung memiliki kamu sebagai istrinya!" Noah berucap sambil menahan air mata nya.
"Mas ngomong apa sih, ohh... ya ampun aku lupa jika kamu belum tau aku dan Maxim se..." belum selesai Noah memotong pembicaraan dengan Naomi.
"Sebenarnya sudah menikah resmi di Agama dan Negarakan, saya tau Naomi saya pantas mendapat hukuman ini. Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawaku saja kenapa aku di beri kesempatan hidup lagi." Noah berusaha melepas oxigen yang membantu ia bernafas namun Naomi cegah sekuat tenaganya.
"Jangan mas, kamu salah sangka denganku dan Maxim dari awal aku dan Maxim tidak menikah," menenagkan Noah.
Noah langsung berhenti meronta setelah mendengar kenyataan yang membahagiakan ini. "Benarkah, kamu tidak membohingi saya kan Naomi?" berusaha duduk dengan sigap Naomi membantu meski perutnya sedikit tidak baik. "Terimakasih, sekarang boleh kamu panggil kan Dokter. Saya ingin segera pulang setelah ini."
"Tunggu sebentar ya," Naomi berpamitan keluar dan orang-orang yang berada di luar sangat terharu, sebenarnya sedari tadi Shandra dan Adam ingin masuk namun tidak jadi saat Maxim memberi tau jika Noah sadar dan masih ingin berbicara serius dengan Naomi.
Setelah di periksa oleh Dokter, Noah pasrah saat dirinya tidak di izin kan pulang saat ini. Naomi yang melihat wajah kecewa Noah hanya tersenyum sementara yang lain menertawakan Noah dengan lepas, untung kamarnya tidak ada pasien lain jika ia sudah pasti kena amukan keluarga pasien lainnya.
__ADS_1
"Tiap hari Naomi kesini, gak usah lebay kenapa." Maxim mencibir Noah.
"Benarkah yang di katakan bocah curut itu?" menujuk Maxim.
"Tidak tau di untung, sudah di bantu lupa sama yang bantu. Jika buka karena ku kamu gak bisa ketemu bumil cantik ini sekarang. Di kutuk loh sama emak nanti," Maxim menyipit kan mata nya.
"Iya-iya terimakasih sudah bawa Naomi kembali." Tersenyum lebar.
"Om Adam apa setelah operasi dan sadar Noah ada masalah dengan perkembangan otaknya, sejak kapan ia bisa berucap terimakasih seperti ini," sambil menatap Noah dengan licik.
"Dasar perhitungan." Melempar sedotan air putih ke wajah Maxim.
Naomi menatap Noah dan Maxim bergantian, "kenapa kalian tidak ikut casting saja seperti nya kalian cocok bermain drama atau film, wajah juga mendukung," sambil mengacung kan 2 jempol.
Noah yang tidak dapat pembelaan dari orang-orang langsung memanyun kan bibirnya seperti moncong sepatu.
"Aku ambilkan karet gelang nya, sepertinya kamu lebihan bibir saat ini," gantian Naomi yang menggoda. Noah segera memperbaiki posisi bibirnya.
__ADS_1
"Sudah tidak maju lagi, apa kamu puas sayang," Noah menggoda Naomi.
"Sayang, aduh malunya aku apalagi banyak orang ini. Kenapa ia berucap begitu ringan tanpa ada beban seperti ia sendirian saja di ruangan ini."
Semua orang faham dengan maksud dan tatapan Noah pada Naomi. Shandra menyentuh pipi Noah sebelum ia keluar dengan Adam sedang kan Maxim membiskkan agar Noah tidak berbuat aneh-aneh di rumah sakit ini.
"Kalau begitu aku keluar juga ya mas, waktu nya mas istirahat ya." Ucap lembut Naomi.
"Temani ya, saya takut Naomi,"
"Sudah besar masih saja penakut, apa kamu tidak kasihan dengan bayi kita." Menujuk kan perut Naomi yang sudah besar.
"Kenapa ia sebesar itu di perut kamu, nanti saat ia lahir bagaimana, bukannya tempat keluarnya ke...." Mulut Noah yang sangat vulgar langsung di bekap Naomi.
"Tidak usah di teruskan jika ingin aku menemani kamu di sini," melepas tangan nya.
"Iya-iya, tapi cium dulu sini." Meraih tengkuk Naomi dan memberikan sentuhan lembut di bibir Naomi yang kecil. Naomi gelagapan saat Noah memperdalam ciumannya dan memukul lengan Noah. "Rasanya manis sekali," mengusap bibir nya.
__ADS_1
Naomi tertunduk malu, baru kali ini ia merasalan ciuman penuh cinta dari Noah.