Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
9. Kesabaran Naomi


__ADS_3

Siang hari.


Naomi yang tertidur di kamarnya merasa terusik dengan sesuatu yang melingkar di perutnya. Naomi menatap siapa yang meletakan lingkarang di perut, tangan bersih milik Noah sedang terdiam serta memeluk dengan erat.


"Noah lepas, apa yang sedang kamu lakukan." Ucap dingin Naomi.


"Sebentar saja, saya telah lama tidak memelukmu. Apa kamu tidak rindu sentuhan saya," goda Noah yang berhasil membuat Naomi menyikut perut Noah.


"AAWW...," Noah memegang perutnya yang berdenyut sakit.


"Rasain, untung yang aku sikut perut bukan bawah pusarmu." Naomi segera pergi dari kamar tidur menuju kamar mandi.


Naomi menggerutu kesal dengan tingkah Noah yang hanya di penuhi nafsu saja dalam pikiran Noah. Naomi mengguyur kepalanya berkali-kali untuk menetralkan uap panas di otakknya. Sekitar limabelas menit Naomi mengguyurnya sesudah dari kamar mandi Naomi keluar dengan menggulung rambutnya ke atas dengan lilitan handuk berwarna putih. Leher jenjang Naomi sangat terlihat dan menggoda.


Noah yang sedari tadi menunggu Naomi keluar dari kamar mandi hanya menahan sesuatu yang bangkit, agar Naomi tidak pergi meninggalkannya lagi. Masa baru mulai sudah kalah bahkan belum maju juga.


Naomi yang melihat Noah sedang kesusahan menahan sesuatu ingin sekali tertawa tapi di urungkan karena Naomi tidak mau Noah mendapat untung setelah menyakitinya begitu dalam, penolakan cinta tulusnya kemudian di hari ulang tahun ia memberi kado dengan menikahi wanita lain di tambah ia kehilangan bayinya karena pikirannya kacau gara-gara Noah juga.


Makan siang.


Naomi yang tidak memasak sejak pagi kini membuat mie instant untuk makan siang. Noah yang mencium bau aneh tapi membuat perutnya lapar langsung mendekati Naomi.


"Sedang buat apa?" tanya Noah tiba-tiba membuat Naomi terkejut untung panci yang di gunakan sudah di letakkan diatas meja kalau tidak pasti saat ini kakinya melepuh karena tersiram air rebusan mie instant.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Perutku lapar dan aku mencium bau aneh jadi aku datang." Sambil menyengir kuda.

__ADS_1


"Cobalah, makanan yang barusan kamu sebut aneh baunya." Ucap ketus Naomi sambil memberikan sepasang sumpit pada Noah.


Noah mencoba masakan mie buatan Naomi, satu sumpit masuk ke dalam mulut, betapa terkejutnya Noah saat merasakan mie yang di buat Naomi. Seumur hidup baru pertama kali mencium bau aneh dari mie tersebut dan rasannya sangat nikmat di lidah.


"Enakkan, ini bukan bau aneh memang mienya rasa kari ayam." Naomi menikmati mie tersebut.


Setelah selesai makan Naomi beranjak dari kursi namun di cegah oleh Noah. "Biar aku yang mencucinya," sambil tersenyum.


"Apakah itu benar-benar mas Noah bukan kembarannya, kenapa sikapnya berubah 180 drajat dari biasannya. Apa sewaktu menuju desa ini ia kecelakaan terus hilang ingatan, aneh." Naomi keluar dari rumah.


Tiba-tiba ada bu RT yang datang, selain bu RT beliau juga pemilik rumah yang di kontrak Naomi.


"Naomi," panggil bu RT.


Naomi mendekat, "ada apa ya bu RT?" Naomi memainkan jari jemarinya takut jika ia dapat masalah.


Naomi menerimanya dengan lapang dada walau pun hatinya terluka dengan adanya hal ini. "Terimakasih ya bu, sudah membiarkan saya tinggal di tempat ibu," Naomi berusaha tersenyum untuk menujukkan dirinya baik-baik saja saat ini.


"Ya sudah saya pergi dulu ya Naomi, sekali lagi saya meminta maaf." Memegang tangan Naomi sekilas.


Naomi yang baru saja masuk rumah wajahnya sangat masam dan langsung masuk ke dalam kamar untuk mengemas pakaiannya. Naomi juga binggung harus pergi kemana lagi selain di daerah ini. Kalau kembali ke kota sama dengan ia memulai perjalannanya lagi dan pasti kesulitan mencari pekerjaan baru di kota mengingat ia hanya tamatan SMA saja saat ini.


"Cobaan apalagi ini Ya Allah," Naomi menyeka air mata yang ada di pelupuk mata.


Noah tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan menghentikan aktivitas Naomi yang sudah mulai memasukkan pakaiannya satu persatu ke dalam tas besar.

__ADS_1


Naomi menatap Noah yang memegang tangannya, "lepas mas saya mau mengngemasi barang-barang saya." Menarik tangannya dari cengkraman Noah.


"Kamu tidak usah pergi Naomi, saya yang membeli rumah ini untuk kamu tempati." Mengusap lembut pipi Naomi.


PPLLAKK..., Naomi menampik tangan Noah yang memegang pipi seenaknya saja. "Tidak usah pegang-pegang juga." Ucap ketus Naomi bergegas pergi dari kamar tidur.


Noah tersenyum karena Naomi tidak menolak pemberiannya, "saya akan berusaha keras meluluhkan hatimu lagi Naomi dan kali ini saya tidak akan menyiya-nyiakan kesempatan ini."


Naomi yang sedang mencabuti rumput di bawah pohon besar yang rindang membuat Noah langsung menghampiri Naomi. Ada beberapa tetangga yang memergoki Naomi dan Noah bersama.


"Mas Noah," sapa ibu-ibu berbaju merah marron di dekat pagar kayu.


"Bu RT, ada apa?" tanya Noah mendekati bu Milah.


"Mas kenal dengan Naomi." bu Milah tersenyum.


"Dia istri saya bu Milah, saya menyusulnya kemari karena saya rindu dengannya," Noah tersenyum pada Naomi.


Naomi yang mendengar Noah berucap seperti itu ingin sekali menyumpal mulutnya dengan rumput yang baru ia cabut di gegaman tanganya.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu mas Noah." Bu RT segera pergi untuk mengelilingi warganya.


Naomi grasah grusuh mencabut rumput dengan seenaknya saja, terlihat sangat kesal dengan ucapan Noah yang seenak jidatnya berucap jika saat ini Naomi istrinnya. Noah segera mendekati telinga Naomi.


"Aku mencintaimu," bisik lirih Noah. Naomi yang mendapatkan bisikan tersebut langsung gerogi dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Naomi memegangi dadanya yang dag dig dug.

__ADS_1


***


Slow update


__ADS_2