Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Gevano membaringkan tubuh Thania ke kasur miliknya. Dia sengaja tak membawa gadis itu pulang karena dia yakin bahwa kakak Thania pasti akan menudingnya dengan berbagai pertanyaan. Dia tidak suka ditanyai dengan banyak pertanyaan seperti itu.


Ia juga tidak ingin berdebat atau bahkan berkelahi dengan calon kakak iparnya itu. Jadi Gevano putuskan untuk membawa Thania ke apartemen-nya saja.


Ia membuka sepatu dan kaos kaki yang dipakai oleh Thania. Meletakkan sepatu itu di rak sepatu dekat pintu. Setelah itu Gevano masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Tak lama setelah Gevano masuk ke kamar mandi, Thania membuka matanya. Dia menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya dengan mengerjap. Kemudian matanya melirik ke sekeliling.


"Ini di mana?" tanya Thania bingung melihat tempat asing yang ia tempati.


Thania berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Setelah mengingat semuanya pipi gadis itu merona. Astaga apa yang dia lakukan?! Kenapa Thania bersikap begitu manja kepada Gevano?!!


"Malu-maluin banget sih lo, Than!" gumam Thania merasa malu akan tindakannya sebelumnya.


Apa yang akan terjadi bila dia bertemu dengan Gevano? Haruskah dia berpura-pura lupa? Atau bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa? Ais! Sial.


Ceklek.


Suara pintu terbuka menarik perhatian Thania. Dia menoleh dan matanya langsung membulat melihat Gevano keluar tanpa memakai atasan. Hanya memakai sebuah bokser berwarna hitam. Handuk yang dikalungkan di lehernya. Tangan pemuda itu bergerak mengeringkan rambutnya yang basah.


Gevano tampak mempesona di matanya. Apalagi dengan otot-otot kekar yang pemuda itu punya. Dada bidangnya sangat pas untuk menjadi sandaran kepalanya! Dan-- oh astaga. Abs-nya!! Sixpack!! Kotak-kotak enam biji! Muka Thania sudah sangat memerah hingga ke telinga.


Dia ingin menyentuh perut kotak-kotak itu. Lalu mengelusnya. Bagaimana ya rasanya? Apakah keras? Atau-- Yak! Berhenti! Apa yang baru saja Thania pikirkan astaga! Kenapa otaknya jadi kotor.


"AAAA!!!" spontan Thania menjerit. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Telat Than telat! Tadi kemana aja baru teriak sehabis liat sana sini? Ck. Dasar.


Gevano yang sejak tadi mengamati tingkah Thania menutup erat kupingnya mendengar jeritan Thania.


"Kenapa lo teriak?!" kesal Gevano.


Thania tak begitu mempedulikan perkatan kesal Gevano. Dia lebih memilih bertanya yang seharusnya tak ia tanya. Karena itu pasti akan membuatnya semakin malu. Namun apa boleh buat, mulutnya tidak bisa diajak bekerja sama.


"Ke- kenapa lo nggak pake ba- baju!" ucap Thania gugup. Wajahnya masih dia tutup dengan tangan. Walaupun sia-sia saja karena Thania masih bisa mengintip lewat sela-sela jarinya.


Gevano mendengus geli, apa-apaan itu? Thania berteriak setelah mengamati tubuhnya? "Nggak usah teriak. Udah telat juga, kenapa nggak dari awal aja teriaknya? Kenapa malah liat-liat dulu baru teriak," kekeh Gevano.


"Itu juga kenapa harus ditutup mukanya? Kalau mau liat yang liat aja. Nggak perlu ditutup kalo masih ngintip-ngintip kayak gitu," tambah Gevano menahan tawa.

__ADS_1


Wajah Thania semakin memanas. Dia keciduk? Anjir, malu banget woi malu! Mau ditaruh di mana mukanya? Pantat sapi?!


Perlahan Thania menurunkan kedua tangannya. "A- apaan si?! A- aku nggak liat-liat tuh! Kamunya aja yang kepedean," elak Thania menghindari tatapan Gevano yang semakin membuatnya malu.


"Masak si? Yakin? Nggak mau nyentuh? Atau elus-elus perutku gitu? Barang kali tadi kamu mikir gitu tapi malu sama gengsi," goda Gevano berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Heh, mana ada!!" delik Thania.


Gevano menarik tangan Thania dan mengarahkan ke perutnya yang keras. Gadis itu menjerit tertahan di dalam hati. Demi apa dia nyentuh perut kotak-kotak, anjrot!


"Gimana? Suka?" tanya Gevano dengan seringai jahilnya.


Thania mendongak lalu menggeleng keras. "Nggak! Aku nggak suka! Lepasin!" ketus Thania menolak. Tapi tangannya bahkan tak berpindah seinci pun. Enggan melepasnya walau bibir sudah berkata 'tidak'. Tipe-tipe mau tapi malu.


"Mulut bisa bilang enggak, tapi tindakan tubuh lebih jujur dibanding ucapan kamu."


Mendengar itu Thania langsung menarik tangannya dengan cepat. Bisa-bisanya dia tergoda oleh bisikan Iblis sesat di depannya ini! Mana malu-maluin lagi. Belum kelar malu tentang kejadian sebelumnya. Sekarang dia malah semakin menambah malunya.


Apa sekarang urat malunya sudah putus? Jika iya, tolong kubur Thania hidup-hidup sekarang juga! Dia benar-benar malu saat ini! Wajahnya pasti udah kayak udang rebus nih. Kalau kayak gini jadinya, dia mau nangis aja rasanya sangking malunya.


Gevano tertawa gemas melihat wajah malu-malu Thania. Dia ingin menggoda gadis itu lagi. Tapi melihat Thania yang sepertinya sudah kepalang malu membuatnya urung. Kasihan juga jika dia terus menjahili gadis itu. Bisa-bisa nanti wajah gadisnya matang lagi jadi kue bolu rasa sayang. Eh, kok sayang?


Harusnya kan cinta.


"Iya-iya ini aku pakai baju nih." Gevano berjalan ke arah lemari, membukanya lalu mengambil kaos putih polos dan memakainya dengan cepat.


Thania hanya mengangguk, "bagus. Kalau kayak gini kan kamu masih keliatan punya adab," buat nggak bikin anak orang jantungan mendadak, lanjut Thania dalam hati.


Ya meskipun dia sedikit merasa kecewa karena tidak bisa melihat asupan perut kotak-kotak lagi. Tapi tidak masalah. Yang penting dia sudah melihatnya secara langsung, bahkan sampai memegangnya saja Thania sudah Alhamdulillah.


"Mau makan apa?" Gevano bertanya setelah mendudukan dirinya di samping gadis itu.


Thania menoleh sekilas sebelum menggeleng. "Nggak perlu. Aku nggak laper." Bohong! Padahal jelas-jelas perutnya sudah berdemo sejak tadi. Tapi yang namanya gengsi jelas membuat Thania enggan untuk berkata jujur bahwa dia tengah menahan lapar.


Gevano mengangkat sebelah alisnya tak percaya, "yakin?"


"Ya- yakin!" angguk Thania dengan sedikit ragu.

__ADS_1


Gevano menyeringai, dia pun mengangguk acuh. Dia tidak akan memaksa Thania untuk makan. Biarkan saja gadis itu kelaparan. Toh itu keinginannya sendiri kan? Jika nanti dia tidak kuat, pasti akan mengeluh. Atau tunggu saja sampai perut Thania--


Kruyukkk...


Berbunyi.


Tawa Gevano meledak begitu mendengar suara nyaring yang berasal dari perut Thania. Apa dia bilang? Pasti nanti perut Thania yang akan menjawab semua ucapan penuh dusta gadis itu!


Lihatlah, sekarang Thania malu sendiri! Apalagi Gevano menertawakan dirinya. Uhh, malu sekali. Baru juga rasa malunya sedikit surut. Sekarang malah malu lagi akibat ulahnya sendiri. Harusnya tadi dia diam saja. Tidak perlu menjawab setuju ataupun menolak. Cukup diam agar tidak membuat malu lagi.


Tapi, mulutnya malah tidak bisa direm. Huft. Apa boleh buat? Semuanya sudah terjadi.


"Berhenti tertawa dan cepat ambilkan aku makanan! Perutku sudah sangat lapar!" ketus Thania membua tawa Gevano berhenti secara perlahan.


"Tadi katanya nggak lapar..." goda Gevano.


"I- itu kan tadi! Se- sekarang perutku lapar karena kamu menawarkan makanan," ucap Thania mengelak.


Gevano hanya tertawa saja mendengar pengakuan Thania. "Mau makan apa?" tanya Gevano.


"Apa saja yang penting enak. Kalau bisa pesankan aku seblak! Yang paling pedas!' seru Thania semangat. Total lupa akan rasa malunya tadi.


Wajah Gevano mendatar, "nggak!"


Bibir Thania langsung cemberut mendengarnya.


"Jangan makan seblak. Apalagi yang pedas. Nanti perut kamu sakit. Pesan makanan lain saja," tolak Gevano tegas.


Thania tak bisa menolak perintah Gevano. Dia sudah sangat kelaparan. Jika dia mengajukan protes, perdebatan ini tidak akan selesai.


"Yaudah terserah kamu."


Dengan begitu Gevano tersenyum, lalu mengambil ponselnya dan memesan beberapa makanan sehat untuknya dan Thania.


Selagi menunggu makanan datang, mereka memutuskan untuk menonton film di tv dulu agar tidak terlalu bosan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2