
Tubuh Gevano tersentak saat ada yang memeluknya dari belakang. Ia memutar badan dan ingin memaki orang tersebut. Tapi tubuhnya membeku begitu tau yang memeluknya ternyata adalah Thania.
Uhuh, uhuk.
Thania terbatuk lagi dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia menatap sayu Gevano.
"Lo-- lo nggak papa kan?" tanya Gevano khawatir.
Thania menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
Gevano memegang pinggang Thania saat gadis itu ingin limbung. "Apanya yang nggak papa! Lo aja mau jatuh!" bentaknya dengan wajah cemas.
Gevano menggendong Thania ala bridal style. Ia berlari menerobos orang yang masih sibuk berkelahi. Tangannya melindungi gadis itu agar tak terkena pukulan.
Ia meletakan Thania di teras. Gadis itu menatap Gevano yang berantakan. Banyak lebam di wajahnya. Dan juga lengannya tadi sempat tergores pisau saat melindunginya.
"Maaf, gue jadi nyusahin uhuk... lo," kata Thania susah payah.
Gevano tidak menggubris perkataan Thania. "Kenapa lo bisa ada di sini?!"
Thania mengeryitkan dahinya bingung, kepalanya sudah berdenyut ngilu.
Uhuk, uhuk, uhuk.
Darah segar kembali keluar dari mulutnya. Gevano segera mengusap mulut gadis itu. Thania sudah pingsan karena tak kuat menahan pusingnya.
"Van---"
"Lo jagain pacar gue! Bawa dia ke dalem. Jangan sampai dia kenapa-napa. Obati juga lukanya. Gue ke sana dulu," ujar Gevano kepada Galang yang baru tiba.
Tatapan tajam dan aura gelapnya membuat Galang merinding. Pemuda itu mengangguk kaku.
Kemudian Gevano melepas pelukan itu. Setelah itu ia bangkit dan menuju ke kerumunan tersebut. Ia akan membalas orang yang telah menyebabkan Thania seperti ini dengan balasan berkali lipat. Tak ada ampun untuk orang yang telah menyakiti gadisnya.
Gevano menatap punggung orang yang telah membuat gadisnya seperti itu.
BUGH!
Pemuda itu menendang punggung sosok tersebut dengan keras. Sehingga sosok itu jatuh tengkurap. Ia menginjak punggungnya.
"Punya nyawa berapa lo sampai berani nyakitin cewek gue?" kata Gevano dingin.
Sosok itu berusaha bangkit, tapi Gevano semakin menekan kuat punggungnya.
"Lo mau gue bales pake apa? Pisau? Pistol? Atau tongkat baseball punya lo itu?" tunjuknya dengan dagu pada tongkat yang terlempar tak jauh darinya.
Gevano mengambil tongkat itu melewati tubuh orang tersebut.
"Ini kan tongkat yang udah mukul punggung gadis gue?" Gevano memainkan tongkat itu di kedua tangannya.
"Sekarang gue yang akan balas lo pake tongkan ini!" sambungnya menyeringai licik.
BUGH!
Gevano memukul pundak pemuda di bawahnya. Pemuda itu memekik kesakitan.
BUGH!
Ia kembali menghantamnya, kali ini di kaki kirinya. Ia akan membuat orang ini lumpuh! Gevano berkali-kali memukul orang itu menggunakan tongkat baseball.
Setelah puas memukul bagian belakang tubunya. Gevano membalikan badan orang tersebut.
BUGH!
Ia memukul wajah sosok tersebut. Darah segar keluar dari lubang hidungnya.
BUGH!
Bagaikan seorang Iblis, Gevano tetap memukul lawannya walau orang itu sudah dipenuhi dengan darah.
BUGH!
Ia berganti memukul kedua tangan pemuda tersebut. Pemuda itu sudah jatuh pingsan.
"Cih, lemah!"
Gevano memutar badannya dan berlalu dari sana. Ia menghajar beberapa musuh yang menghalangi jalannya.
Ia dapat melihat Galang dan Aldo sedikit kesusahan menahan musuh mereka agar tak bisa melukai Thania dan juga adiknya. Sialan. Kenapa bocah itu bisa ada di sini! Bukankah ia sudah menyuruh Aldo agar tak membiarkan adiknya keluar dari kamar!
__ADS_1
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Tiga musuh tumbang setelah dihantam oleh Gevano menggunakan tongkat baseball-nya.
"Gev---"
"Kenapa lo biarin Geisya keluar!" Tatapan tajam Gevano mengarah kepada Aldo.
"Maafin gue, Gev. Tadi Geisya main keluar aja, udah gue cegah tapi malah digigit sama adek lo," kata Aldo sambil menunjukan bekas gigitan Geisya di tangannya.
Gevano memandangnya sekilas, lalu berjalan mendekati Geisya yang mengobati luka Thania.
"Ngapain lo ke sini? Udah gue bilang jangan keluar dulu. Kenapa lo bandel!!?" bentak Gevano menarik lengan adiknya.
Geisya tersentak, kemudian menunduk. "Maaf, Bang. Geisya khawatir sama Bang Vano. Makanya ke sini," tunduknya menyesal.
"Masuk!"
Geisya mengangguk pelan, kemudian masuk ke dalam bersama Aldo. Setelah adiknya masuk, ia membantu Galang melawan musuhnya.
"Lang, bawa pacar gue ke dalem," perintah Gevano dengan tangan yang sibuk menghajar musuhnya.
"Tapi lo gimana?" Galang menoleh sekilas ke arah Gevano.
"Gue bisa lawan mereka semua sendirian. Yang paling penting keselamatan pacar gue!"
"Lo aja yang bawa dia masuk. Biar ini jadi urusan gue."
"Nggak---"
"Gev, emang lo nggak cemburu kalo gue gendong cewek lo?" kata Galang menaik turunkan alisnya.
Disaat seperti ini pun Galang masih bisa menggodanya.
"Oke. Gue bawa dia masuk, lo hati-hati!" pesan Gevano.
Galang mengangguk dengan senyum tipisnya.
Gevano berlari menuju Thania, menggendong gadis itu ala bridal style. Lalu membawanya masuk ke dalam tanpa menyadari seseorang yang mengintainya dengan senyum miring.
...***...
Gibran memukul rahang Rafael. Pemuda buaya itu, maksudnya pemuda playboy itu mengelap sudut bibirnya. Lalu menatap tajam Gibran yang berwajah dingin.
"Pukulan lo boleh juga," puji Rafael dengan nada mengejek.
Gibran tetap berwajah datar.
BUGH!
Ia menendang perut Rafael sampai pemuda itu membungkuk menahan sakit di perut.
"Untung gue laki, coba kalo cewek. Terus lagi PMS dan ditendang ke gitu. Auto mati tu orang yang berani nendang perut dia," gumam Rafael menekan perutnya yang terasa nyeri.
Ia membuang nafasnya, lalu menegakan tubuhnya.
"Lumayan," ucap Rafael berkomentar.
Sret!
Kepala Rafael menghindar ke samping saat Gibran melayangkan pukulannya.
"Hampir aja wajah tampan gue ternodai," gumam Rafael meneguk ludahnya.
Rafael ini paling melindungi wajah tampannya supaya tidak bonyok. Nanti kalau bonyok, para pacarnya kabur lagi.
Sret!
Rafael kembali menghindar ketika Gibran melayangkan pukulannya ke sisi wajahnya.
"Tenang dude! Jangan esmochi!" kata Rafael menurunkan perlahan kepalan tangan Gibran.
"Mending gini aja, kita buat kesepakatan. Lo nggak boleh mukul wajah gue. Gue juga nggak akan mukul wajah lo. Gimana?" tawar Rafael.
Gibran melonggarkan kepalan tangannya, dan menatap tajam pemuda yang menjadi lawannya. Rafael yang melihat tatapan tajam Gibran mulai mengerutkan keningnya. Serasa familiar liat tatapan tajam itu.
__ADS_1
"Kok kayak kenal?"
"Eh, kita pernah ketemu nggak si? Kayaknya gue pernah liat tatapan lo deh? Tapi di mana ya?" tanya Rafael menatap Gibran dan berusaha mengingat.
"Gak."
"Wihh, dingin amat. Ngalahin kembarannya bright si Arga," lirihnya yang bisa didengar oleh Gibran.
"Ooohh! Gue inget sekarang! Lo kan yang jemput cewek di wartegnya Mpok Atik waktu itu kan?!"
"..."
"Ck, bener. Lo cowok yang waktu itu!"
Rafael menatap Gibran dari bawah sampai atas. "Penampilannya oke. Wajahnya juga oke. Kayaknya orang tajir. Heh, heh! Apa apa'an si lo Fa?! Lo itu lebih wah dari pada ni cowok. Jadi jangan muji rival lo sendiri! Nggak boleh! Najis hukumnya."
Gibran yang melihat tatapan menelisik dari Rafael menjadi risih. Apalagi ketika Rafael menatap penuh wajahnya. Ini niatnya mau adu jotos kayak yang lain atau mau liat-liatan si?!
"Apa gue tanya aja ya ke dia hubungannya sama cewek itu? Biar gue lega gitu. Ni di hati gue dari kemarin ngeganjel terus. Nggak tenang gue kalo belum nanya."
Ck, lebih baik dia mencari lawan lainnya saja. Ia berbalik meninggalkan Rafael. Tapi sepertinya pemuda itu tak ingin dia pergi. Buktinya tangannya ditarik oleh Rafael.
"Apa?" sinis Gibran menyentak tangan Rafael.
"Lo ada hubungan apa sama Gisela?" tanya Rafael tanpa basa basi.
"..."
"Kalo orang nanya tu dijawab!"
Gibran menatap datar Rafael. "Kenapa lo kepo?"
"Ya karena itu urusan gue!" balas Rafael nyolot.
"Emang lo siapanya?"
Skakmat.
Emang lo siapanya? Ngejleb banget di hati. Tapi benar. Memang dia siapanya? Kenalan juga baru kemarin itu doang.
"Gue--- Gue pacarnya!"
Gibran mengangkat sebelah alisnya. Dia pacar Gisela? Ia melihat Rafael dari bawah ke atas. Serious?
"Maksudnya calon pacar," ralat Rafael dengan kata lirih diakhir kalimatnya.
Calon pacar katanya? Untung saja masih calon, bukan pacar beneran.
"Udah lah mending lo jawab. Lo itu siapa?!!" bentak Rafael dengan mata melotot garang, dan bersedekap dada. Tak lupa, dagunya ia angkat agar terlihat angkuh.
Ia akan memasang ekspresi wajah menyeramkan agar rivalnya ini takut dan mundur secara perlahan.
"Gue saudaranya. Saudara kembarnya. Kakak kembar Gisela."
Tangan Rafael perlahan menurun, dagunya yang tadi terangkat sekarang pelan-pelan mulai menunduk.
*Gue saudara kembarnya...
Kakak kembar Gisela...
Saudara...
Kembar...
Gisela...
SAUDARA KEMBAR!!!!
ITU BERARTI DIA?!!!
ASTAGA!!!
OMG!!!
O EM JI!!!
DEMI APA?!!!
INI... ORANG YANG DISANGKANYA RIVAL TERNYATA ADALAH* CALON KAKAK IPARNYA!!!!
__ADS_1
**Bersambung...
Makin Gj gkðŸ˜**