Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

"Bang, tadi kan aku baca novel tuh. Nah, aku itu kesel banget sama pemeran cowoknya! Masa ya, dia itu kasar sama ceweknya! Kadang nampar, kadang mukul, kadang juga jambak rambutnya! Padahal kan dia itu pacarnya!" oceh Geisya seraya memukul bantal yang ada di pangkuannya seolah meluapkan kekesalannya.


"Bang, Abang denger kan?!" kesal Geisya waktu tersadar bahwa Gevano sibuk dengan urusannya sendiri. Yaitu menggosok rambutnya yang basah karena baru saja selesai mandi.


"Bang!" Geisya berteriak kesal karena Gevano tidak menjawabnya.


"Apa sih?!" jawab Gevano kesal.


"Abang denger aku ngomong nggak sih!" ulang Geisya dengan kesal.


"Nggak! Udah sana lo keluar! Ganggu hidup gua mulu lo ah," sebal Gevano sambil meletakkan handuknya di gantungan baju.


"Aku bilangin Mama nih kalo Abang jahatin aku!" ancam Geisya.


Terdengar decakan dari Gevano. "Dasar pengadu!" cibirnya pelan yang masih didengar oleh Geisya.


Geisya langsung membalas cibiran Gevano. "Ih, biarin ya! Dari pada Abang, tukang bo'ong! Dasar pembohong! Bilangnya nggak bolos, padahal aslinya bolos!"


"Bodo amat! Udah lah lo keluar dari kamar gua sana! Dasar bocah!" Gevano mendorong tubuh kecil Geisya.


Geisya yang didorong memajukan bibirnya kesal. Dia mencengkram erat baju kimono yang dipakai Gevano.


"Nggak mau! Geisya mau di kamar Abang ih!"


"Keluar!" perintah Gevano penuh penekanan. Dia mengangkat tubuh kecil adiknya.


Geisya yang diangkat langsung memeluk erat leher kakaknya. Kakinya ia lingkarkan di pinggang Gevano. Kepalanya ia geleng-gelengkan.


"Enggak!!! Geisya masih belum selesai cerita! Jangan usir dulu!!" Tangan kecilnya memukul pundak kokoh Gevano.


Gevano tak menggubris perkataan Geisya, dia juga tidak peduli pada pundak yang menjadi sasaran Geisya. Lagipula itu tidak terasa apa-apa baginya.


"Abang... Jangan usir Geisya!!! Kalo Abang usir Geisya, Geisya bakal nangis nih! Terus kalo Geisya nangis, Papa sama Mama denger! Terus kalo mereka denger aku ngadu yang enggak-enggak loh biar uang jajan Bang Vano dipotong. Abang mau uang jajannya dipotong hah?!" ucap Geisya dengan mata yang melotot seolah menakuti Gevano dengan ancamannya.


Gevano memasang ekspresi takut, tapi sedetik kemudian dia langsung merubahnya dengan ekspresi datar. "Gua. nggak. peduli!" jawab Gevano dengan nada penekanan.


Geisya yang tadinya bersorak dalam hati karena berhasil mengancam abangnya mendadak wajahnya berubah masam mendengar kata-kata Gevano.


Gevano menurunkan adiknya di depan pintu kamarnya. Saat akan diturunkan, Geisya malah semakin erat memeluk tubuh Gevano. "Enggaaaakkk!!! Geisya mau di kamar Abang ihhh!!!" rengek Geisya keras.


"Ke kamar lo sendiri kenapa si?! Lo kan punya kamar, ngapa di kamar gua mulu!" kesal Gevano sambil berusaha melepas tangan kecil Geisya yang semakin erat memeluknya. Dia lama-lama bisa tercekik ini!


"Aku kan maunya di kamar Abang! Bukan kamar aku!!"


"Emang kamar lo kenapa?!"


"Ya nggak papa."


"Ya udah di kamar lo aja, anjing!!" kata Gevano tanpa sengaja mengeluarkan umpatan yang menyebabkan Geisya menangis keras.


"HUWAAA MAMA!! ABANG NGOMONG KOTOR KE ADE--- Hmptt!!" Geisya tak dapat melanjutkan ucapannya saat telapak tangan Gevano membekapnya.


"Lo bisa nggak, nggak ngadu ke Mama mulu!" kesal Gevano.


"VANO, ITU GEISYA KAMU APAIN!!" teriak Kiara dari lantai bawah.


Gevano gelagapan mendengar teriakan Kiara. Jangan sampai mamanya itu mengomelinya lagi! Kupingnya sudah cukup pengang tadi! Dia tidak ingin mendengar omelan mamanya lagi!


"NGGAK AKU APA-APAIN KOK, MA!! GEISYA TADI CUMA GABUT AJA!!" dusta Gevano dengan lancar.


"KAMU NGGAK BOHONG KAN?!"


"YA NGGAK DONG, MA!! ABANG MANA BERANI BOHONG SAMA MAMA! KALAU MAMA NGGAK PERCAYA TANYA AJA SAMA ORANGNYA LANGSUNG."


Gevano memberikan pelototan mata kepada Keisha agar mengatakan iya. Ia melepaskan bekapannya di mulut Geisya agar berbicara.


"IYA, MA! GEISYA CUMA GABUT AJA!" ujar Geisya menuruti ucapan kakaknya karena diberi pelototan tajam oleh Gevano.

__ADS_1


"Oh, ya udah kalo gitu. Kalian jangan ribut ya?"


"Iya, Ma!!" jawab kedua kakak adik itu serentak.


"Bang, aku boleh ke kamar Abang ya? Tadi kan aku udah nurutin perintah Abang. Ya? Ya? Ya?" Geisya menunjukkan puppy eyes nya yang menggemaskan.


Gevano bukannya gemas malah terlihat malas dengan bola mata yang ia putar. "Nggak!" tolak Gevano tegas.


Mata Geisya berkaca-kaca. "Aku aduin ke Papa nih biar fasilitas Abang disita!"


Gevano mendengus kesal. "Lo itu tukang ngadu banget si! Apa-apa ngadu! Kalo nggak ke Mama, ke Papa!" kesalnya.


"Habisnya Abang ngeselin. Masa adek sendiri nggak dibolehin ke kamar Abang! Aku kan cuma mau cerita doang! Biar kita kayak adek kakak akur gitu loh."


Gevano menatap datar Geisya. "Ya udah ayo. Tapi janji ya jangan buat gaduh di kamar gua! Jangan bikin rusuh juga! Atau kalau nggak, lo langsung gua tendang keluar!" peringat Gevano.


Geisya tersenyum dan mengangguk lucu. "Ay ay kapten!" katanya dengan tanda hormat.


"Sekarang ayo ke kamar! Aku udah nggak sabar buat cerita sama Bang Vano!! Ayo! Ayo jalan!! Go! Go!" heboh Geisya dengan kaki yang bergerak acak dan tangan terkepal ke atas.


"Kalo lo nggak diem, gua lempar lo dari sini!" ancam Gevano sambil berusaha menjaga tubuh adiknya agar tidak jatuh ke lantai.


Geisya mendadak langsung diam mendengar ancaman sang kakak. Gevano yang melihat Geisya terdiam segera masuk ke dalam kamarnya dan mendudukan tubuh adiknya di atas ranjang.


Sedangkan dirinya menidurkan tubuhnya di sebelah Geisya. Matanya ia pejamkan, telinganya siap untuk mendengar cerita dari adiknya. Tapi sampai tiga menit berlalu Geisya masih belum membuka mulutnya untuk bercerita.


Dia membuka sedikit matanya, lalu mengeryit melihat adiknya diam saja tidak bergerak sedikitpun, kecuali matanya yang bergerak untuk berkedip.


"Kenapa lo diem aja?" tanya Gevano dengan alis berkerut.


Geisya diam tidak menjawab. Bahkan menoleh pun tidak. Gevano jadi khawatir jika adiknya ini kesurupan. Wah, bisa berabe urusannya kalau Geisya beneran kesurupan.


Gevano langsung bangun dan duduk menghadap Geisya. "Dek, lo nggak kerasukan jin atau roh jahat kan?"


"Sya! Lo kesurupan?"


Geisya memekik kesal, dia melepas kasar tangan Gevano dari bahunya. "Ih Abang apa'an si guncang-guncang bahu Geisya!!"


"Ya habisnya lo diem aja! Ya gua takut lo kerasukan, o'on!"


Geisya melirik sebal Gevano yang terlihat kesal. "Tadi kan Bang Vano sendiri yang nyuruh gua diem!"


Gevano menggaruk kepalanya, "Oh iya ya?"


Tangannya ia lipat di depan dada, lalu meniup poninya dengan kesal. "Huft! Dasar pikun!"


Gevano kembali membaringkan tubuhnya. "Gua bukan pikun. Cuma agak lupa sedikit!"


"Sama aja!" sewot Geisya.


"Udah, udah. Dari pada lo diem kayak orang kesurupan, mending lo ngoceh aja deh. Tadi katanya mau cerita kan? Ya udah sok atuh cerita," kata Gevano.


Geisya yang tadi memasang wajah judes kembali tersenyum ceria. Dia dengan semangat yang membara duduk menghadap sang kakak yang tengah tiduran dengan mata tertutup.


"Abang dengerin cerita aku tapi ya?"


"Iya."


"Oke. Jadi gini, emm... Tadi aku cerita sampai mana ya, Bang?" tanya Geisya polos.


"Nggak tau. Coba lo inget-inget," acuh Gevano.


"Oke, bentar."


Geisya mencoba mengingat sampai mana dia bercerita. Setelah ingat dia menjentikkan jarinya. "Aku inget, Bang!" lapornya.


"Ya udah lanjutin," jawab Gevano tanpa membuka matanya.

__ADS_1


"Jadi gini, kan aku punya novel tuh. Aku itu kesel sama pacar ceweknya yang suka semaunya sendiri! Dan yang bikin aku tambah jengkel itu. Dia, si cowoknya itu ngurung ceweknya di gudang belakang sekolah! Kesel banget kan, Bang?!" cerita Geisya dengan wajah kesal.


Gevano berdehem, tapi sedetik kemudian matanya langsung terbuka. Dia menoleh cepat ke arah Geisya.


"Dek, lo tadi bilang apa? Cowoknya ngurung..?"


Geisya menatap Gevano yang tiba-tiba berbalik menghadapnya. "Oh itu, cowoknya ngunci ceweknya di gudang belakang sekolah yang--- Loh, Bang mau ke mana?!" Geisya terkejut saat tiba-tiba Gevano bangun dengan terburu-buru.


Gevano tak menggubris ucapan Geisya. Dia mengambil jaket dan kunci motor milik Arga lalu buru-buru dia keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dengan langkah cepat hingga menimbulkan bunyi nyaring.


Rey dan Kiara yang ada di bawah langsung menoleh ke arah Gevano yang berlari cepat melewati mereka.


"Vano, kamu mau ke mana?" tanya Kiara langsung berdiri melihat wajah panik Gevano.


"Mau keluar sebentar, Ma! Ini darurat!" balas Gevano tanpa menoleh ke arah sang Mama.


Saat Kiara akan berlari mengejar Gevano, tangannya di tahan oleh Rey. "Udah biarin aja. Mungkin ini keadaannya darurat."


"Tapi---"


"Ssttt, nggak perlu khawatir. Vano laki-laki. Dia bisa jaga dirinya sendiri," potong Rey.


Kiara kembali duduk di samping Rey setelah mendengar perkataan suaminya. Geisya yang baru tiba di bawah segera bertanya kepada orang tuanya.


"Ma, Pa, Bang Vano mau ke mana? Kok buru-buru? Tadi Geisya nanya tapi nggak dijawab," ujar Geisya mendudukkan dirinya di sofa seberang Rey dan Kiara.


"Nggak tau, katanya darurat," jawab Kiara.


Geisya hanya membalas dengan ber 'oh' ria.


...[][][]...


Gevano melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Dalam hati dia mengumpati kebodohannya. Bisa-bisanya dia melupakan Thania. Kalau saja tadi adiknya tidak membahas masalah gudang itu, mungkin dia akan benar-benar melupakan Thania sampai besok pagi!


"Maafin gua, Keyla," gumam Gevano merasa sangat bersalah.


Saat sampai di depan pintu gerbang sekolah, Gevano turun dari motornya untuk membuka gerbang itu. Namun sayangnya gerbang tersebut di gembok. Gevano berteriak kesal dan menendang gerbang itu keras.


"Sialan! Lo nggak tau gua lagi cemas apa hah?!! Dasar gerbang bangsat!"


"Arrgh!" Gevano berteriak kesal dan mengacak-acak rambutnya.


Bugh.


Sekali lagi dia menendang gerbang yang tidak bersalah itu dengan keras. Gevano memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam sana. Sebenarnya dia bisa saja memanjat pagar itu. Tapi nanti bagaimana dengan Thania? Dia yakin gadis itu tidak akan bisa memanjatnya. Sekalipun bisa, dia tidak akan membiarkan Thania memanjat pagar yang tinggi itu.


Tangannya menyugar surainya ke belakang dengan rematan kesal. Lalu matanya melirik ke arah motor Arga. Sebuah ide melintas di otaknya. Tanpa banyak kata lagi dia langsung berlari ke motor itu, dan menaikinya.


Kemudian dia memundurkan motornya sedikit jauh dari area gerbang. Dirasa sudah cukup. Dia pun menghidupkan mesin. Menekan pedal remnya dengan tangan kanan yang stang kemudi. Mata tajamnya memandang lurus ke depan.


Brum... Brum...


Suara mesin motor sport milik Arga memenuhi jalanan yang sepi itu. Dia menghitung dalam hati.


Satu...


Dua...


Tiga...


Hitungan ketiga motor yang dikendarai oleh Gevano melanju kencang menuju gerbang sekolah SMA Merdeka itu.


Lalu...


BRAAAKK


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2