Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Empat Puluh


__ADS_3

Thania mengerjapkan matanya beberapa kali kala silau lampu masuk ke dalam penglihatannya. Kemudian mata itu terbuka sepenuhnya. Dia menoleh ke sekeliling, keningnya mengeryit.


Dia merasa asing dengan tempat ini. Lalu Indra penciumannya mencium bau obat-obatan. Dan dia baru sadar, jika tangannya di infus. Thania sekarang tau bahwa dia berada di Rumah sakit.


Tapi siapa yang membawanya ke sini? Apakah Gevano? Lalu di mana pemuda itu sekarang? Thania berusaha mendudukan dirinya. Pusing menyerang kepalanya. Tapi dia tahan dengan menggigit bibir bawahnya.


Setelah berhasil duduk, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Di sini tidak ada siapapun selain dirinya.


Ceklek.


Mendengar suara pintu yang dibuka, Thania dengan cepat mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Terlihat Nathan yang baru saja masuk dengan membawa sekantong plastik berwarna hitam.


"Udah bangun, Dek?" tanya Nathan berjalan menuju Thania.


Thania mengangguk pelan. Dia masih terlalu lemas untuk berbicara. Tenggorokannya terasa kering.


Nathan menaruh plastik itu di atas nakas samping ranjang Thania.


"Gimana keadaan lo? Udah mendingan? Atau ada yang sakit?" tanya Nathan beruntun.


Thania menggeleng pelan, dengan suara lirih dia membalas. "Kepala gua sedikit pusing, Bang."


Nathan mengangguk, itu sudah biasa terjadi jika sedang demam. "Mau gua panggilin Dokter?" tawar Nathan.


Thania menggeleng pertanda menolak.


"Ya udah mending sekarang lo makan terus minum obat," kata Nathan sambil membuka kantong plastik yang dibawanya tadi.


"Sekarang jam berapa, Bang?" tanya Thania.


"Udah jam sepuluh malem," balas Nathan tanpa menatap Thania, dia sibuk membuka bungkus bubur yang tadi ia beli di kantin Rumah sakit.


Makanan dari Rumah sakit belum diantar, karena pada saat itu Thania masih belum sadar. Jadi Nathan meminta pada mereka untuk mengantar makanan besok pagi saja.


Tapi siapa sangka jika Thania akan sadar sekarang? Ya dia bersyukur adiknya sudah sadar. Untung saja tadi dia membeli bubur dan nasi pecel lele untuknya.


"Ayo makan, Abang suapi," ujar Nathan duduk di samping ranjang Thania.


Dia mengaduk bubur itu sebentar, lalu mengarahkannya ke mulut sang adik. Thania menatap sendok berisi bubur itu sebentar. Lalu membuka mulutnya, menerima suapan dari sang kakak.


Nathan tersenyum kecil. Dia kembali menyuapkan sesendok bubur itu ke mulut Thania hingga tandas. Mungkin gadis itu lapar, karena sejak tadi pagi dia belum makan apa-apa. Setelah selesai menghabiskan semangkuk bubur tersebut. Thania meminum obat yang sudah disiapkan oleh sang Dokter.


"Mending sekarang lo tidur lagi. Ini udah malem," kata Nathan mengelus surai Thania.


Thania menatap Nathan lamat. Dia ingin bertanya kepada Nathan, kenapa dia bisa tiba-tiba ada di sini. Tapi dia ragu untuk bertanya. Nathan yang mengamati raut adiknya sejak tadi berceletuk. Dia tau ada yang ingin Thania tanyakan padanya, tapi gadis itu ragu.


"Kalo mau nanya ya nanya aja. Nggak usah ragu-ragu gitu," celetuk Nathan membuat Thania sedikit tersentak kaget.

__ADS_1


Tapi rautnya kembali biasa seperti semula. Ternyata kakaknya ini peka sekali.


"Hehe, Abang tau aja kalo gua mau nanya," cengir Thania.


Nathan mendengus, "ya tau lah. Emangnya kita baru kenal kemarin gitu sampai gua nggak ngerti sikap lo?"


Thania menggeleng, masih dengan cengiran khasnya.


"Mau nanya apa emangnya?" tanya Nathan.


"Bang, Thania kok bisa ada di Rumah sakit ya? Yang bawa gua ke sini siapa?" tanya Thania.


Gerakan tangan Nathan yang mengelus rambut Thania berhenti. Thania yang merasakan elusannya berhenti mengeryit heran. Dia pun menatap Nathan dengan pandangan bertanya. Tapi Thania tak peduli dengan elusan itu, dia hanya ingin mendapat jawaban atas pertanyaannya saja.


"Bang, kok diem aja? Siapa yang bawa gua si?" ulang Thania.


"Bang, kenapa nggak jawab si?"


Karena tak mendapat jawaban, Thania menarik kesimpulan jika yang membawanya adalah Gevano. Dengan nada pelan Thania bertanya.


"Apa-- Jangan-jangan yang bawa gua itu si Gevano ya, Bang?" Thania menyebut nama Gevano dengan takut-takut sambil mengamati raut wajah Nathan yang tiba-tiba berubah menjadi dingin saat dia menyebut nama itu.


Tidak salah lagi, melihat dari raut wajah Nathan dia sudah mengerti dengan jelas bahwa memang benar Gevano lah yang membawanya ke sini. Tapi Gevano di mana? Tidak mungkin kan pemuda itu langsung pulang setelah membawanya kemari?


"Jangan nyebut namanya lagi. Lo udah nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Jadi sekarang lo udah bebas dari hubungan nggak sehat itu," celetuk Nathan tiba-tiba.


"Maksud Bang Nathan apa? Gua sama Gevan udah putus, gitu?" tanya Thania memastikan.


Nathan mengangguk. "Iya. Lo sama dia udah putus, jadi hidup lo sekarang udah tenang lagi," balas Nathan tersenyum tipis sambil membawa tangannya mengusap rambut Thania lagi.


Perasaan Thania saat ini antara bahagia dan juga-- sedikit sedih, mungkin? Dia tidak tau mengapa harus sedih? Apa dia sudah mulai menerima Gevano di sisinya?


Aa, tidak tidak! Itu tidak mungkin! Pikir Thania menolak. Sudah lah, jangan terlalu dipikirkan lagi. Harusnya dia bahagia, karena ini yang ia inginkan sejak dulu. Ya, dia bahagia berpisah dengan Gevano!


"Dek, lo ngelamunin apa si?" tanya Nathan.


Thania menoleh ke arah sang kakak dan memberi senyum manis. "Enggak kok, Bang. Gua nggak lagi ngelamunin apa-apa. Cuma mikir doang tadi, hehehe."


"Lo ini." Nathan menyentil pelan kening Thania.


Gadis itu meringis, lalu mengusap keningnya dengan bibir cemberut. "Bang, gua pusing! Ngapa disentil!" kesalnya.


"Pelan doang elah, gitu aja lebay lo," cibir Nathan.


Thania semakin kesal. "Nggak lebay! Tapi coba Bang Nathan bayangin, kepala gua sakit, dan lo seenak jidat malah nyentil kening gua!" ketus Thania.


"Ya udah maaf." Tangan Nathan beralih mengusap kening Thania.

__ADS_1


"Nggak usah cemberut lo kayak bebek tau!" ejek Nathan.


"Bang! Lo kok makin ngeselin siii!!"


Nathan terkekeh melihat wajah kesal Thania yang menurutnya lucu. "Udah, udah. Nggak usah marah-marah mulu. Tidur sono, udah malem ni," suruh Nathan.


"Gua juga tau kali kalo sekarang malem," gumam Thania kesal.


Nathan yang mendengar gumaman Thania mengangkat sebelah alisnya. Kemudian dengan datar dia berkata. "Tidur, Thania!"


"Iya, Bang!"


Thania segera berbaring, menarik selimut Rumah sakit lalu memejamkan matanya. Nathan masih duduk di tempat semula, dia mengusap rambut Thania agar gadis itu cepat terlelap.


Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Thania yang sudah memasuki alam mimpinya. Mungkin efek obatnya, jadi Thania cepat terlelap.


Nathan berhenti, dia mengamati wajah terlelap Thania. "Gua harap lo bahagia terus, Dek," lirih Nathan seraya bangkit dari duduknya untuk mengecup kening sang adik.


"Good night my little sister."


...[][][]...


Gevano menghempaskan tubuhnya ke kasur besarnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya tertuju pada satu nama, yaitu Thania.


Apa gadis itu sekarang sudah sadar? Mungkin iya. Lalu apakah gadisnya itu mencari dirinya ketika baru sadar dari pingsannya? Mungkin tidak.


Helaan nafas keluar dari mulut Gevano. "Belum sejam aja gua udah kangen berat sama Thania," gumam Gevano.


"Apa gua bisa tahan jauhan sama Thania?" tanya Gevano pada dirinya sendiri.


Gevano mengacak-acak rambutnya kesal. "Arrghh! Sialan banget! Kenapa Papa tadi setuju-setuju aja si waktu abangnya Thania nyuruh gua jauhin Thania! Padahal Papa tau, kalo gua nggak bisa jauhan sama Thania!!"


Wajah Gevano sangat kesal. Dia ingin marah, tapi sama siapa? Ya kali dia marah sama bokapnya karena ini. Bisa-bisa ditendang dari ahli waris dia.


Gevano menghembuskan nafasnya. Lalu menumpukan satu tangannya di atas kening. Memejamkan matanya, lalu berkata tanpa membuka matanya.


"Gua harus sabar. Itung-itung gua ngasih kebebasan dulu buat Thania. Setelah dia balik ke pelukan gua lagi. Jangan harap dia bisa lepas!"


"Dan gua harus bisa jaga emosi biar nggak KDRT lagi sama Istri," sambung Gevano.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua. Aku baca komentarnya suka banget liat keantusiasan kalian hehe😅🤗


Aku juga mau minta maaf karena nggak sempet bales satu persatu komentar dari kalian. Tapi tenang aja, aku udah baca semuanya kok! Aku nggak balas bukan karena sombong, tapi komentarnya terlalu banyak. Jadi aku bingung waktu mau balas.


Dan juga maaf karena lama update-nya🙏

__ADS_1


__ADS_2