
"Nat, gua balik dulu ya? Udah sore nih," kata Zila berdiri sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 17.08 WIB.
Dia ke sini pukul 1 siang lalu, dan sekarang sudah jam 5 sore. Itu artinya dia di sini sudah 4 jam, dan selama itu pula Gevano berdiri dengan tubuh menempel bagaikan cicak di dinding.
Kaki pegal? Jangan ditanya! Gevano sudah yakin jika kakinya tak hanya pegal, tapi bengkak! Dia lebih baik berlari berjam-jam dari pada berdiam diri layaknya manusia kadal di sini!
'Ya Allah ini kapan selesainya?!! Hamba tidak kuat Ya Allah." batin Gevano berteriak mengadu sejak tadi. Tapi setelah mendengar kakaknya akan pulang, dia mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya. Akhirnya penderitaannya akan segera berakhir sebentar lagi.
"Oh ya udah, lo pulang bareng siapa? Mau gua anter?" tanya Nathan menawarkan dan ikut berdiri menghadap Zila.
Zila menggeleng, "nggak usah. Gua pulang sama sepupu gua aja," jawab Zila menolak.
"Emang sepupu lo di mana si?" tanya Nathan bingung.
"Gua juga nggak tau, ini mau gua telfon." Zila mengeluarkan ponselnya dari tas selempang miliknya.
Gevano yang mendengar perkataan kakak sepupunya langsung menegang. Bisa mampus dia kalau Kak Zila beneran menelfonnya. Dia dengan cepat merogoh semua sakunya. Karena terlalu panik dia tidak bisa berpikir jernih.
Dia bergerak-gerak membuat tirainya ikut bergerak. Thania yang melihatnya mengeryit dan juga cemas. Kenapa Gevano malah bergerak-gerak seperti itu? Apa yang sebenarnya pemuda itu lakukan!
Thania mengawasi Nathan yang sibuk dengan Zila dan kembali menatap tirai jendela. Untung saja kakaknya membelakangi jendela. Coba kalau tidak? Sudah pasti dia Gevano ketahuan.
Gevano mengeluarkan ponselnya dari saku. Hendak mengatur ponselnya menjadi mode silent. Tapi sayangnya Zila lebih menelfonnya. Hingga ponselnya berbunyi.
Drtt... Drrt..
'Mampus lo sekarang Van!'
Kening Nathan dan Zila berkerut dengan wajah yang nampak bingung. "Itu bunyi ponsel siapa?" tanya Zila.
"Bukan ponsel gua," balas Nathan menggeleng.
Mereka mencari sumber asal suara, dan berhenti di tirai yang sedikit bergoyang. Entah karena tertiup angin, atau memang ada orang di sana?
"Kayaknya asal suaranya dari situ deh?" ujar Nathan menatap lurus tirai yang menutupi Gevano.
Thania sudah pucat mendengar ucapan kakaknya.
"Siapa lo!? Cepet keluar!!" teriak Nathan.
"Biar gua aja ya yang liat?" ucap Zila kepada Nathan.
Nathan menoleh dengan wajah tak setuju. "Jangan gila, Zil! Gimana kalo dia orang jahat?!"
"Enggak akan. Udah lo tenang aja," balas Zila.
"Nggak, nggak! Biar gua aja yang liat, lo lebih baik di sini aja," tolak Nathan.
"Tapi gua pengen liat, Nathan."
"Nanti kalo dia udah keluar lo bisa liat! Kalo sekarang biar gua aja, takutnya dia bukan orang baik. Gimana kalo lo dilukai sama dia? Entar gua juga yang repot."
"Terus kalo misalkan lo yang dilukai gimana? Gua nggak pengen lo terluka."
"Gua juga nggak pengen liat lo terluka, Zil!"
__ADS_1
Gevano mendengus jengah. Sampai kapan kedua orang itu berdebat? Sudah lah, dari pada mereka berdebat karena hal tak penting. Lebih baik sekarang dia keluar.
Gevano membuka tirainya. Lalu berdehem membuat perdebatan antara kedua manusia berbeda jenis itu berhenti. Mereka menoleh ke sumber suara.
Zila menampilkan raut terkejut melihat adiknya ada di sini. Sementara Nathan tajam Gevano yang berdiri dengan wajah dinginnya. Sedangkan Thania sudah melototkan matanya tak percaya.
"Van, sejak kapan lo di situ?" tanya Zila menormalkan wajah terkejutnya.
Nathan dan Thania menoleh kepada Zila dengan alis menyatu. Apa mereka saling mengenal?
"Sejak lo sama dia belum dateng ke sini," jawab Gevano.
"Kalian saling kenal?" tanya Nathan menatap Zila dan Gevano bergantian.
Zila menoleh dan mengangguk. "Iya. Dia sepupu yang gua omongin tadi."
Lalu Zila kembali menatap Gevano. "Lo di sini udah dari empat jam yang lalu dong?"
Gevano membalas dengan deheman.
"Ya ampun! Lo ngapain berdiri ngumpet di balik tirai, Vano! Kenapa nggak duduk bareng kita aja si dari pada berdiri di situ?"
"Ya gua terpaksa lah. Kalo bukan karena keadaan yang nyuruh gua juga ogah kali. Tapi nyatanya perjuangan gua berujung sia-sia. Udah ngumpet, berdiri di situ empat jam, nempel kayak cicak. Dan akhirnya tetep ketauan juga!" dengus Gevano dengan kesal.
Nathan menjadi bingung sekarang. Ingin marah dan mencaci maki Gevano yang lancang menemui adiknya tanpa sepengetahuannya, lalu mengusirnya dari sini.
Tapi fakta bahwa pemuda itu adalah sepupu dari Zila membuatnya bimbang! Tidak mungkin jika dia marah-marah kepada Gevano di depan Zila. Bisa-bisa gadis itu menjauhinya lagi. Oh tidak, tidak!
"Maksutnya gimana si? Gua nggak ngerti," kata Zila bingung.
"Sebenarnya lo sama Nathan ada hubungan apa?" tanya Zila melanjutkan.
"Sama aja deh! Intinya kalian ada hubungan apa? Kok bisa kenal?"
"Dia dulu pacarnya Thania," tutur Nathan menjelaskan seraya menekan kata dulu.
"Berarti sekarang mereka udah putus dong?"
"Iya."
"Lah terus lo ngapain di sini, Van?" tanya Zila kepada Gevano.
"Ya emang kenapa si, Kak? Jenguk mantan itu salah ya?" balas Gevano bertanya balik.
Zila terdiam, benar juga si. Memangnya jenguk mantan yang lagi sakit itu salah ya? Enggak kan?
"Ayo pulang, tadi katanya mau pulang?" celetuk Gevano membuyarkan pikiran Zila.
"Emangnya lo udah pengen pulang sekarang? Nggak mau ngobrol dulu sama Thania?" ucap Zila.
'Ya mau lah! Ya kali enggak! Orang gua rindu berat sama Thania."
"Nggak," singkat Gevano datar.
Hati bilang ini, mulut bilang itu.
__ADS_1
"Nggak usah banyak nanya, Kak. Kalo mau pulang ya ayo," kata Gevano melihat Zila sedikit membuka mulutnya.
Zila sedikit mengerucutkan bibirnya. Tapi tetap mengangguk menuruti perkataan Gevano.
"Ya udah kalo gitu gua pamit dulu ya, Nat, Than," pamit Zila kepada kedua kakak beradik yang diam menyimak sedari tadi.
Mereka mengangguk. "Iya, Kak. Pulangnya hati-hati ya," kata Thania tersenyum manis.
Zila membalas senyuman Thania tak kalah manis. "Iya. Kamu juga cepet sembuh ya. Jangan lupa obatnya diminum, dan istirahat yang cukup. Jangan ngelakuin hal yang berat-berat kalo udah pulang ke Rumah," pesan Zila.
Thania mengangguk. "Iya, Kak."
"Ya udah gua balik ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Zil."
Zila mengangguk lalu berjalan menuju pintu diikuti Gevano.
"Gua balik dulu. Cepat sembuh," ujar Gevano menatap Thania.
Thania mengangguk kecil.
Lalu mata Gevano menatap Nathan dengan datar yang dibalas hal serupa oleh sang empu.
"Gua balik. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Nathan dan Thania.
Gevano melangkah menyusul kakaknya yang sudah di luar kamar.
Setelah kepergian Gevano dan Zila, Nathan beralih menatap Thania dengan dingin. Thania yang melihat tatapan dingin Nathan langsung menundukkan kepalanya.
"Jadi ini yang lo sembuyiin dari gua tadi?" tanya Nathan datar.
Thania mengangguk pelan. Tidak ada gunanya mengelak, semuanya sudah terjadi.
"Kenapa lo nggak bilang?"
Thania mengangkat wajahnya, "kalo gua ngomong, lo pasti marah, Bang."
"Terus kalo lo sembuyiin ini semua gua nggak marah gitu?!" bentak Nathan.
"Maaf, Bang," lirih Thania menyesal.
Nathan menghela nafasnya. Dia mendekat ke brankar Thania. Lalu memeluk tubuh adiknya. "Nggak perlu minta maaf. Lo nggak salah, harusnya gua yang minta maaf karena udah bentak lo, Dek," gumam Nathan.
Thania menggeleng lalu membalas pelukan Nathan. "Nggak, Bang. Gua tau ngerti lo marah tadi karna khawatir sama gua. Jadi nggak usah minta maaf."
Nathan tersenyum tipis, dia melonggarkan pelukannya. Lalu mengecup pelipis Thania. "Ya udah kalo gitu mending lo siap-siap. Kita akan pulang sekarang."
Perkataan Nathan membuat Thania berbinar cerah. "Beneran, Bang!!"
"Iya," angguk Nathan.
"Yes! Akhirnya pulang ke Rumah!" seru Thania semangat.
__ADS_1
Nathan tersenyum gemas melihat wajah Thania yang berseri-seri dan itu terlihat menggemaskan untuknya. Adik kecilnya dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Tetep menggemaskan.
Bersambung...