Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Empat Puluh Lima


__ADS_3

Gevano melangkah masuk ke Mansion Zibrano. Tujuannya sekarang adalah ruang keluarga. Karena papanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.


Saat sampai di ruang keluarga, sudah ada Mama dan juga adiknya. Gevano duduk di samping Geisya yang sedang sibuk memakan Es Krim sampai belepotan ke pipi.


"Papa mana, Ma?" tanya Gevano.


"Papa masih di ruang kerjanya," balas Kiara.


"Emang mau bicara apa si, Ma?"


Kiara mengedikan bahunya. "Ya mana Mama tau."


Gevano menarik nafasnya. Lalu menyenderkan punggunya ke sofa. Dia melirik ke arah Geisya yang masih anteng memakan Es Krim.


"Lo makan Es Krim apa kesurupan si? Cepet banget kayak nggak pernah makan Es Krim aja," celetuk Gevano mendengus.


Geisya melirik acuh ke arah Gevano. "Suka-suka Geisya. Yang makan juga Geisya kok bukan Bang Vano!"


Gevano memutar bola matanya sebal. "Ya nggak gitu. Gua risih tau liat muka lo belepotan kek bayi gitu."


"Ya udah nggak usah diliat, Bang! Gitu aja kok repot!" sebal Geisya.


"Tau ah! Ngomong sama bocah emang bikin darah tinggi!"


Geisya tak peduli apa kata Gevano. Dia hanya fokus ke Es krimnya saja.


Di dalam pikiran Gevano sibuk mengira-ngira apa yang akan papanya itu katakan. Apa mungkin papanya itu tau jika dia baru saja bertemu dengan Thania? Tapi jika memang benar seperti itu, kenapa ada Mama dan adiknya di sini?


Sibuk dengan pikirannya membuat Gevano tak sadar jika Rey sudah datang dan duduk di samping Kiara berhadapan dengan kedua anaknya. Yang satu sibuk melamun dan yang satunya lagi masih sibuk dengan Es Krimnya.


"Ekhem." Rey berdehem untuk mengalihkan perhatian kedua anaknya.


Geisya mendongak dan menatap papanya. Berbeda lagi dengan Gevano yang masih belum menyadari kedatangan papanya. Rey yang melihat anaknya melamun kembali berdehem dengan sedikit agak keras.


Tapi Gevano tetap melamun.


"Vano," panggil Rey.


'Jadi rindu sama Thania gua. Padahal baru ketemu, kenapa si gua rindu terus?' pikir Gevano yang tidak mendengar panggilan papanya.


Pemuda tampan itu sedikit tersentak saat merasakan lengket di area kulit pipinya. Tangannya bergerak menyentuh pipinya. Lalu melihat apa yang ada di wajahnya. Es Krim?


Gevano menoleh cepat ke arah Geisya yang menatapnya polos.


"Kenapa lo ngotorin pipi gua si!" marah Gevano mengelap kasar pipinya.


"Salah Bang Vano sendiri! Kenapa dipanggilin Papa nggak nyaut-nyaut?! Ya udah aku kotorin aja pipinya biar nggak bengong aja!"


"Papa?" Gevano menoleh ke depan di mana papanya duduk di samping sang Mama.


"Kapan Papa dateng? Kok Vano nggak tau?" tanya Gevano bingung.


Rey mendengus. "Gimana mau tau kalo kamu aja sibuk melamun."


Gevano menggaruk kepalanya. Lalu menyengir hingga memperlihatkan giginya yang putih rapi. Rey memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Udah lah Papa nggak mau basa-basi lagi. Jadi Papa sama Mama mau keluar Kota selama lima hari untuk urusan pekerjaan."


"Kok dadakan banget si, Pa!?" protes Gevano.


"Mana Mama ikut lagi! Terus yang ngurus ni bocaj siapa kalo misalkan Vano keluar?" sambung Gevano.


"Ya kamu lah," balas Rey santai.


"Enggak, enggak!" tolak Gevano tak terima.


Rey mengangkat sebelah alisnya. "Emang kenapa si? Orang cuma lima hari."


"Menurut Papa lima hari itu sebentar! Tapi menurut Vano lima hari kayak lima abad kalo ngurus ni bocah!" tunjuk Gevano kepada Geisya yang memberenggut.


"Mending Mama nggak usah ikut deh, Pa..." rengek Gevano.


Geisya yang mendengar nada rengekan Gevano mengeryit geli. "Tingkahnya aja kayak bocah, ngapa ngatain gua bocah dah?" gumam Geisya pelan.


Meski begitu telinga tajam Gevano mendengar gumaman Geisya. Apalagi mereka duduk berdekatan. Gevano melirik tajam Geisya.


"Ngomong apa lo?!" sarkas Gevano.


Geisya menggeleng berulang kali. "Enggak kok, Bang! Gua---"


"Jangan ngomong pake lo-gua! Tapi pake aku-kamu!" potong Gevano.


Geisya menghembuskan nafas jengah. Memang kenapa si kalau pake logat lo-gua? Dulu waktu pertama kali dateng ke sini juga dia pake bahasa itu. Tapi tiba-tiba Gevano melarangnya menggunakan bahasa itu.


"Emang kenapa si? Bang Vano juga kan pake lo gua," rajuk Geisya.


Dengan malas Geisya mengangguk. "Iya Bang, ngerti."


"Good!"


Pandangannya Gevano beralih ke arah orang tuanya lagi yang menyimak pembicaraannya dan Geisya tadi.


"Pa, pliss. Jangan bawa Mama ya? Lagian yang kerja kan Papa, bukan Mama. Jadi buat apa Mama ikut?" ucap Gevano kembali merengek.


"Mama ikut biar bisa bantu Papa. Udah kamu jaga Mama. Orang perginya cuma lima hari kok."


"Nggak mungkin! Pasti sehari ngurus pekerjaan, sisanya buat honeymoon! Iya kan?" sarkas Gevano.


Rey tertawa pelan. "Tuh tau!"


"Iss, Pa---"


"Sstt! Jangan ngomong lagi! Kalo kamu masih protes, Papa nggak akan bantu kamu buat balikan lagi sama Thania!" ancam Rey.


Gevano mendelik kesal, ingin protes. Tapi Kiara malah bertanya dengan bingung kepada Rey.


"Loh, emangnya Vano sama Thania putus?" tanya Kiara bingung.


Rey menoleh dengan senyum tipisnya, lalu kepalanya menggeleng. "Enggak kok. Aku cuma nganc main-main biar dia nggak ngerengek lagi."


"Yang bener? Tapi kok aku ngerasa kamu bohong ya?" selidik Kiara.

__ADS_1


"Kalian nyembunyiin sesuatu ya dari Mama?"


"Enggak, sayang. Mana bisa mungkin aku nyembunyiin sesuatu dari kamu."


"Kamu beneran nggak bohong kan?"


"Enggak, istriku," balas Rey dengan gemas. "Udah yuk kita siap-siap, bentar lagi kita mau berangkat," sambung Rey menarik tangan Kiara untuk pergi dari sana.


"Bentar lagi? Papa mau berangkat sekarang?!" pekik Gevano terkejut.


Rey mengangguk. "Iya. Jadi malam ini kamu jangan keluar apalagi balapan liar! Di rumah aja jagain adek kamu! Awas aja kalo sampai Papa tau kamu keluar malem-malem!" peringat Rey lalu berlalu dari sana bersama Kiara.


Gevano membuang nafas panjang. Lalu matanya melirik ke arah Geisya yang tenang. "Lo nggak sedih ditinggal Papa sama Mama keluar Kota?"


Geisya menggeleng. "Nggak."


"Kenapa?" tanyanya.


"Karna Geisya udah biasa tinggal sama kakek nenek. Lagi pula kalo mereka pergi, Geisya bisa sepuas hati jahilin Bang Vano. HAHAHA." kata Geisya tertawa keras lalu berlari dari sana saat Gevano mengambil ancang-ancang untuk melemparkan bantal sofa kepadanya.


Bantal itu mendarat di lantai karena Geisya sudah berlalu pergi dari ruang keluarga. Meninggalkan Gevano yang berdecak kesal. Lalu matanya melirik ke arah jam dinding. Bola matanya membulat melihat jam yang menunjukkan pukul 6 lebih.


"Sialan! Gua belum solat!" ucap Gevano panik, lalu bergegas pergi menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan ibadah shalat Magrib.


...[][][]...


"Dek, ayo makan dulu. Terus minum obat," kata Nathan masuk ke dalam kamar sang adik.


Thania yang sedang berbaring sambil bermain ponsel melirik ke arah kakaknya. "Bang, ini belum jam tujuh!" protes Thania kala melihat jam.


"Ya terus kenapa?" Nathan bertanya sambil meletakkan nampan di atas nakas.


"Ya gua nggak mau lah!"


"Mau nggak mau pokoknya lo harus makan! Titik!" tegas Nathan.


"Bang---"


"Lo dari tadi siang belum makan apapun, Nia. Makanya sekarang gua buatin lo makanan biar lo makan! Nggak baik nolak makanan," kata Nathan menatap Thania.


"Ya udah iya," balas Thania mengalah.


Nathan tersenyum dan mulai menghidangkan makanan untuk adiknya.


...[][][]...


Di Markas Dragster, Gibran sedang meneliti perlengkapan yang akan dibawanya bersama dengan para anggotanya. Dirasa semua sudah lengkap dia berseru dingin, tapi terselip nada tegas dalam ucapannya.


"Lima orang tetap ada di sini. Jaga-jaga supaya mereka nggak kabur. Dan yang lainnya ikut gua ke Markas Xevior, kita serang mereka semua!"


"Kalian siap?" ujar Gibran.


"Siap, Bos!" balas mereka serentak.


Gibran menyeringai kecil. "Pertarungan dimulai."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2