Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Gevano mengusap rambut halus Thania dengan lembut. Gadis itu masih belum sadar dari pingsannya. Kata Dokter, Thania akan sadar beberapa saat lagi. Tapi sampai sekarang gadis itu masih belum bangun juga.


"Kapan sadarnya hm?" gumam Gevano.


"Aku pengen minta maaf, jadi cepet buka matanya ya?" sambungnya sembari mengecup kelopak mata Thania.


BRAK!


Pintu dibuka kasar oleh seseorang. Gevano menoleh dan hendak memaki orang tersebut. Tapi pipinya lebih dulu dihantam oleh tangan seseorang.


BUGH!!


"LO APAIN ADEK GUA SAMPAI MASUK RUMAH SAKIT KAYAK GINI HAH?!!" teriak orang itu yang tak lain adalah Nathan.


Nathan mencengkram kerah baju milik Gevano. Wajah lelaki itu tampak sangat murka.


Gevano menyeka sudut bibirnya yang sedikit sobek. Lalu menghempas tangan Nathan yang mencengkram kerah bajunya. Matanya memandang dingin Nathan.


"Gua ngunci dia di gudang sekolah sejak siang tadi," jawab Gevano datar.


Nafas Nathan memburu. Sialan! Bisa-bisanya pemuda di depannya ini mengunci sang adik di gudang sekolah sejak tadi siang! Nathan benar-benar murka. Sebelumnya Thania pernah ditampar oleh pemuda ini. Dan sekarang? Pemuda ini mengunci adiknya di gudang hingga masuk ke Rumah sakit?!


Oh good. Kegilaan apalagi yang akan pemuda ini lakukan pada adiknya?! Jika seperti ini terus, bisa-bisa adiknya stres dan menjadi gila!


BUGH!


Sekali lagi dia meninju wajah Gevano dengan kerasnya. Gevano diam tak membalas. Karena ia sadar, jika dirinya bersalah. Ia yang telah membuat Thania sakit seperti ini.


Saat Nathan akan kembali memukul wajah Gevano. Sebuah tangan menahannya, ia menoleh dan mendapati seorang pria yang memandangnya dengan dingin.


"Jangan berani memukul wajah anak saya lagi!" ujarnya dengan datar, lalu menghempas tangan Nathan.


Gevano melirik ke papanya dengan kening berkerut bingung. "Papa ngapain di sini?" tanyanya.


Rey menatap balik sang anak. "Tentu aja jenguk pacar kamu," balasnya sambil berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan.


Sebelah alis Gevano terangkat, matanya mengawasi setiap langkah Rey. "Kok Papa bisa tau?"


"Ini Rumah sakit milik Papa, tentu aja Papa tau!" decak Rey yang sudah mendudukan bokongnya.


Gevano mengangguk-angguk paham. "Terus Papa ke sini sendiri?"


Rey menggeleng, "enggak. Papa ke sini sama Mama dan adek kamu," jawab Rey.


"Tapi Papa ke sini kok sendiri? Mama sama adek mana?" tanya Gevano bingung sebab tak melihat atensi Mama dan adiknya.


"Mereka lagi ke Supermarket dulu."


Nathan yang sedari tadi menyimak percakapan antara ayah dan anak itu langsung berdehem. Dia merasa terabaikan di sini.


"Ekhem," dehen Nathan membuat kedua pria itu menoleh. Tatapan keduanya sama, sama-sama datar.


"Jadi anda Papa dari Gevano?" tanya Nathan.


Rey dengan kalem mengangguk.


"Tolong Tuan ajarkan kepada anak anda ini! Jika memang dia hanya ingin mempermainkan Thania, lebih baik putuskan saja Thania! Thania nggak butuh laki-laki bajingan seperti dia!" tunjuk Nathan pada Gevano.

__ADS_1


"Memangnya apa yang anak saya lakukan pada gadis itu?"


"Anak Tuan yang membuat Thania masuk Rumah sakit seperti ini! Dia," kembali menunjuk Gevano. "Dia mengurung adik saya di gudang sekolah sejak tadi siang! Bahkan anak Tuan pernah memukul adik saya!" bentak Nathan yang sudah hilang kendali.


Dia tak peduli lagi jika di depannya ini adalah orang tua. Mengingat pipi Thania yang membengkak dan keadaan Thania sekarang membuat emosinya memuncak sampai ubun-ubun.


Rey yang mendengar itu menatap tajam sang anak. Gevano yang melihat tatapan tajam itu mengarah padanya langsung meneguk air liurnya susah payah.


Rey mengalihkan tatapannya dari Gevano ke Nathan. "Saya minta maaf atas kelakuan Gevano," ucap Rey.


"Minta maaf? Apa minta maaf bisa membuat adik saya sembuh?!"


Melihat Nathan yang semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Rey lantas berdiri dan berjalan menghampiri Nathan. Gevano yang melihat itu was-was. Dia takut jika papanya akan menjauhkannya dari Thania.


"Saya tau minta maaf nggak akan membuat adik kamu sembuh dengan mudah. Tapi dengan meminta maaf berarti saya sudah mengakui bahwa anak saya salah. Saya akan berusaha membuatnya berubah. Jadi, tolong maafkan dia," ucap Rey.


"Nggak! Sampai kapan pun saya nggak akan memaafkan anak Tuan!" Nathan menatap tajam Gevano yang kini menatapnya balik dengan nyalang.


Rey menghela nafasnya. "Lalu kamu apa?" tanyanya.


Nathan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Rey. Tanpa banyak berpikir dia berkata. "Saya mau anak anda menjauh dari adik saya!"


Gevano yang mendengarnya langsung berdiri. "Nggak! Apa-apaan si lo nyuruh gua jauh dari Thania!!" bentak Gevano.


"Vano, diem!" perintah Rey dengan nada rendah. Pria itu tengah menahan amarahnya.


"Nggak, Pa! Vano nggak terima kalo dia nyuruh Vano jauh dari Thania!! Pokoknya Gevano nggak mau---"


"PAPA BILANG DIEM!" bentak Rey meninggikan nada suaranya.


Gevano langsung bungkam.


Mata Gevano melotot tidak terima. "Pa---"


Gevano kembali bungkam kala mendapat lirikan tajam dari Rey.


"Saya akan menjauhkan Gevano dari Thania."


"Papa!!" teriak Gevano keras.


Tanpa mempedulikan teriakan Gevano, dia melanjutkan ucapannya. "Biaya Rumah sakit Thania biar saya yang urus. Jaga adik kamu, saya pulang dulu," pamit Rey.


"Terima kasih, Tuan," ucap Nathan tulus.


Rey mengangguk, lalu menatap anaknya dengan dingin. "Ayo pulang!"


"Pa, tapi---"


"Jangan membantah, Gevan!" potong Rey tegas.


Jika sudah seperti ini, apa yang bisa Gevano lakukan selain menurut? Dengan berat hati dia melangkah mengikuti papanya keluar dari ruang rawat Thania. Sebelum itu dia menatap ke arah wajah Thania yang masih terpejam dengan pandangan sendu.


Bagaimana bisa dia menjauh dari Thania untuk selamanya? Apa dia bisa? Jawabannya sudah pasti tidak. Dia saja tidak bisa jauh dari Thania barang semenit saja, apalagi untuk selamanya?


"Gevan," panggil Rey dengan datar.


Gevano dengan cepat keluar lalu menutup pintu rawat.

__ADS_1


Rey yang melihat wajah masam sang anak langsung merangkul bahunya. "Udah nggak perlu sedih gitu."


Gevano melirik ke sang Papa. "Gimana Vano nggak sedih, orang Papa jauhin Vano dari orang yang Vano suka," dengusnya.


Rey tersenyum tipis. "Cuma sementara. Kamu sabar aja!"


Gevano menoleh dengan tanda tanya. "Maksud Papa?"


Rey menarik sudut bibirnya membentuk senyum miring. "Kamu cukup diem, biar Papa yang lakuin ini semua. Intinya kamu harus bisa jauhin Thania untuk sementara waktu. Kamu ngerti?"


"Tapi, Pa. Vano mana bisa jauh dari Thania!" protes Gevano.


Rey mendengus. "Itu salah kamu sendiri! Kenapa kamu harus main tangan hm? Papa aja dulu nggak pernah main tangan waktu pacaran sama Mama kamu. Meski dulunya Papa sama kayak kamu, tapi Papa nggak pernah main!"


"Ya maaf. Waktu itu Gevano bener-bener marah dan hilang kendali. Jadi ya gitu deh."


Rey menghentikan langkahnya. Gevano ikut berhenti. Pria paruh baya itu menatap serius Gevano.


"Dengerin Papa. Walaupun kamu marah, kamu harus bisa kontrol emosi kamu! Jangan sampai main tangan ke cewek. Papa nggak suka! Kalo mau ngelampiasin mending cari cowok yang sepadan sama kamu. Jangan lampiasin emosi kamu ke cewek," kata Rey menepuk bahu Gevano beberapa kali, lalu berbalik dan kembali berjalan.


Gevano mengerjap. Apa yang dikatakan Rey ada benarnya. Kenapa dia harus menyakiti Thania jika dia bisa melampiaskan emosinya ke laki-laki yang sepadan dengan dia? Hmm, boleh juga dicoba.


Kemudian Gevano berjalan menyusul sang Papa yang sudah agak jauh.


"Loh, kalian mau ke mana?" tanya Kiara yang melihat anak dan suaminya di lobby. Harusnya mereka ada di ruang rawat kekasih Gevano bukan? Tapi mengapa mereka ada di sini?


"Ayo kita pulang dulu," ucap Rey yang menghiraukan pertanyaan Kiara. Tangannya menarik tangan Kiara untuk berbalik.


"Loh, tapi itu Thania kan belum dijenguk?" kata Kiara bingung.


"Udah kapan-kapan aja," jawab Rey masih menarik tangan Kiara.


Kiara mengikuti langkah suaminya dengan kening berkerut bingung. Mereka baru sampai beberapa menit. Dan langsung pulang begitu saja? Bahkan dia belum melihat kekasih anaknya. Ada apa sebenarnya?


Geisya yang berjalan di samping Gevano lantas bertanya dengan kepala mendongak menatap sang kakak yang lebih tinggi dibandingkan dirinya. "Bang Vano, kenapa kita pulang? Kan belum jenguk Kak Thania nya?"


Gevano diam tidak menjawab pertanyaan sang adik. Dia malas meladeni Geisya. Jika dia menjawab, bocah itu pasti akan bertanya ini itu sampai ke akar-akarnya.


"Bang!" panggil Geisya.


"Bang Vano!" panggilnya lagi kala tak mendapat respon.


"Ih, Abang!!" Geisya mulai kesal karena lagi-lagi Gevano tak menjawab panggilannya.


Dengan kesal dia meraih tangan Gevano dan menggigitnya dengan keras. Gevano terpekik.


"Aakhh! Sakit, bocah!! Lepas!!" bentak Gevano mendorong kepala gadis itu yang menggigit tangannya hingga terlepas.


Rey dan Kiara yang mendengar pekikan Gevano, langsung berhenti dan menoleh ke belakang. Mereka menjadi pusat perhatian.


Gevano mengibaskan tangannya, sedangkan Geisya langsung berlari ke arah orang tuanya. "Makanya jangan cuekin Geisya!!" kesal bocah itu.


"Ayo, Pa, Ma kita pulang. Tinggalin aja itu anak pungut di sini!" kata Geisya menggandeng tangan kedua orang tuanya.


Gevano mendelik kesal dikatai anak pungut oleh Geisya. Dengan sedikit malu, Gevano menyusul ketiga orang itu yang sudah menjauh dari jangkauan matanya.


'Adek sialan!'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2