
"By, aku mau keluar bareng anak-anak Xevior ya?" ujar Gevano memeluk Thania dari belakang.
"Sekarang?" tanya Thania sedikit menoleh.
Gevano mengangguk, "Iya. Kita udah lama si gak ngumpul."
"Ngumpul di mana?" Thania kini berbalik menghadap sepenuhnya ke arah sang suami.
"Di Caffe deket SMA kita dulu. Kamu mau ikut?" tawar Gevano.
Thania menolak, "Enggak. Aku di rumah aja, males buat keluar."
Gevano mengangguk. "Ada yang mau dititipin gak?"
Thania berpikir sejenak, lalu dia menatap Gevano. "Aku pengen seblak. Boleh?" Dia menatap pemuda itu dengan binar penuh harap.
Wajah Gevano berubah datar. "Nggak. Jangan seblak!"
Thania mengerucutkan bibirnya kesal. "Kalo nggak boleh terus tadi ngapain nawarin?!" sinisnya.
"Kecuali untuk seblak! Minggu lalu kamu udah makan seblak tanpa sepengetahuan aku, dan besoknya kamu sakit. Aku nggak mau kamu sakit lagi! Aku khawatir ke kamu, by." kata Gevano tegas.
Memang benar Minggu lalu Thania makan seblak dengan level yang paling pedas tanpa sepengetahuannya. Dan besoknya perut gadis itu sakit.
Gevano membawanya ke Rumah Sakit, kata Dokter nya Thania kebanyakan memakan cabe hingga perutnya sakit. Itu membuat Gevano marah, ia langsung mengintrogasi Thania agar berkata jujur padanya.
Karena takut Gevano semakin marah akhirnya Thania bicara jujur tentang dia yang makan seblak diam-diam.
"Ck. Tapi aku mau makan seblak, Gevan..." rengek Thania.
Gevano menggeleng dengan tegas. "No!"
Perempuan itu menekuk wajahnya kesal. Membuat Gevano menghele nafasnya.
"Pesen yang lain aja ya?" bujuk Gevano lembut.
"Aku nggak ada maksud buat ngelarang kamu makan makanan kesukaan kamu itu. Aku cuma takut kamu sakit lagi, by. Kamu tau kan gimana cemasnya aku waktu kamu sakit dulu?" sambungnya menatap Thania sendu.
Masih teringat jelas bagaimana raut cemas Gevano saat Thania sakit. Meski dia marah terhadap Thania karena tidak mau mendengarnya. Tapi rasa takut dan cemas lebih mendominasinya saat itu.
Walau Gevano sempat mengomel sebentar, tapi langsung luluh ketika melihat wajah merintih sang Istri.
Mengingat itu membuat Thania akhirnya pasrah. "Ya udah deh aku minta Nasi Goreng sama Ayam KFC aja."
"Oke. Minumnya?"
"Bobba!" cengir Thania lucu.
__ADS_1
"Nggak kamu, nggak Geisya. Suka banget minum minuman aneh itu. Heran," ucap Gevano geleng-geleng.
Tak habis pikir dia, hampir setiap hari Thania dan Geisya membeli minuman yang menurutnya aneh itu. Apa enaknya si minuman bobba-bobba itu? Dulu saja Thania tidak terlalu suka dengan minuman itu.
Tapi semenjak Geisya mengenalkan minuman itu kepada istrinya, Thania jadi lebih sering membeli minuman itu. Setiap makan dia selalu meminta minuman bubble itu.
Jika tidak dituruti wanita itu pasti menangis dan tak berhenti merengek kepadanya.
"Emang kenapa?! Kamu nggak suka?! Nggak mau beliin aku bobba?! Nggak mau nuruti kemauan aku lagi?! Udah capek aku suruh-suruh mulu?! Iya?! Jawab!" sewot Thania melotot tajam.
Gevano mengusap dadanya sabar. Sejak tadi dia ingin bicara, tapi Thania mengomel dengan kecepatan tinggi. Jika dia menyela, wanita itu pasti salah. Jika diam dia akan jauh lebih salah lagi. Serba salah kan Gevano jadi suami? Memang.
Memang suami selalu salah di mata Istri. Untung cinta. Suara hati seorang suami dengan senyuman miris.
"Aku dari tadi udah mau ngomong, tapi kamu ngomongnya cep---"
"Ohhh, kamu mau nyalahin aku?!" sela Thania tajam.
"E- enggak!" Melihat tatapan tajam Thania sedikit membuat Gevano merasa takut.
Semenjak menjadi istrinya Thania memang sedikit galak. Namun, beberapa hari ini wanita itu semakin terlihat galak dan juga sedikit sensitif.
Sedikit-sedikit marah, lalu menangis. Kemudian diam, dan menjadi galak lagi. Gevano tidak tau apa penyebabnya. Tapi beberapa hari ini dia sangat tersiksa dengan sifat aneh Thania.
"Kenapa wajah kamu asem gitu? Kayak orang lagi nahan boker aja. Sepet tau yang ngeliat," cibir Thania tajam.
Wajah Thania berubah dalam sekali kedipan mata menjadi ceria lagi. "Oh iya, aku hampir lupa, Camilan aku udah hampir habis. Kamu nanti jangan lupa mampir ke supermarket ya?"
Thania menatap Gevano dengan puppy eyes yang terlihat imut. Nah, baru beberapa dekit lalu Thania mengomel padanya. Dan sekarang wanita itu menampilkan wajah imut seolah tak terjadi apa-apa tadi?
Sebenarnya ada apa dengan Istrinya ini! Cepat sekali perubahan moodnya.
"Kok diem? Nggak mau ya?" Mata Thania sudah berkaca-kaca siap menangis.
Gevano gelagapan sendiri. Ia memeluk Thania dan menenangkan Istrinya itu. "Aku mau, by. Aku mau, udah jangan nangis ya?" ujarnya lembut.
"Hiks, yakin mau kan?" tanyanya sesenggukan.
"Iya, sayang," jawab Gevano gemas.
"Ya udah. Kamu berangkat sekarang aja, cepet pulang ya? Jangan lama-lama!" ancam Thania mendongak.
Gevano tersenyum gemas, "Nggak lama kok. Paling jam 8 aku udah pulang. Mana bisa aku ninggalin kamu lama-lama."
Thania melirik jam dinding. Kemudian memukul sebal bisep Gevano. "Ih! Sekarang kan udah jam 8!"
Gevano tertawa.
__ADS_1
"Nggak usah ketawa! Mending kamu berangkat aja deh. Kasian yang lain udah nunggu. Ketua kok nggak tepat waktu," cibir Thania sinis.
"Biarin aja. Mereka juga nggak akan marah ke aku," balasnya santai.
"Gevan!"
"Iya, by, iya. Ini aku berangkat."
Gevano berdiri diikuti Thania. Keduanya keluar dari kamar, menuju lantai bawah. Saat sampai di depan pintu. Gevano mengecup kening Thania singkat.
"Aku berangkat."
Thania mengangguk. "Ya udah hati-hati. Jangan ngebut di jalan. Pelan aja bawa motornya."
"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di rumah, jangan keluar rumah. Rumahnya dikunci. Kalo ada tamu liat dulu siapa tamunya, kalo laki-laki jangan buka pintu. Biarin aja. Paham?"
"Iya aku ngerti." jengah Thania.
Gevano tersenyum kecil, dia merapikan bajunya. Lalu mengusap rambut istrinya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Jangan ngebut ya bawa motornya!!" pesan Thania yang dibalas anggukan kepala oleh Gevano.
Pemuda itu berjalan menuju motornya. Lalu keluar dari halaman rumahnya.
Setelah Gevano pergi. Thania masuk dan mengunci pintu seperti apa yang dikatakan oleh Gevano.
...***...
Gevano memarkirkan motornya. Lalu masuk ke dalam Caffe. Tapi saat ia akan masuk, seseorang menabraknya.
"Aduh, sorry sorry. Gue nggak sengaja," kata gadis yang menabrak Gevano sambil menunduk untuk membersihkan baju Gevano yang terkena minuman.
"Nggak papa. Gue bisa bersihin sendiri," balas Gevano dingin dan menepis tangan gadis yang masih mengelap bajunya.
Gadis itu mendongak, kemudian kedua matanya terbelalak. "Gevan?" ucapnya terkejut.
Gevano menatap gadis itu saat dia menyebut namanya. Ternyata dia adalah Agnes, mahasiswi baru di kelasnya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Agnes setelah sadar dari rasa terkejutnya.
"Urusannya sama lo apa? Mau gue ke sini bukan urusan lo!" sinis Gevano dan melenggang masuk.
Agnes berbalik menatap punggung Gevano yang semakin menjauh. Dia mengepalkan kedua tangannya. "Sial! Cowok itu bener-bener dingin!" umpatnya.
"Tapi gue nggak akan nyerah sebelum dapetin dia!" smirknya dan pergi dari sana.
__ADS_1
Bersambung...