
Thania menepis tangan Gevano. "Nggak usah pegang-pegang!" tolaknya dengan kejam.
Sesaat setelah keduanya pergi dari kantin. Sifat Thania langsung berubah kasar padanya. Gevano yang tadinya menggenggam tangannya langsung dihempas begitu saja saat keluar dari kantin.
Gevano bingung apa salahnya. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Agnes? Thania marah karena Agnes menggodanya? Tapi inikan bukan kemauannya. Lantas kenapa Thania malah marah padanya?
"By, kamu kenapa si?" tanya Gevano sambil mengejar langkah cepat Thania.
Diam-diam pria muda itu meringis melihat Thania. Bukannya apa, ia hanya takut bayinya meloncat keluar akibat langkah cepat Thania.
"Ya ampun, by! Bisa pelan-pelan dikit nggak? Kamu nggak kasian sama bayinya apa? Gimana kalo dia mual? Atau paling parah dia loncat keluar!"
Thania menghentikan langkahnya, ia menatap tajam Gevano. "Kamunya juga bisa diem nggak?! Aku lagi badmood! Dan kamu jangan buat aku makin nggak mood deh!" kesalnya.
"Emang aku salah apa, by? Dari tadi aku diem kok, cuma nanya dikit doang."
"Sama aja!"
Thania kembali melanjutkan langkahnya. Gevano mengelus dada sabar. "Gini amat punya bini. Perasaan dulu Thania nggak segalak ini deh," gumamnya.
"GEVAN!!"
Gevano terkejut mendengar teriakan keras Thania. Ia langsung berlari ke arah sumber teriakan itu berasal. Sampai di sana matanya terkejut melihat Thania menangis.
Ia menggapai pundak Thania dan menatap dengan tatapan cemas. "By, kamu kenapa nangis?!"
Bukannya menjawab, Thania malah menangis semakin keras. Gevano memeluk wanita itu lembut sembari mengelus punggungnya menenangkan.
"Cup cup cup, udah jangan nangis lagi ya."
Gevano persis seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anak perempuannya menangis. Thania menunjuk ke arah semak-semak dengan tangis yang belum kunjung reda.
"Hiks, aku tadi nggak sengaja hiks nginjek ekor hiks kucing. A- aku udah minta maaf hiks tapi- tapi kucingnya malah lari hiks huaa."
Gevano mengikuti arah tunjuk istrinya dengan lirikan sekilas. Dalam pelukannya tangisan Thania mengeras. Ia berusaha menenangkan tangis istrinya. Ini masih di area kampus, jadi bukan tidak mungkin di sini banyak yang berlalu lalang.
"Udah, udah berhenti nangis dulu oke?" bujuk Gevano.
"Hiks kucingnya, Gevan hiks."
Gevano jadi tidak yakin bahwa ini adalah istrinya yang tadi marah-marah. Mood wanita hamil memang cepat sekali berubah.
"Kucingnya pasti nggak papa, by. Kamu jangan nangis gitu." Gevano melonggarkan pelukannya tanpa melepasnya. Ia hanya menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Thania.
__ADS_1
"Tapi hiks aku pengen liat hiks keadaan kucingnya. Aku takut hiks ekornya putus," tangis Thania sesenggukan.
Astaga Thania, kamu hanya tidak sengaja menginjaknya. Bukan memotong ekornya hingga putus! Tapi biarlah, wanita hamil memang sensitif.
"Iya, nanti aku ambilin. Tapi sekarang berhenti nangis dulu oke? Kamu juga harus duduk, pasti pegel kan?"
Thania mengangguk membenarkan ucapan Gevano. Kakinya memang pegal karena terlalu lama berdiri. Gevano segera menggendong Thania menuju tempat berteduh.
Ia mendudukkan Thania di kursi taman kampus. "Aku ambil dulu kucingnya. Kamu tunggu di sini," ucap Gevano yang diangguki oleh wanita itu.
Gevano pergi ke semak-semak yang sebelumnya ditunjuk oleh Thania. Ia mencari kucing yang telah membuat istrinya menangis tadi.
Sampai matanya menangkap sebuah sosok berbulu yang tengah asik menjilati tubuhnya. Gevano berdecak.
"Ck, karna lo Istri gue jadi nangis! Tapi lo nya malah enak-enakan jilat bulu setelah ngebuat Istri gue nangis sesenggukan kayak tadi. Dasar kucing, sialan!"
Laki-laki itu masih sempat-sempatnya menggerutu. Ia tidak terlalu menyukai hewan berbulu bernama kucing itu. Menurutnya kucing itu merepotkan. Namun demi Thania, ia rela menggendong hewan berbulu yang tidak disukainya.
Kucing putih itu terlihat kotor, sepertinya ini kucing jalanan. Gevano semakin tidak menyukainya.
"Diem lo!" bentak Gevano melihat kucing di tangannya berontak. Mungkin terkejut saat tiba-tiba tubuhnya di gendong oleh seseorang.
Gevano membawa kucing itu menuju tempat Thania berada. Saat sampai di sana, Thania segera menggapai mengambil kucing itu dari tangan Gevano.
"By, kok kucingnya dipangku si? Baju kamu kan jadi kotor."
"Cuma kotor sedikit, Gevan. Nanti juga hilang sendiri kalo udah dicuci, jangan lebay deh."
Gevano menampakkan wajah kesal. Ia tidak lebay, hanya memberitahu saja. Kucing jalanan itu memang kotor, hingga membuat dress peach Thania ikut kotor. Ia tidak ingin istrinya terkena virus, siapa tau kucing jalanan itu membawa penyakit?
"Bukan lebay, by. Aku cuma takut kamu kena virus. Gimana kalo misalkan dia penyakitan?"
Alasan! Bilang saja kalau cemburu!
Thania memutar bola matanya malas. Tapi tak menanggapi lebih lanjut ujaran Gevano. Laki-laki itu pun duduk di sebelah Thania. Lelah juga jika berdiri lama-lama.
Matanya melirik ke arah kucing yang tertidur nyaman dipangkuan Thania. Selain kotor, kucing itu juga kurus. Terlihat sangat tidak terawat. Wajar jika berpikiran bahwa kucing itu penyakitan. Tampilannya saja kotor seperti ini.
"Gevan, kayaknya kucingnya laper deh," celetuk Thania.
"Laper? Tau dari mana?" Tatapan Gevano beralih menatap Thania.
"Tubuhnya kurus, mungkin aja nggak makan berhari-hari. Itu berarti dia kelaparan kan?"
__ADS_1
Thania menoleh ke arah Gevano. "Gevan, tolong beli'in kucingnya makanan ya? Kasian dia belum makan."
"Aku?"
"Hu'um! Sekalian tolong beliin aku minuman. Aku haus," ujar Thania seraya mengipasi wajahnya yang penuh dengan keringat.
Gevano mengulurkan tangan mendekat. Ia menyingkirkan tangan Thania yang sibuk mengipasi wajahnya. Laki-laki itu ternyat membersihkan keringat istrinya menggunakan lengan kemejanya. Karena ia lupa tidak membawa tisu dan sapu tangan. Sembari mengipasi wajah Thania.
"Aku bisa sendiri, Gev. Kenapa malah kamu usapin? Entar kalo kemeja kamu kotor gimana?" Thania sempat menyingkirkan tangan Gevano. Tapi laki-laki itu kembali mengusap keringatnya, dan mengancam lewat tatapan agar tidak menghalau kegiatannya.
Beberapa detik kemudian Gevano menjawab setelah selesai membersihkan keringat Thania. "Ck, kamu ngomong apa si?" ucapnya dengan gurat kesal.
"Kemeja aku masih banyak. Kalo yang ini kotor karna bersihin keringat kamu, ya nggak masalah dong. Kita kan suami istri."
Gevano mengelus pipi Thania dengan lembut. Kemudian menarik kembali tangannya. "Aku beli minuman dulu ya. Kamu tunggu di sini."
Laki-laki itu beranjak dari duduknya. Saat akan melangkah pergi, Thania memegang ujung kemeja yang dikenakannya. Membuat Gevano melirik ke bawah, tepat ke arah Thania yang mendongak.
"Jangan lupa beli makanan buat kucingnya ya," ucap Thania.
"Makanan kucing?"
Thania mengangguk.
"Di sini mana ada makanan kucing, by. Adanya ya di toko makanan hewan. Entar aja ya kalo udah pulang?" tawar Gevano.
Kepala wanita itu menggeleng, menolak tawaran Gevano. "Keburu kucingnya pergi, Gevan. Kalo nggak cepet-cepet ngasih makan, kucingnya pasti bakal kabur. Lagipula kucingnya juga kelaparan, kasian dia. Beliin ya?"
Menghela nafas berat, Gevano pun mengangguk. "Ya udah iya. Aku beliin makanan buat dia. Tapi makanan apa? Di sekitar sini nggak mungkin ada yang jual makanan kucing."
"Beli roti aja, sama susu."
"Roti? Emang kucingnya mau makan roti?" Gevano menggaruk kepalanya, apa Thania tidak salah memberi makan kucing dengan sebuah roti?
"Pasti mau, Gevan! Udah deh nurut aja apa kataku," paksa Thania.
Akhirnya Gevano pergi untuk membelikan Thania minuman serta roti dan susu untuk si kucing. Seperginya Gevano, Thania beralih mengelus kucing tersebut.
Maniknya memperhatikan kucing itu lamat-lamat. Kucing ini terlihat bagus jika saja bulunya bersih. Tiba-tiba saja ia berpikir untuk memelihara kucing itu. Sepertinya kucing ini tidak memiliki majikan?
"Nanti coba ngomong ke Gevan deh, semoga aja dia setuju."
Bersambung...
__ADS_1