Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Lima Puluh Tiga


__ADS_3

Thania membuka matanya perlahan. Ia mengerjap pelan, hal pertama yang ia lihat adalah kamar asing. Keningnya mengkerut. Ada di mana ia sekarang?


Kesadarannya masih belum terkumpul sempurna. Ia masih mengantuk, apalagi sekarang ia memeluk guling yang mempunyai roti sobek.


Tunggu dulu, apa? Roti sobek? Tangannya meraba perut itu. Bentuknya kotak-kotak, dan sedikit keras. Ia tak mungkin salah. Ini pasti roti sobek! Eh, tapi mana mungkin. Sejak kapan guling mempunyai roti sobek seperti ini?


Kenapa ia merasa ada yang aneh ya? Kamar tidur asing, bantal guling sixpack. Lalu tangan. Tangan siapa yang sedang mendekap kepalanya ini?


Thania berkedip bingung, kemudian matanya menoleh ke arah guling yang ia peluk. Benar-benar sixpack. Dan itu asli. Tentu saja bukan roti sobek milik guling, tapi manusia.


Matanya membulat terkejut, dengan cepat ia bangun. Tapi akibat terlalu terburu-buru membuat punggungnya terasa sakit.


Apa yang telah ia lakukan?! Thania memeriksa pakaiannya, masih lengkap. Ia menghela nafas lega. Lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang tidak adalah Gevano.


Mengapa ia bisa tidur satu ranjang bersama Gevano. Thania mencoba mengingat mengingat kejadian semalam. Terakhir kali yang ia adalah menyelamatkan Gevano dan berakhir pingsan. Lalu setelahnya ia tidak tau apapun.


Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa Gevano bertelanjang dada? Lalu apa yang terjadi dengan bahu Gevano? Kenapa diperban?


Thania menatap wajah Gevano, kemudian turun melihat bahunya, lalu turun lagi menatap perut sixpack Gevano. Meneguk ludahnya susah payah. Apa tangannya tadi meraba perut itu?


Baru kali ini ia melihat langsung perut abs seseorang. Apalagi sampai merabanya. Apakah ini suatu keberuntungan baginya?


"Ternyata ngeraba perut ber abs itu enak ya? Kayak gimana gitu," gumam Thania sambil menatap minat perut abs Gevano.


Kemudian ia menggelengkan kepalanya. Astaga, kenapa pikirannya kotor sekali! Haruskan ia panik!


"Gev!" Thania mengguncang tubuh Gevano untuk membangunkan pemuda itu.


Gevano menggeliat, tapi enggan membuka matanya. Ia masih mengantuk.


"Gevan, bangun!!!" Gadis itu memandang kesal Gevano yang tidak mau membuka matanya. Menolak untuk bangun.


Gevano akhirnya membuka matanya mendengar nada kesal dari gadisnya. Ia melirik Thania yang kini cemberut sambil menatapnya.


Terkekeh pelan, kemudian bangun dengan hati-hati. Sedikit meringis saat tangan kirinya mati rasa. Thania menatapnya khawatir ketika Gevano meringis.


"Kamu nggak papa?" tanyanya khawatir sambil membantu Gevano.


Pemuda itu tersenyum kecil lalu menggeleng. "Nggak papa." Ia menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang.


"Gevan, sebenernya semalem kenapa? Terus kenapa bahu dan lengan kiri lo diperban?" ucap Thania sambil menatap tangan kiri Gevano yang terbalut perban.


"Kena tembak," balas Gevano.


Mata Thania membola. "Apa?! Kena tembak?! Kok bisa?!!" panik Thania mendekat ke arah Gevano. Tapi karena terlalu terburu-buru membuat tangan dan punggungnya menjadi sakit lagi.


Ringisan keluar dari mulut Thania. Gevano langsung menatap cemas Thania yang sedang memegang tangannya.


Ia menarik tangan Thania yang terluka. Lalu mengelusnya pelan.


"Makanya jangan buru-buru, jadi ke senggol kan," cibir Gevano.

__ADS_1


"Di punggung kamu sakit juga?" tanya Gevano beralih menatap Thania.


Gadis itu yang tadi memandang wajah Gevano, mulai mengerjap. Lalu ia mengangguk sebagai balasan ucapan Gevano dan bergumam kecil.


"Sakit banget."


Gevano yang mendengar gumaman Thania menghela nafas. Ia menolehkan kepalanya ke arah nakas meja di sampingnya. Lalu mengambil salep yang berada di atas meja dengan susah payah.


Thania yang melihat Gevano kesulitan mengambil salep itu pun bergerak membantu. Pemuda itu menatap datar Thania yang membantunya.


"Ngapain lo?" tanyanya dingin.


"Bantu kamu lah," balas Thania memberikan salep itu kepada Gevano.


"Nggak usah sok bantuin gue kalo lo sendiri kesulitan nahan sakit," ketus Gevano mengambil salep itu dari tangan Thania.


"Nggak sakit kok," geleng gadis itu berbohong. Padahal nyatanya punggung dan tangannya sakit. Tapi melihat Gevano kesusahan dengan bahu kirinya yang habis tertembak membuat dirinya bergerak untuk menolong.


Gevano hanya menatap Thania dengan datar. Lalu bibirnya mencibir pelan.


"Dasar pembohong kecil."


Ia mengambil tangan kanan Thania yang diperban. "Balik badan!" suruh Gevano.


"Ngapain?" bingung Thania.


"Udah tinggal balik doang nggak perlu nanya ini itu."


Pipi Thania merona mendengar Gevano memanggilnya sayang. Dengan cepat ia berbalik untuk menutupi wajahnya agar Gevano tak melihat rona di pipinya.


Namun pipinya semakin memerah hingga merambat ke seluruh wajah dan telinganya ketika Gevano menaikan baju yang dipakainya.


"Ge- Gevan ka- kamu mau apa?" tanya Thania bingung sekaligus gugup.


Tapi Gevano tidak menjawab pertanyaan Thania. Ia tetap menarik baju Thania. Namun tiba-tiba Thania berbalik dengan mata melotot tajam.


"Jangan macem-macem ya, Gev!!! Gue bisa teriak nih kalo lo macem-macemin gue!!!"


Gevano mengerutkan keningnya tak paham. Kenapa Thania semarah itu padanya? Ia kan hanya berniat membantu mengoleskan salep di punggung gadis itu?


"Apa'an si? Siapa yang mau macem-macemin kamu ha? Orang aku cuma mau bantu ngolesin salep ini di punggung kamu doang kok." Gevano mengangkat salepnya hingga tepat di depan mata Thania.


Wajah Thania kembali bersemu merah. Ia kira Gevano akan macam-macam. Tapi ternyata tidak. Betapa malunya Thania telah menuduh Gevano yang bukan-bukan.


Gevano yang melihat muka Thania memerah terkekeh geli. "Mikir apa kamu? Mikir aku mau apa-apain kamu ya?" godanya menaik turunkan alisnya menggoda.


"E- enggak kok!" elak Thania.


"Ngaku aja deh. Lagi pula udah keliatan dari muka kamu."


Thania mencebik kesal. "Ya aku emang mikir gitu!"

__ADS_1


"Eh! Jangan mikir yang nggak-nggak ya! Aku mikir gitu bukan karna otak aku kotor!" sela Thania saat Gevano akan kembali menggodanya.


"Terus apa namanya kalo bukan otak kamu yang kotor!" Sebelah aslinya terangkat.


"Itu namanya bentuk perlindungan diri. Aku kan anak gadis, jelas takut lah kalo kamu main narik-narik baju aku," cicit Thania pelan. Ia malu sebenarnya membahas tentang hal ini. Tapi ya mau bagaimana lagi. Jika ia tak menjelaskan secara detail, pasti Gevano berpikir bahwa otaknya mesum.


Gevano tersenyum kecil. Ia bergerak pelan, lalu memegang wajah Thania dengan tangan kanannya yang tidak terluka.


"Dengerin kata-kata aku ini. Aku, nggak akan ngerusak kamu sebelum waktunya. Aku akan jaga kamu sampai kita nikah nanti. Bahkan setelah kita nikah pun aku akan selalu jagain kamu sampai maut memisahkan. Jadi, jangan berpikir kalo aku bakal ngerusak kamu. Aku cinta sama kamu tulus, Key. Bukan karna hawa ***** semata," ujar Gevano lembut.


Mata Thania berkaca-kaca mendengarnya. Sungguh, hatinya tersentuh mendengar ucapan tulus dan lembut milik Gevano. Air matanya mulai menetes menuruni pipinya. Isakan kecil mulai keluar dari belah bibirnya.


Gevano dengan lembut mengusap air mata Thania. "Nggak usah nangis gitu. Cengeng banget jadi cewek," cibirnya dengan nada candaan agar Thania berhenti menangis.


Namun bukannya berhenti tangis Thania malah semakin menjadi-jadi. Membuat Gevano kelimpungan sendiri untuk menenangkan gadis itu.


"Sstt, udah jangan nangis. Kamu kenapa tiba-tiba nangis hm? Aku kan nggak mukul atau pun nampar kamu," bingung Gevano.


Thania masih menangis sambil menatap mata Gevano. Pemuda itu menghela nafasnya. Ia bergerak mendekat dengan susah payah untuk menggapai tubuh Thania agar bisa ia peluk. Tapi sepertinya usahanya percuma, karena ia tetap tak sampai untuk memeluk tubuh gadis itu.


Akhirnya ia menyuruh agar Thania mendekat. "Sini."


Gadis itu masuk ke dalam dekapan Gevano. Keduanya mengabaikan rasa sakit di masing-masing tubuh. Pelukan ini terlalu nyaman untuk dilepas.


"Kamu kenapa tiba-tiba nangis? Aku nyakitin kamu lagi ya?" lirih Gevano.


Namun Thania tetap diam di pelukan Gevano.


"Aku minta maaf kalo sering nyakitin kamu. Tapi jujur, Key. Aku cinta sama kamu, cuma cara aku aja yang beda."


"Maaf kalo selama ini aku egois. Cuma mentingin perasaan aku aja, tanpa mikirin perasaan kamu."


"Kalo kamu mau pisah, aku ikh---"


Kepala Thania menggeleng brutal dalam dekapan Gevano.


"Enggak! Aku nggak mau kita pisah."


Kepala Thania mendongak ke atas. "Aku udah terlanjur suka ke kamu. Masa kamu mau ninggalin aku gitu aja. Nggak mau tanggung jawab gitu?" sebalnya.


Wajah Gevano mendadak loading. "Ka- kamu suka sama aku?" Kepalanya menunduk untuk melihat wajah Thania.


Gadis dalam pelukannya itu mengangguk sambil tersenyum manis. Sangat manis hingga rasanya Gevano akan pingsan. Oke, itu sangat lebay. Abaikan.


"Kamu beneran? Nggak bohong?" tanyanya masih belum terlalu yakin.


Thania mendengus, tapi tetap mengangguk.


Senyum terbit dari wajah tampan Gevano. Ia memeluk erat Thania, tapi keduanya meringis bersamaan saat luka di masing-masing tubuh mereka tersenggol.


Saling menatap dalam diam. Lalu tiba-tiba tertawa bersama. Entah apa yang lucu hingga membuat kedua pasangan itu tertawa. Yang penting sekarang mereka bahagia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2