
Seperti rencana sebelumnya bahwa Thania akan merawat kucing jalanan itu. Kini ia benar-benar membawanya pulang ke rumah. Tentu saja setelah membujuk Gevano mati-matian.
Laki-laki itu sangat tidak menyetujui usulannya. Tapi bukan Thania namanya jika tak bisa membujuk Gevano. Dengan sedikit bujukan dan tentunya dibumbui dengan sedikit ancaman, Gevano tidak akan berani menolak.
Akhirnya kini laki-laki itu harus menerima nasib diduakan oleh istrinya. Karena sang Istri lebih memilih si dan mengacuhkan dirinya.
Oh, jangan lupakan jika kucing itu sudah bersih dan wangi. Sepulangnya dari kampus, mereka mampir ke toko hewan untuk membeli keperluan si kucing.
Seperti tempat tidur, makanan, susu, tempat makan minum, shampo, dan vitamin hewan agar si kucing tetap sehat terawat.
Thania sangat niat sekali untuk memelihara kucing itu. Hingga membeli keperluan si kucing tanpa tanggung-tanggung. Tentunya menggunakan uang Gevano.
Sekarang sudah hari 6 kucing itu tinggal di rumahnya. Hampir semingguan ini Thania lebih memperhatikan kucing itu dibandingkan Gevano sang suami.
"By," panggil Gevano yang dibalas dengan deheman oleh Thania.
Sedari tadi Gevano sudah berusaha menarik perhatian Thania. Tapi tetap saja, Thania tak mau meliriknya. Ia iri melihat kucing itu yang dimanja-manja oleh istrinya. Ia kan juga ingin.
"Kucing mulu, aku nya dianggurin!" kesal Gevano yang sudah tak terbendung lagi.
Thania menolehkan kepala. "Kenapa? Kamu cemburu?"
"Ya iya lah! Gimana aku nggak cemburu kalo kamu terang terangan selingkuh di depanku!"
Thania mendengus dan memutar matanya sebal. "Jangan lebay deh, Van. Aku cuma main sama kucingnya, bukan selingkuh dari kamu."
"Lagian mana mungkin aku selingkuh sama kucing? Aneh aja kamu," sambungnya dan kembali sibuk dengan si kucing.
"Sama aja! Itu namanya selingkuh! Kalo emang enggak, ya jangan acuhin aku dong!"
Gevano mengulum bibir sebal. Sedangkan Thania kembali mendengus. Ia memindahkan kucingnya dari atas paha ke sisi tubuhnya. Kemudian melambai menyuruh agar Gevano mendekat padanya.
"Apa?!" ketus Gevano.
Laki-laki itu tak mampu menahan kekesalannya sekarang, membuat Thania tertawa kecil. Ia lalu membujuk dengan nada bicara lembut supaya Gevano luluh padanya.
"Ulu ulu, suami siapa sih ini yang ngambekan?"
"Kamu niat bujuk nggak sih!"
Tawa kecil terdengar lalu Thania berucap. "Kamu kayak anak kecil tau nggak, ngambekan."
"Makanya jangan gitu, by! Suami kamu itu aku! Bukan kucing jelek itu! Yang nafkahi kamu aku! Bukan kucing gendut itu! Yang bikin kamu hamil juga aku! Bukan kucing dekil, jelek, bau itu!"
Suara Gevano terdengar menggebu-gebu. Sekesal itu Gevano pada si kucing hingga mempunyai berbagai macam julukan jelek untuknya.
Selama seminggu ini keduanya memang tak pernah akur. Gevano yang selalu cemburu kepada si kucing. Dan kucing itu juga nampaknya selalu memonopoli Thania untuk dirinya sendiri. Hingga dia yang jelas-jelas adalah suaminya menjadi terabaikan.
"Astaga, Gevan. Aku nggak tau kalo kamu sampai segitunya." Thania memasang wajah terkejut dengan kedipan pelan.
"Tapi tetap aja, kamu nggak boleh kayak gitu. Si embul nggak salah apa-apa loh."
Embul adalah nama si kucing putih itu. Thania yang memberikan nama tersebut. Lantaran si kucing terlihat gendut setelah diberi banyak makanan oleh Thania selama seminggu ini.
Tak hanya gendut, kucing itu juga tampak begitu lucu dan menggemaskan di mata Thania. Jadinya ia memberi nama itu untuk si kucing.
Namun berbeda dengan Gevano yang tidak menyukai nama itu. Lucu darimanya? Menggemaskan apanya? Kucing itu terlihat mengesalkan di matanya. Bahkan nama seperti itu terdengan tidak pantas.
Kucing itu lebih pantas diberi nama kucing caper atau perebut Istri orang, menurut Gevano. Karena kucing itu memang kucing caper dan senang sekali merebut perhatian Thania yang awalnya hanya untuknya.
"Terserah deh terserah!! Urusi aja kucing gendut itu! Dasar kucing jelek ngeselin!!!!"
Gevano bangkit dengan kasar dari duduknya dan berlalu pergi dari sana menuju ke kamar mereka. Thania mengawasi Gevano dengan helaan nafas.
"Marah lagi," gumamnya.
__ADS_1
Bukan sekali Gevano seperti ini. Hal ini sudah terjadi semenjak si Embul tinggal bersama mereka.
Thania melirikan ekor matanya ke arah si kucing. Tangannya mengelus bulu halus itu dengan gerakan lembut.
"Gevan ngambek lagi, gara-gara aku lebih perhatian sama kamu. Padahal enggak gitu."
"Hah, kayaknya nanti malam aku harus bujuk Gevan supaya nggak ngambekan lagi. Enaknya dikasih sogokan apa ya?"
Thania bertanya pada dirinya sendiri. Keningnya nampak berkerut. Kemudian suara jentikan jari terdengar. Senyum sumringah terlihat di wajahnya.
"Kenapa nggak kepikiran dari kemarin kemarin aja ya?"
Senyumnya berubah menjadi seringai misterius. Di otaknya sudah tersusun sebuah rencana untuk membujuk suaminya yang tengah marah.
"Kita liat aja nanti, kamu masih marah bisa atau nggak setelah ini."
...***...
Pada malam harinya Gevano baru saja pulang dari tempat tongkrongannya. Siang tadi ia pergi berkumpul bersama Geng nya setelah sekian lamanya.
Bertemu sekaligus menghindari Thania. Dia masih marah pada istrinya, dan tidak ingin semakin emosi melihat kemesraan Thania dengan si kucing yang membuat iritasi mata.
Dan kini Gevano berjalan memasuki kamarnya yang gelap gulita. Kening itu berkerut samar. Dalam pikirnya ia bertanya-tanya tumben sekali Thania mematikan lampu?
Walau Thania sudah tidur, wanita itu tidak biasa mematikan lampu hingga gelap gulita seperti ini.
Gevano melihat jam tangannya, sekarang pukul 10 malam. Jam tidur Thania memang sudah terlewat, tapi tetap saja ini tak biasa. Istrinya tidak suka tidur sendirian dalam gelap.
"Thania," panggil Gevano yang tak mendapat jawaban.
"Mungkin beneran udah tidur," gumam Gevano.
Laki-laki itu berjalan menuju saklar lampu.
Klik.
Di atas ranjangnya, terdapat Thania yang duduk bersila sambil mengenakan bando telinga kucing putih. Bukan itu saja, Istri cantiknya itu juga mengenakan kemeja putih polos miliknya.
Perut besar Thania terlihat lucu di matanya. Gevano meneguk ludahnya saat Thania berdiri. Paha putih Thania terekspos bebas. Belum lagi kancing atas kemejanya tidak terpasang dengan benar.
Thania tersenyum sambil menuju dirinya. Saat di dekatnya, Gevano dapat melihat wajah menggemaskan Thania.
"Miaww~"
Suara dengan nada menggemaskan keluar dari mulut Thania. Matanya terlihat mengedip ngedip lucu dengan kepala sedikit di miringkan.
Kedua tangan mungil itu terkepal di kedua sisi wajahnya. Dengan gerakan kecil Thania kembali bersuara meniru suara kucing.
"Miawww~"
Gevano menjilat bibir bawahnya gugup. "Ka- kamu ngapain?"
Bukannya menjawab Thania malah mendusel pada dada Gevano. Wanita itu menggiring Gevano menuju ranjang mereka. Tangan lentiknya mendorong tubuh itu hingga jatuh di atas ranjang.
Thania menaiki ranjang, ia duduk di perut Gevano. Pria muda itu hanya diam melihat apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Kamu masih marah?" Pertanyaan tersebut keluar dari belah bibir Thania.
"Ma- masih!"
"Yakin?"
"Y- ya!"
"Miauw, miauw, miauw." Thania dengan kedipan polosnya mampu membuat Gevano gila. Apalagi dengan telinga kucing itu.
__ADS_1
"Jangan marah lagi dong~ aku kan gak buat kesalahan," kata Thania memainkan jemarinya di atas dada Gevano.
Gevano mendecih. "Apanya yang gak buat kesalahan? Lo ngebuat gue cemburu, itu juga termasuk kesalahan!"
Thania yang mendengarnya menggerutu dalam hati. 'Gue cuma main sama kucing?! Bukan selingkuh beneran?! Dan dia cemburu, emang itu salah gue?'
'Ya enggak lah! Itu salahnya sendiri yang gampang cemburu. Sama hewan aja masih cemburu. Huh,' lanjut Thania membantin.
Sebesar apapun ia ingin protes, tetap kalah dengan rasa takutnya. Ia tidak ingin Gevano semakin kesal dan marah. Jadi mengalah adalah jalan terbaiknya.
"Ya udah aku minta maaf. Jangan cemburu lagi ya? Biar gimana pun kamu masih suamiku, Gevan. Kalo si kucing kan cuman hewan doang." Thania berkata lembut.
Gevano sebenarnya ingin sekali mengangguk antusias, lalu memeluk istrinya erat-erat. Tapi dia masih kesal, dan sedikit gengsi untuk melakukan hal itu.
"Halah, hewan-hewan gitu juga kamu lebih perhatian ke dia dari pada suami kamu sendiri," kata Gevano menekan kata 'suami'.
Thania meringis dalam hati. Memang benar ia lebih perhatian ke kucing itu dibanding Gevano. Tapi dia tidak benar-benar sengaja melakukan hal itu.
Ia hanya ingin memberi kasih sayang kepada si kucing agar betah di rumahnya. Namun Gevano malah menangkap hal yang salah dengan kejadian ini.
"Ya kan aku udah minta maaf."
"Gak gue maafin!" Gevano memalingkan wajah ke samping.
Bibir Thania mengerucut kesal. "Kalo gak mau dimaafin ya udah! Fine! Whatever!"
Thania turun dari atas tubuh Gevano dengan hati-hati. Tentu saja ia tidak lupa dengan beban yang dibawanya sekarang.
"Tapi jangan harap aku mau kamu peluk cium!" ujarnya setelah berdiri di samping ranjang.
"Tidur di luar sana! Males liat mukamu!"
Thania mengusir Gevano, pria itu terkejut dengan mata membulat. Tubuhnya langsung bangkit saat Thania menarik tangannya.
"Loh, kok gitu?!" protesnya kesal. Harusnya dia yang marah, kenapa jadi sebaliknya?
Thania berhenti menarik tangan Gevano. Ia berkacak pinggang. "Apanya yang kok gitu?!" galaknya.
"Ini kemauan kamu sendiri ya! Jadi bukan salahku kalo aku mau kamu tidur di luar!" sambungnya.
"Tapi--"
"Gak ada tapi-tapi!"
Thania kembali menarik Gevano menuju luar kamar. Saat akan menutup pintu Gevano menahannya.
"By, plis biarin aku tidur di dalam ya?" mohonnya.
Wajah Thania terlihat sangat sinis. "Kemana kata lo gue nya? Udah balik lagi jadi by hm?" sindirnya.
Gevano meneguk ludahnya. "By, aku minta maaf. Tadi gak sengaja, suer!"
"Nggak dimaafin!"
Blam!
Thania menutup pintu dengan keras tepat di depan wajah memelas Gevano. Tak lupa ia juga menguncinya agar Gevano tak bisa masuk.
Thania mendenguskan nafas. Ia berjalan menuju ranjang dan duduk di sana. Bumil itu hanya diam dengan tatapan tak lepas dari pintu. Tangannya bersedekap dada sambil mendengar teriakan memelas Gevano di luar.
"Bodo amat! Gak denger!"
Thania berbaring dan tidur menyamping. Ia berusaha tuli, biarkan saja Gevano di luar. Lagi pula ini bukan salahnya. salah Gevano sendiri yang tak mau memaafkan dirinya.
Padahal bukan ini yang Thania harapkan. Tapi biarlah. Dia ikut terbawa emosi menghadapi Gevano.
__ADS_1
Malam itu Thania terlelap dengan tenang di dalam kamar mereka. Sementara di luar Gevano menderita karena tidak bisa memeluk Thania dan mengelus perut buncit istrinya.
Bersambung...