Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Lima Puluh Delapan


__ADS_3

Beberapa bulan lalu adalah hari kelulusan Thania dan Gevano. Dan sekarang keduanya sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus.


"Sayang, jam tangan aku mana??" teriak Gevano sambil membuka satu persatu laci di kamarnya.


"Sayang!!!" teriak Gevano lebih keras lagi.


Thania yang sedang menyiapkan keperluan buku-buku miliknya dan Gevano berdecak mendengar teriakan itu. Padahal jarak mereka tidak terlalu jauh. Dan mereka masih ada disatu ruangan!


"Ck, kemarin kamu taruh dimana?" decak Thania.


"Aku lupa," jawab Gevano tanpa menatap Thania.


Thania kembali berdecak. Dia menyimpan tasnya dan tas milik Gevano. Lalu membantu mencari jam tangan milik suaminya itu.


Suami? Iya, suami. Kalian tidak salah baca. Gevano memang benar suami Thania. Mereka menikah setelah satu bulan kelulusannya. Gevano yang tidak ingin Thania diambil orang lain langsung menyuruh papanya untuk melamar gadisnya.


Tentu saja Rey menyanggupi. Tapi tidak dengan Kiara yang sedikit keberatan. Bukan apa, mereka berdua masih terlalu muda. Tentu menikah muda bukan lah hal yang mudah.


Pikirannya masih terlalu labil untuk membangun rumah tangga. Apalagi jika mereka sama-sama memiliki ego yang tinggi. Bisa-bisa itu menjadi penyebab perceraian dalam rumah tangga mereka.


Namun, Gevano menyakinkan mamanya agar tidak perlu terlalu khawatir. Dia sudah memikirkan ini matang-matang. Dia juga sudah berdiskusi lebih dulu bersama Thania dan kakak gadisnya itu.


Nathan tidak pernah absen untuk selalu mencampuri urusan adiknya. Apalagi jika itu menyangkut tentang dirinya.


Tentu saja, Nathan tidak akan melepas dengan mudah adik tersayangnya itu. Makanya ketika Gevano berniat melamar adiknya, Nathan tidak memberi restu. Alasannya sama seperti Kiara. Dia masih takut untim melepas sang adik.


Dan lagi, dia tidak ingin adiknya menikah lebih dulu dibandingkan dirinya.


Tapi saat melihat keyakinan dari kedua remaja itu. Mau tak mau akhirnya Nathan setuju. Meski sedikit tak rela karena dilangkahi oleh adiknya. Padahal dulu adiknya sudah melangkahi dirinya ketika bertunangan dengan Gevano. Dan sekarang adiknya kembali melangkahinya dengan menikah lebih dulu dibanding dirinya.


Hah.


Jika takdirnya sudah seperti itu. Nathan bisa apa? Yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa agar dia bisa secepatnya lulus, dapat pekerjaan dan melamar Zila untuk dijadikan sebagai istrinya.


"Nih jamnya. Lain kali jangan ditaruh sembarangan lagi!" ketus Thania sambil menyerahkan jam tangan milik Gevano.


Pemuda itu mengambil jam tangannya dari tangan sang Istri. "Ada dimana?" tanyanya sambil memakai jam tangan mahal tersebut.


"Di wastafel. Siapa yang naruh di situ?" tanya Thania datar sambil melipat tangannya di depan dada.


Gevano yang mendengar itu menyengir. Lalu berjalan mendekat dan memeluk tubuh sang Istri.


"Maaf, Sayang. Aku lupa, lain kali nggak akan ceroboh lagi deh. Janji!" kata Gevano memberikan kecupan di pucuk sang Istri berkali-kali.


Thania berdehem singkat. "Udah minggir sana!"

__ADS_1


"Nggak!"


Gevano mengeratkan pelukannya saat Thania mencoba melepasnya.


"Gevan, nanti kita bisa telat!" protes Thania meronta-ronta.


"Biarin aja," kata Gevano manja.


Thania mendengus jengah. Jika Gevano sudah manja begini, tak ada yang bisa Thania lakukan selain mengeluarkan kata ancaman andalan para Istri.


"Lepasin, atau kamu tidur diluar selama seminggu!" ancamnya dengan nada serius.


Mendengar itu Gevano pun berdecak. Dengan setengah hari dia melepas rengkuhannya pada pinggang Thania. "Gitu terus ngancemnya. Nggak ada anceman lain apa?" decaknya kesal.


"Nanti aku pikirin anceman lainnya! Sekarang kamu cepet siap-siap terus berangkat! Aku nggak mau telat dan berakhir dihukum!"


Kemudian Thania pergi dari hadapan Gevano. Sekarang dia harus menyiapkan bekalnya dan Gevano. Untung saja dia sudah memasak tadi pagi. Walau hanya masak nasi goreng dan telur ceplok. Tapi nggak papa lah, yang penting masih bisa dimakan dan dinikmati bersama sang suami.


...***...


"Inget pesen aku, jangan deket-deket sama cowok lain! Ngerti?" pesan Gevano memberi tatapan mengancam ke arah Thania.


Gadis itu menatap malas Gevano. "Iya, Gev. Aku paham, kamu selalu ngomong kayak gitu setiap hari!" kesal Thania.


Gevano mengedikan bahu acuh. "Biar kamu inget terus."


Alis Gevano menukik tidak suka. "Kamu ngusir aku?!"


"Bukan gitu, Gev. Bentar lagi aku mau masuk, kamu juga mau masuk kan?" ucap Thania mencoba bersabar.


"Ya udah iya, aku pergi dulu." Gevano mengecup bibir Thania singkat. Membuat perempuan itu melotot.


Gevano terkekeh kecil sebelum pergi dari sana sebelum Thania marah.


Thania berkedip beberapa kali. Lalu berbalik dan masuk ke dalam kelas dengan wajah memerah padam.


...***...


Gevano dan Thania satu Universitas, tapi berbeda jurusan. Jika Gevano mengambil jurusan manajemen bisnis. Maka Thania mengambil jurusan industri kuliner. Dia ingin membuka usaha bisnis kuliner.


Awalnya Gevano tidak ingin Thania kuliah. Dia ingin Thania di rumah saja. Tapi Thania menolak, dia ingin kuliah dan membuka usaha kuliner. Gevano memberi saran bahwa dia akan membelikan sebuah restoran untuk dikelola oleh Thania.


Namun, Istrinya itu menolak dengan alasan ingin membangun usahanya sendiri tanpa campur tangan sang Suami atau orang lain.


Jika Gevano tidak mengijinkannya, Thania akan kabur dari rumah dan tidak mau bertemu dengannya. Tentu Gevano tidak setuju, akhirnya dia mengijinkan Thania berkuliah dengan satu syarat. Dia tidak boleh dekat dengan pria lain selain dirinya.

__ADS_1


Dan langsung disetujui oleh Thania. Gevano juga terpaksa harus berkuliah untuk memantau sang Istri. Padahal dia tidak perlu berkuliah karena dirinya sudah memimpin perusahaan keluarga.


Tapi sekali lagi, Gevano ingin memantau sang Istri agar tidak berhubungan dengan pria lain.


"Gev, baru sampai lo?" tanya Rafael.


"Kalo gue belum sampai, nggak mungkin ada di sini," balas Gevano datar.


"Ya juga ya."


"Habis nganterin Thania ya?" Kali ini Vino yang bertanya.


Gevano membalas dengan deheman. Dia duduk di antara Rafael dan Vino. Rafael di belakangnya dan Vino di depannya.


Tak lama kemudian Dosen datang dengan seorang perempuan cantik di belakangnya.


"Selamat pagi semua," sapa Dosen pria tersebut.


"Pagi, Pak." jawab seisi kelas serentak.


"Hari ini kita kedatangan teman baru dari Kanada," katanya sambil tersenyum. Lalu matanya melirik ke samping.


"Ayo kenalkan dirimu di depan teman-teman barumu."


Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Dia menatap wajah mereka semua dengan senyum yang membuat kaum Adam terpikat.


"Hai, semua. Kenalin namaku Agnes Ellya Voldemort, pindahan dari Kanada. Salam kenal semua," kata Agnes dengan nada lembutnya.


Para kaum buaya menyambut perkenalan Agnes dengan antusias. Kecuali Gevano yang acuh. Lebih cantik Thania kemana-mana.


"Kamu boleh duduk di sebelah kiri Gevano," ucap sang Dosen menunjuk bangku sebelah kiri Gevano yang kosong.


Agnes tersenyum dan berjalan ke arah bangkunya. Dia melirik ke arah Gevano yang tampak tidak peduli akan kehadirannya.


Pertama kali melihat wajah Gevano, hanya satu kata yang melintas di otak Agnes. Yaitu, tampan.


"Hai, gue Agnes," kata Agnes mengulurkan tangannya kepada Gevano dengan senyum terbaiknya.


Pemuda tampan itu melirik datar uluran tangan Agnes. Kemudian matanya menatap ke arah depan. Total abai akan keberadaan Agnes yang tadi mengajaknya berkenalan.


Senyum Agnes luntur, dengan wajah memerah malu karena diabaikan oleh Gevano. Agnes menarik tangannya dengan perlahan. Dan menghadap ke depan.


Dalam hati Agnes mengumpat. Baru kali ini ada pemuda yang menolaknya untuk berkenalan! Padahal biasanya para pria yang mengajaknya duluan. Tapi ini? Dia sudah merendahkan egonya, namun pemuda di sebelahnya terlihat sangat dingin dan tidak tersentuh!


Tapi bukan masalah, Agnes malah lebih tertantang untuk membuat Gevano bertekuk lutut padanya.

__ADS_1


**Bersambung...


Karena banyak yang minta S2, jadi aku buatin nih. Gimana? Seneng nggak**?


__ADS_2