Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Lima Puluh Lima


__ADS_3

"Gev, aku mau pulang dulu ya. Kasian Abang aku nyariin dari semalem." Thania berdiri dan mulai bersiap-siap.


Gevano menoleh bingung. Lalu terlintas satu pertanyaan yang membuatnya bingung. "Kamu kenapa bisa ada di sini? Dan dari mana kamu tau alamat ini?" tanyanya dengan bingung.


Thania menghentikan kegiatannya. Lalu menatap bingung pada Gevano. "Loh, bukannya kamu ya yang nyuruh aku ke sini? Kamu juga yang ngasih aku alamat ini," balasnya ikut bingung.


"Ha? Kapan aku nyuruh kamu ke sini. Key, denger ya. Nggak mungkin aku nyuruh kamu ke sini, sementara aku kesulitan buat ngatasin perkelahian waktu itu," jelas Gevano.


Thania terdiam, benar juga apa yang dikatakan Gevano. Tidak mungkin pemuda itu memintanya kemari. Sementara waktu itu di sini sedang ada pertarungan. Jika bukan Gevano, lalu siapa?


Gevano ikut berpikir, Thania tidak mungkin tiba-tiba datang ke sini. Karena Markas Xevior ini sangat jarang ditemui oleh orang asing. Anggotanya sangat menjaga ketat Markas ini. Mereka selalu berhati-hati ketika ke sini agar tak ada siapapun yang mengetahui Markas Xevior selain mereka sendiri.


Lalu kenapa Thania bisa tau? Tidak mungkin gadis itu kesasar ke sini. Karena Thania tadi bilang bahwa ia yang menyuruhnya datang ke sini. Tapi demi apapun, Gevano tak pernah menyuruh gadisnya itu datang ke sini! Apalagi disaat ada pertarungan seperti waktu itu.


Dia saja tak memegang ponsel saat itu. Bagaimana mungkin Gevano memberi pesan jika tak memegang ponsel sama sekali? Ponselnya saat itu kan ada di tangan Geisya.


Tunggu, Geisya?


Gevano mengerti sekarang kenapa Thania bisa ada di sini. Pasti ini ulah gadis nakal itu! Siapa lagi orang yang memiliki sifat meresahkan selain Geisya, adiknya?


"Ck, ini pasti ulah Geisya," dengus Gevano kesal.


Thania menatap tak mengerti ke arah Gevano yang bergumam. Dan apa tadi? Geisya? Siapa itu Geisya?


Saat Thania ingin bertanya, Gevano malah berdiri dan melenggang pergi. Gadis itu ingin berlari mengejar Gevano. Tapi punggungnya mendadak nyeri.


"Duh, kenapa punggung gue nyeri lagi si!" maki Thania kesal.


Gadis itu kembali duduk, ia tak berniat mengejar Gevano lagi. Karena percuma saja, pemuda itu pasti sudah jauh.


...***...


"Kenapa kalian bisa kecolongan si?!!! Gue udah bilang, jagain adek gue!! Jangan sampai lengah! Tapi apa?!! Geisya diculik dan kalian nggak tau!!!" bentak Gevano emosi.


Mereka semua menunduk, kecuali Arga yang tampak menghela nafasnya.


"Bang, ini bukan salah mereka. Lo juga tau seberapa kacaunya markas kita waktu itu. Kita lengah itu wajar." Arga berusaha menjelaskan agar Gevano mengerti.


Tapi bukannya berhenti Gevano malah semakin menjadi-jadi. "Ya tapi nggak sampai gini juga kali!! Masa adek gue diculik nggak ada yang tau!!"


Arga berdecak. "Dari pada lo marah-marah nggak jelas kayak gini. Mending kita cari cara supaya bisa bebasin Geisya."

__ADS_1


Gevano membuang nafasnya, ia yang tadinya kesal terhadap Geisya mulai berubah menjadi panik kala mendengar kabar bahwa adiknya itu diculik.


Aldo menampilkan raut wajah bersalah. "Gev, maafinn gue ya. Gara-gara gue nggak becus jagain adik lo. Geisya jadi diculik," katanya merasa bersalah.


Gevano melirik Aldo yang menundukkan kepalanya. "Nggak usah minta maaf. Ini bukan salah lo kok. Harusnya gue yang minta maaf, karna bikin lo---"


"Lo nggak salah. Jadi nggak usah minta maaf. Lagian ini udah tanggung jawab gue buat jagain Geisya. Tapi endingnya malah gagal," potong Aldo mendongak dengan wajah sedih.


"Udah, nggak usah nampilin wajah kayak gitu. Yang penting sekarang lo nggak kenapa-napa. Dan soal Geisya, mending sekarang kita cari Markas Dragster."


"Bang, kayaknya Geisya nggak disekap di Markas Dragster deh," celetuk Arga tiba-tiba, membuat mereka menoleh dan menatap pemuda jangkung tersebut.


"Maksud lo?" tanya Vino bingung.


"Maksud gue, Geisya nggak disekap di Markas Dragster."


"Terus di mana?" Kali ini Rafael yang bertanya.


"Gue masih belum tau soal itu. Tapi gue yakin, mereka nggak akan sekap Geisya di Markas Dragster."


"Ya udah kita cari di mana mereka nyekap adek gue."


Mereka semua mengangguk dan mulai melacak keberadaan Geisya. Sedangkan Gevano kembali ke kamarnya. Ia masih ingat jika Thania menunggunya di kamar.


"Udah mau pulang?" tanya Gevano pada Thania.


Gadis itu menoleh singkat dan menganggukkan kepalanya, sambil bergumam kata. "Iya."


"Pulang sama siapa? Mau aku anterin?" tawar Gevano.


Thania menggeleng pelan. "Nggak perlu. Aku dijemput sama Abang aku. Dia udah dalam perjalanan menuju ke sini."


"Ya udah hati-hati ya. Maaf udah buat kamu terluka karna nolongin aku." Gevano maju mendekat, lalu memeluk Thania dengan sebelah tangannya yang tak terluka.


Thania tersenyum manis. "Ini kan buka salah kamu. Ngapain minta maaf?"


"Emang bukan salah aku, tapi kamu terluka kan gara-gara aku. Jadi sama aja aku harus minta maaf." Gevano mengecup pipi kiri Thania sekilas, lalu kembali memeluk tubuh gadis itu.


"Nggak papa. Aku nolongin kamu atas kemauan aku sendiri." Thania balas mengecup Gevano, tapi bukan di pipi. Melainkan di dagu, karena ia tak sampai jika harus mengecup pipi Gevano.


Gevano tersenyum samar. Setidaknya dengan bersama Thania, hatinya sedikit lebih tenang. Meski perasaan tak tenang tentang kabar adiknya masih ada. Namun, itu dapat berkurang karena keberadaan sang kekasih.

__ADS_1


"Udah ya aku pulang. Bang Nathan udah nunggu di depan gerbang tuh," ucap Thania melepas pelukannya.


Dengan tak rela Gevano melepaskan pelukan hangat itu. Lalu berjalan mengikuti Thania dengan wajah masam.


Thania berhenti sejenak, lalu mensejajarkan langkah keduanya. Ia mengapit lengan kanan Gevano, dan memberikan senyum manisnya kepada pemuda itu.


"Jangan cemberut gitu. Aku nggak suka loh. Kamu pengen aku pulang dengan hati nggak tenang ya karna kepikiran kamu terus?" kata Thania di sela langkahnya dan Gevano.


"Biarin aja. Biar kamu inget terus sama aku," jutek Gevano.


Thania menghela nafasnya, terus berjalan tanpa banyak bicara lagi. Membuat Gevano semakin kesal karena gadis itu hanya diam saja. Ia masih rindu kepada Thania. Tapi gadis itu tak mau mengerti dan malah ingin pulang. Mau mencegah, tapi taku gadisnya itu marah.


Saat sampai di lantai bawah, mereka mendengar ada suara keributan di ruang tengah. Keduanya saling berpandangan, sebelum berjalan cepat menuju sumber keributan.


Ketika sampai di ruang tengah, beberapa anggota Xevior tengah berusaha mencegah seorang pemuda yang kini marah-marah bagai orang kesurupan. Dan pemuda itu tak lain adalah Nathan.


Thania melepas pegangannya pada lengan Gevano. Lalu berlari menuju ke arah sang kakak.


"Bang Nathan!" Teriakan Thania sontak membuat mereka menoleh ke arah gadis cantik itu.


"Tolong lepasin dia," pintanya pada kedua anggota Xevior itu.


Kedua pemuda itu menatap Thania. Mereka tentu mengenal gadis cantik di depannya ini. Karena semua anggota Xevior sudah mengenal kekasih dari pemimpin mereka.


Mata mereka kemudian beralih menatap Gevano yang diam dengan wajah datarnya. Melihat tatapan anggotanya yang seperti meminta persetujuan darinya, membuat Gevano mengangguk kecil. Menyuruh kedua pemuda itu menyetujui permintaan gadisnya.


Mereka pun melepaskan pegangannya pada masing-masing lengan Nathan. Pemuda itu berdecih sambil mengibaskan lengan bajunya. Lalu berjalan menghampiri adiknya dan menarik tangan gadis itu.


"Ayo pulang," katanya dengan dingin.


"Bang---"


Nathan menatap tajam Thania, menyuruh gadis itu diam dan menuruti ucapannya. Gadis itu akhirnya bungkam. Tapi ia menoleh ke belakang sekedar untuk pamit dan mengucapkan terima kasih.


"Aku pulang dulu. Makasih," pamitnya dan memberi senyuman tulus kepada mereka semua, dengan tatapan yang tertuju ke arah Gevano yang tersenyum tipis menatapnya.


"Hati-hati," ucap Gevano.


Thania tersenyum lebar, ketika ingin membalas lebih. Nathan lebih dulu menariknya. "Nggak usah banyak drama! Ayo cepetan pulang!" katanya dingin.


Ia juga sempat memberikan tatapan permusuhan ke arah Gevano sebelum keluar dari Mansion besar yang disebut Markas itu.

__ADS_1


Bersambung...


Aku mau minta maaf karena sering telat buat up. Bukan karena aku malas buat ceritanya. Tapi aku juga masih punya tugas lain. Apalagi sekarang sekolah udah mulai masuk lagi. Mohon dimaklumi ya kak kalo lama up-nya 🙏


__ADS_2