
Usia kandungan Thania sudah memasuki 9 bulan. Tinggal menghitung hari dan anak pertama mereka akan lahir ke dunia. Kedua pasangan itu tidak sabar. Apalagi Gevano yang kini selalu siaga di dekat istrinya.
"By, kamu mau selai rasa apa?" tanya Gevano.
Pagi ini, calon Daddy muda itu sedang menyiapkan sarapan untuk si bumil berupa roti bakar atas permintaan Thania sendiri.
"Strawberry," jawab Thania sambil meminum sedikit susu yang dibuat oleh suaminya.
Gevano mengangguk dan memolesi roti bakar dengan selai strawberry seperti jawaban Thania.
"Ini."
Gevano meletakkan piring berisi roti bakar di depan Thania. Mata cantik milik si bumil itu bersinar terang melihat roti bakar buatan Gevano.
"Makasih, Daddy."
"Hem. Cepet makan, entar keburu dingin."
"Oke!"
Thania menyantap roti bakar itu dengan lahap. Gevano membuat 4 roti bakar, 3 untuk Thania dan 1 untuknya. Karena kehamilannya, nafsu makan Thania semakin bertambah. Jadi Gevano selalu membuat lebih untuk istrinya itu.
Setelah selesai sarapan pagi, kedua pasutri itu memilih untuk bersantai sambil menonton tayangan televisi.
Sejak bulan lalu, Gevano memutuskan untuk cuti kuliah. Karena ia harus mengurus Thania yang sedang hamil besar. Masalah perusahaannya pun ia serahkan kepada sang Papa.
Tentu saja Papanya tak keberatan. Karena ini juga menyangkut tentang cucu dan menantunya.
Dan soal si kucing, setelah kejadian Thania marah padanya malam itu. Gevano mulai berusaha akur dengan kucing gendut itu. Dan kini ia mulai akrab dan menerima keberadaan si kucing.
Meski kadang merasa kesal karena lagi-lagi ia terabaikan. Namun, Thania selalu mampu membuatnya luluh.
"Gevan, nanti makan malam di luar yuk. Udah lama kita gak makan malam di luar," ajak Thania tiba-tiba.
"Restoran mana? Biar aku booking sekarang," balas Gevano langsung.
"Ih, jangan dibooking! Kalo dibooking kan suasananya jadi sepi. Aku pengen makan kayak orang normal."
"Lagian nggak perlu makan di restoran juga gak masalah. Yang penting kita makan di luar," lanjutnya.
"Emang selama ini kamu kalo makan nggak normal?" potong Gevano bertanya.
"Ya nggak gitu juga." Thania memutar bola matanya kesal.
"Intinya jangan booking-booking! Ngerti?"
"Iya. Nggak jadi aku booking. Emang kamu mai makan dimana?"
"Terserah."
...***...
Malam ini Thania dan juga Gevano sudah siap untuk berangkat menuju tempat makan terdekat. Thania tidak ingin terlalu jauh dan Gevano menurutinya.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Keduanya masuk dan duduk di tempat yang sudah dipesan Gevano.
Tempat yang mereka kunjungi bukanlah restoran mewah. Hanya kedai sederhana yang menyediakan beberapa olahan rumahan.
Keduanya disambut dengan ramah. Salah satu pramusaji menghampiri meja mereka untuk menuliskan pesanan keduanya.
"Sayang, kamu ingin pesan apa?" tanya Gevano.
"Aku pesen Gurame asam manis, Ayam lada hitam, oseng Cumi pedas--"
"Kenapa pedas? Yang biasa aja, entar kalo kurang pedas kamu bisa tambahin sambal, tapi jangan banyak-banyak, sedikit aja."
"Mau yang pedes. Sekali ini aja ya?" Thania mencoba membujuk Gevano.
"No! Jangan yang pedas!" tolak Gevano mentah mentah.
"Ini permintaan baby loh," kata Thania sendu.
Gevano menghembuskan nafas mengalah. "Ya udah, tapi jangan banyak-banyak kalo makan yang pedas."
"Oke!" Thania tersenyum lalu kembali memilih makanan.
"Minumnya aku pengen Jus Jeruk dan hidangan penutupnya puding aja, sama Pie Apel. Udah."
__ADS_1
Thania menutup buku menunya. Lalu memandang Gevano. "Kamu gak pesen?"
"Nggak. Itu aja udah cukup," balas Gevano yang diangguki oleh Thania.
"Itu aja, Mbk," ujar Thania kepada wanita yang menuliskan pesanan mereka.
Wanita itu mengangguk dan pamit undur diri meninggalkan kedua pasangan suami istri tersebut.
Drt... Drt...
Bunyi ponsel milik Gevano menyita perhatian mereka. Laki-laki itu mengambil ponselnya.
"Dari siapa?" tanya Thania.
Gevano melirik Thania. "Papa."
"Sayang, aku izin ngangkat telfon dulu ya? Kayaknya penting."
Thania mengangguk dan memberi izin kepada suaminya untuk mengangkat telfon dari sang mertua. Gevano berlalu menjauh keluar untuk mencari tempat sepi. Karena di sini ramai dan bising, takutnya ini hal penting.
Thania menunggu pesanan mereka dan Gevano dalam diam. Sesekali ia mengelus perutnya yang besar. Tak lama kemudian pesanan mereka datang, bersamaan dengan Gevano yang turut kembali.
"Udah selesai telfonnya?" tanya Thania, sekedar untuk basa basi.
"Udah." Gevano meletakkan ponselnya di atas meja.
Keduanya pun mulai menyantap hidangan yang mereka pesan. Beberapa saat kemudian, ponsel Gevano berbunyi kembali. Gevano meliriknya dan membaca nama orang yang menelponnya.
"Siapa?" tanya Thania sambil memakan Ikan Gurame pesanannya.
"Vino," balas Gevano menatap Thania.
"Angkat aja. Siapa tau penting."
"Nanti aja deh." Gevano kembali menyantap makanannya. Namun, lagi-lagi ponselnya berdering.
"Gev, mending kamu angkat aja. Siapa tau itu bener-bener penting?"
Gevano menghembuskan nafas kesal. "Ya udah bentar, aku angkat telfon dulu ya?"
"Iya."
"Hai."
Suara seseorang mengalihkan perhatian Thania. Ia mendongak dan terkejut melihat laki-laki di depannya yang kini tersenyum samar ke arahnya.
"Loh, lo kan--?"
"Haha ya, akhirnya kita ketemu lagi."
Senyum samar itu berubah menjadi senyuman lebar. "Gue boleh duduk di sini?" tanya laki-laki itu.
"Oh, boleh kok. Duduk aja," kata Thania memberi izin.
Laki-laki itu duduk di hadapan Thania. Di sampingnya ada seorang gadis yang baru Thania sadari keberadaannya. Sungguh ia tak melihat gadis itu tadinya.
"Eh, dia pacar lo?"
"Bukan. Ini temen gue, Friska namanya," balas laki-laki yang tak lain adalah Alex.
Friska tersenyum ramah kepada Thania. Ia mengulurkan tangannya dan disambut oleh wanita itu.
"Friska."
"Thania."
Setelah uluran keduanya terlepas. "Kita belum sempet kenalan sebelumnya."
Thania kembali melirik ke arah laki-laki yang pernah menolongnya dulu. "Oh iya ya. Gue lupa kalo kita belum kenalan." Ia tertawa kecil. Yang disambut dengan kekehan kecil oleh Alex.
"Kenalin, nama gue Alex."
"Gue Thania."
"Lex, gue ke toilet bentar ya?" ucap Friska.
"Ya," jawab Alex mengangguk.
__ADS_1
"Gue tinggal ke toilet dulu ya, Than?"
Thania menganggukan kepalanya untuk membalas ucapan gadis itu. Friska segera pergi menuju toilet. Kini tinggal Alex dan Thania yang duduk dengan canggung juga gugup.
Tidak, bukan keduanya. Hanya Alex saja sebenarnya. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, bahwa ia tertarik terhadap wanita yang kini duduk di hadapannya.
"Lo ke sini sendiri?" tanya Alex memecah keheningan.
Thania menggeleng. "Nggak. Gue sama Gevan."
"Gevan? Suami lo yang waktu itu?"
"Iya," angguk Thania.
"Ngomong-ngomong gue mau minta maaf sama bilang makasih ke lo. Maaf karna gue lo jadi dihajar sama Gevan. Dan makasih karna udah nolongin gue waktu itu. Untung ada lo, coba kalo nggak, entah gimana nasib gue sekarang."
"Haha, santai aja kali. Gue juga nggak sengaja lewat dan ngeliat lo lagi digoda sama preman-preman itu. Ya gue sebagai cowok harus nolongin dong, ya kali gue diem aja ngeliat cewek lagi digoda kayak gitu."
"Dan soal suami lo waktu itu, gue gak akan ambil hati. Karna gue ngerti, gue juga kalo di posisinya pasti bakal marah banget si ngeliat istri dipeluk cowok lain. Jadi lo jangan ngerasa bersalah gitu, oke?" sambung Alex dengan kekehan khasnya.
Thania itu tertawa. Ia mengangguk beberapa kali. "Baik banget lo jadi cowok. Pasti cewek lo beruntung banget. Haha."
"Kalo gitu lo aja yang jadi cewek gue, gimana?"
Tawa Thania lenyap. Ia memandang wajah Alex yang berubah serius. Tak lama ia kembali tertawa kecil. Dan menganggap bahwa itu adalah sebuah guyonan.
"Lelucon lo basi tau nggak!" Jadi dia membalas dengan tawa kecilnya yang belum mereda. Berharap bahwa Alex akan ikut tertawa.
Namun yang ia dapati adalah wajah serius Alex. Masih tetap sama seperti sebelumnya. "Emang gue keliatan bercanda?"
Thania mengerjapkan matanya. "Lo- lo serius?" tanyanya terkejut.
"Gue serius. Jujur aja gue udah mulai tertarik sejak awal kita ketemu," jelas Alex dengan jujur.
Thania tak dapat menutupi raut terkejut. Tak lama wajahnya berubah sendu. Ia menjawab dengan nada tak enak hati. "Tapi gue udah nikah, Lex. Maaf gak bisa nerima lo."
Alex mengangguk sambil menghembuskan nafas. "Gue tau. Gue cuma ngasih tau lo doang. Sekarang hati gue lega karna udah ungkapin perasaan gue." Ia tersenyum kecut.
"Lex, gue yakin lo bisa dapet cewek yang lebih baik dari gue," kata Thania mencoba menenangkan Alex. Ia benar-benar tak enak hati pada laki-laki itu.
"Jangan sedih gitu ah. Entar gue dihajar lagi sama suami lo." Alex tertawa kecil yang terdengar begitu miris di telinga Thania.
"Maaf." Thania menundukkan kepala sambil memilin dressnya.
"Udah gue bilang, gak papa. Jangan sedih dong, gue jadi ngerasa kayak orang jahat tau nggak."
Thania mengusap hidungnya yang mulai memerah. "Gue yakin lo bakal dapet yang lebih baik dari gue."
"Haha iya iya. Gue pasti bisa dapetin cewek yang lebih baik dan cantik dari lo."
'*Meski begitu, gue pengennya lo.'
'Huh, mungkin ini karma buat gue karna sering mainin perasaan cewek. Giliran udah nemu cewek yang bener bener idaman. Eh, dia nya malah udah nikah. Nasib-nasib*.'
'Ngerebut bini orang dosa nggak si?' batin Alex bertanya tentang pertanyaan yang bodoh.
"Hem, lo pasti bakal dapet cewek yang sesuai sama kriteria lo! Dan cewek itu pasti Friska! Dia cantik dan keliatan baik. Cocok sama lo," kekeh Thania.
"Ha? Friska? Kenapa jadi bawa-bawa Friska?" tanya Alex penuh kebingungan.
"Gue akui dia cantik si, cukup baik juga. Tapi kita nggak saling suka. Kita cuma temen, nggak lebih."
"Kata siapa nggak saling suka? Gue liat, Friska itu suka sama lo kok."
"Hahaha. Ngaco! Ya kali dia suka gue? Kita udah temenan sejak kecil, jadi nggak mungkin lah dia suka sama gue!" elak Alex menggibaskan tangannya.
"Gue sebagai cewek ya tentu tau dong kalo dia ada rasa sama lo. Cuma lo nya aja yang kurang peka."
"Eh, emang iya?"
"Iya lah, ngapain juga gue bohong? Gak ada untungnya!"
Alex terdiam, sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Dia beneran suka sama gue?"
"Iya, Lex. Lagian nggak mungkin ada cewek yang nggak suka sama lo. Kecuali gue, hehe."
Bugh!
__ADS_1
Bersambung...