Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Gevano menatap tajam kedua pemuda yang berdiri angkuh di depannya. Satunya menyeringai, dan satunya lagi berwajah dingin. Mereka yang tak lain adalah Marcell dan Gibran.


"Apa kabar sobat? Udah lama kita nggak ketemu," sapa Marcell tertawa kecil.


Gevano menatap datar Marcell.


"Gimana kabarnya? Baik?" tanyanya sok ramah.


"Jangan banyak berbasa-basi!"


Marcell menarik sudut bibirnya lalu tertawa lagi. "Gue lupa kalo lo itu nggak suka basa-basi."


Gevano tetap berwajah datar. Matanya melirik ke arah samping Marcell, dan melihat ke arah anggota Dragster dan Verlix yang bergabung menjadi satu.


Pemuda tampan itu lalu berdecih dan berkata. "Pengecut."


Ucapan Gevano menyulut api amarah dalam diri Marcell. Perkataan itu seolah mengejek dirinya.


Tapi Marcell berusaha menekannya. "Mau bermain sekarang?"


"Siapa takut?"


"Oke. Cukup basa-basinya. SERANG MEREKA SEKARANG!!" teriak Marcell dengan tangan menjulang ke atas memberi kode kepada anggotanya untuk menyerang Xevior.


Anggota Verlix mulai berlari menyerang Geng Xevior. Mereka melawan dengan menggunakan alat pemukul. Seperti kayu, tongkat baseball, dan lain-lain. Tak ada yang menggunakan senjata api.


Rasanya tidak seru jika diawal pertarungan langsung menggunakan senjata api.


Marcell dan Gevano saling berhadapan dengan wajah dingin.


"Kali ini gue akan menang dari lo!" ucap Marcell dengan angkuh.


Gevano tertawa dingin. "Oh ya?"


"Gue nggak yakin tuh kalo lo bisa menang ngelawan gue," sambungnya tersenyum miring.


Tangan Marcell terkepal di kedua sisi. "Lo liat aja nanti! Gue akan menang dari lo! Secara kan anggota gue lebih banyak dibandingkan anggota lo yang cupu-cupu itu!" ejek Marcell.


Anggotanya memang kalah banyak dengan anggota yang dibawa oleh Marcell. Tapi jangan harap mereka akan mengalah hanya karena perbandingan anggota yang tak sepadan.


Karena kata kalah tak ada dalam kamus mereka.


BUGH!


Gevano memulai lebih dulu dengan memukul rahang Marcell.


"Jangan banyak bacot. Ayo kita buktiin siapa yang cupu!" kata Gevano tersenyum miring.

__ADS_1


BUGH!


Marcell membalas pukulan Gevano. "Siapa takut?"


Marcell akan memukul Gevano kembali. Tapi Gevano menghindar dengan menundukkan sedikit badannya. Lalu dia menegakkan badannya dan menarik tangan Marcell. Kemudian memutarnya hingga terdengar pekikan dari Marcell.


"Cupu!" bisik Gevano merendahkan.


Tatapan Marcell menajam dengan wajah menahan sakit. "Bangsat!" maki Marcell.


Marcell berusaha melepaskan diri dari cengkraman Gevano.


Duk!


Ia menyikut perut Gevano, hingga cengkramannya terlepas. Lalu menendang perut pemuda itu, sampai Gevano terbatuk.


"Lemah!" Sekarang giliran Marcell yang mengejek dengan senyum miringnya.


Gevano membersihkan debu yang menempel di bajunya karena tendangan Marcell tadi. Kemudian membalas pukulan Marcell dengan bertubi-tubi.


Kedua Ketua Geng itu bertarung dengan gerakan gesit. Tak ada yang ingin mengalah, keduanya sama-sama hebat dalam hal bertanding.


Sedangkan di sisi lain Thania baru sampai di lokasi yang dikirim oleh Gevano.


"Makasih, Bang." Thania menyerahkan uang kepada tukang ojek yang mengantarnya.


"Iya neng sama-sama. Kalo gitu saya pergi ya neng."


Thania menganggukan kepalanya. Setelah tukang ojek itu pergi, Thania menatap bangunan di depannya. Sangat besar, mewah, dan berkelas. Seperti hotel bintang lima.


"Ini gue nggak salah alamat kan ya?" tanya Thania mengecek tempat lokasi di ponselnya.


Thania takut salah alamat. Karena tempat ini begitu mewah, dan untuk apa Gevano menyuruhnya ke tempat ini jika hanya ingin bertanya sesuatu.


"Kayaknya gue nggak salah alamat deh. Ini bener lokasinya. Apa gue masuk aja ya ke dalem?"


Thania terlihat bingung, ingin masuk tapi takut disangka tidak sopan. Karena main nyelonong masuk ke dalam rumah orang.


"Masuk aja deh, gue udah sampai tujuan masa diem di sini doang," ujar Thania mulai melangkah masuk.


Ia berjalan sangat pelan dan hati-hati. Kenapa rumah bergaya hotel ini begitu sepi? Apakah di tempat ini tidak ada orang?


Thania semakin melangkah maju. Hingga samar-samar ia bisa mendengar suara seperti orang yang sedang berkelahi?


Asal suaranya tak begitu dari sini. Thania hanya perlu melangkah masuk lagi. Dan boom!


Ia tak salah dengar, ternyata di sini memang ada perkelahian. Thania berlari bersembunyi di balik tembok.

__ADS_1


Ia menggigit kuku jarinya cemas. Kenapa dia harus dihadapkan pada situasi seperti ini? Apa mungkin dia benar-benar salah alamat?! Astaga jika seperti itu Thania harus segera lari sebelum mereka menyadari kehadiran dirinya.


Tapi saat akan berlari. Dia mendengar suara orang yang familiar di pendengarannya.


"Sampai kapan pun gue akan lebih hebat dari lo! Jadi nyerah aja, sebelum gue ratain geng sampah lo ini!"


Thania berbalik dan menajamkan penglihatannya untuk melihat dengan jelas suara orang itu. Ia tak bisa melihat wajahnya karena sosok itu membelakangi dirinya. Tapi saat pemuda itu sedikit menoleh, Thania langsung yakin.


Jika sosok itu adalah Gevano. Dia tak mungkin salah kenali orang, karena dilihat dari postur tubuhnya, juga suaranya bisa dipastikan bahwa itu adalah Gevano.


"Jadi gue nggak salah alamat ya?"


"Tapi untuk apa dia nyuruh gue ke sini?" lanjutnya melirih.


"Mending gue pergi aja."


Thania melangkah pergi, tapi sebelum itu dia melirik ke Gevano yang masih berdiri dengan kaki menginjak dada lawannya.


Ia menoleh ke depan, tapi sedetik kemudian dia kembali menoleh ke arah Gevano dengan mata membulat.


Di belakang Gevano ada orang yang berjalan perlahan dengan membawa sebuah tongkat baseball di belakangnya.


"Gevan awas!!!" teriak Thania yang tidak akan didengar oleh Gevano di tengah kebisingan ini.


"Gevan di belakang lo ada orang!!!!" Thania menaikan nada suaranya.


Tapi tetap saja Gevano tak akan mendengarnya. Orang itu semakin mendekat. Thania yang melihatnya semakin panik. Tidak ada waktu lagi untuk memperingati Gevano.


Gadis itu berlari menerobos kerumunan orang yang sibuk berkelahi. Ia tak mempedulikan tubuhnya yang terdorong oleh aksi mereka.


Bruk.


Thania terjatuh, saat akan berdiri. Tangannya tanpa sengaja diinjak oleh seseorang. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit. Matanya melirik ke sosok yang sudah begitu dengan Gevano.


Tanpa mempedulikan sakitnya, Thania menarik tangan yang diinjak oleh orang tersebut. Sehingga tangan kanannya terluka karena ia tidak tau jika dibawah tangannya ada pecahan beling. Pantas saja rasanya sakit saat tangannya diinjak.


Thania bangkit berdiri dengan susah payah. Lututnya juga terluka dan sedikit mengeluarkan darah. Namun Thania tidak peduli dengan itu semua. Yang menjadi tujuannya hanyalah Gevano.


Gadis itu berlari dengan kaki terpincang-pincang, menahan rasa sakit. Ia mempercepat laju langkahnya. Saat sudah dekat, ia langsung memeluk tubuh Gevano dari belakang.


BUGH.


Akhh... Uhuk...


Alhasil pukulan itu mengenai punggungnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2