Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Enam Puluh Sembilan


__ADS_3

Gevano terbangun dari tidurnya ketika merasakan pergerakan dari sosok yang tidur bersamanya. "Mau kemana, by?" tanya Gevano serak khas suara bangun tidur.


"Mau mandi," balas Thania tanpa menatap Gevano. Wanita itu sibuk mengikat rambut panjangnya.


Setelah itu ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Gevano yang tidak bisa tidur lagi akhirnya memilih bangun.


"Udah sore ya? Gak kerasa gue tidur selama itu," gumam Gevano melihat jam yang kini menunjukkan pukul 5 sore.


Beberapa saat kemudian Thania keluar menggunakan bathrobe putih. Rambutnya basah, sepertinya wanita itu baru saja keramas. Gevano berdecak karenanya.


Pria muda itu bangkit dan berjalan menuju Thania. Lalu mengambil handuk di tangan wanita itu.


"Udah berapa kali aku bilang, jangan keramas sore-sore. Gak baik, Thania. Aku nggak mau kamu sakit, apalagi sekarang kamu lagi hamil muda. Kamu denger ucapan suami apa nggak si?" omel Gevano.


"Iya, iya aku minta maaf, Gevan. Cuma sekali ini doang kok, janji deh," kata Thania mendudukkan diri di atas ranjang mereka berdua.


Sementara Gevano sibuk mengeringkan rambut basah istrinya sambil mengomel. "Kamu juga dulu bilang kayak gitu. Gak akan diulangi lagi, tapi buktinya apa? Sekarang malah kamu ulangi."


"Aku gak ada niat buat bantah ucapan kamu kok. Tapi gak tau kenapa tiba-tiba aja aku pengen mandi sambil keramas," jawab Thania jujur.


"Mungkin aja itu ngidam?" sambung Thania.


"Mungkin aja si," balas Gevano bergumam.


Sedetik kemudian Gevano mengeryit. "Kamu pakai shampoo punyaku ya?" tanyanya saat merasakan wangi mint pada rambut Thania.


Ia baru sadar jika wangi shampoo yang digunakan Thania adalah rasa mint. Biasanya wanita itu menggunakan rasa yang lebih segar, seperti jeruk.


"Iya. Kenapa? Kamu gak suka aku pake shampoo punyamu?" Thania mendongak dengan raut wajah sedih.


"Eh, eh, ya enggak dong, by. Aku kan cuma nanya," ujar Gevano sedikit kaget melihat Thania yang tiba-tiba saja memasang ekspresi sedih.


Perlahan wajah sedih itu berganti menjadi normal kembali. "Aku kira kamu gak iklas."


Yang benar saja? Mana mungkin Gevano tak iklas memberikan shampoo miliknya untuk dipakai wanita itu? Bahkan jika Thania mau, ia bisa memborong semua shampoo yang diinginkan oleh istrinya. Apapun untuk Thania, karena kebahagiaan istrinya adalah prioritas Gevano untuk saat ini.


"Mana mungkin aku gak iklas, by. Kalo kamu pengen habisin shampoo aku juga aku iklas kok. Mau kamu beli sepabriknya sekalian aku gak akan protes. Aku beliin semuanya buat kamu." Gevano mengecup pucak kepala Thania.


Wajah Thania bersemu merah muda. "Aduh, Gevan. Kamu bisa gak sih gak usah ngomong manis-manis gitu?" kata Thania merengek.


"Emang kenapa?" tanya Gevano sembari berusaha menahan tawa gemasnya.


"Aku malu tau~ liat nih pipiku sampai merah gara-gara kamu!" Ia menunjuk kedua pipinya memerah samar.

__ADS_1


Akhirnya tawa gemas Gevano mengudara. Astaga, istrinya ini kenapa manis sekali si? Kan Gevano jadi gemas ingin memakannya.


"Kamu makin lucu semenjak hamil," ujar Gevano menangkup kedua pipi Thania.


"Berarti waktu aku belum hamil aku gak lucu dong?"


Gevano menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu lucu, dari dulu bahkan sampai sekarang. Gak ada yang selucu kamu." Ia merendahkan tubuhnya agar bisa menggigit pipi Thania.


"Gevan!" Thania berteriak jengkel setelah Gevano menggigit pipinya. Meski pelan tetap saja ia kesal karena air liur Gevano tertinggal di pipinya, sebab Gevano tak hanya menggigit, melainkan ********** juga.


"Ulu ulu, marah nih?" tanya Gevano menggoda.


"Tau ah! Mandi aja sana! Kamu bau tau nggak," sinis Thania.


"Enak aja! Wangi gini dibilang bau," sebal Gevano.


Giliran Thania sekarang yang tertawa. "Cuma becanda kok. Mana mungkin suami aku ini bau." Wanita itu berdiri dan memeluk manja Gevano. Ia melakukan hal itu agar Gevano tidak merajuk. Padahal tanpa dibujuk pun Gevano tak akan bisa merajuk pada istrinya.


"Ya udah aku mandi dulu. Kamu tunggu bentar ya, habis itu kita cari makanan. Oke?"


"Siap!" Thania memberi tanda hormat kepada Gevano, membuat pria muda itu tersenyum manis.


"Good girl," pujinya seraya mengusap rambut Thania yang mulai sedikit kering.


Setelah itu Gevano bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Thania sibuk memilih pakaian untuknya dan sang suami.


Gevano dan Thania sudah berada di dalam mobil. Mereka tidak jadi membeli makanan, karena Thania tiba-tiba ingin makan masakan Mama Gevano. Tentu Gevano langsung mengiyakan permintaan Thania. Karena ia juga merindukan masakan sang Mama.


"Gevan, besok kita jalan-jalan yuk. Aku pengen ke pasar malam," ajak Thania tiba-tiba.


"Pasar malam?" tanya Gevano sedikit menoleh, kemudian kembali fokus ke depan.


"Iya! Aku tadi gak sengaja ngeliat postingan temen sekelasku, hari ini mereka mau ke pasar malam. Tapi berhubung kita mau ke rumah Mama jadi perginya besok aja. Kamu mau 'kan?"


Thania menatap Gevano dengan pandangan memelas layaknya anjing kecil yang lucu. Sekali lagi, Gevano tidak bisa menolak permintaan Thania. Jadi tentu saja pria itu mengiyakan tanpa banyak protes. Toh, ia juga akan ikut pergi. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat tinggal orang tua Gevano. Kedua pasutri itu keluar dari mobil. Gevano langsung membenarkan jaket yang dipakai Thania agar tubuh istrinya tidak terkena angin malam. Kemudian pria itu menggandeng tangan Thania dan berjalan menuju pintu rumah keluarganya.


"Gevan, kamu udah bilang ke Mama kan kalo kita ke sini?" tanya Thania saat hampir sampai di depan pintu.


Gevano menoleh dan mengangguk pelan. "Udah. Bahkan Mama langsung nyiapin makan malam buat kita."


"Oh, oke deh." Wanita itu kemudian diam, tak bertanya lagi.

__ADS_1


Mereka sudah sampai di depan pintu. Thania yang awalnya akan memencet bel mendadak berhenti begitu Gevano langsung membuka pintunya.


"Ayo masuk," ajak Gevano kembali menggandeng Thania yang mendengus.


"Huh, kamu kebiasaan kalo masuk rumah orang. Padahal aku tadi mau mencet belnya loh."


"Gak perlu kayak gitu segala. Lagian ini rumah orang tua aku, by. Jadi bukan masalah, orang tuaku juga gak akan masalahin."


"Terserah." Thania memutar bola matanya malas.


Setelah itu terdengar seruan gadis kecil dari atas tangga dengan begitu kencangnya. "KAK THANIAA!!"


Geisya, gadis itu berlari dan hendak menerjang Thania. Jika saja Gevano tak menarik lengan istrinya untuk bersembunyi di balik tubuhnya.


Geisya memberengut kesal. "Ih, Abang apa-apaan si! Geisya kan mau meluk Kak Thania!" kesal gadis kecil itu.


"Itu mah bukan mau meluk, tapi mau nerjang," jengah Gevano.


"Jangan gitu lagi kalo mau peluk-peluk Istri orang. Jalan pelan-pelan terus peluk, jangan lari terus diterjang. Gimana kalo seandainya Thania jatuh? Terus janin yang dikandung Thania kenapa-napa gimana coba? Mau tanggung jawab kamu?" sambung Gevano mengomel panjang lebar. Lebih tepatnya ia sedang menasehati, tapi jatuhnya malah seperti orang mengomel.


"Iya, Abang. Geisya minta maaf. Maafin Geisya ya, Kak Thania." Gadis itu melirik Thania yang berada di belakang tubuh kakaknya dengan ekspresi sedih.


Thania tidak tega melihat wajah memelas Geisya seperti itu. Jadi ia berinisiatif untuk membuka suara. "Udah, Gevan. Lagian Geisya kan gak tau. Mungkin aja dia cuma terlalu bersemangat. Udah ya, gak usah ngomel mulu."


Gevano menghembuskan nafas. "Aku gak ngomel, by. Aku cuma nasehatin doang," ucap Gevano membantah tuduhan sang Istri yang mengatakan bahwa dia sedang mengomel.


"Ih, mana ada orang nasehatin pasang muka galak kayak Abang! Harusnya kayak Kak Thania dong kalo nasehatin pake muka lemah lembut!" sehut Geisya. Hilang sudah wajah sedihnya tadi, berganti menjadi wajah sebal.


"Diem kamu! Udah salah, dinasehatin malah ngotot lagi!"


Geisya beralih menatap Thania dengan wajah dimelas-melaskan agar terlihat menyedihkan. "Kak Thania~"


"Gevan, udah. Jangan diterusin, kamu kayak anak kecil aja. Geisya juga udah minta maaf. Jadi gak perlu debat lagi!" kata Thania tegas.


"Huhu, sayang banget sama Kak Thania," ucap Geisya dramatis.


Thania hanya tersenyum saja melihat ucapan dramatis Geisya. "Ayo kita ke ruang makan, Mama udah masakin banyak makanan buat Kak Thania loh!" kata Geisya antusias.


"Ya udah yuk!" Thania membalas tak kalah antusias. Karena ia memang sudah lapar.


Kedua perempuan itu pergi meninggalkan Gevano yang merengek tak terima karena Thania lebih memilih Geisya dibanding dirinya.


"Huh, sialan! Bocil itu emang gak pernah mau kalah sama gue," dengus Gevano dengan kesalnya. Kemudian menyusul kedua perempuan itu.

__ADS_1


Bersambung...


Cerita My Little Girl kayaknya gak bakal aku lanjut deh. Kalaupun aku lanjut, mungkin harus revisi ulang, dan aku gak tau kapan ngerevisinya. Jadi mohon maaf buat penggemarnya Gibran sama Geisya, karena ceritanya gak lanjut²🙏


__ADS_2