
Keadaan dalam mobil Gevano hening. Baik Gevano maupun Zila tak ada yang membuka suara. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Gevano yang fokus menyetir, dan Zila yang sibuk dengan pikirannya tentang hubungan Gevano dan Thania.
Zila sudah tau jika Gevano mempunyai kekasih, dan dia baru tau kalau Thania adalah kekasih Gevano dulunya. Tapi kenapa mereka bisa putus ya? Padahal Gevano kelihatannya masih suka sama adiknya Nathan tadi.
Zila melirik ke arah Gevano. Apa dia tanya saja ya ke Gevano langsung? Biar rasa penasarannya terjawab. Dari pada dia pulang membawa rasa penasaran di hati.
"Van, lo kok bisa putus sama Thania si?" tanya Zila.
Gevano tidak menjawab pertanyaan Zila. Dia tetap fokus menyetir. Zila cemberut karena tak mendapat balasan apapun dari Gevano. Dia kan kepo! Kenapa Gevano tidak mengerti!
"Van, jawab dong! Gua kepo nih..." rengek Zila menatap memelas Gevano.
"Vano..." Zila memegang lengan Gevano, lalu ia goyangkan dengan manja.
"Diem, Kak," ujar Gevano dingin tanpa menatap Zila.
"Makanya jawab dulu! Baru aku diem."
Gevano menghembuskan nafas lelah. "Ini bukan urusan Kakak. Jadi nggak usah ikut campur."
"Ini urusan gua juga, Van! Lo kan adek gua!"
Gevano berdecak pelan. "Gua nggak mau cerita."
Zila semakin memajukan bibirnya. Menarik tangannya lalu bersedekap dada sambil menatap ke depan. "Jahat amat si lo!"
"Emang sejak kapan gua jadi baik?" kata Gevano datar.
"Sejak nanti! Kalo lo mau cerita."
Gevano melirik sekilas ke arah Zila dengan tatapan dingin. Lalu kembali fokus ke depan. "Nggak."
'CUEK BANGET JAWABNYA! UDAH KAYAK SI ARGA AJA LO ITU! JAWABNYA DIKIIITT BANGET! MANA MUKANYA DINGIN BAT LAGI! PADAHAL NGOMONG ITU KAN GRATIS! NGGAK PERLU BAYAR DAN DIPUNGUT BIAYA PAJAK! TAPI KENAPA MEREKA IRIT BANGET NGOMONGNYA KAYAK BICARA DIKIT LANGSUNG DENDA!!' batin Zila berteriak marah.
Bagaimana tidak kesal, setiap hari dia selalu berdekatan dengan laki-laki dingin. Di rumah, adiknya si Arga itu juga dingin, ngomongnya juga irit banget. Terus di luar, malah si Gevano yang dingin.
Ingin dia berteriak seperti yang di dalam hatinya kepada Gevano. Tapi dia takut.
"Van, ayo lah cerita... Emang lo mau ya kalo gua nanti malem tidurnya nggak tenang gara-gara penasaran?" kata Zila mengeluarkan jurus andalannya, yaitu puppy eyes.
Gevano memutar bola matanya malas. "Nggak peduli," jawabnya acuh.
Zila menyerah membujuk Gevano untuk cerita. Lebih baik diam dibandingkan memancing emosi pemuda itu.
Mobil berhenti di depan kawasan Mansion mewah milik keluarga Megantara.
"Udah sampai," ucap Gevano.
"Eh, cepet banget?" gumam Zila menatap bangunan megah yang tak lain adalah tempat tinggalnya.
"Turun, Kak. Gua mau pulang," kata Gevano.
Zila menoleh ke arah Gevano. "Nggak mau mampir dulu?"
"Enggak. Bokap gua tadi nelfon suruh cepet-cepet pulang."
Zila mengangguk, dia membuka seatbelt. Lalu hendak membuka pintu, tapi sebelum itu dia menatap Gevano lebih dulu.
"Yakin nggak mau cerita?" tanyanya lagi.
Gevano menggeleng.
Zila pun membuka pintu mobil, lalu mengeluarkan salah satu kakinya. Kemudian menoleh ke belakang menatap Gevano.
"Yakin nih?"
"Ya."
Zila mengeluarkan kedua kakinya lalu keluar dari mobil. Sebelum menutup pintu, Zila menyempatkan diri untuk bertanya lagi.
"Yakin kan nggak nyesel?"
"Enggak."
Zila mengangguk, lalu menutup pintu dengan pelan-pelan. "Nggak akan---"
"Enggak, Kak," potong Gevano datar.
Melihat tatapan dingin Gevano, membuat Zila meneguk ludahnya. Dia menyengir lucu, lalu menutup pintu mobil dan berlari masuk ke dalam.
Gevano menghela nafas. "Untung sepupu," gumamnya.
Dia melajukan mobilnya pergi dari kawasan Mansion Megantara.
...[][][]...
Thania merebahkan tubuhnya ke kasur yang sudah dia rindukan. "Uh, rindu banget gua sama ni kasur," gumam Thania dengan mata terpejam. Dia menikmati sensasi nyamannya kasur miliknya ini.
Ting!
Thania membuka matanya, lalu mengambil ponselnya yang ada di bawah bantal. Pesan dari Gita.
Gita💅✨
Nia, gua denger lo masuk Rumah sakit ya?
__ADS_1
^^^Thania^^^
^^^Iya. Tau dari siapa lo? Kayaknya nggak yang tau deh kecuali Bang Nathan sama Gevan^^^
Gita💅✨
Gua tau dari Vino
Lo sakit apa sampai masuk ke RS?
"Pasti Gevan nih yang ngasih tau Vino. Secara kan mereka sahabatan," monolog Thania memandang ponselnya.
"Eh, tapi ada hubungan apa ya kira-kira si Vino sama Gita? Nggak mungkin kan Vino langsung ngomong gitu aja ke Gita?"
^^^Thania^^^
^^^Lo tau dari Vino?^^^
Gita💅✨
Iya
Lo belum jawab pertanyaan gua, lo sakit apa sampai masuk RS?
^^^Thania^^^
^^^Lo sedeket apa sama Vino, Git?^^^
^^^Demam biasa kok, ini juga udah pulang ke Rumah gua^^^
Gita💅✨
Kok bisa demam si?
^^^Thania^^^
^^^Ya bisa lah^^^
^^^Udah deh nggak usah ngalihin pertanyaan gua. Cepat jawab! Lo sedeket apa sama Vino?^^^
Gita💅✨
Hah? Maksut lo apa si?
^^^Thania^^^
^^^Jangan pura-pura nggak ngerti deh lo! Jujur sama gua, lo ada hubungan kan sama Vino?^^^
Gita💅✨
^^^Thania^^^
^^^Bo'ong lo!^^^
Gita💅✨
Gua nggak bo'ong astaga!
^^^Thania^^^
^^^Lo bo'ong! Gua yakin lo pasti ada sesuatu kan sama Vino? Karena nggak mungkin si Vino tiba-tiba ngomong ke lo kalo gua sakit. Pasti kalian lagi deket kan? Ngaku deh, Git😤^^^
Tak ada balasan dari Gita. Pasti lagi mikir alasan yang pas.
Ting!
Gita💅✨
Vino ngomong ke gua ya karna dia tau kalo gua itu sahabat lo. Makanya dia ngomong ke gua
"Masih nggak ngaku juga ni bocah," gumam Thania menggeleng.
"Dari pada di chat, mending gua telfon aja biar gua tau. Gita bo'ong atau nggak," ucap Thania menyeringai kecil.
Thania ketularan si Gevano nih kayaknya. Biasanya dia nggak pernah senyum dimiring-miringin gitu. Tapi semenjak kenal Gevano, dan sering melihat senyum miring pemuda itu. Thania jadi ikut-ikutan.
Thania menekan tombol telefon. Menunggu beberapa saat agar terhubung dengan Gita. Karena gadis itu belum mengangkat telpon darinya.
Tak lama kemudian Gita mengangkat telfon darinya.
"Halo, ada apa---"
"Jujur, Git. Lo ada hubungan apa sama Vino?" tanya Thania memutus perkataan Gita.
"..."
"Jujur ngapa si? Lo bo'ong juga gua udah tau jawabannya. Lo pacaran kan sama Vino?"
"..."
"Iya kan?"
"..."
"Diem artinya iya!"
__ADS_1
"..."
"Kok nggak jawab si?"
"..."
Thania berdecak. Lalu sepintas ide agar Gita mau jujur melintas di otaknya.
"Ya udah kalo lo nggak mau jujur. Mending gua nanya langsung aja ke Vino---"
"JANGAN!! Oke-oke gua jujur!"
Thania tersenyum penuh kemenangan. Hehe, ternyata otaknya pinter juga ya.
"Jadi gimana? Lo masih PDKT, atau udah jadian nih sama Vino?"
Di seberang sana Gita sedikit berdehem kecil. "Emm, udah jadian si sebenernya," jawab Gita dengan nada malu-malu.
Thania tersenyum cerah. "Wah, kapan jadiannya?" tanyanya antuasias.
"Baru jadian dua hari yang lalu."
"Astaga. Kok gua baru tau si?!! Kenapa lo nggak cerita!!"
"Kan waktu itu lo diseret Gevan entah kemana. Terus kemarin lo di Rumah sakit."
"Oh ya, gua minta maaf ya nggak jenguk lo waktu di Rumah sakit. Soalnya gua baru tau tadi."
"Iya nggak papa. Lagian gua juga cuma nginep sehari doang."
Gita bergumam sebagai jawaban.
"Eh, gimana hubungan lo sama Gevan?" tanya Gita.
Thania diam mendengar pertanyaan Gita tentang Gevano.
"*Than?"
"Thania, lo masih di sana kan*?"
"Aaa, ya- ya? Gua masih di sini kok," balas Thania dengan pandangan kosong lurus ke depan.
"Lo kenapa? Hubungan lo sama Gevan baik---"
"Gua udah putus dari dia."
"..."
Giliran Gita yang terdiam.
"O- oh, maaf gua nggak tau."
"Udah gapapa."
"Kalo boleh tau kenapa kalian bisa putus? Nggak mungkin kan kalo Gevan yang mutusin lo? Karna setau gua si Gevan nggak mau putus sama lo."
"Gua juga nggak ngerti si. Karna setelah gua bangun, Gevan sama gua udah putus."
"Oh gitu? Lo sedih nggak?"
Sedih ya? Dia sedih atau senang? Thania tidak tau jawabannya.
"Ya seneng lah! Lo kan tau gua pengen banget putus dari Gevan," kata Thania sedikit bergetar menahan sesak di dada.
"Tadi yang bohong gua. Sekarang yang bo'ong malah elo," dengus Gita.
"Gua nggak bohong, Git."
"Hilih masa? Dari nada suara lo udah jelasin semuanya. Kalo lo itu sebenernya sedih. Lo udah mulai ada rasa kan sama Gevan?"
"..."
"Diem artinya iya."
"Heh! Mana ada kayak gitu!"
"Ada. Kan lo sendiri yang bilang, diem artinya iya! Jadi kalo lo diem aja itu artinya lo emang sedih karna kehilangan Gevan."
"..."
"Tuhkan diem lagi! Jujur aja deh kalo lo emang ada rasa sama Gevan. Gua nggak akan ngebocorin ini ke siapapun kok!"
Thania menghembuskan nafasnya. "Gua nggak tau, Git. Gua bingung sama perasaan gua sendiri," lirih Thania.
"Menurut lo, gua suka ke Gevan apa enggak?" tanya Thania.
"Ya mana gua tau. Tapi kalo menurut gua si lo mulai ada rasa ke Gevan. Cuma di hati masih lo sedikit ragu. Makanya lo bimbang antara suka sama enggak."
"..."
"Dengerin gua ya. Yang bisa nentuin perasaan itu cuma lo sendiri. Cuma lo yang tau gimana perasaan lo sebenarnya. Gua saranin sebelum terlambat mending lo cepet-cepet cari tau perasaan lo ke Gevan. Jangan sampai lo nyesel di akhir, Than. Udah dulu ya gua dipanggil sama Mama nih. Assalamualaikum!"
Gita memutuskan sambungan telepon mereka.
"Waalaikumsalam," balas Thania masih memandang kosong ke depan. Dia mencerna ucapan Gita yang memang benar adanya. Sebelum semuanya terlambat, dia harus bisa menemukan jawaban atas perasaannya ini!
__ADS_1
Bersambung...