
Pintu gerbang terbuka, atau lebih tepatnya rusak parah! Bagaimana tidak rusak parah jika Gevano membuka paksa gerbang itu dengan motornya? Bahkan motor sport itu ikut rusak di bagian depan.
Apa Gevano peduli? Tentu tidak. Biarkan saja gerbang itu rusak. Lagipula sekolah ini milik keluarganya. Jadi untuk dia panik setelah merusak gerbang itu? Sedangkan untuk masalah rusaknya motor milik Arga. Abaikan saja. Dia akan membelikan motor baru untuk adik sepupunya itu.
Yang terpenting sekarang adalah Thania. Dia harus cepat membawa Thania kembali.
Kaki panjang Gevano berlari menyusuri koridor sepi sekolah. Cahaya lampu temaram membuat koridor itu tampak sedikit menyeramkan bagi orang yang penakut. Tapi tidak bagi Gevano. Ia tidak merasakan takut sedikitpun.
Sampai di depan pintu gudang, Gevano langsung mendobrak pintu tersebut dengan sekali tendangan.
Gevano masuk dan disambut dengan kegelapan malam. Beruntung penglihatannya tajam, jadi dia tidak terlalu susah meski di dalam sini gelap.
Dia terus berjalan, sampai langkahnya berhenti begitu melihat seseorang terbaring di lantai yang dingin ini. Matanya membulat, dia segera berlari ke arah gadis itu yang tak lain adalah Thania.
Membawa kepala Thania ke pangkuannya. "Keyla! La! Bangun!" ucap Gevano sembari menepuk pelan pipi dingin gadisnya.
Tak ada pergerakan dari Thania membuat Gevano semakin dilanda khawatir. Matanya melirik ke seragam Thania yang masih sedikit basah akibat ulahnya tadi siang. Tanpa banyak kata dia melepas jaketnya lalu memasangkannya ke tubuh Thania.
Setelah itu dia segera mengangkat tubuh gadisnya. Menggendongnya ala bridal style dan membawanya pergi dari gudang tersebut.
Gevano berlari dengan Thania yang berada dalam dekapannya. Wajahnya menyiratkan akan rasa khawatir yang begitu dalam.
"Maafin gua, Keyla. Maafin gua." Bibirnya terus bergumam kata itu berulang kali.
Saat sampai di halaman sekolah, Gevano mengumpat pelan. Dia tidak bisa membawa tubuh Thania dalam keadaan pingsan dengan naik sepeda motor.
"Taksi! Gua harus cari taksi!" gumam Gevano dan kembali berlari keluar dari kawasan area sekolah.
Sampai di depan sana Gevano kembali mengumpat kasar. Disaat keadaan genting seperti ini tidak ada satupun kendaraan mobil yang lewat!
"Sial! Kenapa sepi si, bangsat!!" umpat Gevano kalang kabut.
Dia menatap ke arah wajah Thania yang semakin pucat.
"Tahan sebentar ya, Sayang," ucap Gevano mengecup kening Thania.
Tidak ada pilihan lagi, segera Gevano berlari menuju ke halte bus yang ada di persimpangan jalan depan.
Sampai di halte bus, Gevano duduk di kursi dengan Thania yang masih ia pangku. Kepalanya berulang kali menoleh ke kanan kiri, berharap supaya bus cepat datang, atau taksi lewat di jalan sini.
Tapi sampai beberapa menit berlalu tak ada satupun mobil yang lewat! Bahkan bus yang ditunggunya tak kunjung datang!
"Sebenarnya mereka semua ke mana si, anjing! Kenapa saat gua butuh nggak ada taksi yang lewat! Apa mereka semua mati hah! Bangsat!" maki Gevano pada angin.
Gevano tak punya pilihan lain lagi, dia akan menggendong Thania sampai ke Rumah sakit. Ini adalah jalan satu-satunya. Ponsel miliknya tertinggal di rumah akibat terburu-buru. Menunggu mobil lewat atau bus bukanlah pilihan bagus. Thania harus segera di bawa ke Rumah sakit!
__ADS_1
Gevano berdiri lalu berlari menuju ke Rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari sini. Tak apa jika ia harus berlari menuju ke Rumah sakit dengan Thania digendongannya. Yang penting Thania bisa ditangani dengan cepat.
Gevano berhenti sejenak, dia mengatur nafasnya. Lalu melirik ke arah Thania yang masih terpejam dan wajahnya bertambah pucat.
"Gua harus kuat!" kata Gevano menyemangati dirinya.
Kakinya berlari lagi, walau tak sekencang yang lalu. Tapi dia masih kuat. Demi Thania!
...[][][]...
Satu jam kemudian, Gevano berhasil membawa Thania ke Rumah sakit. Saat di lobby, Gevano langsung berteriak.
"DOKTER!! TOLONG TANGANI KEKASIHKU SEKARANG JUGA!!" teriak Gevano seraya berlari ke dalam.
Semua orang menatap Gevano aneh. Penampilan Gevano yang acak-acakan sedikit membuat mereka berpikiran macam-macam.
"KALIAN TULI HAH?!! GUA BILANG CEPAT TANGANI KEKASIHKU BANGSAT!!!" marah Gevano karena mereka hanya diam menontonnya.
Salah satu perawat maju untuk menegur Gevano yang menurutnya sangat tidak sopan. "Maaf, anda jangan membuat keributan. Ini Rumah sakit---"
Ucapannya terpotong oleh lirikan tajam mata elang Gevano. "SIAPA LO BERANI NASEHATIN GUA!!!"
"Tuan---"
Mendengar ancaman Gevano yang tidak main-main. Beberapa perawat dan satu Dokter mulai berdatangan sambil mendorong brankar. Gevano tanpa banyak kata segera meletakkan Thania ke atas brankar.
Mereka mendorong brankar itu dengan segera. Saat sampai di depan pintu, seorang suster menghadang Gevano yang hendak masuk ke dalam.
"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh masuk. Tolong tunggu---"
"DIA KEKASIHKU!!" bentak Gevano.
"Saya tau. Tapi---"
"KALO LO TAU YAUDAH MINGGIR, BANGSAT!!"
Gevano nekat menerobos masuk setelah membentak suster itu. Sedangkan suster wanita langsung berlari mengikuti Gevano.
"Dokter, Tuan ini nekat menerobos masuk," lapornya kepada Dokter tersebut.
Dokter itu menoleh lalu menghela nafasnya, "Tuan, bisakah anda---"
"Nggak!" potong Gevano cepat. Dia sudah berdiri di samping brankar Thania.
"Cepat periksa keadaan kekasihku sekarang. Jangan banyak bacot!" sambung Gevano menatap dingin mereka semua.
__ADS_1
Para perawat dan Dokter itu meneguk ludahnya. Tidak ingin membuang waktu dan memancing emosi pemuda di depannya ini, mereka segera memeriksa keadaan gadis itu.
Mata Gevano selalu memantau pergerakan Dokter itu. Dia sedikit tidak rela tubuh gadisnya disentuh oleh tangan pria lain. Tapi ia harus bisa menahan rasa cemburu yang melambung dalam hatinya demi keselamatan Thania.
...***...
Beberapa saat berlalu, kini Dokter yang menangani Thania sudah selesai. Dia duduk berhadapan dengan Gevano di ruang pribadi Dokter tersebut.
"Jadi gimana keadaan kekasih gua?" tanya Gevano to the point.
Dokter laki-laki itu diam sejenak. Menjilat bibirnya yang sedikit kering. Lalu menatap pemuda di depannya itu dengan serius. Jangan terlalu serius, nanti jatuh cinta kan berabe. Ups.
"Keadaan kekasih Anda baik-baik saja. Hanya membutuhkan istirahat yang cukup dan meminum obat tepat waktu. Dan juga---"
"Oke, oke stop! Gua udah ngerti. Intinya keadaannya baik-baik aja kan?" potong Gevano.
Dokter itu mengangguk.
"Dia udah dipindahin ke Ruang VIP kan?"
"Perawat kami sudah memindahkannya ke Ruang VIP seperti permintaan anda, Tuan."
"Yaudah. Kalo gitu gua udah bisa jenguk dia kan?" tanya Gevano.
"Emm, boleh. Tapi dia harus cukup---"
"Iya, gua ngerti. Dia harus banyak istirahat kan? Lo kira gua nggak paham apa," sinis Gevano.
Dokter itu tersenyum terpaksa. Sedari tadi omongannya selalu disela oleh pemuda ini. Ingin marah, tapi ketika sadar bahwa Gevano adalah anak dari pemilik Rumah sakit ini. Dia langsung mengurungkan niatnya. Dia masih membutuhkan uang untuk keberlangsungan hidupnya.
Gevano pun beranjak dari duduknya. Lalu pergi dari hadapan Dokter itu. Saat sampai di pintu, dia berhenti lalu berkata tanpa menoleh.
"Kalo senyumnya nggak iklas, mending nggak usah senyum daripada keliatan kayak badut psikopat."
Setelah berkata demikian, Gevano langsung keluar dari sana.
Sedangkan Dokter itu yang kesabarannya sudah habis langsung melemparkan bukunya hingga menabrak pintu.
"Lo itu psikopatnya!" ucap Dokter itu kesal.
Lalu dia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Setelah itu menghembuskannya secara perlahan. Membuka mata dan mengelus dadanya sabar.
"Sabar, sabar, harus sabar, dia anaknya bos besar," gumamnya berulang kali.
Bersambung...
__ADS_1