Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Nathan berjalan mendekati Thania yang membeku. Dia berhenti lalu membalikkan tubuh Thania dengan paksa. Tatapannya menajam melihat sudut bibir Thania yang terluka.


"Jujur sama gua, Thania! Siapa yang udah nampar lo sampai bibir lo sobek kayak gini!" tanya Nathan marah.


Tangan Thania bergerak memegang sudut bibirnya. Dia tidak sadar jika make up-nya sudah mulai luntur.


"Apa ini ada hubungannya sama pacar lo?" tanya Nathan dengan suara rendah.


"Bang..."


"Jawab gua Thania!" bentaknya.


Mau tak mau Thania mengangguk.


"Bocah itu! Kenapa lo bisa kenal sama dia si?!!"


Nathan menggeram kesal. "Bang, ini bukan salah Gevan kok. Ini juga salah Thania yang bikin dia marah."


"Kenapa lo belain dia?! Dia udah nampar lo, Thania! Gua aja sebagai Abang lo nggak pernah mukul atau bahkan nampar lo meski lo buat salah sama gua! Tapi dia! Dia yang cuma cowok asing bisa-bisanya nampar pipi lo sampai kayak gini!"


Kepala Thania tertunduk, dia juga kenapa dirinya membela Gevano yang jelas-jelas sudah berlaku kasar padanya. Apakah dia sudah mulai menyukai pemuda itu?


"Gua minta lo jauhin dia."


Nathan berujar dengan nada dinginnya.


"Tapi Bang..."


"Tapi apa? Ini juga demi kebaikan lo! Emangnya lo mau disakitin sama dia terus? Cowok kayak gitu nggak pantes buat lo, Dek! Gua nggak mau tau apapun alasannya, pokoknya lo harus jauhin dia! Titik!"


Setalah berucapan demikian, Nathan berlalu pergi meninggalkan Thania yang menghela nafas berat.


"Gua juga maunya gitu, Bang. Tapi nggak bisa. Gua nggak mau lo kenapa-kenapa," lirih Thania yang mulai merasa kepalanya berdenyut sakit.


Thania berbalik dan menuju ke kamarnya.


...***...


"BANG VANOO!!!"


Teriakan menggelegar itu membuat Gevano yang sedang minum tersedak hingga terbatuk hebat. Matanya menatap tajam gadis yang menyengir tak bersalah.


"Heheh, sorry, Bang!"

__ADS_1


Gadis itu menyengir sambil memberikan tanda peace.


"Dasar mulut toa! Pulang-pulang bukannya ucap salam malah teriak-teriak nggak jelas!" dengus Gevano kesal.


Gadis dengan wajah lugu itu menunduk bersalah. "Maaf, Bang! Lain kali gua sering-sering deh teriaknya. Biar lo kesedak, terus mati. HAHAHAH!!"


"BANGSAT!!"


"ABANG MULUTNYA!!!"


"MAAF, BUN!!"


Gadis itu berlari sambil tertawa. Dia berlari menuju ke arah ayahnya yang duduk di sofa sambil geleng-geleng kepala.


"Ayah, Bang Vano tuh... nakal..." rengeknya manja.


Rey menatap anak gadisnya dengan alis terangkat sebelah, "kamu duluan yang mulai." Dia berujar sambil menyesap kopinya dengan tenang.


Gadis itu cemberut, lalu matanya menatap atensi sang Bunda yang sedang berjalan berdampingan dengan seorang gadis cantik bertubuh mungil sambil membawa nampan berisi beberapa makanan ringan dan minuman.


"Bunda..."


"Diem!"


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah tak muda lagi itu menyela rengekan putrinya. Dia masih sedikit sebal dengan anak gadisnya itu. Bagaimana bisa gadis itu pulang ke Jakarta sendirian tanpa mengabari satu pun orang di sini?


Tapi kenapa keluarganya tidak menyambutnya suka cita! Seolah dia ini anak yang tak diharapkan pulang. Geisya ingin menangis.


"Kenapa nggak ada yang belain Geisya sih!" kata Geisya dengan kesal.


"Dasar gadis nakal! Kamu pulang kenapa nggak ngasih kabar dulu?! Untung aja Nenek kamu nelfon Bunda! Coba kalau enggak?! Bisa beneran jantungan Bunda kalau tau kamu tiba-tiba dateng ke sini sendirian tanpa ngasih kabar!" omel wanita berumur tiga puluh enam tahun itu.


Wanita yang menjadi Ibu dari dua itu tidak lah marah dengan putrinya. Dia hanya merasa khawatir saja. Bagaimana jika putrinya mengalami sesuatu di jalan? Dirampok misalnya. Siapa yang susah? Tentu saja dia ikut repot.


Ibu mana yang tidak cemas jika terjadi sesuatu pada putrinya. Apalagi Geisya ini masih berumur tiga belas tahun!


"Maaf, Bunda," ucap Geisya penuh sesal.


Wanita dengan nama lengkap Kiara Dewi Erdogan itu menghembuskan nafas lelah. Dia menepuk kepala putrinya, "ya udah nggak papa. Yang penting sekarang kamu baik-baik aja Bunda udah bersyukur."


Geisya tersenyum ceria menatap wajah cantik sang Bunda. Matanya beralih menatap gadis mungil yang duduk anteng sambil meminum tehnya dengan tenang.


"Kak Zila, Bang Arga mana?"

__ADS_1


Gadis yang dipanggil Zila atau lebih tepatnya Arzila Kanaya Megantara itu mendongak menatap Geisya. "Dia lagi nganterin ceweknya pulang. Bentar lagi pasti ke sini," jawabnya meletakkan tehnya di atas meja.


Arzila adalah Kakak perempuan dari Arga. Dia langsung ke sini begitu Bunda Kiara bilang bahwa Geisya akan datang. Dia begitu merindukan sepupu perempuannya itu.


Zila sudah berumur sembilan belas tahun. Dia merupakan seorang Mahasiswi di Universitas Gunadarma Jakarta Selatan. Namun banyak yang mengira bahwa ia masihlah gadis SMA karena wajah Baby face-nya. Didukung pula dengan tubuhnya yang mungil. Dan tingkahnya yang kadang seperti anak kecil.


Gevano datang dari arah dapur. Dia duduk di samping sang Bunda. Mencomot makanan yang disediakan oleh sang Bunda di atas meja.


"Eh, Bang. Katanya lo udah punya cewek ya?" tanya Geisya antusias. Dia sangat senang saat mendengar Kakak laki-lakinya itu punya kekasih.


Gevano hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


"Nanti kenalin ke Geisya dong, Bang!!" pintanya semangat.


Gevano melirik adiknya, "kenapa gua harus kenalin cewek gua ke lo?"


"Ya karena gua adek lo! Gua juga pengen kenal lebih deket sama calon Kakak Ipar, heheh."


"Hmm. Kapan-kapan gua ajak lo ketemu sama dia."


"Besok aja, Bang! Gimana?!"


"Liat besok aja. Takutnya gua sibuk."


"Sibuk apa'an?"


"Bocil nggak perlu tau!" sarkas Gevano.


"Dih, sok sibuk!" cibir Geisya.


"Dan gua itu bukan bocil, Bang! Umur gua udah mau masuk usia tiga belas tahun!" sinis Geisya.


"Tetep aja lo bocil," ejek Gevano.


"Ih bukan!! Dibilangin gua bukan bocil!!"


"Kalau bukan bocil apa? Bocah?"


"Abang!!!"


"Apa, cil?"


Rey dan Kiara pusing melihat kelakuan kedua anaknya. Selalu seperti ini. Jika tidak bertemu mereka rindu. Tapi giliran ketemu bukannya melepas rindu malah berdebat terus.

__ADS_1


Sedangkan Arzila sudah pergi dari sana menuju ke halaman belakang untuk memetik bunga. Dia tidak ingin mendengar perdebatan adik kakak itu. Bisa pengang kupingnya lama-lama di sana. Jadi lebih baik menghindar saja.


Bersambung...


__ADS_2