Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Enam Puluh Empat


__ADS_3

"Gevan, a- aku minta maaf. Aku tau aku salah, pergi keluar gak bilang-bilang ke kamu dulu. Aku akuin itu, tapi plis. Jangan diemin aku kayak gini hiks, aku gak suka kamu diemin, Gevan."


Thania menggoyangkan lengan Gevano sambil terus meminta maaf. Sejak tadi pria itu mendiami dirinya. Tak berkata sepatah kata pun padanya. Bahkan melirik pun tidak.


Hal itu membuat Thania sedih bercampur takut. Kemarahan Gevano adalah hal yang selama ini Thania hindari. Tapi sekarang ia membuat suaminya itu marah dan berujung mendiami dirinya.


Memang, Gevano yang marah selalu mendiami dirinya. Bahkan tak jarang Gevano pergi dari rumah kala mereka bertengkar.


Gevano melakukan itu bukan karena ia membenci Thania. Malah sebaliknya, ia begitu menyayangi wanita itu. Hingga tak ingin menyakitinya lagi.


Emosinya bisa meledak kapan saja, dan Gevano tak ingin Thania mendapat dampak dari kemarahannya. Lebih baik dia mendiami Thania atau pergi menjauh dari wanita itu untuk sementara waktu hingga emosinya kembali stabil.


"Gevan, hiks."


Tangisan Thania semakin keras saat Gevano berlalu pergi meninggalkannya di dalam mobil.


Thania membuka pintu mobil dan turun secara terburu-buru. Ia berlari ke dalam rumah sambil berteriak memanggil nama Gevano untuk berhenti. Tapi percuma, pria itu menghiraukan teriakan Thania. Ia terus melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


Thania terus mengikuti langkah Gevano. Sampai ditengah tangga langkahnya berhenti. Ia meremas perut bagian bawahnya yang terasa kram dan sedikit ngilu.


"Arrghh."


Thania memegang besi tangga untuk menahan bobotnya yang hampir limbung. Sebelahnya tangannya masih meremat perutnya.


"Ge- gevan, sa- sakit hiks."


Rasa sakit itu semakin terasa, ia tidak kuat menahan bobot tubuhnya. Hampir saja terjatuh jika Gevano tak gesit mendekapnya.


"Apanya yang sakit?" tanya Gevano panik.


"Pe- perut a- aku sakit, Gevan. Hiks, sakit banget," kata Thania mengadu.


Gevano mengangkat tubuh Thania, menggendongnya ala bridal style. Berjalan cepat menuju mobil.


Menurunkan Thania untuk membuka pintu mobil. Lalu kembali mengangkatnya dan mendudukkan tubuh istrinya di kursi mobil.


Memutari mobil dan masuk ke dalam. Tak banyak bicara ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hiks, sakit, Gevan sakit!" ringis Thania semakin menjadi.


"Sabar ya, by. Bentar lagi sampai kok, kamu tahan sebentar oke?" ucap Gevano lembut.


Ia berusaha menenangkan Thania, meski dalam hatinya ia panik setengah mati melihat wanita kesayangannya kesakitan.


Thania menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gak kuat! Perut aku sakit banget!"


Gevano mengambil salah satu tangan Thania. Mengecupnya sebentar lalu mengelus punggung tangannya.

__ADS_1


Memberi kata-kata penenang untuk Thania. Sembari menambah kecepatan mobilnya. Beruntung jalanan sepi, jadi ia lebih leluasa untuk melajukan mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Gevano langsung turun dan menggendong Thania. Wanita itu terus merintih, meski tak separah tadi.


"Pak--"


"Cepat tangani istriku!!"


"Maaf, Tuan. Anda harus meng---"


"KU BILANG CEPAT!! ISTRIKU TENGAH MENAHAN SAKIT!!"


"Anda haru mema--"


"KAU TAK TAHU AKU SIAPA, HAH?! AKU PUTRA PEMILIK RUMAH SAKIT INI!!" bentak Gevano.


Perawat perempuan itu menciut takut. Dengan cepat dia menyuruh perawat pria untuk membawa brankar.


Gevano meletakkan Thania diatas brankar. Kemudian ikut mendorong brankar itu. Tangannya menggenggam tangan kecil istrinya.


Thania sudah jatuh pingsan beberapa menit lalu.


Saat ingin ikut masuk, seorang perawat perempuan menahannya.


"Maaf, Tuan. Anda dilarang masuk."


"Punya hak apa lo larang-larang gue, hah?!"


Setelah itu pintu tertutup.


"Bangsat!"


Gevano menendang kursi rumah sakit dengan keras. Hingga kursi itu bergeser karena tendangan Gevano.


Pria tampan itu mengusap wajahnya dan mengacak-acak surainya. Hatinya panik setengah mati. Takut terjadi apa-apa dengan Thania.


"Semoga kamu gak kenapa-napa, Keyla."


...***...


Sedangkan disisi lain, sosok pria berwajah tampan dengan garis rahang tegas tengah meringis kala merasakan perih pada luka disudut bibirnya.


Gadis yang mengobati luka pria itu mendengus. Sambil menekan lukanya agar keras, membuat si tampan mendesis jengkel.


"Bangsat! Jangan diteken, bego! Sakit, nih!"


"Bodo amat! Udah tau sakit, masih aja berantem!" omel gadis itu.

__ADS_1


"Ck, ini bukan salah gue! Gue ini cuma korban aja. Niat gue tuh baik, nolong bininya dari preman mesum itu. Eh, dia bukannya terima kasih malah ngehajar gue! Ya gue gak terima 'lah! Makanya gue balas mukul dia. Habis itu kita gelut deh," jelas pria itu.


Gadis manis itu memutar bola matanya, "Ujung-ujungnya lo malah bonyok. Untung gak pingsan di tempat. Bayangin aja lo pingsan disitu sampai pagi. Pasti orang-orang pada ngira lo gembel gak punya tempat tinggal."


"Mana mungkin ada gembel setampan gue!" katanya percaya diri.


"Ya, ya, ya. Terserah Tuan Muda Alexander Jeorgan Prawira aja deh," sahutnya malas.


Alex tak menanggapi gadis itu lagi. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang besarnya. Pikirannya menerawang ke arah peristiwa tadi.


Tiba-tiba saja wajah wanita itu terlintas dibenaknya. Bagaimana wajah cantik itu menangis sesenggukan dengan hidung memerah lucu.


Bulu matanya yang lentik bertambah lentik akibat tetesan air matanya. Wajah itu begitu manis, hingga tanpa sadar bibirnya membentuk senyum tipis.


Plak!


"Bangsat!"


Alex mengumpat kesal kala wajahnya dihantam sebuah bantal oleh gadis yang sejak tadi menemaninya.


"Lo kenapa senyum-senyum sendiri, anjing! Bikin gue merinding aja tau gak!" sulut gadis itu kesal.


Mendengar itu, Alex kembali senyam senyum tak jelas. Membuat Friska Ayu Widiana, (nama gadis itu) bergidik sendiri.


"Sinting nih bocah!" gumamnya menatap Alex ngeri.


...***...


"Gimana keadaan Istri saya?" tanya Gevano to the point.


Dokter wanita itu tersenyum menatap Gevano, "Istri anda tidak kenapa-napa. Dia hanya kelelahan hingga perutnya kram. Itu hal biasa bagi wanita hamil. Apalagi hamil diusia muda seperti ini. Jadi anda tak perlu khawatir Tuan," jelas sang Dokter.


Gevano tertegun. Pikirannya masih belum konek dengan apa yang diucapkan Dokter itu.


"A- apa? Istri saya hamil?!" pekiknya kaget.


Wanita itu mengangguk, "Iya, Tuan. Usia kandungannya sudah memasuki tiga minggu. Kandungan Istri anda juga sedikit rentan dan lemah. Jadi saya sarankan agar beliau banyak-banyak istirahat dan makan makanan sehat."


Dokter itu berhenti sejenak, kemudian menulis beberapa resep obat untuk Thania. "Ini resep obat untuk Istri anda." Memberikan selembar kertas kecil kepada Gevano, yang langsung diterima oleh sang empu.


"Saya juga menuliskan beberapa makanan sehat khusus untuk Ibu hamil. Makanan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan," sambung Dokter tersebut.


Gevano membaca isi kertas itu sebentar. Kemudian menatap sang Dokter, sebelum berdiri dari duduknya. "Terima kasih, Dok. Saya permisi dulu."


Dokter wanita itu mengangguk dan tersenyum ramah. Setelah itu Gevano keluar dari ruangan itu menuju ruang rawat Thania.


Bersambung...

__ADS_1


Happy new year, all!🥳


Gak nyangka ya udah pergantian tahun aja. Padahal baru kemarin-kemarin ganti tahun. Sekarang udah ganti tahun lagi:)


__ADS_2