Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Sembilan


__ADS_3

Sehabis dari rumah Thania, Gevano tersenyum senyum sendiri. Dia memasuki rumahnya dengan senyum lebar menghiasi wajah rupawannya.


Ayah Gevano yang melihat putranya tersenyum bak orang gila mengerutkan keningnya. Ada apa dengan putranya yang gila itu? Kenapa penyakit gilanya semakin parah?


"Vano, kamu baik-baik aja kan? Penyakit gilamu kumat ya?" tanya Rey Ardian Zibrano, Ayah dari Gevano.


Gevano menoleh ke arah sang Ayah dengan pandangan datar.


"Gevan nggak gila, Yah. Penyakit gila Ayah kali yang kambuh," jawab Gevano datar.


Rey ikut mendatarkan wajahnya. "Dasar anak durhaka," makinya datar.


"Dasar Ayah durhaka," balas Gevano tak kalah datar..


Tenang saja, ini sudah biasa terjadi. Mereka hanya bercanda, tidak dibawa serius. Meski ucapan mereka terdengar serius.


Rey menyuruh Gevano untuk duduk di sebelahnya. Gevano menurut, ia duduk di seberang Rey. Padahal ayahnya itu menyuruh dirinya untuk duduk di sebelahnya.


Rey berdecak saat Gevano tak menurutinya. "Ayah denger, kamu punya pacar? Beneran?" tanya Rey menatap Gevano dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


Gevano hanya mengangguk sebagai balasan.


"Ouhh, jadi gosip itu bener ya? Ayah kira itu cuma berita hoax. Ayah nggak nyangka ternyata kamu masih menyukai perempuan. Ayah kira selama ini kamu ini, belok." Rey menatap wajah Gevano yang berubah masam saat mendengar perkataannya.


Rey terkekeh geli melihatnya. "Ayah cuma becanda. Mana mungkin Ayah punya pikiran kayak gitu? Ya, meskipun sempat terlintas dibenak Ayah, kalo kamu itu belok, hahahah," kata Rey tertawa.


Wajah Gevano semakin keruh. "Ck, kalo Ayah cuma mau bikin Gevan kesel, mending Gevan ke kamar aja!" Gevano bangkit dari duduknya tapi ditahan oleh Rey.


"Oke, oke, Ayah hanya bercanda, Van. Kamu ini baperan sekali jadi cowok," cibir Rey membuat Gevano mendengus.


Kalau bukan ayahnya, sudah Gevano hajar mungkin.


"Oh ya, siapa gadis yang bisa mendapatkan hati bekumu itu? Kalo di dengar dari gosipnya sih, dia buat masalah sama kamu. Bahkan sampai nampar pipi kamu. Terus kenapa tiba-tiba kalian pacaran?" tanya Rey beruntun.


Rey mendengar dengan serius cerita sang Anak. Biarpun mereka sering bertengkar, dan Gevano sering membuatnya kesal. Tapi dia tidak akan pernah mengabaikan putranya disaat anaknya itu bercerita.


"Terus, waktu Gevan natep matanya, jantung Gevan berdetak kencang. Gevan nggak paham, tapi yang Gevan tau. Gevan pengen dia jadi pacar Gevan, jadi milik Gevan. Dan Gevan akan ngelakuin apapun supaya dia jadi milik Gevan! Nggak peduli walau dengan cara maksa sekali pun! Pokoknya Gevan mau dia jadi milikku, selamanya!"


Gevano berucap dengan penuh tekad. Mendengar Gevano berucap seperti itu, membuatnya teringat saat dia masih remaja dulu. Dia seperti melihat dirinya yang dulu di dalam diri Gevano.

__ADS_1


Rey menyeringai, "apa kamu begitu mencintai gadis itu?"


Gevano menatap sang Ayah sebelum akhirnya mengangguk. "Iya, Gevan sangat mencintainya. Padahal Gevan baru mengenalnya. Gevan jadi takut," gumam Gevano.


"Takut apa?


"Takut kalo dia akan ninggalin Gevan dan milih sama orang lain."


"Nggak akan."


Gevano menatap wajah serius sang Ayah dengan pandangan bingung.


"Dia nggak akan ninggalin kamu. Percaya sama Ayah, kalo dia berani ninggalin kamu. Biar Ayah yang ngurus. Kamu cuma tinggal nikmatin aja," kata Rey menyeringai.


Gevano ikut menyeringai. Ayahnya ini memang paham keinginannya.


"Gevan sayang Ayah!" seru Gevano.


"Ayah juga menyayangimu jagoan."

__ADS_1


Mereka saling menatap lalu tertawa bersama.


Bersambung...


__ADS_2