Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Enam Puluh Tujuh


__ADS_3

***Thania keluar dari kelas. Jam kuliahnya sudah selesai. Ia hanya tinggal menunggu Gevano saja. Sembari menunggu suaminya, Thania pergi ke Cafetaria seberang jalan bersama Gita.


"Lo mau pesen apa, Than?" tanya Gita begitu mereka duduk di kursi Cafe.


"Di sini ada Seafood gak?" ujar Thania balik bertanya dengan memasang wajah polos.


"Ya gak ada lah, Thania. Ini tu Cafe, bukan restoran cepat saji!" gemas Gita dengan sabar.


Thania mengangguk lugu, "Tapi gue pengen makan Seafood," gumamnya lesu.


"Di sini gak ada restoran Seafood. Lo pesen lain aja ya?" bujuk Gita.


"Ck, ya udah deh."


Senyum Gita terbit, ia pun memanggil pelayan.


"Ingin memesan apa, Nona?" tanya pelayan itu ramah.


"Saya pesen Strawberry Short Cake, minumnya Capuccino Latte," kata Gita.


Pelayan itu mencatat pesanan Gita. Kemudian beralih kepada Thania.


"Red Velvet Cake sama Latte satu."


"Itu saja?" tanya sang pelayan. Kedua perempuan itu mengangguk.


"Baik, mohon ditunggu sebentar."


Pelayan itu berlalu pergi dari hadapan Thania dan Gita.


"Kandungan lo udah berapa bulan, Than?" tanya Gita membuka percakapan.


"Baru beberapa minggu."


Gita mengangguk-angguk, "Suami lo gak ngelarang lo kuliah?" tanyanya penasaran.


Ia tahu bagaimana sikap posesif Gevano terhadap Thania. Jadi tak mungkin Gevano dengan gampangannya membiarkan Thania kuliah mengingat bahwa sekarang wanita itu tengah mengandung.


"Ngelarang. Tadi pagi aja gue sempet debat dulu sama dia supaya dibolehin kuliah. Untung aja gue gak telat, bisa berabe kalo gue telat. Apalagi hari ini ada kuis," cerocos Thania.


Gita tertawa, "Udah gue duga si, kalo suami lo gak akan semudah itu biarin istrinya kuliah apalagi lo lagi hamil. Haha."


Thania hanya membalas dengan putaran bola mata malas. Tak lama pelayan datang sambil membawa pesanan mereka.


Thania langsung menyantap cake nya. Namun, baru satu suap perutnya mendadak mual. Thania membekap mulutnya. Kemudian berlari menuju toilet Cafe.


Gita yang melihat Thania berlari sambil membekap mulutnya ikut menyusul. Sampai di toilet ia mendengar suara muntah yang dia yakini adalah suara Thania.


Huek.


Huek.


Dipijatnya tengkuk Thania dengan pelan sambil memegang rambut panjang itu dengan salah satu tangannya.


"Udah mendingan belum?" tanya Gita khawatir.


"Lemes," lirih Thania tak bertenaga.


"Tahan sebentar, jangan pingsan dulu ya, Than. Soalanya gue gak kuat kalo gendong lo. Mending gue telfon suami lo dulu!"


Gita mengambil ponselnya. Menekan mendial nomor milik Gevano. Telefon pertama tidak diangkat. Telefon kedua malah direject.


"Sialan! Si Gevan mana si?! Kenapa malah direject coba telefon gue!? Gak tau apa istrinya lagi butuh dia!" kesal Gita kembali menelfon Gevano sampai beberapa kali.


Hingga panggilan ke 15 baru diangkat. "Gevan! Cepatan ke Cafetaria depan kampus sekarang juga! Istri lo hampir pingsan di kamar mandi!" kata Gita tanpa basa basi lagi.


"Woi, anjing! Lo denger nggak?!!" kesal Gita karena Gevano tak kunjung menjawab. Ia sudah tak peduli lagi jika pria itu akan marah padanya karena berani mengumpat.


Yang ia pedulikan sekarang adalah Thania! Wanita itu sudah terlihat lemas dan pucat, membuatnya semakin cemas.


"Gevan--"


Tut!


"Bajingan!" umpat Gita kala sambungan telefonnya langsung dimatikan begitu saja oleh Gevano tanpa mengatakan apapun padanya.


Gita memasukan ponselnya ke tas selempang miliknya. Kemudian beralih menuju Thania yang semakin pucat.


"Ayo gue bantu ke depan, suami lo lagi otw ke sini," ujar Gita mengusap peluh Thania dengan tisu.


Sebenarnya Gita tak tau Gevano akan menyusul ke sini atau tidak. Tapi mengingat sifat Gevano yang akan panik jika menyangkut Istri tercintanya, Gita yakin pria itu pasti ke sini!

__ADS_1


Thania berjalan pelan dibantu oleh Gita. Kepalanya sangat pusing dan perutnya serasa diaduk-aduk. Tapi tidak separah sebelumnya.


Gita mendudukkan diri di samping Thania. Tangannya mengelus punggung wanita hamil itu. Thania kini tengah menyangga kepalanya sambil memijat pelipisnya pelan untuk mengurangi rasa pusing.


Sambil menunggu Gevano datang. Gita berinisiatif untuk mengajak Thania berbicara. Jika tidak, ia takut Thania tiba-tiba pingsan begitu saja.


"Gue ada minyak kayu putih. Lo mau hirup itu nggak? Siapa tau pusing sama mual lo berkurang," kata Gita memberi saran.


Thania hanya mengangguk pelan. Gita mengambil minyak kayu putihnya. Kemudian memberikan kepada Thania.


Wanita cantik itu mengambil botol minyak kayu putih di tangan Gita. Lalu menghirupnya sedikit, tapi baru saja penutupnya dibuka.


Thania langsung mual kembali. Ia membekap mulutnya dan meletakkan botol itu secara serampangan. Tak lupa ia juga menutup botol itu lagi.


"Eh, lo mau muntah lagi?" panik Gita.


Thania mengangguk tanpa menatap Gita. Gadis itu berdiri begitu melihat Thania mengangguk, "Ayo gue anter ke kamar mandi."


Namun, Thania menggeleng. "Gue gak sanggup berdiri. Lemes," lirih Thania memegang kepalanya yang berdenyut. Sedangkan satu tangannya lagi memegang perutnya yang terasa begitu mual.


"Ya udah bentar. Gue minta plastik dulu buat wadah lo muntah." Gita bangkit dari duduknya dan ingin pergi. Tetapi Thania memegang tangannya, menahan Gita untuk tidak pergi.


Thania menggeleng lemas. "Gak usah. Gue udah gak terlalu mual kok."


Gita kembali duduk, "Beneran?" tanyanya masih cemas.


Thania mengangguk yakin, akhirnya Gita ikut mengangguk juga. Beberapa saat kemudian hening. Hingga kembali membuka suara.


"Gevan mana? Kok gak dateng-dateng?" tanya Thania lirih. Ia tiba-tiba saja merindukan pria itu dan ingin menghirup aroma tubuhnya.


"Bentar lagi mungkin sampai, tadi udah gue telfon kok," jelas Gita.


Jujur saja Gita khawatir karena Gevano tak kunjung datang. Padahal jarak antara kampus dan Caffe ini begitu dekat. Gevano pasti sudah sampai beberapa menit lalu.


Gita mengambil ponselnya untuk menghubungi Vino, karena ia sudah sangat cemas melihat Thania yang semakin pucat.


Ia sedikit menjauh dari wanita itu. Tapi tidak terlalu jauh agar dia bisa memantau Thania. Takut-takut jika wanita itu tiba-tiba saja pingsan.


"Halo, yang? Ada apa?"


"Vino, kamu lagi sama Gevan apa enggak?" tanya Gita.


"Enggak. Aku lagi sama Rafa doang. Tumben nyari Gevan?"


"Kamu lagi dimana?"


"Aku di Cafetaria depan kampus."


"Tunggu bentar. Aku otw ke sana, biar Rafael entar aku suruh buat nyari Gevan!"


Gita mengangguk meski tau bahwa Vino tak dapat melihatnya. Setelah itu sambungan telefon putus. Gita memasukan kembali ponselnya.


Ia berjalan menuju Thania dan duduk di samping wanita itu.


"Sabar ya, Than. Pacar gue lagi otw ke sini kok, lo bisa pulang dulu sama dia," ucap Gita membuat Thania melirik gadis itu.


"Gevan kemana? Kok nggak dia aja?" tanyanya berkaca-kaca.


Gita bingung harus menjawab apa. Dia saja tidak tau Gevano ada dimana dan apa yang laki-laki itu lakukan hingga tak kunjung menjemput istrinya.


"Gevan masih ada kelas," bohong Gita.


Mata Thania semakin berkaca-kaca, "Mau Gevan," isaknya lirih.


Air mata mulai meluncur dari sudut matanya. Gita menjadi panik melihat Thania menangis. Dia mencoba menenangkan Thania, tapi tak bisa. Hingga akhirnya Vino datang.


"Thania kenapa? Kok nangis?" tanya Vino bingung melihat Thania menangis sesenggukan.


"Dia pengen ketemu Gevan," balas Gita sambil terus menenangkan Thania.


"Rafa lagi nyariin si Gevan. Lo gak usah nangis, Than."


Niatnya membujuk agar Thania berhenti menangis. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Wanita itu semakin menangis keras. Sedangkan Gita melototi Vino yang terkejut sekaligus bingung.


"Bodoh!" maki Gita tanpa suara.


Vino membalas Gita dengan tatapan bingungnya.


"Mak- maksudnya apa hik? Katanya-- Gevan masih ada kelas. Kok, kok hiks dicariin? Gita bo'ong ya?" kata Thania menangis keras.


Kini mereka sudah menjadi pusat perhatian pengunjung Caffe. Sungguh Gita malu, tapi rasa kasihan lebih dominan dibanding rasa malunya.

__ADS_1


"Enggak gitu, Than. Maksudnya Vino itu gini, Gevan lagi ada kelas. Nah, terus-- terus." Bingung, Gita kebingungan memilih kata.


"Terus Rafael ke kelasnya buat nyari si Gevan supaya lebih cepet gitu! Kalo kelamaan dia sekalian izin ke dosennya," sambar Vino menyambung ucapan Gita yang terputus.


Gita mengangguk-angguk menyetujui perkataan Vino yang terkesan tidak nyambung tapi, biarlah. Yang penting Thania sudah berhenti menangis.


Entah bodoh, polos atau bagaimana. Thania percaya dengan perkataan Vino yang melantur. Bahkan dia tidak merasa aneh sedikitpun.


Vino dan Gevano termasuk satu kelas, jika Gevano masih menyelesaikan kelasnya. Otomatis Vino pun turut ikut bersama Rafael.


Tapi dasarnya Thania sedang tidak terlalu sehat, jadi ia tidak berpikir hingga ke sana. Hanya mengangguk percaya saja, itu yang ia lakukan.


"Gitu ya?" Thania menghapus air matanya menggunakan punggung tangan.


Gita dan Vino mengangguk sambil bernafas lega.


"Tapi debay nya kangen sama Daddy," sambung Thania mengerucutkan bibir.


Gita menggaruk pipinya. Ini kenapa Thania jadi kayak kecil gini si? Apa bawaan bayi ya?


"Kata Gita tadi lo pusing kan?" ujar Vino diangguki oleh Thania.


"Ya udah ayo pulang dulu, gue anter. Nanti si Gevan biar gue yang ngomong."


"Pengen pulang sama Gevan aja. Pasti dia nggak akan lama. Iya kan?"


"Bukan masalah lama enggak nya, Than. Tapi keadaan lo lagi nggak baik-baik aja. Kalo lo tetep maksa buat nunggu Gevan di sini, takutnya lo mual lagi. Gimana kalo lo pingsan? Si Gevan pasti bakal marah kan?"


Thania mengangguk pelan, benar. Gevano pasti marah dan kemungkinan besar ia tidak boleh kuliah lagi hingga selesai melahirkan.


"Makanya lo pulang dulu ya? Dianter Vino sama gue juga," lanjut Gita.


"Yaudah deh ayo. Gue juga agak pusing."


Thania berdiri bersama Gita. Ketiga manusia itu keluar dari Caffe. Masuk ke dalam mobil mewah milik Vino. Setelah itu Vino melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.


Sedangkan di sisi lain Rafael menyebutkan nama-nama hewan dengan kesal.


"Anjing, babi, monyet, asu! Kemana si tu bocah?! Dicariin nggak ketemu ketemu!"


"Awas aja lo, Van kalo ketemu! Gue kelindes kepala lo!" Rafael memperagakan kata-katanya dengan kedua tangan saling meremat erat.


Rafael duduk di kursi kantin karena kakinya sudah lelah. Dengan seenaknya Rafael mengambil jus milik pemuda dengan kaca mata bulat tebal. Pemuda culun itu menatap Rafael yang meminum jus miliknya.


Rafael meletakkan kembali gelas kosong itu di meja si culun. Matanya melirik ke arah pemuda yang menatapnya kesal.


"Apa-apaan tatapan lo itu? Mau marah ke gue?" tanya Rafael dengan tampang dingin.


Pemuda berkaca mata itu segera menunduk sambil menggeleng takut.


Rafael mendengus, segera ia berdiri dan keluar dari kantin setelah mengucapkan terima kasih kepada pemuda culun itu. Begini-begini ia tau rasa terima kasih ya.


Rafael menuju kamar mandi, hanya itu saja yang belum ia periksa. Siapa tau Gevano lagi nongkrong di toilet?


Begitu ia masuk ke dalam, seorang pemuda dengan tubuh jangkung berdiri membelakanginya sambil mengumpat kasar. Meski tidak dapat melihat wajahnya, Rafael tau jika pemuda itu adalah Gevano. Sosok yang dicarinya sejak tadi.


"Woi, Gev! Lo ngapain marah-marah di sini?" tanya Rafael berteriak.


Gevano membalikkan badan, dia menatap Rafael dengan wajah kesalnya. "Ponsel gue hilang. Gue cariin nggak ketemu-ketemu! Kesel gue. Mana Thania nggak ada di sini lagi," dengusnya.


Rafael menatap datar Gevano. "Lo mau jadi bapak malah makin pikun ya?" ledeknya yang membuat Gevano mendelik kesal.


"Gue gak pikun! Cuma lupa doang," elak Gevano kesal.


"Sama aja," sahut Rafael malas.


"Coba lo inget-inget terakhir kali lo main hp sebelum ke sini," saran Rafael.


"Sebelum ke sini si gue sempet ke kantin buat makan sekalian nyari Istri gue. Siapa tau ada, terus waktu gue makan tiba-tiba-- bangsat!!"


Gevano berteriak keras membuat Rafael yang tadinya mendengarkan baik-baik cerita Gevano menjadi terlonjak kaget.


"Anjing! Ngagetin aja lo babi! Untung gue gak punya riwayat penyakit jantung!"


Ucapan kesal Rafael tak digubris oleh Gevano. Pria muda itu memilih pergi dengan tangan terkepal dan wajah merah padam. Rafael segera berlari menyusul Gevano sebelum pria itu semakin jauh dan ia tidak dapat menemukannya lagi.


Rafael tidak ingin mencari pria itu lagi jika ia kehilangan jejaknya. Ia juga meruntuki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia melupakan tujuan awalnya mencari Gevano.


"Van! Tungguin gue! Gue mau ngomong sama lo!"


Teriakan Rafael tak menghentikan langkah Gevano. Membuat Rafael mengumpat dan berlari menyusul Gevano yang entah menuju kemana***.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2