Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Lima Puluh Satu


__ADS_3

Sebelum peluru itu mengenai Thania, Gevano lebih dulu berlari menuju gadis itu untuk menyelamatkan gadisnya agar tak terkena tembakan. Ia memeluk tubuh Thania, menjadikan dirinya sebagai tameng untuk menahan peluru itu agar tak masuk ke dalam tubuh kekasihnya.


DOR!


DOR!


DOR!


Dua peluru menembus bahu kiri Gevano. Sementara satunya lagi melesat mengenai lengan kirinya ketika Gevano menggulingkan badannya ke samping hingga jatuh di lantai. Tangan kanannya menahan kepala Thania agar tak terbentur lantai.


Terjadi keheningan setelah suara tembakan itu terjadi. Mereka semua diam akibat terkejut, dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Marcell untuk kabur lewat jendela. Arga yang melihat itu berusaha mencegah. Tapi gagal karena Marcell menendangnya. Lalu melompat dari balkon kamar ke bawah.


Mereka ingin mengejar, namun suara Gevano membuat mereka menoleh ke arah pemimpin Xevior tersebut.


"Oh ****!"


Gevano mulai bangun dengan nyeri di bagian punggung dan lengan. Matanya melirik tajam ke arah anggotanya.


"Apa mata kalian udah buta? Ada orang kesakitan bukannya ditolong malah bengong!"


Mereka mulai mengerjapkan matanya.


"Cepet bantuin gue sialan!!!" Melihat mereka semua hanya mengerjap dan tak berniat bergerak dari tempatnya membuat Gevano kesal.


"Bos---"


"Marcell bisa diurus nanti aja! Lo nggak liat kondisi gue hah?!!" Gevano memotong perkataan Aksel.


Padahal Aksel belum selesai bicara. Tapi Gevano dengan percaya dirinya berkata seperti itu.


"Cepet ke sini! Bantuin gue bawa Thania ke atas tempat tidur!"


Tanpa bantahan mereka semua mendekat. Gevano mendelik kesal dibuatnya. "Dua orang udah cukup! Nggak perlu semuanya!"


Mereka kembali mundur. Gevano menunjuk Aksel dan Vino untuk membantunya menggendong Thania. Ia tak bisa menggendong Thania seorang diri.


Aksel dan Vino hendak menggotong Thania. Namun Gevano menghentikannya.


"Kalian berdua jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan ya! Awas aja kalo sampai tangan kali *****-***** badan cewek gue!!" ancam Gevano.


Aksel mengangguk paham, sementara Vino mendengus malas. Dasar posesif! Cibirnya dalam hati. Ia lalu membawa Thania kembali ke atas tempat tidur di samping Gevano.


"Panggil Dokter pribadi kita," kata Gevano setelah Thania berbaring di sebelahnya.


Gerry mengangguk lalu mulai menghubungkan Dokter pribadi mereka.


"Lo nggak ke Rumah Sakit Gev?" tanya Vino.


Gevano menoleh kemudian menggeleng.


"Tapi luka tembakan lo itu parah!"


"Luka ini nggak ada apa-apanya buat gue," kata Gevano terkekeh kecil.


Mereka menggeleng tak habis pikir. Setelah tertembak tiga kali pun Gevano masih bisa berkata begitu?


Arga mendekat ke arah Gevano. Lalu mengambil lengan itu. Tapi Gevano menepis tangannya.


"Mau apa lo?" tanyanya sinis.

__ADS_1


Arga memandang dingin Gevano. "Ngobatin luka lo lah. Apalagi?"


"Emangnya lo bisa?" tanya Gevano.


"Enggak."


"Lah terus ngapain lo mau sok-sok an ngobatin luka tembakan gue anjir!" ujar Gevano menyalak kesal.


"Pelurunya harus segera dikeluarin, Bang! Nunggu Dokter keburu mati lo entar! Udah lah lo mending diem dulu." Arga menatap tajam Gevano. Ia kesal, dirinya berniat membantu. Tapi Gevano malah menolak. Masalahnya jika Gevano bukan sepupunya, sudah ia biarkan saja pemuda ini mati mengenaskan akibat tertembak.


"Lo juga luka-luka, Ga. Mending lo obati aja luka lo dulu." Tunjuk Gevano menatap wajah Arga yang babak belur.


"Ini luka kecil. Nggak akan buat gue mati," jawab Arga dingin.


Gevano menghela nafasnya. "Terserah lo deh."


"Ambilin gue pisau bedah sama P3K."


Rafael berjalan ke bawah untuk mengambil pisau bedah dan kotak P3K. Kemudian memberikannya kepada Arga.


Arga dengan teliti mengobati luka Gevano. Sebelum itu ia mengeluarkan tiga peluru tersebut lebih dulu. Bahkan ia tak segan untuk merobek baju Gevano. Tentu saja Gevano tak marah. Bajunya masih banyak di lemari. Ia juga bisa membeli yang baru. Lagi pula baju itu memang sudah sobek karena perkelahian tadi.


Gevano meringis sedikit saat Arga menekan lukanya. Kemudian matanya menatap Thania yang berbaring di sebelahnya.


Melihat wajah Thania yang terlihat cantik membuatnya lupa akan rasa sakitnya. Sejujurnya ia sedikit merasa bersalah kepada gadis itu. Karena gara-gara dia Thania harus mengalami ini semua.


Setelah selesai membalut bahu Gevano. Arga membereskan peralatan itu. Tak lama kemudian Dokter pribadi mereka datang.


"Gev, tangan lo kenapa?" tanya Dokter muda itu menatap bahu Gevano yang dibalut.


"Kena tembak," balas Gevano tanpa mengalihkan pandangannya dari Thania.


Gevano memandang dingin Dokter itu. Lalu berdecak kesal. "Lo kira kita masih bocah apa main tawur-tawuran!"


"Lah, lo kan emang masih bocah SMA!"


Mereka semua menatap tajam Dokter itu. Membuat sang empu gelagapan sendiri.


"Kita emang masih SMA. Tapi cara main kita berkelas. Bukan tawuran di jalanan," tutur Arga datar.


Dokter muda itu menyengir. "Oke, oke. I understand."


"Jadi, siapa dulu yang harus gue periksa?" tanyanya menatap mereka semua.


"Pacarnya Gevan aja dulu," sahut Aksel menunjuk Thania.


Dokter itu ikut menatap Thania. Lalu menatap Gevano. "Dia pacar lo, Gev?"


Gevano berdehem acuh.


"Wihh, cantik juga cewek lo!" ucap Dokter itu semangat dengan tatapan menggoda.


Gevano menatap tajam Dokter itu. "Jangan banyak bacot! Cepet periksa keadaan kekasih gue. Tapi inget! Lo jangan curi-curi pandang dan kesempatan buat megang cewek gue!" peringat Gevano tajam.


Dokter itu mengangguk dengan dengusan malas. Dalam hati ia mencibir tentang seberapa posesifnya Gevano.


Dokter itu mulai melangkah mendekat. Lalu memeriksa keadaan Thania dengan serius. Gevano selalu mengawasi gerak gerik Dokter tersebut dengan mata tajamnya. Membuat Dokter itu risih, tapi tak berniat menegur. Karena itu sama saja membangkitkan emosi Gevano yang sulit ditahan.


"Keadaannya baik-baik saja. Cuma luka punggungnya itu sedikit lebam. Saya akan menuliskan resep obat untuk ditebus. Dan ini salep untuk luka di punggungnya," katanya memberikan kertas berisi resep obat dan salep kulit untuk Thania.

__ADS_1


"Taruh di nakas. Tangan gue sakit," ucap Gevano.


Dokter itu mendengus, tapi tetap meletakkan resep obat dan salep di atas nakas sesuai perintah Gevano.


Kemudian ia mulai memeriksa Gevano. Setelah itu memeriksa semua anggota Xevior yang terluka.


...***...


Sedangkan di sisi lain Geisya melenguh pelan. Mata bulat itu perlahan terbuka. Ia melirik ke sekeliling yang terasa asing baginya.


Alisnya mulai berkerut samar. "Ini di mana?" tanyanya lirih.


Tubuhnya sangat lemas untuk bergerak. Ia memegang kepalanya yang pusing. Geisya berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Terakhir kali ia ada di kamar Markas kakaknya bersama Aldo.


Lalu tiba-tiba ada orang yang masuk ke dalam kamar itu lewat jendela. Dan menyerang Aldo sampai pingsan. Saat Geisya akan keluar dari kamar. Orang itu lebih dulu membungkam mulutnya menggunakan sapu tangan, dan akhinya ia jatuh pingsan.


Bangun-bangun ia sudah berada di kamar asing saja. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah ia diculik oleh penjahat kejam dan menyeramkan? Apa penjahat itu akan meminta bayaran kepada orang tuanya seperti di Sinetron-sinetron?


"Padahal Geisya udah gede, tapi kenapa masih diculik?" gerutu Geisya mencebik lucu.


Lalu kemudian suara pintu mengalihkan atensi Geisya. Matanya membulat lucu melihat seorang pemuda dengan wajah yang sangat, sangat tampan seperti calon suami masa depannya. Kim Taehyung.


"Uwah, apa kamu Kim Taehyung kw?" tanya Geisya dengan tatapan polos dan binaran bahagia.


Pemuda berwajah dingin itu melangkah masuk dengan tatapan tajamnya mengarah pada Geisya. Ia ingin membuat gadis itu takut padanya. Namun yang terjadi malah di luar ekspektasinya. Gadis itu tidak memandangnya takut, melainkan kagum?!


Apa sekarang wajahnya tidak terlihat menakutkan lagi? Kenapa gadis itu tidak menatapnya takut seperti yang lain!


"Ihh, Geisya ngerasa kayak ditatap sama Kim Taehyung. Huwaaa!!" jeritnya histeris.


Pemuda itu menutup telinganya saat gadis di depannya berteriak.


Geisya berdiri dan meloncat-loncat di atas kasur empuk itu. Ia juga bertepuk tangan bahagia.


"Bisakah kau---"


Pemuda itu berhenti dengan tubuh membeku saat kedua tangan mungil Geisya memegang pipinya. Ia tidak tau sejak kapan gadis aneh itu mendekat padanya.


"Dilihat dari dekat sini kamu makin tampan ya!" Geisya mendekatkan wajahnya. Hingga wajah mereka berdekatan. Pemuda itu bahkan menahan nafasnya ketika wajah Geisya begitu dekat dengannya.


Jantungnya berpacu dengan cepat ketika menatap bola mata bulat itu. Lalu matanya terpaku pada bibir mungil gadis di depannya. Ia meneguk ludahnya kasar. Kenapa bibir itu begitu menggoda di matanya?!


Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh bibir Geisya. Gadis itu mengerjapkan matanya ketika tangan pemuda di depannya menyentuh bibirnya.


Craus.


"Arrgh!!" Pemuda itu mengerang sakit saat jarinya digigit oleh gadis tersebut.


"Kenapa lo gigit jari gue!" kesalnya mengibaskan tangannya.


Gigitan gadis itu sangat keras. Seolah sedang mengigit makanan enak.


"Ya habisnya kamu megang megang bibir Geisya. Kata Bang Vano kalo ada yang megang bibir Geisya harus digigit! Karna tangannya itu nakal!" kata Geisya mulai menjauh dari pemuda tersebut.


Pemuda itu mengerang kesal. Lalu ia berbalik dan pergi tanpa satu kata pun.


"Kamu mau ke mana!!!" teriak Geisya.


Pemuda itu terus melangkah tak mempedulikan teriakan Geisya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. "Iss! Padahal Geisya belum kenalan!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2