
Seperti permintaan awal Thania yang ingin pergi ke pasar malam. Saat ini mereka benar-benar pergi ke sana, dan sesampainya di sana Thania terlihat begitu antusias. Membuat Gevano mengulum senyum bahagia.
"Gevan, ayo beli itu!" Thania menunjuk kedai makanan Bakso yang nampak ramai pembeli. Wangi dari kuah Bakso membuat wanita hamil ini mengidam secara tiba-tiba.
"Kamu yakin pengen beli Bakso itu?" tanya Gevano yang diangguki antusias oleh Thania. Sepertinya wanita itu benar-benar ingin memakan Bakso, buktinya matanya tak lepas melihat kedai Bakso tersebut.
"Ya udah ayo." Gevano menarik tangan Thania menuju kedai Bakso tersebut.
"Kamu duduk dulu di sini. Biar yang pesen," kata Gevano.
Thania mengangguk patuh. Lagipula ia juga sedikit lelah akibat berjalan dari sana kemari sejak tadi. Ia duduk di kursi yang disediakan. Sementara Gevano memesan Bakso untuknya dan Thania.
Wanita itu memandangi Gevano sambil tersenyum tipis. Ia beruntung memiliki Gevano sebagai suaminya. Meski semasa mereka pacaran dulu Gevano kasar dan sedikit menyebalkan.
Tapi sekarang pria muda itu berubah. Walaupun sikap overprotektifnya masih melekat dalam dirinya.
Thania sedikit merasa lucu dengan takdir mereka. Bagaimana dulunya ia begitu tidak menyukai Gevano, tapi lihatlah sekarang. Ia begitu mencintai pria muda itu. Ditambah lagi dengan hadirnya malaikat kecil di tubuhnya.
Tangannya secara otomatis bergerak mengelus perutnya yang sedikit membuncit. "Cepet tumbuh ya, Sayang. Mommy sama Daddy nggak sabar nanti kelahiran kamu."
Tawa kecil terdengar kala mendengar ucapannya sendiri. Padahal janinnya masih sangat kecil. Tapi ia sudah sangat tidak sabar melihat perkembangan janinnya hingga lahir ke dunia ini.
Tak lama Gevano datang dengan dua mangkuk Bakso dan dua es teh untuknya dan Thania.
"Maaf nunggu lama ya, by," ucap Gevano menaruh nampan di atas meja. Disusul oleh seorang wanita yang membantu Gevano membawakan pesanan Es tehnya.
"Terima kasih, Bu," ucap Gevano ramah.
"Makasih, Bu," imbuh Thania tersenyum ramah.
Wanita itu sedikit tersenyum melihat kedua pasutri di depannya. "Silahkan dinikmati ya," ujarnya sebelum meninggal kedua pasutri tersebut.
Gevano memberikan semangkuk bakso kehadapan Thania. Wanita itu mengambil saos dan menuangnya ke dalam mangkuk, diikuti kecap dan juga sambal.
"Sambalnya jangan banyak-banyak. Nanti sakit perut," pesan Gevano menatap istrinya tajam.
Wanita itu memang menuang sambal tanpa tanggung-tanggung. Jadi dia langsung menukarnya dengan miliknya yang masih belum tercampur apapun.
"Gevan!" pekik Thania sedikit kesal kala mangkuk baksonya ditukar dengan milik Gevano.
__ADS_1
"Makan. Lebih sehat bakso tanpa saos, apalagi sambal," ucap Gevano mulai memakan Bakso milik Thania yang sekarang sudah menjadi miliknya.
Wanita itu mencebik kesal. Dengan kekesalan yang meluap, Thania menusuk bakso menggunakan garpu secara kasar. Kemudian memasukannya ke dalam mulut, tapi langsung dikeluarkan lagi karena bakso itu membakar lidahnya.
"Akhh, panas," ringis Thania mengibas lidahnya menggunakan tangan.
Gevano dengan sigap mengambil air minum dan memberikan kepada istrinya. "Makanya kalo makan ditiup dulu. Udah tau baksonya masih panas asal makan aja." Pria itu mulai mengomeli istrinya sambil membantunya minum.
Meski sudah minum, Thania masih mendesis. Tapi tetap mampu membalas omelan Gevano. "Ya mana aku tau! Kamu juga kenapa gak bilang-bilang kalo baksonya masih panas?" Matanya melotot ganas ke arah Gevano.
Thania yang tidak ingin disalahkan jadi beralih menyalahkan Gevano sendiri. Intinya tidak mau disalahkan. Ini semua salah Gevano, kenapa tidak bilang-bilang jika baksonya masih panas?
Hem, padahal tanpa Gevano beritahu harusnya Thania sudah tau kan? Bakso itu terlihat mengepul, sudah pasti masih panas. Tapi terserah bumil sajalah.
"Ya udah aku minta maaf karna nggak ngasih tau kamu," ucap Gevano mengalah.
Thania membalas dengan deheman. Wajahnya sudah tak segalak tadi. Ia kembali memakan baksonya kali ini tak lupa untuk meniupnya sebelum dimakan agar tidak kepanasan lagi.
'Untung gue orangnya sabar.'
Sabarnya hanya kepada Thania saja. Tidak berlaku jika itu adalah orang lain.
"Kak Thania!" panggil Geisya melihat kakak iparnya bersama sang kakak.
Thania beserta Gevano menoleh. Gadis itu melambai senang ke arah kedua pasutri tersebut. Kemudian berlari menuju Thania dan Gevano berada.
"Geisya ke sini sama siapa?" tanya Thania begitu Geisya berada di depannya.
"Sama Kak Gibran!" balas Geisya antusias.
"Terus sekarang Gibran dimana?" Kali ini Gevano yang bertanya.
Geisya melirik sekitar untuk mencari Gibran. Mata bulatnya berhenti pada seorang laki-laki yang tengah kebingungan mencarinya.
"Di sana." Telunjuknya menunjuk ke arah laki-laki tadi yang tak lain adalah Gibran.
"KAK GIBRAN!" Geisya berteriak keras, membuat perhatian beberapa orang teralih ke arahnya. Termasuk Gibran yang sejak tadi panik mencari Geisya.
Laki-laki itu langsung berlari menuju Geisya. Wajahnya terlihat marah sekaligus khawatir. "Lo kemana aja si?! Gue cariin gak ada! Bisa nggak si lo nggak bikin orang cemas?!" bentak Gibran kesal.
__ADS_1
Geisya menyengir tanpa dosa. Ia tak merasa tersinggung dengan bentakan Gibran. Karena ia cukup tau diri siapa yang salah di sini.
"Maafin Geisya ya udah bikin kak Gibran cemas." Geisya membujuk dengan nada manis.
Gibran menghembuskan nafasnya. Jika sudah seperti ini, ia tidak akan bisa memarahi gadis kecilnya itu.
"Jangan diulangi lagi!" ucap Gibran tegas.
Geisya sontak mengangguk dengan senyum lebarnya. Keduanya sibuk bermesraan hingga melupakan atensi kedua pasutri yang sudah mendengus jengah. Apalagi Gevano.
Calon papa muda itu memutar bola matanya sambil berdecak berkali-kali. Tapi kemudian matanya melotot saat melihat Gibran hendak mengecup pipi Geisya. Tangannya dengan gesit meraih tubuh adiknya menjauh dari jangkauan laki-laki jangkung itu.
"Jangan sembarangan nyium adek gue lo! Belum sah!" sembur Gevano melototi Gibran.
Gibran mendengus. "Ya udah gue halalin sekarang aja gimana?" tanyanya.
"Nggak! Adek gue masih kecil!" ketus Gevano.
"Giliran mau gue halalin nggak lo bolehin! Maunya apa si?!" kesal Gibran.
Ini salah itu salah. Serba salah kan jadinya. Jika Gevano bukan kakak kandung Geisya, sudah ia remuk-remukan tulang badannya!
"Bukan sekarang juga, bodoh! Adek gue masih kecil, masih sekolah!"
"Ya udah lulus sekolah langsung gue lamar Dan gue gak peduli mau lo restui atau enggak," ketus Gibran kesal.
"Lo!"
Gevano siap meledak jika saja Thania tak menjewer telinga nya. "Aduh, duh, sayang sakit!" rengeknya menatap memelas wajah kesal Thania.
"Berisik!" Wanita itu melepas jeweran, lalu menendang tulang kering Gevano sebelum berlalu pergi bersama Geisya yang menjulurkan lidah mengejek ke arah sang kakak.
Gevano melotot sambil memegang kakinya yang ditendang Thania. "Bocah setan!" umpatnya.
Gibran melirik dingin Gevano. "Kalo dia setan, lo iblisnya," katanya dengan seringai menyebalkan. Lalu berjalan meninggalkan Gevano yang semakin kesal mendengar perkataan Gibran.
"Gibran sialan! Gak ceweknya gak cowoknya, sama-sama non akhlak!" gerutu Gevano sambil berlari kecil mengejar Istri serta adiknya yang sudah jauh.
Bersambung...
__ADS_1
Ada yang ingat cerita ini?