
Gevano berdiri dari duduknya, dia berjalan keluar kelas. Tujuannya sekarang adalah kelas Thania. Tapi baru beberapa langkah dia dihadang oleh seorang gadis pindahan itu.
"Kamu mau ke kantin kan? Aku boleh bareng kamu nggak? Soalnya aku belum tau arah ke kantin," ucap Agnes si pelaku penghadang jalan Gevano.
"Nggak." Singkat. Itulah jawaban yang diberikan oleh Gevano. Kemudian pemuda itu langsung pergi dari sana.
Meninggalkan Agnes yang lagi-lagi merasa malu karena ditolak oleh Gevano.
"Bareng gue aja yuk. Gue juga mau ke kantin," celetuk Rafael tiba-tiba.
Wajah kesal Agnes berubah menjadi ramah. "***---"
"Inget cewek lo, Raf. Jangan jadi buaya lagi," sahut Vino yang kini berdiri di sebelah Rafael dengan tatapan dingin.
"Diem lo!" sinis Rafael.
"Gue cuma ngasih tau doang."
"Cewek gue nggak akan tau. Dia kan nggak ada di sini. Jadi tenang aja lah."
"Ck, lo itu dibilangin bebal amat. Entar kalo ada apa-apa jangan ngadu ke gue!" ketus Vino.
"Nggak akan!"
Rafael mengabaikan tatapan datar Vino. Dia lebih memilih menatap Agnes kembali.
"Ayo."
Rafael hendak menggapai tangan Agnes untuk dia genggam. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering membuatnya berdecak lantaran terganggu.
"Siapa si! Ganggu orang aja!" kesal Rafael.
Dia mengambil ponselnya di saku, mengangkat telepon itu tanpa melihat nama si penelpon.
"Berani lo deket-deket sama cewek lain. Pulangnya nyawa lo nggak aman!"
Tut!
Sambungan telefon langsung terputus begitu saja. Bahkan Rafael belum sempat mengucapkan kata keramatnya. Tapi suara dari seberang sana langsung terdengar dengan nada penuh ancaman.
Rafael menatap layar ponselnya yang menghitam. Tadi adalah suara dari gadisnya. Kekasihnya itu tidak ada di sini. Dia sedang ada di rumah kakaknya. Pertanyaannya adalah, dari mana gadis itu tau?!
"Gue bilang juga apa, cewek lo itu tau segalanya. Meski dia nggak di sini," sambar Vino yang mendengar perkataan Gisela. Kekasih Rafael.
Rafael menoleh menatap Vino. "Dia kok bisa tau?" tanyanya.
__ADS_1
Vino mengedikan bahu acuh. "Mana gue tau."
Kemudian dia berjalan meninggalkan Rafael dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam sakunya.
Rafael menatap kepergian sahabatnya itu. Ia tersentak saat tangan Agnes tiba-tiba menyentuh tangannya.
"Katanya tadi mau ke kan---"
"Maaf ya. Gue nggak bisa! Gue buru-buru! Lain kali aja."
Rafael menarik tangannya dan langsung berlari keluar dari kelas. Meninggalkan Agnes yang menggerutu kesal. Sudah dua kali dia acuhkan oleh para pemuda tampan itu!
"Sial!" umpat Agnes dengan wajah malu.
...***...
"Muka kamu kenapa dingin banget si? Nggak suka sama masakan aku ya?" tanya Thania karena sejak tadi wajah Gevano begitu dingin.
Gevano menggeleng. "Bukan."
"Terus kenapa?"
"Aku nggak papa, by," ucap Gevano lembut.
"Huh, nggak papa tapi mukanya jutek banget!" sinis Thania.
"Gombal!" Dengan muka merona Thania memukul bisep Gevano.
Pemuda itu tertawa gemas. Ditariknya tubuh Thania dan memeluknya dengan erat. Mencium pucuk kepala itu bertubi-tubi sambil berbisik 'gemas' berulang kali.
"Istri siapa si ini. Gemesin banget!"
"Istrinya kamu lah, ya kali orang lain. Emang mau aku jadi Istri orang lain?" Thania mendongakkan kepalanya.
"Ya enggak lah! Kalo sampai itu terjadi, aku bunuh dia! Biar kamu jadi janda, terus aku nikahin deh," balas Gevano.
"Terus kalo misalkan nanti kamu masuk penjara gimana?"
"Nggak papa masuk penjara, yang penting kamu sama aku." Gevano menggigit hidung Thania dengan gemas.
Perempuan itu mengerucutkan bibirnya kesal. "Seneng banget gigit hidung aku," kesalnya.
Gevano tertawa kecil, "Salah sendiri gemesin."
Thania memutar bola matanya jengah. "Kamu selalu ngomong gitu ke aku. Kamu gemesin, kamu lucu, kamu imut, kamu makin cantik dan bla bla bla..." malasnya.
__ADS_1
Gelak tawa milik Gevano mengudara, mengundang perhatian para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kantin.
Para kaum hawa meleleh melihat tawa Gevano. Apalagi suara tawanya yang mampu menggetarkan hati dan jiwa kaum hawa membuat mereka semakin mleyot.
Andai Gevano masih single, mungkin mereka akan berebut untuk mendapatkan hati Gevano. Namun, sayangnya pemuda itu tak lagi lajang. Apalagi melihat wajah Istrinya yang sangat cantik dan glow up. Semakin membuat mereka insecur dan mundur teratur.
Jika yang lain sedang menikmati drama romantis keduanya dengan pekikan gemas. Berbeda lagi dengan seorang gadis yang duduk di bangku pojok dengan teman barunya.
"Sial! Siapa si tu cewek! Sok cantik banget!" kesal gadis itu.
Teman barunya yang asik makan langsung menoleh ke arah gadis yang tak lain adalah Agnes. Tadi setalah Agnes dipermalukan secara tak langsung oleh Rafael dan Gevano. Gadis itu langsung menghampiri Agnes dan mengajaknya ke kantin.
"Lo ngomong apa?" tanyanya.
Tapi sepertinya Agnes tidak mendengar pertanyaan gadis itu, karena dia masih sibuk mengawasi gerak gerik kedua pasangan muda di depan sana.
Karena tak mendapat respon dari Agnes, akhirnya gadis itu mengikuti arah pandang Agnes. Matanya berhenti di kedua pasangan yang asik dengan dunia mereka sendiri.
Kemudian beralih lagi menatap wajah Agnes yang sepertinya menahan kesal. Lalu menatap pasangan Gevano dan Thania lagi. Setelah itu menatap Agnes lagi. Begitu seterusnya sampai dia menganggukkan kepalanya dua kali kala mengerti dengan situasi ini.
Ternyata oh ternyata Agnes cemburu. Iya kan? Pikirannya tidak salah bukan?
"Dia Thania, istrinya Gevano," celetuknya membuat Agnes menoleh menatap gadis bernama Chika itu dengan pandangan terkejut.
"Gevan udah nikah?!"
Chika mengangguk, "Udah. Tu buktinya," tunjuknya menunjuk kedua pasangan itu.
Agnes menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kalo lo suka sama Gevan, mending mundur aja deh. Percaya sama gue, lo nggak akan bisa ngebuat Gevan berpaling dari istrinya itu. Dia udah jadi bucin akut sama istrinya. Jadi susah kalo mau naklukin hatinya. Banyak kok yang patah hati gara-gara ditolak mentah-mentah sama Gevan," jelas Chika.
Agnes menatap Chika lagi, "Segitu cintanya Gevano sama cewek itu?" tanyanya tak percaya.
Chika mengangguk dengan deheman pelan.
"Mereka juga dikenal sebagai pasangan paling romantis dan ter-uwu di kampus ini. Mereka itu serasi banget! Banyak fans mereka di sini. Gevano juga orangnya posesif sama cemburuan, dia nggak ngebolehin istrinya dekat atau ngomong sama cowok lain selain dia. Bahkan kedua sahabat Gevano juga dicemburui," sambungnya.
'Sampai segitunya?!! Serius?' batin Agnes tak yakin.
Kemudian dia menatap Gevano yang sedang asik tertawa bersama Thania. 'Dan apa tadi katanya? Serasi? Heh, lebih serasi lagi sama gue! Thania itu nggak ada apa-apanya dibanding gue. Penampilannya juga biasa aja, nggak ada istimewa-istimewanya.' cibirnya menilai penampilan Thani yang terlihat kuno di matanya.
'Mungkin naklukin hatinya Gevano susah buat orang lain. Tapi kalo buat gue? Haha, tentu aja itu mudah! Nggak ada yang nggak bisa gue lakuin! Termasuk ngerebut Gevano dari istrinya yang sok cantik itu! Tunggu aja waktu itu tiba."
Agnes menyeringai memandang kedua orang itu.
__ADS_1
**Bersambung...
Up-nya mungkin sekarang tiap malam. Karena kalo pagi aku sekolah, siangnya kadang nulis tugas yang belum selesai. Jadi bisanya tiap malem**