
Seminggu sudah berlalu, sejak kejadian pertarungan waktu itu. Semua kembali berjalan normal. Geisya sudah kembali ke Rumah dua hari lalu. Entah bagaiman caranya tiba-tiba gadis itu sudah ada di depan pintu Markas dengan tampang polosnya.
Ketika ditanya dari mana saja, gadis itu malah menjawab dengan asal. Seperti, "Geisya habis dari taman surga yang isinya cogan." Atau, "Geisya habis berburu makanan banyak-banyak." Dan, "Geisya habis melakukan kebaikan yang ngebuat orang-orang bahagia."
Lalu saat ditanya bagaimana kabarnya. Gadis itu malah dengan antusiasnya menceritakan segalanya. Mereka semua menganga tak percaya bahwa gadis kecil itu sedang mengalami kasus penculikan.
Apakah Geisya benar-benar diculik? Tentu iya. Tapi kepulangan gadis itu tidak seperti orang yang habis diculik. Melainkan sebaliknya. Gadis itu bertingkah seolah sehabis pulang dari liburan keluar negeri.
Tak tau apa jika mereka beberapa hari ini kelimpungan mencarinya! Tapi nyatanya, kekhawatiran mereka tak berarti apa-apa.
Tapi untung saja sebelum kepulangan orang tuanya, Geisya sudah lebih dulu dikembalikan. Jika tidak. entah apa yang akan terjadi padanya.
"Bang, Geisya akhirnya tau rasanya diculik! Rasanya seru banget! Geisya jadi pengen diculik lagi. Tapi yang nyulik harus tampan kayak Kakak waktu itu." Geisya terkikik kecil.
Gevano memutar bola matanya jengah. Bosan dia mendengar ucapan Geisya yang itu itu lagi.
"Orang kalo diculik itu takut! Tapi lo malah nggak ada takut-takutnya! Mana pengen diculik kedua kalinya lagi," cibir Gevano kesal.
"Yee biarin aja! Bilang aja Bang Vano iri kan karna nggak pernah diculik?!" ejek gadis itu.
Gevano menatap sinis Geisya. "Ngapain gue iri? Ngaco lo! Pulang-pulang otaknya bukan bener malah makin gesrek aja!"
"Nyenyenyenye."
"Udah lah gue mau ke rumah Thania dulu." Gevano mengambil kunci motor yang tergeletak di atas nakas.
"Geisya ikut!!" seru Geisya bangkit dengan semangat 45.
Geisya pengen lihat bagaimana bentuk calon kakak iparnya. Waktu itu kan tidak jadi gara-gara ada perkelahian. Jadi sekarang adalah waktu yang tepat untuk melihat kekasih kakaknya ini!
"Ogah gue ngajak lo," sinis Gevano.
Geisya mengerucutkan bibirnya, ia memegang lengan kanan sang kakak. Lalu menggoyangnya dengan manja.
"Bang, pliss ya ajak Geisya ikut," rengeknya.
"Enggak!"
Geisya melepas pegangannya pada lengan Gevano dengan kesal. "Ya udah kalo nggak mau ajak Geisya. Nanti Geisya aduin ke Papa kalo waktu itu Geisya diculik sama musuh Bang Vano!"
Gevano membulatkan matanya, dan menoleh cepat ke arah Geisya. "Lo--"
"Sekalian Geisya aduin kalo Bang Vano tauran, sampai bahunya kena tiga tembakan!" sela gadis itu dengan tangan bersedekap dada.
"Jangan ngomong tentang masalah itu ke Papa!" tegas Gevano penuh peringatan.
"Tapi Geisya pengen ngomong. Gimana dong?"
"Ya udah lo boleh ikut!" putus Gevano dengan terpaksa.
"Nah, gitu dong!!" kata Geisya senang.
"Ayo, Bang! Jangan sampai kakak ipar Geisya nunggu lama!" Geisya menarik tangan Gevano dengan semangat.
Pemuda itu berdecak kesal. Kenapa Geisya bersikap seolah-olah akan bertemu dengan calon suaminya? Bahkan semangatnya melebihi dirinya yang akan bertemu dengan sang kekasih.
...***...
__ADS_1
"Assalamualaikum!!! Tolong bukain pintu buat princess ini dong Kakak Ipar!!" teriak Geisya tanpa rasa malu.
Gevano yang baru keluar dari mobilnya memijat pangkal hidungnya pusing. Adik siapa si ini! Bikin rusuh saja!
Oh ya, Gevano tadi tidak jadi membawa motor. Karena sang Mama tidak memperbolehkan ia membawa motor ketika membawa sang adik. Takut anak gadisnya itu kenapa-napa. Kalian tentu tau bagaimana sifat bar-bar gadis itu. Geisya tidak bisa diam barang sedetik saja.
Ada saja tingkahnya yang membuat orang pusing tujuh keliling.
"Nggak usah teriak, jamilah! Ini masih pagi!" ketus Gevano berdiri di samping sang adik.
Geisya mengacuhkan ucapan Gevano. Ia tetap berteriak memanggil kekasih Gevano dengan sebutan 'kakak ipar'.
Tak lama kemudian pintu itu terbuka menampilkan seorang gadis dengan wajah baru bangun tidur. Lengkap dengan setelan piyama bergambar Doraemon.
Geisya berbinar menatap gadis yang masih merem melek itu. Ia langsung menerjang tubuh itu dengan pelukannya. Membuat Thania terkejut dengan mata terbuka lebar.
"Kakak cantik banget si! Geisya suka deh!!!" pekik Geisya dengan gemas.
Mata Thania berkedip-kedip, lalu melirik ke arah Gevano yang berdiri dengan tangan dimasukkan ke dalam saku. Ia menatap Gevano dengan pandangan bertanya, 'dia siapa?"
"Adek aku," balas Gevano yang mengerti arti tatapan dari Thania.
Gadis itu mengangguk paham, lalu mulai membalas pelukan Geisya dengan senyum lembutnya.
Geisya melepaskan pelukan itu. Ia memandang Thania dengan wajah cerah secerah matahari. "Kakak baru bangun tidur ya?" tanyanya.
Thania menggaruk tengkuknya canggung. Lalu tersenyum kikuk.
"A- ayo masuk." Lebih baik ia mengalihkan pembicaraan saja.
Gevano menghela nafas melihat tingkah laku adeknya. "Dasar nggak punya sopan santun!" kesalnya.
Thania menatap Gevano. "Udah biarin aja, nggak papa kok. Ayo masuk," ajaknya.
Gevano mengangguk, dan menggandeng tangan Thania untuk masuk.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Tadi siapa yang mencibir Geisya tak punya malu? Orang dia sendiri juga nggak punya malu kok. Apa Gevano lupa kalau dulu dirinya bahkan lebih tak punya sopan santun masuk ke dalam kamar seorang gadis, hm?
Ck, dasar laki-laki.
...***...
Thania membuatkan dua gelas teh manis untuk sang kekasih dan adik dari kekasihnya itu.
"Minum dulu. Maaf ya cuma ada itu doang," kata Thania tak enak.
Gevano menggeleng, "nggak papa kok. Ini aja udah cukup."
Ia menyesap teh buatan Thania. Lalu meletakkan gelas itu pada tempatnya kembali. Kemudian ia teringat sesuatu.
"Sya, ambilin paper bag di mobil gih," suruh Gevano ketika ingat bahwa ia membawa hadiah untuk Thania.
"Kenapa harus Geisya! Kenapa nggak Bang Vano aja sendiri!" kesal Geisya.
"Biar lo ada gunanya gue ajak ke sini. Udah cepetan sana, nggak usah banyak komplain!"
Dengan kaki yang dihentakan kesal, Geisya menuruti perintah Gevano.
__ADS_1
"Emang ngambil apa'an si?" tanya Thania penasaran.
"Sesuatu."
"Ya apa?"
"Ada lah. Nanti juga kamu tau sendiri."
Thania berdecak sebal. Padahal dia penasaran dan ingin tau sekarang. Tapi Gevano malah, huh sudah lah.
Tak lama kemudian Geisya kembali dengan membawa sebuah papar bag berwarna merah. Lalu memberikannya kepada Thania yang diterima dengan baik oleh gadis itu.
"Itu hadiah dari Geisya, Kak," cengir Geisya lucu.
"Dari lo apa dari gue?" celetuk Gevano sinis.
"Geisya lah!"
Thania tak mempedulikan pertengkaran kedua kakak beradik itu. Ia fokus dengan dress hitam di tangannya.
"Ini, apa?" tanya Thania sedikit melirik ke arah Gevano lewat ekor matanya.
"Dress," jawab Gevano.
"Ya aku tau! Maksudnya buat apa," kesal Thania.
"Ya buat dipakai lah."
"Haiss! Maksud aku ini dress-nya mau diapain? Kenapa kasih ke aku?"
"Kamu pake buat nanti malem."
"Emang nanti malem ada apa'an?" tanya Thania melipat dress cantik itu dan kembali menaruhnya di dalam paper bag.
"Ada acara," jawab Gevano tersenyum.
"Acara apa? Perasaan aku nggak punya acara apapun deh malem nanti," bingung Thania.
"Pokoknya kamu pakai aja dress itu. Nggak perlu banyak tanya. Paham?"
Thania mengangguk dua kali. "Paham."
"Pinter. Sini dong, peluk. Kangen tau..." manja Gevano merentangkan kedua tangannya meminta dipeluk.
"Ih, dasar manja!" Geisya melempar kulit kacang ke arah Gevano. Memasang raut wajah jijik ketika kakaknya yang super galak memasang wajah manja seperti itu membuatnya sedikit geli.
"Biarin! Bilang aja lo iri kan?" sinis Gevano yang sudah duduk di dekat Thania. Dan memeluk erat gadis itu. Karena tadi Thania tak kunjung bergerak dari tempatnya, makanya Gevano yang harus mendekat agar bisa memeluk gadis itu.
"Enak aja! Geisya nggak iri tuh!"
"Iri! Lo itu iri!"
Geisya menatap kesal Gevano. Tapi sesaat kemudian ia tertawa terbahak melihat Gevano jatuh karena dorongan Thania.
"Syukurin! HAHAHA."
Bersambung...
__ADS_1