
Gibran berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya kasar.
"Arrghh!! Pokoknya gua nggak mau tau!! Sekarang juga lo bawa balik tu bocil ke rumahnya!!! Gue setres ngadepin tingkahnya!!! Lo tau nggak, jari gue digigit sama tu bocah! Pinggang gue encok gara-gara tu bocah! Dan makanan gue habis dimakan tu bocah! Dan sekarang, hodie kesayangan gue kotor gara-gara BOCAH ITU!!!"
Gibran berhenti untuk menghirup udara sebentar agar tak kehabisan nafas. Setelah itu ia melanjutkan kekesalannya lagi.
"Baru setengah hari aja dia udah buat ulah sampai gue se-frustasi ini! Coba lo bayangin kalo dia seminggu ada di Mansion gue?!! Bisa hancur Mansion gue gara-gara bocah itu doang!!!"
Gibran meluapkan unek-uneknya dengan nafas memburu. Ia begitu frustasi gara-gara gadis itu. Pinggangnya bahkan nyaris patah karena terpeleset akibat lantai yang basah. Tentu saja itu karena ulah gadis yang diculiknya itu.
Marcell menatap jengah Gibran yang mencak-mencak seperti cewek PMS sejak tadi.
"Ck, bukannya yang nyulik dia itu lo ya?" datar Marcell.
Gibran mendelik tajam. "Yang nyuruh kan lo, bangsat!!" teriaknya kencang.
Marcell mengedikan bahu acuh. "Terus kenapa lo mau?" Dia menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis.
"Anjing!!" umpat Gibran.
Marcell menghela nafasnya. "Duduk dulu. Nggak capek apa lo berdiri sambil ngomel-ngomel sendiri kayak emak-emak gitu?"
Gibran berdecih, tapi tetap menuruti ucapan Marcell yang menyuruhnya untuk duduk. Ia memijat pangkal hidungnya.
"Lagian kenapa Geisya bisa keluar dari kamarnya coba? Bukannya waktu itu gue udah ngunci pintunya ya?" Marcell menjadi bingung sendiri. Kenapa gadis kecil itu bisa keluar dari kamarny sedangkan ia sudah mengunci pintu itu dari luar? Tidak mungkin kan Geisya mempunyai kekuatan menghilang?
"Apa jangan-jangan ada yang masuk, terus lupa nutup pintunya?" Zidan yang sejak tadi diam di sudut sofa mulai angkat bicara mengenai kebingungan yang dirasakan Marcell.
Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah Zidan. "Bisa jadi si. Tapi siapa orang yang ceroboh kayak gitu?"
Zidan mengedikan bahu acuh. "Mana gue tau."
Ketika Marcell dan Zidan sibuk berbincang mengenai hal ini. Gibran mulai merenung dengan memori yang berputar pada kejadian lalu. Di mana ia membuka kamar Geisya untuk melihat gadis itu sudah sadar apa belum.
Tapi karena emosi yang dirasakannya saat itu membuatnya lupa untuk mengunci pintu. Hingga gadis itu bisa berkeliaran bebas di sekeliling Mansion-nya. Sampai menyebabkan Gibran gila sendiri. Jadi, ini salahnya atau salah gadis itu?
Dan Gibran kembali melupakan, jika gadis itu masih bisa keluar masuk dari kamarnya tanpa hambatan. Dikarenakan pintunya masih belum ia kunci kembali.
"Bangsat!!" Gibran berteriak dengan gerakan tubuh yang langsung berdiri. Marcell dan Zidan yang diam-diam mengamati tingkah Gibran sampai terlonjak kaget karena gerakan tiba-tiba dari pemuda itu.
Sebelum Zidan bertanya kepada Gibran. Pemuda tampan itu lebih dulu melenggang pergi menuju lantai atas. Dia harus segera mengurung gadis kecil itu di kamar sebelum semuanya terlambat. Ia tidak mau Mansion mewahnya hancur hanya karena bocah itu.
Gibran merapalkan doa sepanjang laju larinya. Ia berharap semoga gadis itu masih di kamar. Hingga ia bisa dengan mudah mengunci gadis itu tanpa perlu repot-repot mengurus tingkahnya.
__ADS_1
Namun sepertinya sekarang hari sialnya. Karena saat ia sampai di pintu kamar gadis itu. Geisya malah ikut keluar hingga tubuh mereka bertabrakan. Sehingga minuman yang dibawa oleh Geisya tumpah dan mengenai bajunya.
***
Gevano menyuapi Thania dengan tangan kanannya yang tak terluka. Mereka sekarang sedang sarapan pagi dengan satu piring berdua.
Thania tidak bisa makan sendiri karena tangan kanannya terluka. Jadi Gevano berinisiatif untuk menyuapi sang kekasih. Untung saja yang terluka bahu kirinya, jadi ia tidak kesusahan untuk makan.
Dengan bonus ia bisa menyuapi kekasih cantiknya ini.
Gevano membersihkan sisa makanan di sudut bibir Thania. Gadis itu sempat menegang karena terkejut, membuat Gevano terkekeh pelan.
"Ada sisa makanan di sudut bibir kamu," kata Gevano setelah membersihkan sisa makanannya.
Thania mengangguk paham dengan gugup. Kemudian gadis itu mengambil piring yang ada di tangan Gevano.
"Ini aku bawa ke dapur dulu ya?"
Gevano menggeleng, dan merebut kembali piring kotor itu dari tangan Thania.
"Nggak usah, biar pembantu di sini aja yang bawa ke dapur. Kamu mending tidur aja bareng aku."
"Tadi kan udah tidur. Masa tidur lagi." Wajah Thania memberenggut lucu.
"Nggak boleh! Apalagi kita habis selesai makan."
"Kata siapa nggak boleh?"
"Kata aku lah. Udah nggak usah berdebat! Sekarang kamu minum obatnya dulu. Terus habis itu mandi, badan kamu bau!" kata Thania seraya berjalan mengambil obat untuk Gevano.
"Biarpun aku bau, kamu juga tetep sayang kan? Buktinya semalem kamu meluk aku sampai pagi."
"Ih, yang meluk kan kamu. Bukan aku!" elak Thania.
"Pret. Nggak usah malu-malu gitu. Tinggal ngaku kalo meluk aku apa susahnya si?"
"Aku bilang nggak ya nggak!"
"Ck, baru suruh ngaku meluk aja udah malu. Apalagi kalo keciduk raba-raba perut aku. Apa nggak tambah malu tuh?" Gevano memberikan senyum miring menggoda.
Wajah Thania sontak memerah dengan tubuh menegang sempurna. Apa Gevano tau kalau tadi pagi ia meraba perut itu?!! Astaga. Jika benar, betapa malunya Thania!
Gevano langsung tertawa terpingkal melihat wajah merah gadis itu. Padahal dia cuma bercanda loh, kenapa reaksi Thania seolah mengatakan bahwa ucapannya tadi itu benar?
__ADS_1
Apa jangan-jangan memang benar ya?
***
Gibran terdiam dengan wajah terkejut. Sesaat kemudian ia menatap tajam Geisya yang menatapnya polos.
"Oh, kakak ganteng?!" seru Geisya antuasias.
"Lo itu nggak hati-hati ya!? Liat nih baju gue basah gara-gara lo!" bentak Gibran.
Geisya menatap ke arah baju Gibran yang basah karena ulahnya. Lalu mendongak untuk menatap wajah Gibran lagi.
"Terus Geisya harus bilang wow gitu?!" sewot Geisya.
Gibran mendelik tajam pada Geisya. Bisa-bisanya gadis itu membalas bentakannya dengan nada sewot seperti itu. Harusnya gadis itu takut saat ia bentak. Tapi ini?!
"Lagian ini salahnya Kakak ganteng karna nabrak-nabrak Geisya! Udah nabrak, nggak minta maaf lagi!" lanjut gadis itu mencebik kesal.
Gibran semakin mendelik. Apa katanya? Salahnya? Yang benar saja! Ini bukan salahnya, tapi salah gadis itu. Sejak awal yang membuat rusuh kan bukan dia, tapi gadis jadi-jadian ini!
"Kenapa lo jadi nyalahin gue?!! Yang salah di sini kan lo! Harusnya lo yang minta maaf! Bukan gue!" decak Gibran.
"Kenapa Geisya harus minta maaf? Orang Geisya nggak salah kok." Alis gadis itu menyatu tanda tak suka akan ucapan pemuda tampan di depannya ini.
Nafas Gibran memburu. Ia menunjuk jari telunjuknya ke depan wajah Geisya. "Lo liat!! Jari gue luka karna siapa?! Karna lo!! Kalo lo nggak gigit jari gue nggak akan luka!!"
Geisya menatap jari itu dengan polos. Ia masih diam untuk mendengarkan keluh kesah pemuda tampan ini.
"Pinggang gue encok gara-gara lo numpahin minuman di lantai!! Terus makanan gue yang ada di kulkas lo habisin!! Hodie kesayangan gue lo kotorin!!! SEKARANG LO NUMPAHIN MINUMAN DI BAJU GUE DAN NGGA MAU MINTA MAAF?!!!"
Kesabaran Gibran sudah habis menghadapi tingkah gadis itu. Ia bukanlah pemuda yang mempunyai kesabaran di atas rata-rata. Tidak. Sebaliknya, Gibran adalah pemuda bertemperamen buruk. Itulah sebabnya tak ada yang berani memancing emosinya.
Seumur hidup baru kali ini ia merasakan perasaan kesal yang amat menjengkelkan ini. Karena biasanya dengan sekali memberikan tatapan menakutkan orang itu akan takut padanya.
Namun gadis ini tidak. Malahan dia sendiri yang menjadi kesal karena tingkahnya. Padahal ia jarang sekali merasakan kesal. Dia selalu bersikap tenang dalam menghadapi hal apapun meski mempunyai temperamen buruk. Tapi itu semua tidak berlaku setelah menghadapi tingkah gadis kecil tersebut.
Geisya yang mendengarnya menggelengkan kepala dramatis. Ia menatap Gibran seolah sedang memarahi sang anak yang berbuat nakal.
"Ya ampun. Kamu ini ternyata bodoh ya? Udah tua, bodoh, hidup lagi." Geisya berdecak beberapa kali.
Mata Gibran melotot seperti akan keluar dari tempatnya. Apa katanya? Dia dikatai bodoh, tua, oleh seorang gadis kecil?!!!
"ARRGHH!!! MARCELL!!! BAWA NI BOCAH PULAANGG!! GUE UDAH NGGAK KUAT, YA AMPUUNN!!"
__ADS_1
Bersambung...