Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Enam Puluh Lima


__ADS_3

"Gevan, kamu dari mana aj--"


Grep.


Thania mengerjap pelan saat Gevano menerjangnya dengan sebuah pelukan erat. Dapat ia rasakan bahu pria itu bergetar.


"Gev, kamu kenapa?" tanya Thania.


Gevano diam tak menjawab. Ia semakin erat memeluk tubuh istrinya. Bibirnya mengecup pelipis Thania beberapa kali sambil bergumam 'terima kasih'.


Thania semakin bingung dibuatnya. Ada apa sebenarnya? Dan kenapa Gevano mengucapkan terima kasih? Bukankah beberapa jam lalu pria itu mendiaminya?


"Kamu kenapa si? Tiba-tiba jadi aneh gini. Bukannya kamu marah ya sama aku?" tanya Thania meminta penjelasan.


Gevano melerai pelukan mereka, kedua tangan besarnya menangkup pipi Thania.


"Emang. Aku emang masih marah sama kamu gara-gara kamu peluk-peluk cowok lain."


"Aku gak--"


"Sstt, aku belum selesai ngomong. Gak baik motong ucapan suami," sela Gevano.


Thania menutup rapat mulutnya. Menatap Gevano tepat di mata tajam itu. Menunggu kelanjutan ucapan dari suaminya.


"Tapi aku tau, kamu gak akan sengaja dipeluk sama cowok lain. Pasti ada alasan dibalik itu. Dan aku minta maaf karna gak sempet ngasih kamu kesempatan buat jelasin. Aku keburu marah sama kamu. Maafin aku ya?"


Thania menggeleng dalam tangkupan tangan Gevano.


"Kamu gak salah, Gev. Ngapain minta maaf? Lagian ini bukan sepenuhnya salah kamu. Ini juga salah aku, harusnya aku bilang ke kamu kalo aku pengen Spaghetti. Bukannya main pergi aja dari rumah tanpa ngasih tau kamu. Apalagi dijam malem kayak gitu. Kamu pasti khawatir banget."


Menghembuskan nafas pendek. Kemudian melanjutkan ucapannya.


"Maafin aku ya, Gevan," kata Thania tulus.


Gevano tersenyum tampan dan mengangguk. Kemudian mengecup kedua kelopak mata milik wanitanya.


"Lain kali jangan kayak gini lagi. Kalo kamu pengen sesuatu, kasih tau aku. Jangan ditahan, aku gak akan marah kalo ulangin lagi, aku gak jamin bisa nahan amarah aku apa enggak."


Perkataan Gevano diangguki ribut oleh Thania. "Aku janji gak akan kayak gitu lagi!"


"Good girl," pujinya mengacak rambut Thania lembut.


"Eh, btw kamu tadi kenapa? Dateng-dateng langsung peluk aku. Mana ngucapin terima kasih lagi. Emang aku ngasih hadiah ya?" tanya Thania polos.


Gevano tersenyum lebar mendengar pertanyaan polos istrinya. "Iya. Kamu udah ngasih hadiah terindah di hidupku."


Thania mengerutkan keningnya bingung, "Hadiah apa?"


Bukannya menjawab, Gevano malah mengarahkan tangannya ke perut Thania yang sedikit membuncit tanpa disadari oleh si pemilik tubuh.


"Di sini, ada satu nyawa yang berharga," ucap Gevano pelan.


Senyumnya tak meluntur sedikit pun. Hatinya sangat bahagia. Tak lama lagi hidupnya akan semakin sempurna. Mempunyai Istri secantik Thania dan memiliki putra putri yang lucu dari wanita yang ia cintai.


Thania memiringkan kepalanya tak paham, "Maksud kamu?" tanyanya dengan nada lucu.


Gevano menarik gemas pipi Thania.


"Ih, Gevan sakit!" protes Thania menepis tangan Gevano dari pipinya.


Gevano tertawa pelan. "Habisnya kamu gemesin sih."


"Ck, gak usah gombal! Cepet jawab maksud kamu tadi tu apa?"


"Kamu hamil, by."


Ucapan Gevano membuat Thania membeku.


"A- apa? Aku hamil? Kok bisa?!" tanyanya dengan nada terkejut.


"Ya bisa lah. Kamu udah nikah. Kamu juga udah aku perawanin," balas Gevano santai.


Thania melotot ke arah Gevano. Kemudian memukul lengan kekar itu, hingga Gevano meringis pelan.

__ADS_1


"Kok aku dipikul si?" ringis Gevano.


"Habisnya kamu ngeselin!"


"Ngeselin apanya si? Emang itu faktanya kan? Kamu hamil ya karena aku buah--"


"Diem! Jangan bahas gituan di sini ih! Bikin malu aja!"


Thania membekap mulut Gevano. Alisnya menukik kesal. Tak habis pikir dengan Gevano yang berbicara hal seperti itu tanpa malu.


Gevano menarik tangan Thania dari mulutnya agar ia bisa berbicara. "Ngapain malu? Di sini cuma ada kita berdua kalo kamu lupa."


"Tetep aja malu!"


Gevano terkekeh, ia menjepit hidung mancung istrinya dengan gemas.


"Gevan!!" teriak Thania kesal.


Tawa Gevano meledak melihat wajah kesal Thania yang lucu dimatanya.


Thania menggembungkan pipinya kesal. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Matanya memicing kesal ke arah Gevano.


Gevano menggigit pipi bagian dalamnya melihat tingkah Thania.


'Istri gue makin lama kok makin lucu sih! Jadi gemes gue!'


Suara hati si bucin Gevano yang merasa gemas dengan ekspresi istrinya.


"Kenapa kamu natep aku kayak gitu?" sinis Thania.


Gevano menggelengkan kepalanya, "Aku gak natep kamu."


"Pret. Dikira aku gak tau ya?"


"Ya udah iya, aku emang natep kamu tadi. Tau gak, kamu itu lucu. Makanya aku gak bisa berenti natep kamu," ucap Gevano jujur.


"Dasar penggombal!" cibir Thania. Tapi meski begitu wajahnya memerah merona.


"Aku gak gombal, sayang. Aku ngomong jujur kok. Kamu makin cantik semenjak hamil."


Gevano melotot terkejut, kemudian menggeleng panik.


"Enggak, by. Bukan itu maksud aku."


"Terus maksud kamu apa?! Orang jelas-jelas tadi kamu bilang aku jelek!"


"Astaga, sayang. Aku gak bilang gitu, kan kamu sendiri yang bilang, Yang," kata Gevano mulai frustasi.


Dia tidak bilang bahwa istrinya itu jelek. Tapi kenapa Thania bisa berpikir begitu? Mana menyalahkan dirinya pula. Yang ngomong 'kan Thania sendiri. Tapi kenapa dia yang dituduh?


"Huh, iya deh. Seterah kamu," ketusnya mencebik.


Terdengar helaan nafas dari Gevano. Sepertinya Istri cantiknya ini merajuk. Tak biasanya Thania seperti ini. Apa ini efek dari kehamilannya ya?


"Ngomong-ngomong kenapa aku bisa hamil? Kita kan selalu main aman," celetuk Thania tiba-tiba.


Wajah sudah kembali terlihat biasa. Gevano bahkan tidak paham lagi, Thania berubah dalam sekali kedipan mata.


"Mungkin aja kondo--"


"Gevan! Aku lagi serius! Kalo kamu ngomong yang enggak-enggak, jangan harap aku mau ngomong lagi sama kamu!" peringat Thania mengancam.


Gevano langsung menutup erat bibirnya. Takut mendengar ancaman Thania. Ini lah yang terjadi ketika suami takut kepada istrinya. Diancam sedikit saja sudah ketar ketir.


Thania yang melihat Gevano langsung mengangguk puas. Kemudian kembali berpikir.


"Kok bisa hamil ya?" gumamnya sambil berpikir.


Gevano diam-diam ikut berpikir. Hingga kejadian terakhir kali mereka berhubungan berputar di otaknya.


Matanya membulat dengan wajah panik.


'Bisa gawat kalo Thania tau!' batin Gevano gusar.

__ADS_1


"Gev, waktu kita main kamu selalu gunain pengaman 'kan?" tanya Thania dengan mata memicing.


Wanita itu sadar akan perubahan ekspresi gusar di wajah suaminya. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gevano. Dan Thania yakin ini ada hubungannya dengan kehamilannya.


Karena, tidak mungkin 'kan dirinya tiba-tiba hamil? Padahal mereka selalu main aman. Thania bukannya tidak senang dengan kabar kehamilannya. Tetapi ia hanya belum siap.


Sebelum menikah Thania membuat kesepakatan dengan Gevano. Bahwa mereka tidak akan memiliki anak dalam waktu dekat.


Karena Thania masih ingin berkuliah dan mengejar cita-citanya. Tentu saja Gevano tak keberatan. Ia menyetujui kesepakatan tersebut.


Itulah sebabnya mereka selalu bermain aman. Tapi kenapa sekarang ia bisa kecolongan?


"Gev, aku lagi nanya loh. Gak mau jawab? Aku yakin kamu pasti tau sesuatu 'kan?" tanya Thania dengan senyum manis tapi terlihat mengancam bagi Gevano.


Mau tak mau Gevano akhirnya berbicara jujur.


"Terakhir kita main waktu itu 'kan kamu pingsan tuh," jelas Gevano menjeda.


"Lanjut!" kata Thania memerintah. Tangannya sudah terlipat di depan dada. Wajahnya datar tanpa ekspresi.


Gevano meneguk ludahnya, istrinya ini terlihat berbeda dari biasanya.


"Ja- jadi aku tetep la- lanjutin itunya. Ta- tapi..." ujar Gevano menggantung.


"Tapi?"


"Ta_ tapi, a- aku kehabisan pe- pengaman."


"Lanjutin!"


Gevano menjilat bibirnya yang terasa kering. Kemudian kembali membuka mulut.


"Te- terus a- aku lupa ngeluarin di dalam." Suara Gevano semakin mengecil.


Thania mengangguk mengerti, "Pantes aja hamil." Tangannya mengelus perut ratanya.


Gevano melirik ekspresi istrinya yang masih datar.


"Kamu gak marah?" tanya Gevano hati-hati.


"Kenapa harus marah?" tanya Thania balik.


Mata Gevano berkedip polos, "Emangnya kamu beneran gak marah karna hamilin kamu?"


Pertanyaan konyol macam apa itu? Tentu saja Thania tidak marah. Mereka sudah menikah, wajar-wajar saja jika ia hamil. Beda lagi jika Thania hamil sebelum menikah. Barulah ia marah karena Gevano menghamilinya diluar pernikahan.


Meski sebenarnya Thania belumlah siap untuk memiliki momongan. Tapi takdir berkata lain. Tuhan menitipkan sesosok bayi di dalam rahimnya. Maka Thania akan menerimanya dengan senang hati. Karena biar bagaimanapun ini adalah darah dagingnya.


"Ya enggak lah! Ya kali aku marah," ketus Thania.


Gevano tersenyum lebar, ia bersiap memeluk Thania. Tapi dihentikan oleh Thania. Salah satu tangan wanita itu terangkat lebar menghadap ke wajah Gevano.


"Mau apa kamu?" tanyanya sinis.


"Mau peluk."


"Gak! Gak ada peluk-peluk!"


"Kok gitu!" pekik Gevano tak terima.


Thania hanya mengedikan bahu acuh, kemudian membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata.


"Kamu tidur di sofa," kata Thania ketika merasakan Gevano yang hendak berbaring di sebelahnya.


"Aku mau tidur di samping kamu!"


Thania membuka sebelah matanya, "Nurut atau aku ngambek?"


Gevano membuang nafas kasar, lalu berbalik dan berjalan menuju sofa dengan kaki dihentak kesal. Persis seperti seorang gadis yang merajuk.


Sedangkan Thania kembali memejamkan matanya. Tidak peduli dengan Gevano yang merajuk padanya. Entahlah kenapa dia tiba-tiba berubah acuh kepada pria itu. Biasanya dia tidak begini, apa mungkin bawaan jabang bayinya?


Bersambung...

__ADS_1


Maaf baru bisa up. Sebenarnya aku gak ada niatan buat lanjut cerita ini. Karna menurutku ceritanya ngebosenin banget. Tapi karna banyak yang minta lanjut jadi aku lanjut lagi. Semoga ke depannya aku punya alur cerita yang gak bikin bosen🙏


__ADS_2