
"Gib, semua udah beres. Gua udah hajar geng Xevior angkatan lima, empat sama tiga. Tinggal angkatan dua dan satu aja yang belum kita basmi," lapor Kenzo kepada Gibran.
Gibran menyunggingkan senyum miring. "Bagus. Kita serang markas mereka besok malam. Latih anak buah kita untuk persiapan besok malam!" perintah Gibran.
"Baik!"
Kenzo berujar tegas, dia berbalik dan keluar dari ruang kerja Gibran. Setelah kepergian Kenzo, Gibran mengambil ponselnya lalu menekan beberapa digit nomor. Kemudian menempelkan benda persegi panjang itu ke telinga kanannya.
Tidak butuh waktu lama sambungan telefon tersambung. Orang di seberang sana memulai obrolan.
"Ada apa'an lo nelfon gua?"
"Geng gua udah hajar angkatan lima, empat, sama tiga seperti yang lo minta. Tinggal serang markas utama, dan semuanya selesai," kata Gibran dingin.
Terdengar gelak tawa di seberang sana. "Hahaha. Bagus, bagus. Lo emang saudara gua yang paling the best!" ujarnya memuji.
Gibran tetap berwajah datar. "Gua tutup telfonnya," kata Gibran, lalu tanpa basa-basi lagi dia memutus sambungan telefon antara dia dan Marcell.
Pemuda tampan itu menyenderkan punggungnya ke kursi kerjanya. "Nggak habis pikir gua sama si Marcell, kenapa dendam banget si sama Geng Xevior?" gumam Gibran menghela nafasnya.
Dia sebenarnya tidak ingin melakukan ini semua. Tapi jika bukan karena Marcell saudara tirinya, tak sudi dia diperintah seperti ini. Apalagi menyerang geng lain hanya karena alasan sepele. Cih.
...[][][]...
"Jadi yang ngerusak gerbang di sekolahan kita itu elo?" tanya Rafael memastikan.
Gevano menganggukan kepalanya.
"Terus yang bonyokin motornya Arga juga lo?" tanya Aldo ikut nimbrung.
Sekali lagi Gevano menganggukan kepalanya.
"Dan lo ngurung Thania di gudang belakang sekolah kita yang kotornya naudzubillah sampe malem?!!" pekik Vino terkejut.
Lagi dan lagi Gevano membalas pertanyaan temannya dengan anggukan serta deheman dan wajah datarnya.
"Gila." Mereka bertiga berkata kompak dengan kepala yang digelengkan secara perlahan dan membuat wajah seolah-olah tidak percaya.
"Dari dulu Bang Gevan emang udah gila, Bang," timpal Arga dingin.
Gevano melirik tajam Arga. "Nggak ngaca. Lo sendiri juga sama gilanya kayak gua! Pacar buat kesalahan dikit langsung lo sekap di kamar seharian," sinis Gevano.
"Ya masih mending di kamar. Dari pada di gudang?" balas Arga santai.
Dia akui jika gadisnya membuat kesalahan sekecil apapun itu. Dia pasti akan menghukumnya dengan mengurung gadis itu di kamar apartemennya selama semalaman penuh. Tapi itu masih lebih baik dari pada dikurung di dalam gudang bukan?
Kamar miliknya luas, ada AC, ada TV, dan juga banyak camilan yang memang sudah ia siapkan khusus untuk gadisnya. Sementara gudang? Sempit, pengap, dan kotor.
Dia juga tidak pernah main tangan kepada gadisnya. Kecuali kalau sedang marah atau cemburu, dia secara tidak sadar memegang pergelangan tangan gadisnya kelewat erat. Yeah, hanya itu. Selebihnya tidak.
Jadi lebih baik mana antara dia dan Gevano? Tentu saja dia. Benar bukan?
"Lo kalo cemburu nggak perlu kayak gitu, Bang. Kasian tu anak orang lo gampar, habis itu dikurung di gudang sampai masuk Rumah sakit," kata Ravin, ketua kelompok angkatan dua serta teman sekolah Arga.
"Gua khilaf," jawab Gevano tanpa beban.
__ADS_1
Ngelakuin kesalahan yang sama selama beberapa kali itu bisa disebut khilaf nggak?
"Khilaf kata lo?! Sumpah Gev gua nggak ngerti sama jalan pikiran lo," sahut Galang tak percaya mendengar jawaban Gevano.
"Iya Gev, lo udah keterlaluan banget sama Thania. Harusnya lo itu kayak gua! Tampan, tajir, lembut sama cewek, nggak pernah main tangan---"
"Iya nggak pernah main tangan, soalnya lo mainnya hati bukan tangan," sindir Gerry memotong perkataan Rafael.
"Ya nggak papa main hati, yang penting nggak main fisik ye kan?" balas Rafael sinis.
"Nggak main fisik tapi main hati sampe ceweknya depresi anjir! Itu mah lebih parah!"
Rafael menatap tajam Gerry yang dibalas hal serupa oleh pemuda itu. Keduanya saling melempar tatapan tajam. Sampai Aldo berceletuk untuk melerai tatapan tajam kedua pemuda itu.
"Udah, udah jangan debat! Dari pada ngomong yang bisa berujung pertengkaran mending kita joget aja! Main Tiktok!" seru Aldo semangat.
Mereka semua memandang datar Aldo yang berseru semangat sambil berdiri dari duduknya.
"Dasar korban Tiktok," cibir Aksel.
"Ya nggak papa korban Tiktok, dari pada korban perasaan!" balas Aldo menjulurkan lidahnya ke arah Aksel membuat Aksel berdecak.
Tiba-tiba Galang berdiri, lalu dengan suara keras dia bernyanyi.
"AWAAAAKK DEWE TAU NDUWE BAYANGAN."
Kemudian Aldo melanjutkan dengan wajah sumringahnya.
"MBESOOK YEN WES WAYAH OMAH OMAHAN... AKU MOCO KORAN SARUNGAN!"
"KOWE BLONJO DASTERAAAANNN!"
"SAIKI WES DADI KENANGAN!!"
"AAAKU, KARO KOWE WES PISAHAN!"
"KOWE NGIRI AKU NGANAN!"
"KEBALIK BEGO! HARUSNYA AKU NGIRI KOWE KANAN!" semprot Aldo sambil melempar sendal jepitnya hingga mengenai jidat Galang.
Galang mengelus jidatnya yang terkena lemparan maut Aldo. "Ya suka-suka gua lah! Gua kan bukan orang yang suka ngiri! Ya udah gua milih kanan aja!" balas Galang sewot dengan mata melotot.
"Bukan kayak lo yang lebih milih ngiri dari pada nganan! Dih, dasar tukang ngiri!" cibir Galang.
"ANJIRR! NGGAK GITU JUGA BELALANG!!" teriak Aldo depresot.
"YA TERUS APA?!! LO SENDIRI TADI YANG TADI BILANG AKU NGIRI!" jawab Galang ikut ngegas.
"YA BUKAN GITU JUGA ANJ---"
"Sekali lagi kalian teriak nggak jelas, lo-lo pada gua gantung di Pohon Beringin depan gang sana!" ancam Gevano mulai kesal dengan keributan yang dibuat oleh Galang dan Aldo.
"Ya jangan dong, Bos! Entar kalo gua digoda sama Mbak Hihi gimana? Kalo Galang yang digoda si nggak masalah," ucap Aldo yang mendapat pelototan tak terima dari Galang.
"Heh! Enak aja! Lo aja kali yang digoda sama Mbak Hihi! Secara kan lo jomblo nggak laku!" protes Galang.
__ADS_1
"Ngaca woi ngaca! Lo juga jomblo ye Rumput bergoyang! Eh, rumput ilalang!"
"Gua jomblo tapi banyak yang suka! Nggak kayak lo, udah jomblo, nggak ada yang suka lagi!"
"Sok tau lo! Gini-gini gua juga banyak yang suka ya!! Bahkan para ciwi pada ngantri buat bisa jadi pacar gua!"
"Dih, masa? Nggak percaya tuh gua?" ejek Galang dengan wajah menyebalkan.
Aldo menatap dendam Galang.
"Tadi aja lo pada kompak nyanyinya, kayak BESTie. Terus kenapa sekarang malah musuhan?" ucap Rafael jengah.
"Dia duluan yang mulai!" sulut Galang.
"Ngapa jadi nyalahin gua! Orang yang mulai lo duluan kok!" balas Aldo sewot.
"Jangan berisik!! Kalo kalian berisik! Gua nggak main-main lagi buat nyeret kalian ke Pohon Beringin terus gua gantung tubuh kalian di sana! Biarin aja kalian digoda sama Mbak Hihi! Kalo perlu dibawa Wewe Gombel aja sekalian! Iklas lahir batin gua," kata Gevano dengan pedas.
Galang dan Aldo langsung kicep.
"Duduk!" perintah Gevano dingin.
Tanpa banyak kata Galang dan Aldo langsung duduk.
Hening.
Tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Sampai akhirnya Arga membuka suara membuat mereka mengalihkan pandangannya.
"Ada yang pengen gua omongin sama kalian," ucap Arga terdengar serius. Eh, sejak kapan Arga tidak pernah serius? Setiap hari juga dia selalu serius kan?
Mereka merubah rautnya menjadi ikut serius.
"Mau ngomong apa?" tanya Ravin.
"Ada yang mau ngehancurin Geng kita," ucap Arga langsung pada intinya.
Gevano menatap penuh Arga. "Siapa?" tanyanya.
"Lo inget sama cowok yang waktu itu ketemu di warteg Mpok Atik?" balas Arga bertanya balik.
Gevano mengangguk. "Inget."
"Dia yang pengen ngehancurin Geng kita."
Mereka semua diam mendengarkan obrolan antara Ketua Anggota dan Wakil Ketua Anggota itu dengan serius.
Kening Gevano berkerut. "Lo yakin? Gua sama dia nggak pernah punya masalah, Ga. Jadi buat apa dia ngehancurin Geng kita?"
"Gua udah pernah bilang, kalo dia nggak punya masalah kita. Berarti orang terdekatnya yang punya masalah sama kita, atau sama lo!"
"Sama gua? Tapi kenapa mereka mau ngehancurin Geng kita? Kenapa bukan gua?"
"Karena mereka tau, kalo Geng ini hancur. Maka lo ikut hancur!"
"Jadi, dalang dibalik semua ini adalah..?"
__ADS_1
"Marcell."
Bersambung...