
Thania menatap takjub cermin yang menampilkan dirinya. Dress yang dibawa oleh Gevano tadi pagi sangat pas di tubuh gadis itu.
Thania bahkan tak percaya jika itu adalah dirinya.
Dengan balutan dress hitam selutut yang kontras dengan kulitnya yang putih. Make up tipis yang terlihat nartural. Rambut panjangnya disanggul agar terlihat lebih rapi dan elegan. Lalu high heels yang senada dengan dressnya.
Sungguh, Thania terlihat cantik saat ini!
"Ini beneran gue kan?" tanyanya masih tak percaya.
Ia menepuk pipinya berulang kali, apakah ini nyata. Atau sekedar ilusi belaka.
"Ini nyata bro," gumamnya setelah memastikan bahwa ini bukanlah ilusi, mimpi atau hal semacamnya.
"Hahaha. Emang bener ya kata pepatah, kalo orang yang jarang pake make up sekalinya pake pasti keliatan cantik banget."
"Gue aja nggak percaya kalo ini muka gue," sambungnya masih berdiam diri di depan kaca.
Lalu terdengar suara mesin mobil membuat Thania buru-buru mengambil dompetnya dan berlari turun ke bawah. Sedikit susah karena memakai sepatu hak tinggi.
Saat sampai di bawah Thania merapikan penampilannya. Lalu berdehem sebelum membuka pintunya.
Setelah itu ia membuka pintunya dan tersenyum manis kepada Gevano yang berdiri membelakanginya.
"Gevan, aku udah siap. Ayo jalan," ujar Thania keluar dari rumah dan menutup pintunya.
Tak lupa ia juga menguncinya agar tak ada maling yang masuk. Karena Nathan sekarang sedang lembur sampai tengah malam. Jadi tidak bisa pulang lebih awal.
Gevano membalikan badannya bertepatan dengan Thania yang selesai mengunci pintu.
Senyum manis Thania perlahan lenyap saat melihat wajah Gevano. Bukan, bukan karena Gevano berubah menjadi orang lain. Tidak. Ini bukan tentang itu.
Tapi ini beda! Sangat beda!! Demi apapun Gevano sangat tampan malam ini!! Eits, bukan berarti kemarin-kemarin Gevano tidak tampan. Tidak kok, dari dulu Gevano memang sudah tampan. Dan Thania mengakui itu semua.
Namun sekarang, pemuda itu jauh lebih tampan dan dewasa. Dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja putih. Lalu poninya yang biasanya menutupi jidatnya sekarang disisir rapi ke belakang hingga menampilkan jidatnya yang mulus.
Gevano melihat Thania dengan tatapan mendamba. Gadisnya terlihat cantik dengan dress yang ia belikan. Tak salah ia memilih dress itu untuk dipakai oleh kekasihnya ini.
Keduanya saling memandang dengan tatapan beradu. Semenit kemudian Thania memutus kontak mata itu dengan memalingkan mukanya yang memerah.
"A- ayo jalan, udah hampir jam tujuh malem," ucap Thania salah tingkah.
Gevano tersenyum tampan, ia mengulurkan tangannya ke arah Thania yang dibalas tatapan bingung gadis itu.
Gevano yang memiliki sifat tak sabaran akhirnya langsung menarik tangan Thania untuk mengapit lengan kirinya.
"Biar makin keliatan mesranya," kata Gevano yang melihat Thania semakin salah tingkah.
Gadis itu tersenyum malu-malu lalu mulai ikut berjalan beriringan bersama Gevano.
Pemuda tampan itu membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Thania masuk ke dalam mobil dan duduk nyaman di samping kursi pengemudi. Gevano menutup pintu mobil dengan lembut setelah memastikan Thania nyaman di dalam.
Dia memutari mobil dengan sedikit berlari. Membuka pintu itu, masuk dan duduk di kursi pengemudi. Menoleh singkat untuk sekedar memberi senyum kepada gadisnya.
Kemudian menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah milik Thania. Tangan kirinya mulai menggenggam tangan Thania. Sementara tangan kanannya fokus memegang stir pengemudi.
Keduanya sampai di Mansion besar keluarga Zibrano dengan tangan saling bertautan.
Gevano keluar dari mobil, dan berlari kecil menuju pintu samping mobil. Membuka pintu itu agar Thania bisa keluar. Tangannya ia ulurkan dan disambut tangan lentik milik Thania.
Salah satu kaki Thania lebih keluar dari mobil, lalu disusul oleh gadis itu. Thania menatap bangunan di depannya dengan tatapan takjub.
Menoleh ke arah Gevano yang tersenyum sambil menatapnya. "Ayo masuk," ajak Gevano mulai menggandeng tangan Thania.
__ADS_1
"Ini rumah siapa?" tanya Thania disela langkahnya.
"Mansion keluarga aku," jawab Gevano masih tetap tersenyum.
Thania tiba-tiba berhenti membuat Gevano ikut berhenti.
"Kenapa tiba-tiba berhenti?" bingung Gevano.
"Ini Mansion keluarga kamu? Serius?"
"Ya serius dong, sayang."
"Ke- kenapa kamu ngajak aku ke sini?"
"Nanti kamu juga tau sendiri. Ayo."
"Tapi-- tapi---"
"Ayo sayang."
Gevano menarik tangan Thania dengan gemas. Mau tak mau Thania kembali berjalan dengan berbagai macam pertanyaan.
Jangan bilang bahwa ia ingin dikenalkan kepada kedua orang tua Gevano! Waduh. Dia masih belum siap. Bagaimana jika kedua orang tua Gevano tak suka padanya? Bagaimana jika mereka galak lalu menendangnya keluar dari sini?
Thania tak bisa membayangkan jika mendapat penolakan dengan sadis seperti itu! Karena terlalu banyak berpikir. Membuatnya tak sadar jika mereka sudah sampai di ruang tengah.
Di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan mereka.
"Sayang, jangan ngelamun terus. Kita udah sampai nih," bisik Gevano kala mendapati Thania yang melamun.
Thania mengerjap, lalu menoleh ke arah Gevano. "Apa? Kamu tadi ngomong apa? Aku nggak denger," tanyanya.
Gevano menarik nafasnya pelan. "Kita udah sampai, sayang."
Seketika tubuhnya menegang dengan tangan yang berkeringat dingin. Anjir. Kenapa mereka semua menatap intens padanya! Kan Thania jadi salah tingkah.
Gevano menarik Thania agar lebih dekat. Gadis itu sempat menolak karena takut, malu, dan bingung harus bagaimana. Tapi Gevano tetaplah Gevano. Tak mendengarkan perintah apapun.
"Ma, Pa, kenalin. Ini Thania kekasihnya Vano," ucap Gevano memperkenalkan Thania dengan senyum lebarnya.
Thania hanya berdiri dengan kikuk dihadapan kedua orang asing yang dipanggil Papa Mama oleh Gevano. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa kedua orang ini adalah orang tua Gevano.
"Ha- hai Om, Tante. Saya Thania," kata Thania dengan sopan. Meski terkesan canggung.
Kiara tersenyum lembut menatap Thania. "Dia cantik banget, kamu pinter Van kalo milih pacar," pujinya membuat pipi Thania merona.
"Ma- makasih, Tante," ujar Thania malu-malu.
Tiba-tiba Geisya datang dan merangkul tangan Thania. "Kakak malam ini jadi cantik. Kayak princess m Tapi tetep cantikan Geisya si, hehehe," cengir Geisya.
"Niat muji nggak si lo?" sinis Gevano yang berada di sisi kanan Thania.
"Apa si! Dasar Abang jelek! Kumel! Dekil! Jorok!"
Gevano melotot tajam ke arah Geisya yang dibalas juluran lidah oleh gadis itu. Thania yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kedua kakak adik ini tak pernah akur!
Bahkan tadi pagi saat keduanya berkunjung ke rumahnya, mereka selalu bertengkar seperti Tom And Jerry. Thania sampai pusing menghadapi tingkah keduanya
"Sabar ya, mereka emang gitu," kikik Kiara melihat Thania yang menghela nafasnya.
Thania tersenyum, "iya, Tante."
"Oke nggak perlu lama-lama lagi. Mari kita laksanakan acara pertunangan ini sekarang juga."
__ADS_1
Tiba-tiba suara seseorang yang amat familiar di telinganya membuat Thania menoleh ke sumber suara.
"Bang Nathan?" kaget Thania.
Nathan tersenyum menatap Thania. Ia juga sempat memberikan kedipan mata singkat kepada adiknya itu.
Kenapa Nathan bisa ada di sini? Dan apa maksud dari kedipan mata tadi itu?! Lalu arti dari kata tunangan itu apa maksudnya? Siapa yang akan bertunangan?
"Ayo." Gevano menarik tangan Thania yang masih bingung.
Thania yang masih terkejut sekaligus bingung hanya menurut apa yang dilakukan oleh Gevano. Mereka berjalan ke tengah-tengah lantai.
Gevano merogoh saku jasnya. Lalu berlutut di depan Thania yang semakin terkejut oleh tindakan Gevano.
"Keyla, mungkin aku emang pernah nyakitin kamu terus menerus. Bahkan sampai buat kamu masuk Rumah sakit. Aku juga tau kalau kamu jalin hubungan sama aku karena terpaksa. Tapi, aku bener-bener serius cinta sama kamu. Dan aku juga janji akan berubah demi kamu. So, do you want to be engaged to me?"
"A- apa?"
"Yes or want?"
"Gevan--"
"Iya atau mau?" tanyanya sekali lagi.
Tangis haru tak dapat dibendung oleh Thania. Gadis itu mengangguk dengan air mata mengalir.
Gevano tersenyum kecil, lalu mulai mengambil cincin itu dan memasangnya di jari manis Thania. Ukurannya pas di jari manis Thania. Bibir Gevano mengecup tangan gadis yang dicintainya.
Lalu berdiri dan memeluk erat Thania. "Makasih udah mau nerima aku. Setelah lulus SMA, kita akan nikah. Dan aku nggak nerima penolakan," bisiknya posesif.
Thania tertawa kecil dan mengangguk pelan dalam pelukan hangat Gevano.
Tepuk tangan meriah terdengar di Mansion itu. Keduanya melepas pelukannya dan saling melempar senyum satu sama lain.
Nathan bertepuk tangan yang paling keras. Tak ia sangka bahwa adiknya akan bertunangan lebih dulu dari pada dirinya. Tapi, it's okey. Yang penting nanti nikahnya dia duluan. Bersama kekasih, Zila.
Nathan menggengam tangan Zila dan tersenyum kepada gadis itu.
"Apa senyum-senyum!" ketus Zila, tapi tak bisa dipungkiri bahwa pipinya memerah.
"Nanti kita nggak usah pake acara tunangan, langsung nikah aja ya?" bisik Nathan sedikit menunduk.
"Apa sih!" Zila jadi salah tingkah mendengar bisikan Nathan ya ampun!
Sedangkan Geisya, gadis kecil itu bertepuk tangan heboh sambil memakan cup cake yang disuapi oleh Arga.
Ngomong-ngomong tentang Nathan. Pemuda itu memang sudah merestui Gevano dan adiknya. Dan itu semua berkat Rey dan Kiara yang memberi pengertian kepada Nathan. Juga berkat bantuan Zila yang terus merengek agar memberikan kesempatan untuk Gevano berubah.
Awalnya Nathan tak mau, tapi akhirnya luluh juga oleh rengekan Zila, Kiara ditambah lagi Geisya. Adiknya Gevano yang awal pertama mereka bertemu, ia langsung digoda oleh gadis kecil itu.
Tapi setelah mengetahui bahwa itu adalah kekasih kakak sepupunya. Geisya tak lagi merayunya dengan gombalan ala anak alay.
Itulah akhir kisah dari pasangan Gevano dan Thania. Semua yang berawal dari keterpaksaan bukan berarti berakhir sad ending. Tapi awal mula dari kehidupan baru kita.
...**END....
Oke, ceritanya end dengan gejenya😌
Terima kasih buat kalian yang udah dukung karya abal-abal aku ini. Mohon maaf apabila ada kata yang menyinggung atau hal semacamnya 🙏
Oh ya, aku punya cerita baru**. My little girl. Ini kisah tentang Gibran dan Geisya. Kalau kalian minat bisa mampir ke cerita baru aku ya😉
Thank you all💜
__ADS_1