
Setelah membawa Thania ke tempat yang aman, yaitu kamarnya. Gevano keluar setelah mengunci semua pintu dan jendela. Agar tak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam.
Gevano berlari menuju halaman depan. Beberapa musuh berlari menyerangnya. Gevano dengan gesit berlari menghindar. Saat ada kesempatan ia akan memukul lawannya dengan begitu sadisnya.
Lima orang itu tumbang, Gevano kembali berlari hingga sampai di tengah kerumunan. Ia mencari keberadaan Marcell yang sejak tadi tak terlihat oleh pandangan matanya. Dimana pemuda itu saat ini?
"Dimana dia?" tanya Gevano melirik ke kanan dan kiri.
Tunggu dulu, ada yang janggal. Terakhir kali ia melihat Marcell sebelum Thania menyelematkannya. Kemudian ia tak melihatnya lagi karena diselimuti oleh amarah. Yang ia pedulikan hanyalah membalas orang yang telah memukul Thania.
Apa mungkin?
"****! Sial!!"
Gevano berbalik, berlari menuju ke dalam Markas. Kenapa dia begitu bodoh sampai tak bisa berpikir jernih!
Gevano berlari menaiki anak tangga. Disaat seperti ini ia lupa bahwa di sini masih ada lif. Ia berhenti sejenak mengatur nafasnya yang memburu hebat. Kemudian melirik ke atas, tinggal sedikit lagi.
Gevano berlari lagi hingga sampai di ujung tangga ia mulai berjalan mendekati pintu kamarnya yang tertutup rapat.
Tangannya memegang kenop pintu, lalu menekannya. Tapi tak bisa. Ia mengambil kunci di saku celananya. Lalu memasukan kuncinya dan memutarnya. Namun tak bisa.
Klek, klek, klek.
Sialan, pintunya terkunci dari dalam!
"MARCELL!! KELUAR LO, BANGSAT!! GUE TAU LO DI DALEM!!" teriak Gevano emosi.
BUK!
Gevano menendang pintu kamarnya. "KELUAR ANJING!!!!"
Gerry datang menghampiri Gevano yang sedang marah-marah.
"Gev, hah hah gawat," kata Gerry ngos-ngosan.
Gevano melirik Gerry. "Kenapa?"
"Di luar, makin rusuh! Anak-anak Xevior kewalahan ngadepin mereka, Gev! Geng Verlix sama Geng Dragster, kuat banget!" jelas Gerry dengan nafas memburu.
Wajah Gerry dipenuhi dengan lebam, dan keningnya sedikit mengeluarkan darah. Keringat juga membasahi tubuhnya.
"Bangsat!!"
Di saat seperti ini Gevano bingung harus mendahulukan yang mana dulu. Antara Thania dan Geng, keduanya sama-sama penting dalam hidup Gevano.
"Gev, ayo buruan! Mereka bisa mati kalo lo lama mikirnya!" desak Gerry.
Pemuda itu benar-benar panik sekarang. Nyawa teman-temannya ada diujung tanduk. Telat sedikit saja mereka bisa mati. Apalagi jika harus menunggu bala bantuan datang. Pasti itu akan lama.
"Ya udah ayo kita ke depan!"
Ia tak bisa membiarkan anggotanya kehilangan nyawa mereka. Biar bagaimanapun ini adalah tanggung jawabnya sebagai pemimpin Xevior.
Kedua pemuda itu berlari menuju lif. Tapi saat pintu lif terbuka, Gevano malah berhenti membuat Gerry ikut berhenti.
"Gev, kenapa lo berhenti?" tanya Gerry.
"Gue nggak bisa." Pandangan Gevano mengarah pada pintu kamarnya.
"Maksud lo?"
Gevano menoleh kepada Gerry. "Gue nggak bisa ninggalin cewek gue gitu aja! Apalagi sama bajingan kayak dia!" ujarnya.
Lalu kembali menatap pintu itu, sebelum berlari kencang untuk mendobrak paksa pintu tersebut tanpa menghiraukan pandangan bingung Gerry.
Tubuh Gevano melompat ke atas, ia berteriak keras.
BRAAAKK.
Dengan sekali tendangan, pintu itu rubuh. Padahal pintu itu terbuat dari kayu pilihan yang tidak gampang rusak bila didobrak seperti itu.
Gevano mendarat dengan baik, untung saja dia sering berolahraga. Jadi masalah keseimbangan seperti ini ia masih bisa menjaganya agar tak terjatuh.
Gerry melihat itu dari kejauhan. Apa yang dilakukan pemimpinnya itu?! Mendobrak pintu kamarnya sendiri?
__ADS_1
Gevano masuk ke dalam, ia melihat Thania yang masih berbaring nyaman di ranjangnya. Ia menghela nafas lega.
Tapi tak sepenuhnya lega, kala seseorang tiba-tiba datang entah dari mana lalu menodongkan senjata ke kepala Thania.
"Marcell!" Gevano menatap tajam Marcell si pelaku penodong.
Sudah ia duga, pemuda ini pasti ada di sini!
Marcell tertawa sarkas. "Tendangan lo kuat juga buat robohin pintu itu," katanya.
Gevano menatap nyalang Marcell. "Jauhin pistol itu dari dahi cewek gue!!!"
Marcell tersenyum miring. "Kalo gue nggak mau, lo mau apa??"
"Gue bilang jauhin! Atau lo tau akibatnya!" peringat Gevano tajam.
Marcell memasang ekspresi takut. "Huhu, aku takut..."
Kemudian tertawa keras. "Hahaha. Lo pikir gue takut sama anceman lo hah?! Lo itu udah kalah! Masih aja belagu! Liat anggota lo di bawah sana! Mereka nggak bisa berbuat apa-apa! Dan lo," Marcell memandang rendah Gevano.
"Lo sebagai pemimpin nggak becus jaga anggota lo! Apalagi jadi kekasih dari cewek malang ini," Marcell beralih menatap wajah Thania yang terpejam.
"Lo nggak bisa ngelakuin apapun buat dia! Lo cuma nyakitin dia doang, tapi dia malah nyelamatin lo sampai pingsan kayak gini."
"Ck, ck, ck." Kepala Marcell menggeleng prihatin. "Kasian banget cewek secantik dia punya pacar kayak lo. Kenapa nggak gue aja ya yang jadi pacarnya? Coba aja waktu itu gue lebih dulu ketemu sama dia dibanding lo. Pasti sekarang dia udah bahagia sama gue."
Marcell semakin memprovokasi Gevano. Ia senang melihat wajah marah pemuda itu. Marcell merasa bangga dengan dirinya sendiri karena berhasil membuat pemuda itu marah.
Sekali lagi ia bicara, Marcell yakin Gevano tak bisa menahan amarahnya lagi. Pemuda itu pasti akan meledak saat itu juga.
"Gimana kalo gue, ambil dia dari lo?" kata Marcell dengan senyumnya.
"TUTUP MULUT LO BAJINGAN!!! SAMPAI KAPAN PUN THANIA CUMA MILIK GUE!! NGGAK ADA YANG BISA NGAMBIL DIA DARI GUE TERMASUK LO!!!"
Meledak sudah amarah yang ditahan oleh Gevano sejak tadi. Gevano melangkah menghampiri Marcell. Tapi ancaman Marcell membuatnya berhenti dengan wajah memerah karena marah.
"Berhenti di situ! Atau lo bakal liat kematian gadis ini di depan mata lo sendiri!"
"Jangan macem-macem!" ucap Gevano rendah. Tatapannya mengarah pada Thania dengan waspada.
"Kalo gue mau macem-macem gimana?" Marcell menatap Thania dengan tatapan menggoda.
Namun Marcell hampir menarik pelatuk pistolnya, membuat langkahnya terhenti.
"Kalo lo beneran maju lagi selangkah. Jangan salahin gue kalo cewek lo mati saat itu juga!"
"Mundur!" perintah Marcell.
Gevano memundurkan langkahnya. Matanya masih mengawasi Thania.
"Jangan apa-apain Thania, dia nggak salah apa-apa. Kalo lo mau, lo boleh sakiti gue. Tapi lepasin Thania! Masalah lo itu sama gue, bukan sama dia," ucap Gevano menatap putus asa Marcell.
Dia tak bisa melakukan apapun untuk melindunginya Thania. Ia bingung harus bertindak seperti apa lagi. Anggotanya di luar membutuhkannya, Thania juga membutuhkan dirinya. Tapi ia tak bisa melakukan apapun untuk mereka.
Ia adalah pemimpin terburuk, dan kekasih terburuk. Gevano tak menyangkal semua itu. Karena memang benar, ia buruk menjadi pemimpin maupun menjadi seorang kekasih.
Marcell tertawa angkuh. "Gue suka liat lo kayak gini! Tatapan memohon, putus asa, bingung. Gue suka! Udah lama gue pengen liat raut lo kayak gitu. Dan sekarang akhirnya semuanya terwujud. Hahahaha."
Gevano mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia meninju wajah angkuh itu agar berhenti tertawa. Namun mengingat bahwa Thania bisa mati kapan saja jika ia mengambil tindakan gegabah. Membuatnya urung, ia tak ingin membahagiakan gadis itu.
Gevano sudah berkali-kali membuat Thania celaka. Ia tak ingin mengulanginya lagi.
"Kalo lo pengen cewek ini selamat. Lo harus sujud di kaki gue!" imbuh Marcell tersenyum smirk.
Gevano mengangkat wajahnya dan menatap penuh amarah Marcell. Ia meludah.
"Cih! Gue nggak sudi sujud di kaki lo!"
Marcell menggeram marah. "Kalo lo nggak mau. Cewek ini gue tembak!!"
Marcell menekan pelatuknya secara perlahan.
"Satu,"
"Dua,"
__ADS_1
"Ti---"
"Jangan!!!"
Saat Marcell akan melesatkan pelurunya, Gevano menggeleng kencang. "Gue, gue akan sujud di kaki lo!"
Marcell tersenyum miring, "pilihan bagus! So, tunggu apa lagi? Cepet sujud di kaki gue! Kalo perlu lo cium kaki gue!" tutur Marcell angkuh.
"Cepet ke sini! Tapi lo jangan macem-macem. Karna kalo lo macem-macem, gue bisa langsung narik pelatuknya dan dor! Cewek lo mati!" imbuh Marcell menirukan suara tembakan.
Gevano memandang datar Marcell. "Gue nggak akan macem-macem."
"Kalo gitu bagus! Jadi ayo cepet sujud di kaki gue!"
Gevano berjalan mendekat secara perlahan. Ia sengaja mengulur waktu.
"Jalan lo lembek banget si kayak siput!!! Cepet sedikit dong!!" bentak Marcell.
Gevano memandang datar Marcell. Tak mempedulikan bentakan Marcell. Gevano tetap berjalan lambat. Marcell berdecih sinis. Tapi tak berkomentar lagi.
Saat sudah sampai dihadapan Marcell. Gevano menatap wajah pucat Thania sebentar. Kemudian menatap Marcell yang tersenyum angkuh dengan dingin.
Mata Marcell mengode agar Gevano segera sujud di kakinya. Gevano paham arti tatapan itu. Ia perlahan menekuk lututnya. Tapi masih belum sujud, ia memandang keluar jendela dan pintu dengan bergantian.
"Ngeliat apa lo? Berharap ada yang nolong? Ck. jangan mimpi! Anggota lo mungkin udah mati di tangan anggota gue!" sarkas Marcell sinis.
Gevano menatap sekilas Marcell dari bawah. Sebelum akhirnya membungkukkan badannya. Ketika akan menyentuh kaki Marcell.
Tiba-tiba segerombolan orang muncul dari balik pintu. "Apa kami telat?"
Gevano menarik ujung bibirnya. Akhirnya yang ia tunggu sampai juga. Dan itu tepat waktu sebelum ia bersujud di kaki bajingan ini!
Marcell menatap orang-orang itu dengan mata membulat kaget. Saat ini ia sedang lengah, hingga ia tak sadar bahwa kesempatan itu dilakukan dengan baik oleh Gevano yang tiba-tiba bangkit dan menendang tulang keringnya.
"Akhh!!"
Marcell terpekik dan melemparkan pistol itu asal untuk memegang kakinya.
Gevano dengan gesit mengambil pistol itu, lalu mengarahkannya ke dahi Marcell. Marcell mendadak berhenti ketika ujung pistol menyentuh pelipisnya.
"Jangan kira gue kalah dude. Sejak awal gue selalu lebih unggul dari lo. Inget itu baik-baik sobat!" ucap Gevano dengan senyum miringnya.
Marcell menatap sekitar dengan pandangan waspada. Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa anggota Xevior angkata 3, 4, dan 5 bisa kabur dari markasnya!
"Oh? Lo bingung ya kenapa mereka bisa kabur dari markas lo?" Seolah mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Marcell, Gevano berceletuk.
"Ini semua udah direncanain sama gue dan yang lain sobat. Kita kalah hanya sebuah omong kosong! Karna sampai kapanpun Geng Xevior nggak akan pernah kalah! Nggak ada yang bisa ratain Geng ini! Sekuat apapun usaha mereka buat ngerusak Geng Xevior!"
Marcell meneguk ludahnya susah payah. Jika ia tak bisa kabur dari sini, tamat sudah riwayatnya. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa kabur dan keluar dari tempat ini! Satunya jalan keluar adalah lewat jendela!
DUK.
Marcell menyikut perut Gevano, setelah terlepas dari pemuda itu. Marcell langsung berlari cepat menuju jendela. Tapi Arga lebih cepat untuk menahan gerakan Marcell.
"Mau ke mana lo? Kabur?" ejek Arga memegang kedua tangan Marcell.
"Lepas!!!" Marcell memberontak dari cekalan tangan Arga.
Arga hanya menatap dingin Marcell. Tak berniat menuruti ucapan Marcell. Ia menyuruh Gerry mendekat dan memegang tangan Marcell.
Gerry mendekat dan ikut memegang Marcell di sisi kiri. Sedangkan sisi kanan dijaga oleh Arga.
"Lo udah milih lawan yang salah, Cel!" kata Gevano berjalan mendekat ke arah Marcell.
"Sekarang nggak ada kata ampun buat lo!!" lanjut Gevano mengarahkan pistolnya ke arah Marcell berdiri.
Marcell menatap tajam Gevano. Kemudian tertawa keras. "Kalo gue mati, cewek lo bakal gue bawa biar lo hancur! Dan gue bisa tenang liat kehancuran lo!"
Kemudian Marcell mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan Arga. Menendang pemuda itu hingga jatuh, dan menarik pistol di sisi pinggang Gerry setelah mendorong anggota inti Xevior itu.
Setelah itu Marcell melesatkan tiga peluru ke arah Thania yang berbaring.
DOR!
DOR!
__ADS_1
DOR!
Bersambung...