Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Empat Puluh Dua


__ADS_3

"Bang, pengen pulang..." rengek Thania menatap memelas ke arah Nathan.


Sedari tadi gadis itu merengek ingin pulang, membuat Nathan pusing mendengar rengekan Thania. Bukannya dia tidak ingin Thania cepat pulang ke Rumah. Tapi keadaan gadis itu masih belum pulih sepenuhnya.


Dia hanya tidak ingin memperparah kondisi Thania saja. Maka dari itu dia menolaknya dengan tegas. Tapi Thania tetaplah Thania si gadis keras kepala yang membuat orang geram dengan kepala batu gadis itu.


"Ya udah kalo gitu Thania nggak mau makan selama seminggu! Biarin aja gua di sini terus. Itu kan maunya, Abang?" kata Thania dengan ketus dan bersedekap dada.


Nathan menghela nafas. "Ya nggak gitu, Nia. Mana ada gua pengen lo terus-terusan di sini? Gua juga pengen lo cepet pulang---"


"Ya udah makanya ayo pulang, Bang!"


Perkataan Nathan terputus oleh ucapan Thania.


"Tapi keadaan lo belum pulih!" ucap Nathan.


"Entar juga pulih sendiri kalo di Rumah!"


Nathan mengusap wajahnya kasar. Pusing dia menghadapi tingkah Thania yang sudah keras kepala seperti ini.


"Bang, pulang..." rengek Thania lagi.


"Oke, oke! Bentar, gua tanya dulu ke dokternya!" kata Nathan menyerah.


Thania mengembangkan senyumnya. Dengan antusias dia mengangguk. Nathan pun keluar dari ruang rawat Thania.


Setelah Nathan pergi Thania termenung. Pikirannya sekarang tertuju kepada Gevano. Apa benar pemuda itu sudah melepasnya? Jika iya kenapa dia tidak bahagia?


"Gua ini sebenarnya kenapa si?" gumam Thania.


"Harusnya kan gua bahagia! Tapi kenapa hati gua nggak rela ya kalo pisah dari Gevan?" lanjutnya.


Ceklek.


Mendengar suara pintu terbuka Thania mengeryit. Kenapa kakaknya cepat sekali? Padahal dia kan baru saja pergi?


"Bang, kok cepet---?"


Thania berhenti begitu melihat yang datang ternyata bukan kakaknya. Melainkan orang lain.


"Gevan?" ucap Thania dengan wajah terkejut.


...[][][]...


Nathan keluar dari ruangan Dokter yang biasa menangani Thania. Hari ini adiknya akan pulang, karena Dokter itu sudah mengizinkan. Asalkan Thania tidak lupa untuk meminum obat dan istirahat dengan cukup.


BRUK


Tiba-tiba seorang gadis menabrak tubuhnya hingga menumpahkan Ice Coffe di bajunya.


"Astaga. Maaf, maaf nggak sengaja," ujar gadis itu panik. Tangannya mengelap baju Nathan yang basah.


"Iya nggak papa kok," balas Nathan sambil membersihkan bajunya.


Gadis itu mengambil sapu tangan yang ada di sakunya lalu kembali membersihkan baju Nathan.


"Eh, nggak usah. Gua bisa bersihin sendiri kok," tolak Nathan.


"Udah sini biar gua yang bersihin," kata gadis itu mendongak.


Wajah keduanya menampilkan raut terkejut.


"Zila?"


"Nathan?"


Keduanya berseru dengan kompak.


"Lo ngapain di sini?" tanya Nathan pada gadis itu yang tak lain adalah Arzila Kanaya Megantara. Teman kuliahnya.


Zila menarik tangannya dari baju Nathan. "Ini, gua tadi habis jenguk teman gua yang lagi sakit," jawab Zila.


"Lo sendiri ngapain di sini?" tanya Zila melanjutkan.


"Adek gua dirawat di sini," balas Nathan tersenyum kecil.


"Oh? Adek lo sakit?"


"Iya." Angguk Nathan.


"Sakit apa?"


"Demam."


"Terus sekarang keadaannya gimana? Udah mulai baikan?"


"Udah mendingan si. Ini dia juga mau pulang."


"Gua boleh jenguk dia nggak? Gua kan belum pernah ketemu adek lo, gua juga pengen kenalan sama dia," kata Zila sambil terkekeh pelan.


Nathan tersenyum. "Ya boleh lah. Ya kali gua nolak?"


"Siapa tau aja ya kan?"


"Enggak lah. Udah yuk kita ke sana," ajak Nathan mulai melangkah.

__ADS_1


"Eh, tunggu dulu!" cegah Zila.


Nathan menatap bingung Zila. "Ada apa?" tanyanya.


"Itu baju lo gimana?" tanya Zila menunjuk baju Nathan yang kotor akibat Ice Coffe-nya. Nathan mengikuti arah tunjuk Zila, kemudian kembali menatap gadis itu.


"Biarin aja, cuma noda kopi doang kok," balas Nathan.


"Tapi itu noda kopinya susah dihilanginnya."


"Nggak papa, Zil. Lagi pula ini cuma baju doang. Ice Coffe nya juga dingin, nggak panas. Jadi nggak usah ngerasa bersalah gitu lah," ucap Nathan tertawa kecil.


Zila mendengus. "Ya kalo kopi panas mah namanya bukan Ice Cofffe, tapi Hot Coffe itu mah!"


"Nah, itu tau. Udah lah yuk, kasian adek gua sendirian di sana," kata Nathan.


Zila mengangguk dan mulai berjalan berdampingan dengan Nathan.


...[][][]...


"Gimana keadaan lo?" tanya Gevano setelah menutup pintu.


Dia berjalan mendekat ke brankar Thania dengan wajah datar.


Thania yang masih dalam keterkejutannya mulai mengerjap. Dengan cepat gadis itu mengangguk. "Udah lumayan baik."


.


Gevano menjawab dengan anggukan, dia berdiri di samping ranjang Thania. "Lo mau pulang sekarang?" tanyanya melirik Thania lewat ekor matanya.


"Iya," jawab Thania menatap wajah Gevano yang datar tanpa ekspresi.


"Jangan pulang dulu, keadaan lo masih belum bener-bener pulih," ucap Gevano.


Thania diam tidak menjawab Gevano. Dia masih menatap wajah datar itu tanpa berkedip. Sejak kapan Gevano berbicara dengannya menggunakan logat lo-gue? Apa karena mereka sudah putus? Tapi benarkah mereka sudah putus?


Gevano yang tidak mendapat respon apapun dari Thania mulai menatap gadis itu. "Kenapa lo diem aja?" tanya Gevano.


"Kita beneran udah putus?" Tidak menggubris pertanyaan Gevano, Thania lebih memilih balik bertanya.


Wajah Gevano semakin datar. Dengan nada dingin dia membalas. "Ya."


Padahal dalam hati sudah berteriak. 'Enggak! Siapa yang bilang kita udah putus?! Orang kita cuma break sementara! Itu pun karena Abang lo! Kalo aja bukan karna Papa yang nyetujui permintaan Abang lo. Pasti nggak ada kata BREAK di antara kita. Apalagi kata putus!'


Mendengar jawaban Gevano, Thania menjadi sedikit senang. Tapi perasaan sedih lebih mendominasi saat ini.


"Oh ya, yang bawa gua ke sini itu elo?" tanya Thania mencoba terlihat biasa saja.


Gevano mengangguk. "Ya. Maafin gua karna waktu itu lupa udah ngunci lo di gudang," jawab Gevano masih dingin.


Saat hendak membalas, telinga Gevano menangkap suara seseorang yang sedang berjalan ke arah sini.


"*Lo ke sini sama siapa?"


"Sama sepupu gua."


"Terus orangnya di mana? Kok nggak bareng lo?"


"Gua juga nggak tau, padahal tadi udah gua suruh nunggu. Tapi malah nggak ada waktu gua keluar."


"Oh gitu. Eh, kita udah sampai."


"Di sini ruangannya? VIP?"


"Iya. Ya udah yuk masuk."


"Tunggu, tunggu, gua rapiin penampilan gua dulu ya bentar!"


"Ya udah cepetan."


"Iya*."


Dia kenal suara ini, suara abangnya Thania! Dan Nathan sudah ada di depan kamar rawat Thania. Gawat! Dia harus cepet-cepet keluar dari sini. Tapi lewat mana anjing!!


"Gev, lo kenapa keliatan panik gitu?" tanya Thania menatap bingung wajah panik Gevano.


"Abang lo udah balik, dia ada di depan sekarang. Gua harus cepet-cepet keluar!" ucap Gevano sambil berjalan ke sana ke mari.


Thania ikutan panik sekarang. "Ta- tapi lo keluar le- lewat mana?!" panik Thania.


"Jendela!" kata Gevano berjalan cepat menuju jendela.


Tapi begitu dia membuka jendelanya. Gevano langsung mundur. Sialan, dia lupa kalau ini di lantai paling atas. Jika dia nekat keluar lewat jendela, bisa-bisa dia terjun bebas menuju sakaratul maut!


"Udah yuk masuk."


Mereka sudah mau masuk! Tak punya pilihan lain lagi. Gevano langsung menutup tirai jendela. Thania yang melihat itu mengira bahwa Gevano melompat dari gedung ini. Jadi dia dengan cepat turun dari brankar, menarik tiang infusnya menuju jendela itu.


Saat akan membuka tirainya, pintu terbuka.


"Thania, lo ngapain di situ?" tanya Nathan yang baru masuk bersama Zila.


Thania menoleh dan tersenyum dengan canggung. Aduh, dia bingung harus menjawab apa.


"Bilang aja lo lagi liat pemandangan luar."

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah bisikan masuk ke dalam gendang telinganya. Saat Thania ingin menoleh, Gevano kembali berbisik.


"Jangan noleh! Entar Abang kamu curiga. Udah pasang muka biasa aja, seolah nggak terjadi apa-apa biar dia nggak curiga," bisik Gevano pelan.


Thania tidak jadi menoleh ke belakang, dia menatap Nathan dengan senyumnya. Nathan menatap curiga Thania. "E- enggak ngapa-ngapain kok, Bang. Ini cuma lagi liat pemandangan di luar aja!" alibi Thania.


"Yang bener?" tanya Nathan tak percaya.


Dengan cepat Thania mengangguk berkali kali untuk menyakinkan Nathan.


"Jangan lama-lama liatnya, nanti lo demam lagi," kata Nathan akhirnya, lalu berjalan mendekat membuat Thania panik.


"Bang, jangan ke sini!" teriak Thania membuat langkah Nathan berhenti.


"Kenapa?" tanyanya semakin curiga dengan gelagat aneh Thania.


"Karena... Anu, emm..." Duh, Thania harus jawab apalagi ya?!


Gevano yang bersembunyi di balik tirai mengurut pangkal hidungnya. Thania malah membuat Nathan semakin curiga. Sudah lah dia pasrah jika ketahuan oleh Nathan.


"Karena Thania mau ke situ, Bang! Jadi Abang nggak perlu repot-repot ke sini!" kata Thania akhirnya dengan senyum manisnya.


Melihat tatapan Nathan yang masih mencurigainya, Thania pun berjalan menuju Nathan. Saat kakaknya itu akan berbicara, Thania langsung memutusnya dengan mengalihkan pembicaraan.


"Eh, Bang itu siapa? Pacar Abang ya?" tanya Thania menunjuk Zila yang sejak tadi diam di belakang Nathan.


"Oh kenalin, ini Zila. Temen kuliah Abang, dan bukan pacar gua," jawab Nathan.


Zila tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya kepada Thania. "Zila."


"Thania," balas Thania menyambut uluran tangan Zila.


"Kirain pacar Bang Nathan," ucap Thania setelah bersalaman dengan Zila.


"Bukan. Kita cuma temen," kata Zila tersenyum kecil.


Thania mengangguk.


"Ya udah yuk duduk," ujar Nathan menyuruh Zila untuk duduk di sofa. Sedangkan adiknya dia suruh untuk duduk di ranjang.


Mereka bertiga berbincang hangat. Sebenarnya hanya Nathan dan Zila saja, sementara Thania akan menjawab seadanya. Matanya sekali-kali melirik ke arah tirai yang menutupi tubuh Gevano.


Sedangkan Gevano sendiri menggerutu jengkel di dalam hati sejak tadi.


'Sialan! Kenapa tu cowok harus dateng sekarang si?! Nggak tau apa kalo gua masih kangen berat sama Thania! Gua udah bela-belain ke sini dan ngelanggar larangan bokap gua! Tapi gara-gara kakaknya Thania pengorbanan gua sia-sia! Itu juga kenapa Kak Zila bisa ketemu Bang Nathan coba?!'


Bersambung...


Visual Cast Cowok:


Gevano Ananda Zibrano



Rafael Ariesandy Fernando



Vino Argantara Saputra



Nathaniel Kerlando Adhitama



Arga Leovan Megantara



Gibran Eldan Damareno



Visual Cast Cewek:


Nathania Keyla Adhitama



Anggita Sari Lesmana



Geisya Aurelia Zibrano



Arzila Kanaya Megantara



Gisela Cindy Damareno


__ADS_1


__ADS_2