Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Enam Puluh Tiga


__ADS_3

Terlihat dua orang yang sedang asik berpelukan di atas tempat tidur. Siapa lagi jika bukan Gevano dan Thania. Kedua pasutri muda ini sedang terlelap damai sambil berpelukan.


Sampai salah satu dari keduanya mengerjapkan kedua bola matanya. Melenguh pelan dan sedikit menguap. Lalu menatap langit-langit kamarnya. Bibirnya bergumam kecil dengan tangan yang bergerak mengelus perutnya.


"Pengen Spaghetti."


Melirik ke samping, tepat dimana wajah damai Gevano yang sedang tertidur pulas.


Ingin membangunkan Gevano tapi tak tega. Pasti suaminya itu lelah, setelah mengerjakan tugas kuliah ia langsung memeriksa beberapa dokumen. Dan baru selesai pukul 00.25 tadi.


"Duh, gimana ya? Gue pengen makan Spaghetti," ujar Thania gelisah.


Entah kenapa rasanya ia ingin memakan Spaghetti saat ini juga! Keinginannya ini seolah tidak bisa diganggu gugat. Jika ia abaikan, rasanya tidak nyaman.


menyingkirkan tangan Gevano yang melilit pinggangnya. Thania turun dari ranjang, berjalan keluar kamar menuju dapur. Ia sudah memutuskan untuk membuat Spaghetti sendiri.


Walau tak begitu yakin jika di dapur ada persediaan untuk membuat Spaghetti.


Sesampainya di dapur Thania membuka lemari es. Untuk melihat apakah ada beberapa bahan yang bisa ia masak atau tidak. Dan ternyata tidak ada. Hanya ada dua butir telur saja.


"Hiks gue lupa, gue kan belum belanja bulanan hiks," isak Thania kala teringat bahwa dirinya belum belanja bulanan karena disibukkan oleh tugas kuliah.


"Hikss, pengen Spaghetti!!! HUWAAAA." Thania menangis kencang.


Lalu terisak-isak dan membenamkan wajahnya dikedua lututnya. Posisinya saat ini Thania sedang duduk menekuk lututnya dengan kepala yang ia benamkan wajahnya disana.


Entah kenapa dirinya merasa sangat sedih karena keinginannya tidak bisa terpenuhi. Padahal dia sangat ingin memakan Spaghetti.


"Apa gue beli aja ya?" gumamnya, tangisannya berhenti sejenak. Kepalanya sedikit diangkat lalu bergumam sendiri.


"Tapi beli dimana? Ini kan udah malem, mana ada restoran yang masih buka."


Termenung sejenak sebelum berkata.


"Tapi gak ada yang tau kalo belum dilihat sendiri, kan? Siapa tau aja masih ada yang buka."


...***...


Thania berjalan di gelapnya malam. Udara dingin menembus jaket kain yang dipakainya. Tangannya beberapa kali mengusap lengannya agar mengurangi rasa dingin. Meski itu percuma saja.


"Cari restoran yang masih buka dimana ya?" gumam Thania.


Ia menatap sekitar, sangat sepi dan gelap. "Apa gue pulang aja ya? Lama-lama gue jadi takut."


Tangannya bergerak mengusap tengkuknya yang meremang. Perasaannya tidak enak, jadi Thania putuskan untuk kembali ke rumahnya saja. Namun. baru beberapa langkah tubuhnya dihadang oleh dua pria berperawakan besar dan terlihat menyeramkan di matanya.


"Lihat, kita punya mainan baru," ucap salah satu pria berjenggot kepada temannya.


"Hei, cantik. Mau kemana?" kata pria bertato yang hendak mencolek dagu Thania.


Tapi wanita itu lebih gesit untuk menghindar. Kakinya mundur ke belakang, menjauhi kedua preman itu.


"Ehh, kenapa mundur? Sini deketan sama abang," kata si pria berjenggot.


"Bener tu. Anak cantik kayak kamu gak baik keluar malem sendirian. Mending kita temenin aja. Gimana?" ujar pria bertato itu menggoda.


"Gak! Mundur!" teriak Thania panik.

__ADS_1


Kakinya semakin melangkah ke belakang.


"Oh, lihatlah gadis kecil ini. Mencoba bermain-main rupanya. Hahahaha," ledeknya.


"Udah lah gak perlu takut. Kita gak gigit kok. Hahaha."


Thania melirik ke kanan kiri, mencoba menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai alat perlindungan. Tetapi tak ada apa-apa di sini.


Karena tidak mempunyai alat untuk melindungi diri. Thania pun berancang-ancang untuk berlari selagi kedua pria itu tertawa. Namun sayangnya, lengannya ditarik mundur oleh salah satu pria bertato tersebut.


"Mau kemana, manis? Mau kabur ya?" tanyanya tersenyum menyeramkan.


"Lepasin!!" ronta Thania mencoba melepas cengkraman itu.


Tapi tentu saja itu percuma. Tenaga pria itu jauh lebih kuat dari pada tenaganya.


"Diem! Lo tinggal diem aja! Nanti juga rasain enaknya!" bentak pria berjenggot.


Thania sedikit takut mendengar bentakan itu. Tapi ia tak ingin diam saja saat dirinya dalam bahaya. Air mata sudah membanjiri wajah cantiknya.


Ia bingung harus bagaimana. Disaat-saat seperti ini Thania mengingat wajah suaminya.


'Gevano hiks hiks.'


Thania mengucap nama suaminya dalam hati. Ia berharap jika suaminya itu datang menyelamatkan dirinya.


Mata wanita itu membulat begitu jaketnya terlepas. Menyisakan piyama tidur berlengan pendek. Tak sampai disitu, piyamanya ditarik hingga kedua kancing atasnya rusak.


Thania menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Mau apa kalian!" teriak Thania kala kedua pria itu mendekat dengan tatapan lapar.


Thania menjerit saat tangannya ditahan kuat. Apalagi kedua pria itu berusaha melepas bajunya.


"Jangan hiks. Aku mohon jangan!!" tangis Thania.


Kedua pria itu tak mempedulikan. Mereka terus berusaha untuk melepas baju serta celana Thania. Saat tangannya hendak meraih kancing baju wanita itu. Tubuhnya ditarik ke belakang oleh seseorang.


Lalu orang itu menghajar pria berjenggot tersebut. Pria yang bertato itu tak tinggal diam saat melihat temannya dihajar oleh seseorang.


Thania langsung beringsut dan membenahi pakaiannya. Ia terisak sambil memandangi perkelahian ketiga pria itu.


Dua preman itu berhasil dikalahkan oleh pria yang menyelamatkan Thania. Mereka lari terbirit-birit dengan wajah babak belur.


Pria itu menghampiri Thania sambil mengambil jaket yang sebelumnya dilepas oleh para preman tersebut. Menyampirkan jaket itu dibahu Thania.


"Gak usah nangis, mereka udah pergi kok," ucap pria itu.


Thania tak menjawab, hanya mengeratkan jaket itu ke tubuhnya. Ia pun tak berani mengangkat wajahnya. Sedikit terguncang dengan apa yang dialaminya tadi.


"Ayo, gue anter lo pulang."


Pria tampan berdiri, lalu mengulurkan tangannya. Thania menatap tangan besar yang terulur di depan matanya. Ia sedikit mendongak dan menatap wajah tampan pria itu. Kemudian kembali menatap tangan tersebut.


Dengan ragu Thania menggenggam tangan pria yang menolongnya itu.


Setelah berdiri Thania hanya menunduk, "Rumah lo dimana?" tanyanya kepada Thania.

__ADS_1


Wanita itu melirik sebentar sebelum menggelengkan kepala. "Gak perlu. Gue bisa pulang sendiri. Makasih udah nolongin gue."


Thania berjalan meninggalkan pria itu. Tapi tangannya ditarik, tidak terlalu kuat. Namun, membuat tubuh Thania hampir jatuh jika saja tubuhnya tak ditahan oleh pria itu.


Thania terkejut, sedangkan pria tampan itu terdiam membisu melihat wajah cantik Thania dari jarak dekat. Dalam hati ia memuji kecantikan alami yang dimiliki perempuan itu.


"BANGSAT! LEPASIN ISTRI GUE!!"


Teriakan menggelegar penuh amarah itu membuat kedua manusia berbeda gender tersebut menoleh.


Thania membulatkan matanya melihat atensi Gevano yang berjalan ke arahnya dengan wajah memerah marah. Buru-buru dia melepas dekapan pria tak dikenalnya itu.


"Ge- Gevano," gagap Thania yang sudah menjaga jarak dari pria tersebut.


Hendak meraih lengan suaminya, tapi Gevano lebih dulu memukul wajah pria itu. Pria tampan itu kalap saat melihat istrinya dipeluk oleh laki-laki lain.


BUGH!


"BERANI BANGET NYENTUH MILIK GUE!!" teriak Gevano membabi buta.


Pria itu tak terima saat Gevano memukulnya. Jadilah ia membalas pukulan itu. Keduanya terlibat perkelahian sengit. Meninggalkan Thania yang kelimpungan sendiri melihat kedua pria itu saling menghajar satu sama lain.


"Gevano, berhenti!!"


Teriakan Thania tak ia dengarkan. Tuli, itulah yang Gevano lakukan. Tak mempedulikan teriakan wanitanya. Hatinya panas terbakar api cemburu.


"Gevano, hiks aku bilang berhenti."


Mendengar tangisan itu, Gevano menghentikan tindakannya yang menghajar pria asing tersebut. Ia berdiri dari atas tubuh pria tersebut. Nafasnya memburu.


"Ini peringatan buat lo! Sampai berani nyentuh istri gue lagi. Habis lo sama gue!!" kata Gevano dengan nada ancaman.


Thania berlari menuju pria yang terkapar dihajar suaminya. Belum sempat mendekat, tangannya ditarik oleh Gevano.


Thania menatap Gevano dengan berdurai air mata, "Gevan--"


"Pulang!!" sentak Gevano menyeret Thania.


Wanita itu menggeleng keras, "Kita gak bisa ninggalin dia gitu aja, Gevan. Kita ha--"


Gevano menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap tajam Thania. "Harus apa? Harus nolongin dia, gitu?!"


Thania mengangguk takut.


"Jangan harap! Sekarang pulang!"


Gevano kembali menyeret Thania. Wanita itu menggeleng, ia berusaha membujuk Gevano. Hatinya tak tega melihat pria itu terkapar seperti ini. Apalagi pria itu sudah baik menolongnya tadi.


Namun, yang namanya Gevano tetaplah Gevano. Ucapannya tak bisa ditentang dan dibantah. Pria tampan itu paling tak suka dibantah, dan Thania membuat amarahnya semakin membara.


Dengan sekali sentakan tubuh Thania melayang. Gevano menggendong Thania layaknya karung beras. Wanita itu memukul punggung tegap Gevano.


"Gevan, turun! Turunin aku!!"


Plak!


Gevano memukul pantat Thania, "Diem!"

__ADS_1


Bersambung...


Hai, maaf ya. Baru bisa update. Ada yang masih nunggu cerita ini?


__ADS_2