Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Enam Puluh Dua


__ADS_3

"Gevan, kamu tega ya nyuruh aku pake baju setebal ini dicuaca panas kayak gini?"


"Emang kenapa? Kamu cantik kok pake sweater itu."


"Cantik si cantik. Tapi ini gerah banget, Gevan!"


Gevano berbalik, "Ya udah nggak usah turun aja kalo gitu. Biar kamu nggak kegerahan. Gampang kan?" ujarnya dengan nada santai.


Thania menatap Gevano dengan pandangan tidak percaya. "Tapi aku bosen di kamar sendiri, Gevan! Kamu mah enak di bawah ada temen-temen kamu. Bisa bercanda gurau. Nah aku disini sendirian. Mau bercanda sama siapa aku? Tembok?" protes Thania dengan sarkas.


"Ya udah aku temenin. Yuk lanjut tidur aja." Gevano langsung menerjang Thania hingga terbaring di tempat tidur.


"Loh, loh. Kok jadi tidur lagi si?! Itu di bawah ada temen kamu! Nggak sopan banget ada tamu malah ditinggal tidur!" kesal Thania mencoba mendorong tubuh Gevano yang memeluk erat pinggangnya.


"Udah biarin aja. Toh mereka nggak akan keberatan kok," gumam Gevano memejamkan matanya. Dia semakin mendusel manja di tubuh sang Istri.


"Tetep aja itu nggak sopan, Gev," kesal Thania dengan nada gemas. Gemas ingin mencabik mulut suaminya ini. Tapi karena tak ingin menjadi Istri durhaka ia urungkan niatnya itu.


"Iya nanti aku ke sana kok. Sekarang aku pengen peluk kamu dulu. Kangen tau," ujar Gevano manja.


Thania merolingkan kedua bola matanya malas. "Tiap hari juga udah ketemu. Masih aja kangen! Dasar."


"Biarin. Orang kangen ke Istri sendiri kok, bukan ke cewek lain."


"Kalo kamu kangen cewek lain, aku gorok leher kamu!" sinis Thania.


Gevano terkekeh, "Galaknya istriku ini."


Bibirnya mengecup singkat pipi Thania yang terlihat gembul.


"Aku liat-liat kamu sekarang makin gembul ya," ucap Gevano.


Memang benar apa kata Gevano jika Thania semakin berisi. Pipinya pun sudah menggembil, perutnya juga sedikit berisi. Intinya tubuh Thania semuanya semakin berisi.


Membuat Gevano semakin senang memeluk Thania karena tubuhnya yang gembul. Dimatanya Thania terlihat lebih sexy, dan lucu.


Bruk!


"Aww."


Gevano meringis saat tubuhnya ambruk dari atas kasur akibat dorongan Thania.


"Kamu kenapa dorong aku sih? Kan aku jadi jat--"


Bruk!


Belum selesai berucap Gevano mendapat lemparaan bantal dari Thania. Astaga, apa kesalahannya?!


Gevano melihat Thania melototkan matanya. "KAMU NGATAIN AKU GENDUT?!!"


Gevano tersentak kaget mendengar teriakan keras Thania. Matanya mengerjap perlahan, "A- aku nggak ngatain kamu gendut, by..." rengeknya.


Jangan sampai Thania ngambek kepadanya. Jika itu sampai terjadi, bisa-bisa dia disuruh tidur di sofa nanti malam! Tanpa pelukan, tanpa ciuman, tanpa cuddle! Oh no! Membayangkannya saja Gevano sudah tak sanggup.


Dia harus bisa merayu Thania agar tidak marah.


"BA BY BA BY! KAMU PIKIR AKU BABI?!!"


Lamunan Gevano buyar mendengar teriakan Thania.


"Tuhkan salah lagi, Thania kenapa sensitif amat si sekarang," bisik Gevano dengan nada yang sangat pelan agar Thania tak mendengarnya.


Namun, sepertinya telinga Thania ikut sensitif, sehingga suara sekecil apapun itu ia dapat mendengarnya.


"NGOMONG APA KAMU?!!" delik Thania berkacak pinggang.


"E- eh, ng- nggak ngomong apa-apa kok."


Gevano berkata dengan gugup. Thania semakin galak, dan dia semakin ciut.


"Kamu pikir aku budek apa?! Aku denger gumaman kamu tadi ya! Kamu ngomong kalo aku ini sensitif kan?!"


"Ka- kamu salah denger, Sayang." Gevano mencoba membela diri.

__ADS_1


"Salah denger your eyes!"


"Dahlah, aku capek. Kamu mending keluar aja sana! Temui tuh temen-temen kamu diluar! Aku mau tidur aja!"


Thania berjalan menuju kasur, dan membaringkan tubuhnya membelakangi Gevano.


Gevano menghela nafasnya, dia bangkit dan menaiki kasur secara perlahan. Mendekat ke arah Thania dan membalikkan badannya.


"By, kamu nangis?!"


Gevano terkejut saat melihat air mata mengalir dari mata istrinya.


Thania menepis tangan Gevano yang ada di lengannya.


"Hiks, apa sih! Siapa juga yang nangis! Orang aku nggak nangis, ini kemasukan debu hiks," elak Thania dengan sesenggukan.


Gevano rasanya ingin tertawa mendengar ucapan Thania. Tidak menangis katanya? Anak kecil juga tau jika wanita itu menangis, bukan kemasukan debu. Dipikir dia ini bodoh apa?


"Masa si gak nangis?" godanya.


"Hiks, tau ah!"


Thania membalikan badannya, tubuhnya bergetar. Isakannya semakin keras.


"Udah, by. Jangan nangis lagi. Nanti tambah jelek loh."


Niat Gevano ingin bercanda, dan menggoda istrinya agar Thania tidak menangis lagi. Namun, sepertinya dia salah. Tangisan Thania bukannya berhenti malah bertambah keras.


Ia tidak menyadari bahwa ucapannya membuat suasana hati Thania semakin buruk.


"Hiks, hiks, HUWAAAA."


Gevano panik saat Thania menangis semakin keras.


"Sa- sayang, sstt. Udah jangan nangis dong," kata Gevano menenangkan.


"HIKS, AKU JELEK YA?! JELEK BANGET YA?!!" tangis Thania.


"Hiks, bohong!!"


Thania memukul dada bidang Gevano berkali-kali.


"Aku udah nggak cantik kan? Nggak seksi? Nggak langsing lagi? Keliatan gendut banget ya hiks? Pasti kamu hiks mau cari-- hiks cari cewek--"


Cup.


"Lain hiks---"


Cup.


"Yang hiks lebih can---"


Cup.


"Tik, dan lebih seksi--"


Cup.


"Dari hiks aku."


Cup.


"Ihh! Kok hiks cium-cium terus si!" kesal Thania karena sedari tadi Gevano terus mengecup bibirnya. Tangannya menghalangi bibir Gevano agar tidak mengecupnya lagi.


Gevano menggigit telapak tangan Thanai main-main, membuat wanita cantik itu memberenggut kesal dan menarik tangannya dari bibir Gevano.


"Kenapa ngomong gitu hm?"


"Aku benerkan? Kamu pasti mau cari cewek lain."


Manik hazelnya kembali berkaca-kaca. Tak lama kemudian tangisannya terdengar lagi. Kali ini dia memeluk Gevano erat sambil meracau.


"Hiks, hiks HUWAAA JANGAN TINGGALIN AKU!! AKU SAYANG BANGET SAMA KAMU HIKS. AKU, AKU JANJI BAKAL DIET. AKU BAKAL JAGA POLA MAKAN AKU HIKS. AKU JUGA BELAJAR HIKS MAKE UP. BIAR KA- KAMU HIKS NGGAK CARI CEWEK LA-- hmptt."

__ADS_1


Bibir Thania langsung dibungkam oleh Gevano. Dia menggigit bibir bawah sang Istri dengan gemas, lalu melepas ciuman itu.


"Jangan ngomong kayak gitu lagi," ujar Gevano dingin.


Thanka menatap wajah Gevano yang dingin dengan pandangan takut-takut.


Gevano yang menyadari bahwa Thania takut mulai mendesah lelah. Pandangannya ia lembutkan, tidak lagi dingin dan datar seperti tadi.


"Maaf kalo buat kamu takut, hm." Gevano berkata dengan nada lembut.


"Hiks, kamu marah?" isak Thania.


Gevano menggeleng pelan sambil mendekap Thania. "Enggak, by. Aku nggak marah, mana mungkin aku marah ke kamu. Aku tadi cuma kesel aja sama ucapan kamu, aku nggak suka."


Gevano melonggarkan pelukannya, menangkup pipi bulat Thania dan menatap tepat di manik hazel tersebut.


"Dengerin aku ya, kamu itu udah cantik. Kamu Istri yang paling sempurna buat aku. Dimataku kamu nggak ada duanya, cuma kamu satu-satunya yang bikin aku jatuh cinta. Jadi nggak mungkin kalau aku ninggalin kamu hanya karna fisik kamu berubah. Meski pun nanti kamu udah tua, udah keriput, udah beruban sekalipun. Aku akan tetep cinta sama kamu, by. Karna aku cinta kamu bukan karena fisik, melainkan hati. So, stop insecur. Kamu sempurna dimata aku."


Gevano mengakhiri kalimatnya dengan mengecup kening Thania tulus. Wanita itu menutup matanya, menikmati rasa nyaman ketika bibir sang suami menempel di keningnya.


Gevano melepas ciumannya, tangannya mengelus pipi halus Thania.


"Jangan ngomong gitu lagi ya. Aku bener-bener nggak suka," ujar Gevano pelan.


Thania mengangguk patuh dengan air mata yang mengalir. Bukan karena sedih, melainkan terharu.


"Hiks, iya. Maafin aku ya. Aku cuma takut kamu berpaling dari aku karna aku udah nggak menarik kayak dulu lagi," kata Thania sendu.


"Itu nggak akan pernah terjadi, Sayang. Sampai kapanpun. Aku jamin itu," ucap Gevano tegas.


Thania tersenyum, kemudian mengangguk percaya. "Aku percaya."


Gevano ikut tersenyum, "Gitu dong. Kan kamu jadi tambah cantik." Menggigit pipi tembam Thania lalu mengemutnya.


"Ih, Gevan lepas!" Thania mendorong bahu Gevano, gigitan itu akhirnya terlepas.


Thania langsung mengusap pipinya yang basah terkena air liur Gevano.


"Air liur kamu nempel nih di pipi aku! Huh!" kesalnya.


Gevano tertawa melihat wajah kesal Thania. Tangan kanannya ikut membantu mengusap pipi itu.


"Udah bersih, yuk makan. Kamu belum sarapan pagi," kata Gevano berdiri.


"Nggak. Aku nggak mau makan," tolak Thania yang dihadiahi dengan tatapan tajam khas Gevano.


"Makan!" ucap Gevano tegas tanpa ingin dibantah.


"Tapi aku nggak pengen makan," cicit Thania dengan bibir mencebik kesal.


Matanya sudah berkaca-kaca lagi. Entah kenapa dia merasa lebih sensitif akhir-akhir ini. Seperti tadi itu contohnya, setelah marah-marah. Dia malah menangis, padahal yang dimarahi kan Gevano.


Ketika membicarakan soal fisik, Thania juga bersedih. Padahal Gevano tak berniat menyinggung masalah itu. Lagipula tubuh Thania masih terlihat seperti sebelumnya.


Walau pipi dan perutnya sedikit membesar(?)


"Kalo kamu nggak sarapan pagi nanti kamu sakit, by. Makan ya?" rayu Gevano dengan mata memohon memelas.


Hanya di depan Thania saja dia begini. Jika di depan orang lain, jangan harap! Itu lain lagi.


Melihat tatapan memelas Gevano membuat Thania tidak tega. Akhirnya dia mengangguk pelan.


"Ya udah aku makan, tapi jangan nasi ya. Aku pengen makan oatmeal."


"Ya udah gak papa. Yang penting kamu mau sarapan. Aku suruh Bi Ijah buatin oatmeal nya dulu ya?"


"Iya. Jangan lama-lama."


"Iya, Sayang."


Setelah mengusap rambut Thania, Gevano pergi keluar untuk menyuruh Asisten Rumah Tangganya membuat Oatmeal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2