
Gevano baru kembali setelah mengangkat telefon dari Vino. Namun apa yang ia lihat di depan mata membuat amarahnya naik seketika.
"Beneran suka sama gue?"
"Iya, Lex. Lagian nggak mungkin ada cewek yang nggak suka sama lo."
Samar Gevano dapat mendengar pembicaraan kedua orang itu, yang semakin membuatnya marah.
Dengan langkah lebar, Gevano menghampiri mereka. Lalu tanpa perasaan ia memukul wajah Alex dengan kerasnya.
"Sialan!"
Thania melotot saat tiba-tiba Gevano datang dan memukul wajah Alex. Para pengunjung langsung menoleh ke arah keributan itu.
Alex mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Dia menatap nyalang Gevano.
"Apa maksud lo mukul gue?!"
"Masih tanya alasannya?! Cih! Tanpa gue kasih tau, lo juga udah paham pastinya!"
"Ini nggak kayak yang lo pikirin! Gue sama Istri lo nggak ngapa-ngapain," jelas Alex yang tentunya tak digubris oleh Gevano.
"Sekali lagi lo deketin Istri gue, habis lo di tangan gue!"
Gevano segera menyeret Thania keluar setelah memberi peringatan kepada Alex. Thania berusaha menyeimbangkan langkah kaki Gevano. Namun sulit, apalagi sekarang ia tengah membawa beban.
Saat sampai di mobil, Gevano mendorong Thania masuk. Meski terkesan sedikit kasar, tapi perlakuannya masih hati-hati karena ingat jika saat ini istrinya tengah hamil.
Gevano menutup pintu mobil dengan kencang. Melajukan mobilnya pergi dari kawasan restoran.
Dalam perjalanan, keadaan mobil begitu hening dan sunyi. Tak ada yang bersuara.
Thania tampak bungkam dengan pandangan kosong yang lurus ke depan. Enggan melirik Gevano yang berwajah kusut dengan aura suram.
Sesampainya di rumah, Gevano segera keluar mobil tanpa mengatakan apapun. Thania menghela nafasnya dengan berat. Sepertinya emosi Gevano masih belum stabil sejak tadi. Ia keluar dan menyusul Gevano ke dalam rumah.
Dia masuk ke kamarnya dan melihat Gevano berbaring di sofa dengan lengan yang menutupi sebagian wajah atasnya.
"Gevan," panggil Thania dengan pelan.
Gevano diam tidak menjawabnya. Thania tau bahwa laki-laki itu belum tidur. Wanita berbadan dua itu perlahan mendekati sofa tempat Gevano membaringkan diri.
"Van, aku minta maaf," lirih Thania saat sampai di hadapan Gevano.
Tak bergeming, Gevano tetap diam tanpa menjawab apapun. Thania dapat melihat luka samar-samar di sudut bibir Gevano.
Pertengkaran tadi begitu kuat. Gevano yang tiba-tiba datang dan memukul Alex tepat di hidungnya hingga mengeluarkan banyak darah.
Tak hanya disitu saja, pertengkaran keduanya masih berlanjut. Pelanggan di sana tak ada yang berani melerai. Thania sendiri kalut dan tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya bisa berteriak meminta Gevano untuk berhenti.
Yang tentunya hal itu akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Karena Gevano tak akan mendengarkan siapapun di kala emosi meliputinya.
__ADS_1
Namun untungnya penjaga di sana datang melerai keduanya. Gevano langsung ia tarik paksa untuk pulang setelah meminta maaf kepada pemilik resto sekaligus membayar ganti rugi atas semuanya.
Sedangkan Alex sendiri, ia tak tau apa yang terjadi pada pemuda tampan itu. Dia langsung pergi tanpa memikirkan apapun lagi. Dipikirannya adalah menenangkan Gevano sekaligus menjelaskan semuanya.
Tapi sepertinya Gevano tak mau berbicara sedikitpun padanya. Padahal Thania begitu cemas melihat wajah luka laki-laki itu.
"Gevan, bangun dulu. Lukamu biar aku obati terlebih dahulu," ujar Thania sedikit menyentuh lengan Gevano.
Sayangnya laki-laki itu menepis tangan Thania sebelum berhasil menyentuhnya.
"Mending lo tidur. Jangan pedulikan gue," jawab Gevano dengan tatapan dingin khasnya.
Dia bangkit dari sofa dan hendak berjalan keluar kamar. Thania mencegah dengan memegang tangan Gevano. Sekali lagi sebuah penolakan dia terima.
Thania sedikit sedih, tapi dia tak mau menyerah. Dia harus meluruskan kesalah pahaman ini sebelum terlambat.
"Van, apa yang tadi kamu denger itu salah. Aku sama Alex nggak ada hubungan apapun. Aku juga nggak suka sama Alex, tolong percaya ya?"
Gevano mendengus. "Lo pikir gue percaya? Dengan lo jelasin kayak gini, nggak akan bikin amarah gue luruh semudah itu, Than!"
Laki-laki itu membentak penuh emosi. "Lo udah tau gue gimana! Gue nggak suka liat lo sama cowok lain selain gue! Tapi kenapa lo masih berani deket-deket sama cowok lain?!"
"Lo bahkan bilang suka ke dia?!! Lo masih nganggep gue suami apa nggak si, ha?!"
"Aku nggak bermaksud begitu!" Thania menggeleng dan menolak gagasan yang diucapkan Gevano.
Tawa getir Gevano terdengar. "Terus maksud lo gimana?!"
"Ada siapa?! Lo ngira mata gue udah nggak sehat?! Mata gue masih sehat! Dan gue nggak liat orang lain di meja kita, selain lo sama dia!" potong Gevano.
"Nggak, kamu salah! Waktu itu kita bertiga, dan kebetulan cewek yang Alex bawa lagi ke toilet. Dan saat kamu datang---"
"Dikira gue anak kecil apa yang gampang dibodohi?"
"Udahlah, Than. Gue lagi nggak mau debat sama lo! Dan gue juga nggak mau lepas kendali!"
Gevano keluar dari kamar sambil membanting pintu. Thania hendak mengejarnya, tapi perutnya terasa sakit. Perutnya kram!
Thania yang tak ingin mengambil resiko besar, mendudukkan diri di ranjang sambil mengatur nafas. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Tangannya mengusap perutnya.
"Maafkan Mommy ya, baby," kata Thania berkata kepada bayi di kandungnya.
Matanya melirik ke pintu yang tertutup. "Mungkin Gevano mau menenangkan pikirannya dulu." Mulutnya berkata dengan nada kecil.
...***...
Gevano sampai di tempat basecamp miliknya. Sudah lama ia tak ke sini. Begitu masuk ke dalam, para anggota langsung menoleh padanya.
Mereka yang hendak menyapa Gevano mengurungkan niat saat melihat wajah pria itu begitu suram.
Namun Aldo malah berseru dengan nada gembira. "Wih, tumben lo ke sini, bos? Si Bu Bos gimana?"
__ADS_1
Aksel yang bermain gitar menimpuk kepala Aldo menggunakan kulit kacang. Matanya melototi Aldo dengan wajah garang. "Diem, tolol!"
Gevano menghiraukan pertanyaan Aldo. Ia duduk dan mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. Membakar ujungnya menggunakan api. Menghisap dan menghembuskan lewat mulut serta hidungnya.
Mereka semua paham, jika Gevano tengah seperti ini. Maka dia sedang ada masalah. Rafael yang dekat dengan Gevano membiarkan tanpa banyak bertanya.
Jika sudah tenang nanti, pasti Gevano akan bercerita dengan sendirinya. Sekarang biarkan Gevano mendinginkan pikirannya lebih dulu.
Benar saja, setelah menghabiskan 3 batang rokok akhirnya Gevano mau membuka suaranya.
"Gue berantem sama Thania."
Semuanya diam, menunggu kelanjutan cerita dari Gevano.
"Dan gue ninggalin dia sendiri di rumah." Helaan nafas berat terdengar dari Gevano.
"Gara-gara apa?" tanya Arga mengalihkan diri dari ponsel.
"Pasti cowok," tebak Gerry tepat sasaran.
Melihat keterdiaman Gevano, itu berarti tebakan Gerry adalah benar.
"Lo bisa cerito ke kita," ujar Rafael yang diangguki oleh mereka.
Akhirnya Gevano menceritakan masalah yang terjadi beberapa jam lalu.
"Tolol! Lo kenapa nggak dengerin penjelasan dari Thania dulu!" sembur Farel kesal.
"Gue marah! Dan gue nggak mau kelepasan ke Thania. Ya udah gue tinggalin dia gitu aja. Lo tau gimana emosi gue, Fa!"
"Terus sekarang lo masih marah ke dia?" tanya Arga.
"Masih. Ya gimana gue nggak kesel liat Thania lagi sama cowok lain." Gevano berkata ketus.
"Kalo udah nggak kesel lagi, mending lo buru-buru balik, bang. Kasian kak Thania di rumah sendiri, apalagi dia lagi hamil tua. Jangan kemakan ego sama amarah lo, kesampingkan hal kayak gitu. Karna yang lebih penting keselamatan kak Thania," saran Arga bijak.
Jarang-jarang Arga mau berkata panjang lebar seperti itu.
Gevano merenungi saran Arga. Benar juga. Thania sekarang sedang hamil, di rumah mereka tak ada siapapun. Bagaimana jika Thania kesulitan saat tak ada dirinya? Yang paling parahnya lagi, bagaimana jika Thania terluka?
Berbagai pikiran negatif mulai merasuki pikiran Gevano. Pria muda itu buru-buru mengambil kunci motornya dan bergegas pergi dari sana.
"Thanks ya!" teriak Gevano kepada teman-temannya.
Mereka hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Gevano. "Bos lo bodoh banget," celetuk Aldo kepada Aksel.
"Bos lo juga, bodoh!" balas Aksel sedikit kesal.
Aldo menyengir tak bersalah. Sementara yang lain kembali beraktivitas seperti sebelumnya.
Bersambung...
__ADS_1