
"BANG GEPAN!!!!"
Teriakan menggelar itu membuat Gevano yang asik tidur sambil memandangi wajah cantik istrinya menjadi terganggu.
Dia berdecak jengkel, "Ck, masih pagi udah ganggu aja tu bocah!" gerutu Gevano bangkit dari tempat tidurnya.
Gevano harus keluar dan menemui bocah itu sebelum dia membangunkan tidur Thania. Tangannya mengambil kaos lalu memakainya dengan cepat dan keluar dari kamarnya.
"BANG GE---"
"Apa'an si teriak mulu! Masih pagi juga!" ketus Gevano sambil menuruni anak tangga dengan tampang datar.
Gadis itu menyengir melihat kakaknya datang. "Hehe, Bang. Kak Thania mana?" tanyanya antusias.
"Masih tidur. Lo jangan berisik."
"Tumben banget Kak Thania belum bangun jam segini? Biasanya juga udah rapi," gumam Geisya.
"Dia kecapekan, makanya bangun siang," cetus Gevano seraya meneguk air dingin yang ia ambil dari lemari es.
"Lo ke sini sama siapa?" tanya Gibran setelah meneguk air minumnya.
"Sama Kak Gibran. Tuh dia." Geisya menunjuk pemuda tampan yang baru tiba.
Gevano hanya mengangguk saja. Lalu berlalu menuju ruang tamu. Diikuti kedua sejoli itu di belakangnya.
Mereka duduk di sofa.
"Gimana kabar Papa sama Mama?" Gevano membuka suara lebih dulu.
"Papa sama Mama baik, Bang," balas Geisya.
Kemudian mata Gevano beralih pada laki-laki yang duduk di samping Geisya.
"Terus lo sama dia gimana? Dia gak nyakitin lo kan?"
Geisya menggeleng, "Enggak. Kak Gibran baik sama Geisya."
"Ya bagus deh. Kalo dia nyakitin lo bilang sama gue. Biar gue hajar dia," kata Gevano.
Gibran memutar bola matanya kesal, "Ck, gue nggak akan nyakitin orang yang sayang." Ia berdecak sebal.
Gevano mengedikan bahu acuh. "Ya mana tau kalo lo nanti tiba-tiba nyakitin adek gue kan? Kalo lo ngelakuin itu, gue orang pertama yang nonjok muka lo!" sarkas Gevano.
"Lo bisa nonjok muka gue sepuasnya kalo misalkan gue emang nyakitin Geisya," kata Gibran serius.
"Hm, gak lo suruh juga gue bakal bonyokin muka lo itu."
Geisya yang mendengar perdebatan keduanya hanya mendengus kesal. Selalu seperti ini! Setiap mereka bertemu, pasti akan berbicara itu lagi! Apa mereka tidak bosan? Dia saja sudah sangat jengah mendengar perkataan mereka yang itu-itu saja.
"HELLO GAYSS, ALDO DATANG KEMBALI NIIHH. ADA YANG KANGEN NGGAK?" Tiba-tiba anggota inti Xevior masuk ke dalam rumah Gevano dan berteriak tanpa tau malunya.
Hanya Aldo saja sebenarnya yang tak tau malu.
Plak!
Gilang menggeplak kepala belakang Aldo. "Masuk ke rumah orang itu yang sopan! Ucap salam! Jangan teriak-teriak gak jelas! Lo kira ini hutan apa?" kesalnya.
__ADS_1
"Ya, maap." Aldo meringis ngilu sambil mengusap kepala bagian belakangnya.
"Ck, kalian berdua tu sama-sama gak ada adab!" sahut Arga dengan nada dinginnya. Berjalan melewati keduanya dan duduk di sofa samping Gevano.
"Dasar bocah gak punya sopan santun!" delik Gilang.
Arga hanya menatap datar Gilang.
"BANG ALDOO!!" Geisya berteriak dan berlari menubrukkan badannya ke tubuh Aldo.
Pemuda tampan itu dengan sigap menangkap tubuh Geisya dan menjaga keseimbangan agar tak jatuh.
"Bang, Geisya kangen tau," rengeknya dengan bibir mencebik imut.
Aldo terkekeh tampan, "Bang Aldo juga rindu sama Geisya."
Keduanya saling tertawa tanpa menyadari ada kilatan mata tajam yang siap mencabik-cabik tubuh Aldo. Kedua tangannya terkepal erat di bawah meja, wajahnya memerah menahan amarah. Darahnya sudah mendidih hebat kala melihat gadisnya memeluk laki-laki lain di depan matanya!
Mendadak Aldo merinding. Ia mengusap tengkuknya. 'Kok gue merinding ya?' batinnya dengan mata mengedar was was ke segala arah.
Lalu matanya berhenti ketika maniknya beradu pandang dengan tatapan tajam milik Gibran.
Glek.
Pantesan bulu kuduknya berdiri. Ternyata ada iblis to. Eh? Tak salahkan kalau Aldo menyebut Gibran itu iblis? Ya nggak salah dong. Orang Gibran itu memang titisan iblis kok.
"Em, Sya. Le- lepasin dulu." Aldo berusaha melepas pelukan Geisya.
"Ih, nggak mau! Geisya masih kangen sama Bang Aldo." Gadis itu merengek dengan bibir mengerucut lucu menatap Aldo yang semakin ketar ketir di tempat.
Apalagi melihat tatapan Gibran yang sudah siap membunuh mangsanya. Waduh, bisa mati dia kalau si Gibran sampai marah.
"Tapi---"
Sret.
"Kalo dia pengen lepas ya lepas, Sayang. Jangan dipaksa, hm." Tiba-tiba Gibran datang dan menarik Geisya hingga gadis itu berada dalam pelukannya.
Aldo bernafas lega. Tapi tidak terlalu lega karena Gibran masih menatapnya buas.
"Hehe, gue duduk dulu ya! Capek!" Aldo langsung berlari cepat menuju samping Gevano, dan menyembunyikan wajahnya di ketiak ketuanya itu.
"Heh! Apa'an si lo, Do! Lepas nggak!" Gevano menyentak Aldo yang merengsek ke arahnya.
"Duh, bos. Gue takut sama adek ipar lo! Tolong biarin gue gini sebentar aja ya, plis!" Aldo menatap memelas Gevano yang mengeryit kesal.
"Ck, kenapa ke gue! Kenapa nggak ke Gilang, Arga. atau Aksel gitu!"
"Ya kan lo kakak iparnya, bos. Jadi si Gibran kagak bakal berani macem-macem ke gue kalo ada lo."
Gevano memutar bola matanya jengah. "Terserah lo dah."
Semuanya sudah duduk di tempat masing-masing sambil memakan camilan yang mereka ambil di dapur Gevano. Tak tanggung-tanggung mereka juga memesan pizza dan cola dingin. Yang membayar tentu saja bukan mereka, tapi Gevano.
Sedangkan Gibran sudah membawa Geisya pulang, karena tidak ingin jiwa genit gadisnya itu keluar. Sungguh, dia ingin sekali membakar orang yang berani menyentuh gadisnya. Dia cemburu okey!
Maka demi kenyamanan jiwa iblisnya, Gibran memutuskan untuk pulang saja.
__ADS_1
"Gue denger-denger di kelas lo ada murid baru ye?" tanya Gilang kepada Gevano.
"Hmm." Gevano berdehem.
"Cewek apa cowok, bos?" Gilang kembali bertanya dengan antusias.
"Kenapa? Mau lo gebet?" Gevano melirik Gilang.
"Tau aja lo, bos!"
"Ya udah gebet aja. Dia cantik kok." Rafael ikut menyahui.
"Wih, berarti cewek dong?" Mata Gilang sudah berbinar-binar.
"Bukan."
"Loh, kok bukan? Katanya cantik? Berarti cewek kan?" heran Gilang.
"Bukan cewek. Tapi waria. Hahaha."
Semuanya langsung tertawa mendengar ucapan Rafael, kecuali Gilang yang sudah berwajah masam.
"Sialan kalian!" umpat cowok itu kesal.
Tak lama kemudian suara langkah kaki menuruni tangga membuat mereka semua mengalihkan pandangannya. Terlihat Thania yang berjalan pelan dengan kemeja kebesaran di tubuhnya.
Wajah cantiknya masih terlihat mengantuk. Sesekali ia akan menguap sambil mengucek kedua matanya.
Gevano langsung bertindak cepat menuju Thania. Dia menerjang tubuh itu dan mendekapnya kelewat erat.
Mata Thania yang tadinya masih sedikit terpejam langsung terbuka lebar karena terkejut.
"Eh? Kamu kenapa si, Gev?" tanyanya heran melihat suaminya memerangkap tubuh kecilnya.
"Kenapa kamu turun pake baju kayak gini, hm?" Tidak membalas pertanyaan heran Thania. Gevano malah bertanya balik dengan nada rendah.
"Emang kenapa si?" heran Thania mencoba melepas pelukan Gevano.
Tapi suaminya itu semakin erat memeluknya. Thania jadi sedikit kesusahan untuk bernafas.
"Ganti bajunya! Ayo!"
"Enggak. Aku mau pake ini aja!"
"Nggak boleh! Disini ada temen aku! Aset milik aku nggak boleh diumbar-umbar!" kata Gevano dengan nada posesif.
"Eh? Temen kamu? Mana?" Thania mencoba mengintip, tapi tak bisa karena terhalang tubuh besar Gevano.
"Ganti baju dulu! Ayo!" Gevano melangkah menaiki tangga dengan tubuh memeluk Thania.
Perempuan itu sedikit kesusahan. Menyadari hal itu Gevano berhenti dan menatap mereka semua dengan pandangan tajam.
"TUTUP MATA KALIAN SEBELUM GUE COLOK! BERBALIK! JANGAN ADA YANG BERANI NGINTIP!" teriak Gevano keras.
Mereka semua langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan mata tertutup.
Tanpa aba-aba lagi Gevano langsung mengangkat tubuh Thania dan menggendongnya ala koala. Thania mengalungkan tangannya ke leher Gevano, matanya menatap teman-teman suaminya yang memejamkan mata seperti perintah Gevano tadi.
__ADS_1
Pemuda itu berjalan cepat menaiki anak tangga. Sepertinya dia harus menghukum istrinya ini agar tak kembali memakai kemeja tanpa dalaman apapun!
Bersambung...