Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

Gevano mendorong tubuh Agnes dengan kasar. Tatapannya menusuk ke arah mata perempuan itu.


"Lo udah gue peringatin, jangan deketin gue lagi! Tuli ya lo?!" bentak Gevano kasar.


Laki-laki itu merasa kesal dengan sifat Agnes yang masih saja mendekatinya. Padahal ia sudah memberi peringatan keras kepada perempuan itu agar berhenti mengejarnya.


Bahkan ia sudah memberikan pelajaran setimpal kepada Agnes setelah perempuan itu hampir membuat Thania celaka. Akibat masalah ponsel waktu itu.


Agnes bangkit berdiri. Ia memberi raut wajah kesal.


"Kurangnya gue apa, Van?! Gue cantik, gue pintar, gue kaya. Banyak cowok yang suka sama gue! Tapi gue lebih milih lo dari pada mereka semua! Harusnya lo--"


"Emang gue minta lo buat ngejar gue?" potong Gevano.


Agnes langsung terdiam. Gevano mendengus sambil menarik sudut bibirnya. "Nggak ada yang minta lo buat ngejar gue! Itu kemauan lo sendiri! Jadi jangan salahin gue yang jelas-jelas nggak salah!"


Laki-laki itu berbalik hendak meninggalkan Agnes ditengah kerumunan mahasiswa yang menonton mereka sejak tadi. Benar. Gevano saat ini berada di kampus, tepatnya di kantin.


Sebelumnya, ia sedang makan siang bersama Thania. Tapi sekarang istrinya berada di toilet, dan tiba-tiba saja Agnes datang tanpa diundang. Lalu mengganggu dirinya, membuat mood Gevano memburuk.


Maka dari itu ia lebih memilih pergi menyusul Thania untuk meredakan amarahnya. Namun perkataan Agnes membuat darahnya mendidih.


"Fine! Ini emang kemauan gue sendiri! Tapi apa salah kalo gue suka sama lo?! Gue nggak ada kurangnya, Gevan! Gue lebih sempurna dari Istri lo itu!"


Dengan tak tau malunya perempuan itu berteriak dan melanjutkan ucapannya. "Gue bahkan bisa muasin lo lebih dari dia! Cerai'in aja dia! Dan lo nggak akan nyesel milih gue!"


Gevano seketika berbalik, tatapan benar-benar tajam. Bahkan pisau pun kalah tajam dengan tatapan Gevano.


Kakinya melangkah mendekati Agnes. Jarak keduanya kini sangat dekat. Perempuan itu menahan nafasnya, ia mampu mencium bau dari tubuh laki-laki itu sangking dekatnya jarak mereka.


"Lo mau gue cerai'in Thania?" Suara rendah Gevano terdengar dirungu Agnes.


Semua orang menahan nafasnya, hawa gelap dapat dirasakan oleh mereka dari tubuh laki-laki itu. Tapi berbeda dengan yang dirasakan Agnes. Perempuan itu tak merasakannya adanya ancaman pada diri Gevano.


Agnes mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Gevano. Tentu dia ingin Gevano bercerai dengan Thania! Dengan senyum culas Agnes membayangkan wajah sengsara Thania saat diceraikan oleh Gevano.

__ADS_1


"Akhh!" Tiba-tiba Agnes terpekik. Matanya melotot saat Gevano menjambak rambutnya kuat.


"Jangan mimpi, *****! Sampai kapanpun gue nggak akan pernah pisah sama Thania! Apalagi demi cewek busuk kayak lo! Nggak sudi banget gue, najis!" maki Gevano tanpa segan.


Agnes meringis sakit. "Van, sakit! Lepas!"


Gevano segera melepas jambakan itu. "Jangan pernah lo nyebut nama istri gue dengan mulut busuk lo itu!"


"Emang kenapa?! Istri lo nggak ada cantik-cantiknya, Van! Dia bahkan nggak punya kelebihan apapun dibanding gue!"


"Terserah lo mau ngomong apa! Mau dia nggak cantik, mau dia nggak sempurna, gue tetep cinta sama dia! Dan, walaupun lo lebih sempurna, tapi setidaknya Istri gue lebih baik dibanding lo! Dia nggak punya hati busuk macam lo!"


Agnes mengepalkan tangannya. "Lo bakal nyesel, Van! Cewek yang lo bangga-banggain itu nggak lebih dari sampah! Bahkan bayi yang dikandungnya pun pemba--"


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Agnes. Bukan Gevano yang melakukan, tapi Thania lah pelakunya. Wanita itu sudah tiba beberapa menit lalu, tapi adegan cekcok antara Gevano dan Agnes membuatnya tak bergegas menuju suaminya.


Dia ingin melihat bagaimana perempuan itu menggoda suami orang. Dan melihat reaksi seperti apa yang akan Gevano tunjukkan. Awalnya Thania biasa saja, meski perempuan itu menghinanya.


Tapi saat bayi dalam kandungannya dibawa-bawa, wanita itu langsung tersulut emosi. Dan tanpa takut melayangkan tamparan keras di pipi perempuan tersebut.


Wajah Agnes menoleh ke samping sangking kerasnya tamparan Thania. Gevano yang terkejut dengan kedatangan tiba-tiba sang Istri menjadi kaku. Namun tak lama kemudian ia berubah cemas.


Bukan mencemaskan Agnes. Ia cemas dengan kondisi tangan Thania sehabis menampar pipi perempuan itu. Pasti tangannya merah, panas dan sakit. Gevano tak ingin istrinya sakit. Tapi ia pun tak memiliki keinginan untuk menghentikan aksi sang Istri.


Thania menjambak rambut perempuan itu, sama seperti Gevano menjambak Agnes beberapa saat lalu.


"Lo boleh hina gue! Lo boleh goda suami gue! Tapi jangan pernah lo bawa-bawa bayi gue! Dia nggak tau apapun! Dia masih suci dari dosa! Dan wanita iblis kayak lo, nggak pantes buat ngomong hal jelek tentang bayi gue!"


Agnes menatap nyalang Thania. Ia tak merasa takut sedikitpun dengan wanita itu. "Gue nggak peduli! Lo sama bayi lo sama aja! Pembawa sial-- AKHH!"


"Ngomong gitu sekali lagi, gue nggak akan pikir dua kali buat motong lidah lo!" ancam Thania sesaat setelah menarik kencang rambut itu.


Agnes meronta, jambakan Thania benar-benar kuat. Dapat ia rasakan kulit kepalanya yang terasa panas akibat jambakan tersebut.

__ADS_1


"Lepas, sialan!"


Bukannya melepaskan, Thania malah semakin kencang menarik rambut Agnes. "Cewek kayak lo nggak pantes dibaik-baikin! Gue udah cukup sabar ngadepin kelakuan lo, *****!"


Thania menghempas tubuh Agnes hingga jatuh. "Lo udah tau Gevano punya Istri, tapi lo masih aja ngejar-ngejar dia! Urat malu lo, lo taruh dimana?! Dengkul?!"


"Atau lo emang nggak punya urat malu?! Segitu nggak lakunya sampai ngegoda suami orang hah?!"


Matanya menatap seluruh mahasiswa yang berada di kantin. Kemudian beralih menatap Agnes yang masih terduduk di lantai dan menyambung perkataannya.


"Waktu itu suami gue udah ngasih lo pelajaran. Tapi kayaknya lo belum jera hm? Gimana kalo sekarang gue permaluin lo di depan umum? Siapa tau nanti lo jera dan mutusin buat berhenti ngejar suami orang!"


Agnes bangkit. "Gue nggak takut sama anceman lo!"


Thania tertawa sarkas. "Lo emang bener-bener cewek nggak tau diri!"


Tanpa membuang banyak waktu, Thania menyiram Agnes dengan Es Coffe yang berada di meja kantin.


Perempuan itu membuka mulut terkejut akan tindakan Thania. Wajahnya basah kuyup akibat siraman Thania. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.


"Kalian nggak mau ikut-ikutan?" tanya Thania mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.


"Dia bisa aja loh ngegoda pacar, tunangan atau suami kalian juga. Gue sebagai cewek nggak pengen ada yang ngalamin hal kayak gini. So, gue tanya lagi. Kalian nggak mau ikutan bikin dia kapok?" sambungnya memanas manasi.


Sontak saja semua orang ikut melempari Agnes dengan sampah dan beberapa makanan serta minuman. Apalagi kaum perempuan yang jelas-jelas terlihat sangat membenci Agnes.


Thania tersenyum miring sambil bersedekap dada. Dia bukan wanita lemah yang hanya diam saja saat diinjak. Hidup bersama Gevano mengajarkan dia agar menjadi wanita kuat dan tak mudah ditindas.


Gevano menghampiri Thania dan menariknya menjauh agar tak terkena lemparan para mahasiswi.


Sementara disudut meja kantin, Vino, Rafael dan Gita menonton adegan pertunjukan tadi sambil memakan bakso dengan tenang.


"Thania jadi lebih galak ya semenjak hamil," Vino.


"Bawaan si bayi," sahut Gita.

__ADS_1


"Kayaknya bakal galak kayak bapaknya," timpal Rafael yang diangguki oleh sepasang kekasih itu.


Bersambung...


__ADS_2