Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

Thania duduk bersantai di depan tv. Dia menunggu kakaknya yang sedang membeli makanan sekaligus seblak untuknya.


Ting!


Ponselnya berdering tanda ada pesan yang masuk. Tanpa mengalihkan pandangannya dari tv Thania mengambil ponsel itu.


Setelah ada dalam genggaman tangannya. Thania meliriknya sedikit, ternyata pesan dari Gevano.


Tunggu?


Apa? Gevano?


Thania langsung menatap penuh ponselnya. Ternyata benar dari Gevano. Kenapa laki-laki ini tiba-tiba mengiriminya pesan setelah beberapa hari kemarin tidak pernah memberi kabar padanya lagi.


Thania membukanya lalu membaca isi pesan dari Gevano. Dahi Thania berkerut sama. Bibirnya bergumam kata, "min?"


Apa maksudnya itu? Dan apa-apaan dengan emoji seperti itu! Apa pemuda ini baru saja kerasukan jin alay? Lebay? Letoy? Atau apa?


"Balas apa nggak ya?" tanya Thania pada dirinya sendiri.


"Balas aja deh, takut dia marah kalo nggak dibalas."


Jemari lentik Thania mulai mengetik balasan.


Gevano


Min😘


^^^Anda^^^


^^^Min?^^^


Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Thania untuk mendapat balasan dari Gevano.


Gevano


Iya Min. Kamu tau bahasa Inggrisnya milikku kan? Ya itu Inggrisnya, Min☺️


"Hah? Ni cowok kenapa tiba-tiba jadi gini si? Bikin gue merinding aja," ucap Thania sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding.


Lalu kemudian Thania menggeleng pelan, dan mulai mengetik kembali.


^^^Anda^^^


^^^Maksud kamu Mine?^^^


Gevano


Ya itu maksudnya! Kan kalo dibaca Min, jadi sama aja kamu tetap milikku😗


"Geje banget."


^^^Anda^^^


^^^*Ya udah terserah kamu^^^


^^^Btw ngapain kamu cht*?^^^


Thania mengalihkan pandangannya ke layar televisi selagi menunggu balasan dari Gevano.


Ting!


Pesan kembali masuk, Thania segera membuka pesan balasan dari Gevano.


Gevano

__ADS_1


Oh ya hampir aja lupa. Jadi gini, aku mau kamu ke sini karna ada yang pengen aku tanyain. Dateng ya ke lokasi yang aku kirim, oke? Soalnya ini penting banget!😀


[share location]


Jangan lupa dateng ya sayang. Aku mencintaimu. Muaachh😘😘😘😘


Thania hampir tersedak ludahnya sendiri membaca isi pesan dari Gevano yang sedikit-- alay? Atau sangat alay menurutnya.


Astaga, sejak kapan pemuda itu menjadi alay bagaikan seorang bocil seperti ini? Oke, dia akui semasa mereka masih memiliki hubungan. Gevano memang kadang memakai emoji. Tapi bukan seperti ini juga!


Dan jika diamati lagi, ini seperti bukan ketikan tangan Gevano. Karena dia tau, Gevano itu lebih suka bicara langsung ke intinya dari pada berbasa-basi.


Tapi, ini ponsel milik Gevano. Dan ponsel laki-laki itu memiliki sandi. Tentu tidak mungkin orang lain bisa menggunakannya dengan seenak hati. Apalagi sampai mengiriminya pesan dan menyuruhnya datang ke lokasi itu.


Apakah mungkin Gevano sekarang sudah berubah semenjak putus darinya? Tapi jika benar, apakah harus pemuda itu berubah menjadi alay seperti ini?


Thania bergidik ngeri membayangkan bahwa Gevano, yang memiliki watak keras berubah menjadi laki-laki berhati Hello Kitty.


Thania kembali menatap ponselnya. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Apa dia harus membalas ucapan cinta dari Gevano? Atau tidak?


Thania melempar ponselnya di atas sofa yang ia duduki. Lalu menggelengkan kepalanya brutal. "No! Gue nggak akan malu-maluin diri gue sendiri dengan jawaban alay kayak gitu!"


Kemudian Thania kembali melirik ponselnya, tangannya bergerak mengambil benda pipi tersebut. Lalu mengetik balasan singkat untuk Gevano.


^^^Anda^^^


^^^Ok^^^


Setelah itu dia langsung mematikan datanya.


"Gue dateng ke sana atau nggak?"


"Kalo nggak dateng, Gevano marah nggak ya?"


"Terus kalo gue dateng, Bang Nathan gimana? Pasti dia marah banget kalo tau gue pergi buat nyamperin Gevan."


Lalu dia berhenti, dan menatap layar televisi di depannya. Kemudian melirik jam dinding.


"Udah lah mending gue dateng aja. Lagian ini belum kemaleman, masih jam delapan lewat."


Thania akhirnya mematikan televisi, lalu bergegas naik ke atas untuk berganti pakaian.


...***...


Aldo yang tadi sedang membuang hajat langsung terlonjak kaget mendengar suara tembakan sekaligus teriakan kencang Geisya.


Dengan segera dia memasang celananya terburu-buru, lalu berlari keluar kamar mandi dan memeluk tubuh Geisya.


"Tenang, Sya. Nggak perlu takut, ada gue di sini yang siap ngelindungi lo dari bahaya apapun. Sekalipun nyawa gue jadi taruhannya," ucap Aldo lembut sambil mendekap kepala gadis itu.


Sementara Geisya mengerjapkan matanya. "Bang Aldo ngomong apa'an si? Geisya nggak ngerti deh," tanya Geisya dengan bingung.


Aldo yang mendengar pertanyaan Geisya ikut bingung juga. Dia sedikit melonggarkan pelukannya. "Gue nenangin lo," jawab Aldo tak yakin.


Alis Geisya menyatu, "nenangin dari apa? Geisya kan nggak kenapa-napa."


"Lah, bukannya tadi lo teriakin nama gue waktu denger suara tembakan ya?" heran Aldo.


Geisya mengerjap, kemudian mengangguk. "Iya."


"Ya karna itu makanya gue nenangin lo biar nggak takut!"


Alis Geisya semakin menukik tajam. "Takut apa si? Orang Geisya panggil Bang Aldo karna mau nunjukin sesuatu."


"Hah?" Wajah Aldo semakin menunjukkan raut wajah kebingungan.

__ADS_1


"Tuh," Geisya menunjuk ponsel Gevano yang tergeletak di atas ranjang. Aldo mengikut arah tunjuk Geisya.


Geisya menarik tangannya kembali. Lalu berucap dengan mata yang masih menatap ponsel itu.


"Tadi kan Geisya main game tembak-tembakan. Terus waktu Geisya nembak ada bunyi DOR! Makanya Geisya kaget karna suara tembakannya terdengar kayak nyata, Bang!" jelas Geisya dengan wajah bahagia.


Tunggu dulu, jadi maksudnya adalah Geisya tidak tau kalau itu memang suara tembak sungguhan? Dan ini alasan kenapa dia teriak sekencang itu saat memanggil namanya? Sungguh, rasa-rasanya Aldo ingin melempar gadis itu dari menara Eiffel!


Bisa-bisanya gadis ini masih berkata tanpa rasa bersalah disaat situasi genting seperti sekarang! Jika dia bukan adiknya Gevano, sudah benar-benar Aldo dorong dari Menara Eiffel mungkin!


DOR!


DOR!


Tembakan terdengar lagi. Geisya sedikit tersentak kaget. Aldo spontan memeluk kembali gadis itu dengan erat. Sekesal-kesalnya Aldo pada gadis itu, ia masih memiliki tanggung jawab untuk menjaga Geisya.


"Bang, kok ada bunyi tembakan lagi? Padahal Geisya kan nggak lagi main game," tanya Geisya mendongak.


"Sstt, udah mending Geisya sekarang diem dulu oke?" ujar Aldo mengelus rambut pendek Geisya.


Geisya menurut, dia diam di pelukan Aldo. Pemuda tampan itu berjalan mendekat ke ranjang dengan Geisya di pelukannya. Lalu dia mengambil ponselnya di nakas dan juga headset. Kemudian memutar lagu dengan volume tinggi, lalu memasangnya ke telinga Geisya agar bisa sedikit meredam suara tembakan.


Geisya menatap bingung Aldo. "Bang, ini buat apa?"


Aldo tersenyum manis. "Pakai aja, lagunya enak-enak kok."


Geisya terdiam sambil menikmati musik yang disetel oleh Aldo. Senyumnya terbit.


"Suka?"


"Suka!" senang Geisya.


"Bang Aldo emang tau seleranya Geisya!" lanjut gadis itu membuat Aldo tertawa gemas.


"Siapa dulu dong..."


"Bang Aldo gitu loh!" balas Geisya melanjutkan ucapan Aldo.


Aldo semakin tertawa gemas dibuatnya. Setidaknya di situasi seperti ini dia bisa sedikit membuat Geisya teralihkan.


BRAK


Pintu di buka dengan kasar oleh seseorang. Aldo menoleh dan mendelik pada pemuda yang membuka kasar pintu tersebut.


"Lo nggak bisa lebih santai dikit apa, hah?!" tutur Aldo kesal.


"Maaf. Gue terlalu panik sama keadaan Geisya," balas orang itu.


"Lo ngapain di sini? Kenapa nggak bantu yang lain?" tanya Aldo.


"Gue disuruh ke sini sama Gevano buat bantuin lo jaga Geisya," jawab Galang.


"Dia aman kok sama gue."


"Gimana kalo kita bawa keluar Geisya keluar dari sini? Di sini nggak akan aman buat dia," saran Aldo.


"Gue tau. Tapi kita nggak boleh ngelakuin itu seenaknya sendiri tanpa perintah dari Gevano!"


"Lo bener. Terus gimana? Nggak mungkin kita terus-terusan ada di sini! Sementara yang lain berjuang keras di luar sana!"


Geisya tak mendengar percakapan antara dua orang itu akibat suara volume yang disetel oleh Aldo. Jadi dia tetap diam di dalam pelukan hangat Aldo.


"Nih senjata lo," Galang menyerahkan sebuah pistol ke tangan Aldo tanpa sepengetahuan Geisya.


Aldo mengangguk dan mengambil pistol itu dari tangan Galang. Lalu menyelipkan ke saku belakangnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2