Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Enam Puluh Delapan


__ADS_3

Gevano baru saja keluar dari kelasnya. Tujuannya tentu saja ke kelas Thania untuk menjemput wanita itu. Tapi sampai di sana ia tak mendapati istrinya. Matanya melirik jam tangannya.


Ternyata kelas Thania sudah selesai beberapa saat lalu. Gevano pun memutuskan pergi ke kantin kampus, mungkin saja Thania ada di sana.


Tetapi nyatanya tidak, Thania tidak ada di kantin. Lalu kemana istrinya itu pergi? Pikir Gevano.


"Dia kemana si? Nggak tau apa kalo suaminya nyariin," gerutu Gevano.


Gevano mendengus kasar, ia memilih untuk membeli minuman es dulu karena tenggorokannya terasa kering dan haus.


Setelah memberi minuman isotonik, Gevano duduk di kursi kantin. Tidak baik minum sambil berdiri, itu kata Thania. Jadi karena Gevano termasuk kategori suami penurut, ia selalu mengingat pesan yang disampaikan oleh sang Istri.


Sungguh suami yang berbakti.


Meneguk minuman itu dengan beberapa tegukan. Kemudian meletakkan botol minumnya di atas meja. Ia merogoh sakunya dan mengambil ponsel miliknya.


My Wife❤️


By, kamu dimana? Aku cari di kelas gak ada, di kantin juga gak ada.


Tak ada balasan, jadi ia putuskan menyepam nomor sang Istri. Bahkan ia sudah menelfonnya berkali-kali, tapi tetap tidak ada balasan apapun. Gevano membuang nafas kasar.


"Sialan! Kemana si Istri gue?! Di chat gak bales! Di telfon gak diangkat! Dari dulu gak pernah berubah, selalu bikin emosi terus! Suka banget kayaknya bikin gue uring-uringan gak karuan kayak gini!" gerutu Gevano.


Kekesalan Gevano tak sampai disitu saja. Ia semakin bertambah kesal kala seorang wanita duduk di sebelahnya.


"Hai, Gev. Lagi ngapain?" tanya wanita itu dengan nada sok ramah.


Gevano memutar bola matanya kesal. "Lo gak liat gue lagi ngapain ha? Katarak tu mata?" sarkas Gevano ketus.


Sungguh ia sudah kesal karena tak mendapati Istri cantiknya dimana-mana. Ditambah lagi dengan adanya wanita jadi-jadian ini, menambah kadar kekesalan dalam diri Gevano.


Agnes menampilkan senyum canggung. Gevano benar-benar menjatuhkan harga dirinya!


Karena tak ingin berlama-lama di dekat wanita itu. Gevano memilih pergi tanpa berucap apapun. Meninggalkan Agnes yang kian meradang dengan tingkah Gevano.


"Bangsat! Sialan tu cowok! Kalo aja dia gak tampan, gak kaya. Gue mana sudi deket-deket sama dia!" umpat Agnes dengan tangan terkepal.


Tapi kemudian ia mengerjap saat mendengar nada dering. Dia beralih menatap ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Ini ponsel siapa?" gumamnya dengan alis mengeryit.


Ia membaca nama yang tertera, Anggita. Siapa Anggita? Agnes tetap diam tanpa mengangkat telfon tersebut. Kemudian ponsel kembali berdering.


Agnes mengambilnya tapi bukan untuk dijawab. Melainkan ditolak. Setelah panggilan ia tolak, dapat dia lihat wallpaper seorang wanita yang tertawa lepas sambil memegang cup es krim.


"Kok kayak familiar?" tanya Agnes menatap layar itu terus menerus.


Hingga ingatan tentang seorang wanita yang bermesraan dengan Gevano berputar di ingatannya.


Kemudian senyum miring ia tunjukkan, "Jadi ini ponselnya Gevan ya?"


Ponsel itu terus berdering, tapi tak digubris oleh Agnes. Karena ia sedang memikirkan sesuatu. Hingga Agnes jengah sendiri dan mengangkat ponsel itu.

__ADS_1


Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya. Tanpa mengucapkan apapun ia hanya diam mendengar suara gadis di seberang sana yang berteriak cemas.


"Gevan! Cepatan ke Cafetaria depan kampus sekarang juga! Istri lo hampir pingsan di kamar mandi!"


"Woi, anjing! Lo denger nggak?!!"


"Gevan--"


Tut.


Agnes mematikan sambungan telefon. "Bukan urusan gue, biarin aja dia pingsan. Kalo perlu mati aja sekalian, biar peluang gue buat dapetin Gevan makin mudah," ujarnya dengan senyum licik.


Ia mengantongi ponsel Gevano, kemudian keluar dari kantin dengan senyum puas.


...***...


Gevano menggebrak meja yang ditempati Agnes. Agnes mendongak menatap marah orang yang berani menggebrak mejanya. Tapi langsung berubah lembut kala mendapati wajah tampan Gevano.


"Gevan, kamu ngapain ke sini? Kangen aku ya?" tanya Agnes memeluk bisep Gevano. Tapi dihempas kasar oleh pria itu.


"Balikin ponsel gue!"


Agnes mengeryit pura-pura tak paham "Maksud kamu apa?"


"Jangan nguji kesabaran gue!" kata Gevano dengan emosi tertahan.


Tapi Agnes masih menjalankan perannya tanpa rasa takut. "Aku beneran gak paham maksud kamu, Gevan."


Gevano menggertakan gigi. "Gak usah banyak ngeles lo! Mana ponsel gue!"


"Bacot lo, anjing!" Gevano mengambil tas Agnes dan menggeledahnya.


Agnes hanya diam membiarkan. Hingga Gevano membanting tasnya. Ia menarik bibirnya, "Jadi gimana? Ada atau enggak?"


Gevano berdecak, ponselnya tidak ada di dalam tas Agnes. Tapi dirinya yakin bahwa wanita ini yang mengambil ponselnya! Terakhir kali sebelum kehilangan ponselnya, ia bersama dengan Agnes.


Jadi kemungkinan besar memang Agnes lah yang mengambil ponselnya!


"Man--"


"Gevan! Gawat Gev gawat!"


Tiba-tiba Rafael datang dan berteriak keras sambil memanggil namanya. Membuat Gevano kesal sendiri. "Apa'an si lo! Dateng -dateng main teriak aja! Gak tau apa gue lagi ngurus masalah!"


"Haduh, ini gawat darurat Gevan!"


"Gak ada yang lebih gawat dari kehilangan pon--"


"Istri lo pingsan!" potong Rafael membuat ucapan Gevano terpotong.


Gevano langsung terdiam. Dengan tatapan horor dia menatap Rafael. "Dimana dia sekarang?!"


"Di rumah lo. Tadi si Vino bawa dia pulang, Istri lo--"

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Gevano lebih dulu berlari keluar.


"Oh ****! Kalo dia bukan temen gue udah gue bunuh tu orang!" umpat Rafael yang kesal karena Gevano tiba-tiba pergi.


Tapi dia mencoba memaklumi. Gevano pasti sangat cemas mendengar Istri satu-satunya itu pingsan. Rafael pun menyusul Gevano meninggalkan Agnes yang kini berdecak kesal.


"Lagi-lagi gue ditinggal! Sial!"


...***...


Gevano berlari ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa. Dia membuka kasar pintu kamarnya. Membuat wanita yang berada di dalamnya terkejut.


"Gevan, kamu nganggetin aja tau nggak. Dateng gak ngucap salam malah gebrak pintu," sahut Thania dengan kesal.


Gevano menghiraukan ucapan kesal Thania. Dia berjalan cepat menuju ranjang yang ditempati istrinya.


"By, kamu gak kenapa-napa kan? Tadi kata Rafa kamu pingsan," ucap Gevano cemas.


Thania menggeleng, "Aku gak papa, Gev. Tadi emang pingsan si, cuma sekarang udah enggak."


Gevano menghela nafas lega. "Syukur deh. Aku tadi sempet khawatir banget denger kabar kalo kamu pingsan."


"Ngomong-ngomong kenapa istri gue gak dibawa ke rumah sakit aja?" tanya Gevano melirik Gita yang duduk di kursi sofa.


"Tadi mau gue bawa ke rumah sakit. Cuma Thania keburu bangun dan dia nolak buat dibawa ke sana. Katanya pengen pulang aja, ya udah gue bawa pulang," jelas Gita.


Gevano menatap Thania lagi. "Kenapa gak mau dibawa ke rumah sakit? Kamu lagi sakit, harusnya nurut kalo mau dibawa ke sana."


"Aku pengen langsung pulang aja, udah lemes banget. Gak kuat kalo harus ke rumah sakit dulu. Apalagi jarak rumah sakit dari kampus kita jauh banget. Jadi lebih baik pulang aja," kata Thania mencoba mencari alasan.


"Ya udah sekarang mending kamu istirahat aja."


Thania mengangguk, dia merebahkan diri sambil menggenggam tangan Gevano. "Kamu jangan kemana-mana ya? Aku pengen kamu di samping aku terus."


"Iya, by." Gevano menjawab sambil mengelus lembut rambut Thania.


Thania menyamankan dirinya, kemudian menutup matanya dan menuju ke alam mimpi. Setelah memastikan Thania tidur, Gevano beralih menatap Gita.


"Lo bawa Thania sama Vino kan?" tanyanya yang diangguki oleh Gita.


"Terus Vino sekarang kemana? Gue liat di depan tadi gak ada, mobilnya juga gak ada."


"Dia keluar buat nyari makanan. Istri lo ngeluh laper tadi."


"Thania belum makan siang?"


"Udah, tapi cuma dikit. Soalnya dia mual-mual, jadi kayak gak nafsu makan gitu. Tapi tadi dia tiba-tiba aja pengen makan bubur ayam."


"Tau gitu Thania gak akan gue suruh tidur dulu."


"Udahlah, Gev. Thania mungkin letih, dia tidur pules banget. Btw, gue balik dulu ya. Si Vino udah di depan, tadi dia nyari bubur ayam gak nemu-nemu. Untungnya Thania tidur, jadi dia gue suruh balik buat jemput gue."


"Ya udah, makasih udah mau nganter Thania. Salam juga buat Vino."

__ADS_1


Gita mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan Gevano yang kini ikut merebahkan diri dan memeluk tubuh Thania dengan erat. Ia ikut menyelami mimpi bersama istrinya. Tidur siang sepertinya tidak buruk.


Bersambung...


__ADS_2