
Usia kandungan Thania sudah memasuki 7 bulan. Morning sicknees sudah berhenti sejak 3 bulan lalu. Bahkan masa ngidamnya sudah tidak ia rasakan lagi.
Meski begitu, tingkah manjanya kepada Gevano tak berkurang sedikitpun. Malah ia semakin lengket pada Gevano. Seperti saat ini, wanita itu tidak ingin ditinggal oleh suaminya yang ingin pergi ke kampus.
"Gevan, jangan ke kampus!" Thania memeluk erat pinggang Gevano. Kepalanya ia sandarkan ke perut berotot laki-laki itu.
Gevano menghela nafasnya. Ia mengelus sayang rambut istrinya. "By, cuma sebentar kok. Aku ada urusan," ujarnya lembut.
"Jadi kamu lebih pentingin urusan kamu dari pada aku?!"
Thania melepaskan pelukannya. Mendongak dan menatap bengis Gevano. Laki-laki itu gelagapan melihat istrinya marah. Ia lupa jika Thania lebih sensitif semenjak hamil.
"E- eh, enggak gitu, by..."
"Ya udah pergi aja sana! Sekalian gak usah pulang!" Thania membuang muka, matanya sudah berkaca-kaca sekarang. Ia hanya ingin memeluk Gevano, ia merindukan suaminya.
Walau nyatanya mereka selalu bersama setiap saat. Tapi Thania tetap rindu! Ia tidak ingin jauh-jauh dari Gevano. Benar-benar tidak ingin!
Dan Gevano sendiri sudah sangat panik melihat ekspresi ingin menangis istrinya. Ia langsung bertindak untuk memeluk tubuh istrinya.
"Jangan nangis ya, by. Aku nggak akan pergi kemana-mana." Gevano memberi kalimat penenang untuk Thania.
"Janji ya?" Thania menatap Gevano dengan sesenggukan kecil.
Gevano segera mengangguk. Dan Thania langsung memeluk tubuh Gevano erat dan mendusel manja di dada bidang itu.
"Awas aja kalo bohong. Aku nggak akan maafin kamu!" ancam Thania dengan suara kecil, tapi Gevano masih dapat mendengarnya dengan jelas.
Pria muda itu tersenyum dan simpul sambil mengelus rambut istrinya. Tak lupa juga ia menyematkan kecupan kupu-kupu di kepala Thania.
"Nggak bohong, sayang. Udah ya jangan nangis lagi. Sekarang kamu mau apa? Mau tidur aja hm?" tanya Gevano lembut.
Thania menggeleng. Kemudian melepas pelukannya dan menatap wajah Gevano. "Aku mau beli makanan aja. Sekalian belanja bulanan, kamu harus nemenin aku ya!"
Gevano tertawa gemas, ia membubuhkan kecupan singkat di masing-masing pipi Thania. "Anything for you."
Keduanya bersiap untuk pergi ke supermarket. Sesampainya di sana, Thania langsung menuju rak sayuran. Memilih beberapa sayuran segar lalu berlanjut ke rak daging.
"Gevan, kamu mau daging apa? Sapi atau ayam?" tanya Thania tanpa menatap suaminya.
"Terserah kamu deh, by. Kalo kamu mau dua-duanya ya ambil aja," jawab Gevano yang memegang troli belanjaan mereka.
Thania mengangguk-angguk, kemudian memasukan daging sapi dan juga ayam ke dalam troli. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju rak buah.
Thania dengan semangat mengambil satu persatu buah yang diinginkannya. Keranjang mereka sudah penuh. Hingga Gevano harus mengambil troli lagi dan lanjut membeli beberapa bahan dapur lainnya.
Setelah selesai berbelanja bulanan, Thania memutuskan untuk mampir membeli bunga mawar. Sudah beberapa bulan ini ia menggemari bunga cantik berwarna merah itu.
Sangking sukanya, ia sampai membeli banyak bunga mawar untuk dipajang di rumahnya. Gevano sendiri tak mempermasalahkan hal itu. Selagi tak membahayakan istrinya, ia akan menurutinya.
"Gevan, aku juga pengen mawar putih ini. Boleh ya?" tanya Thania menunjuk mawar putih yang terlihat indah dipandang.
__ADS_1
"Iya. Beli aja, by. Aku nggak akan larang," angguk Gevano memberi izin.
Thania mengembangkan senyumnya. Ia lalu memesan beberapa bunga mawar merah juga putih untuk diantar ke rumahnya nanti sore. Setelah memesan bunga itu, kedua sejoli itu memutuskan untuk pulang.
Karena Thania sudah mulai terlihat letih. Dan Gevano tak ingin Ibu dari anak-anaknya kelelahan.
"Ayo aku gendong." Saat sampai di halaman rumah, Gevano segera bersiap menggendong Thania.
Tapi wanita itu menolak dengan alasan. "Aku bisa sendiri, Gevan. Aku masih kuat kok. Mending kamu bawa belanjaan kita aja."
"Biar pelayan aja."
Sehabis mengatakan hal itu, Gevano langsung menggendong Thania tanpa ba-bi-bu. Thania awalnya terkejut, dan meronta meminta turun. Tapi bukan Gevano namanya jika tak bisa membuat wanita itu diam.
"Diem, by! Nanti kamu jatuh!" peringat Gevano saat istrinya meronta.
Thania sontak terdiam. Ia mengulum bibir kesal. "Tapi aku berat, Gevan. Nanti kamu cap--"
"Seberat apapun kamu, otot aku masih kuat buat ngangkat badan kamu. Jadi diem okay?" sela Gevano.
"Tapi--"
"Jangan buat aku marah." Gevano sedikit memandang tajam Thania.
Jika sudah begini, Thania bisa apa selain menurut? Wanita itu memilih untuk mengalah dan menyenderkan kepalanya di bahu Gevano. Kedua lengan rampingnya mengalung di leher sang suami.
Thania jadi mengingat malam pengantin mereka dulu. Saat itu Gevano menggendongnya persis seperti ini. Tanpa sadar ia tersenyum mengingat hal itu.
"Kamu mikirin apa?"
Pertanyaan Gevano menyadarkan Thania dari lamunan. Ia menatap Gevano lalu menggeleng.
"Nggak mikirin apa-apa kok," elaknya.
Gevano memberi tatapan curiga. "Kamu nggak lagi mikirin cowok lain kan?" tanyanya penuh selidik.
Thania membolakan matanya. "Ya enggak lah! Mana mungkin aku mikirin cowok lain sementara aku masih punya suami!" jawabnya kesal.
"Ya habisnya kamu sih senyum-senyum sendiri gitu. Aku tanya kamu nggak mau jujur. Ya wajar dong aku curiga!"
"Dasarnya kamu emang curigaan," cibir Thania.
"Biarin aja. Aku curiga juga buat jaga-jaga, takut kamu diambil cowok lain."
Ucapan Gevano mendapat putaran bola mata jengah dari Thania. Dasar suami posesif! Pikir Thania.
Wanita itu diam saat tiba-tiba Gevano menarik tubuhnya untuk di peluk. Kini posisi mereka berubah, Gevano bersandar di kepala ranjang, dan Thania berada di antara kakinya.
Laki-laki itu menyingkap sedikit kaos yang dipakai Thania. Hingga memperlihatkan perut buncit sang Istri. Tangan kekarnya bergerak mengelus lembut perut itu.
Thania bersandar nyaman di dada bidang Gevano sambil menikmati usapan laki-laki itu pada perutnya.
__ADS_1
"Gevan, kamu pengen anak cowok apa cewek?" tanya Thania memecah keheningan diantara mereka.
"Mau cowok atau cewek aku nggak masalah. Yang penting baby sama kamu sehat terus," balas Gevano mencium pucuk kepala Thania.
Hati Thania menghangat mendengar penuturan Gevano. Terlepas dari sifat posesifnya, Gevano adalah laki-laki yang pengertian dan selalu mengerti dirinya.
Sekali lagi Thania merasa beruntung memiliki Gevano sebagai suaminya. Padahal dulu sifat laki-laki itu sangat berbeda dengan sekarang. Walau tak menampik fakta bahwa sifat cemburunya masih sama.
"Udah siang, kamu harus makan," ujar Gevano menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.
"Aku pengen makan steak, tapi kamu yang masak ya?" pinta Thania.
Tanpa protes Gevano mengangguk, lalu bangkit diikuti Thania. Mereka berjalan menuju ruang makan dengan tangan Gevano yang merangkul mesra pinggang Thania.
"Tunggu di sini, aku masak dulu."
"Nggak mau aku bantu?" Thania bertanya yang mendapat gelengan dari Gevano. "Nggak usah, kamu duduk aja di sini. Aku bisa sendiri."
Gevano memang bisa memasak semenjak Thania hamil. Karena ia tidak ingin istrinya kenapa-napa dan merasa kelelahan serta kurang istirahat.
Gevano berinisiatif untuk belajar memasak. Dan akhirnya ia berhasil memasak, walau hanya beberapa menu saja. Tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Laki-laki tampan itu berkutat dengan alat dapur. Thania mengawasi sambil mengupas buah apel.
Tak.
Gevano meletakkan segelas susu di meja. "Aku buatin susu untuk kamu."
Thania memandang Gevano dengan senyum manis. "Makasih, Gevan."
Gevano mengangguk dan kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya. Sementara Thania meminum susu yang dibuat oleh suaminya dengan mata tertuju ke arah punggung tegap itu.
Tangannya bergerak mengelus perut buncitnya sambil beralih memandang ke bawah.
"Daddy kamu pengertian banget kan, nak? Pasti kamu bangga punya Daddy kayak dia," ucap Thania mengajak sang baby berbicara.
Dapat ia rasakan sebuah tendangan di perutnya. Thania sedikit terkejut, tapi kemudian tertawa kecil dan lanjut mengelus perutnya. Sepertinya sang baby setuju dengan ucapan sang Ibu.
Tak berselang lama Gevano datang sambil membawa dua piring untuknya dan sang Istri. "Steak spesial buat orang tersayang," ucap Gevano dengan senyumnya.
Thania berbinar senang. "Makasih, sayang!" Wanita itu bangkit untuk mencium pipi Gevano hingga berbunyi 'muah'.
Gevano tak dapat menahan senyum lebarnya. Jarang-jarang Thania memanggilnya sayang seperti ini. Matanya menatap teduh Thania yang melahap masakannya dengan antusias.
"Makan yang banyak ya, by. Biar baby makin sehat di dalam sana." Gevano berucap sambil membawa tangannya mengelus kepala Thania.
"Siap, Daddy!"
Tawa Gevano mengudara karena gemas dengan tingkah istrinya. Aduh, kalau begini jadinya Gevano jadi semakin cinta dengan Thania.
Bersambung...
__ADS_1