Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Tujuh Puluh Tujuh


__ADS_3

Gevano kembali ke rumahnya sesuai dengan saran dari Arga. Dia memang harus meluruskan ini dengan segera, juga mendengarkan penjelasan dari Thania. Tentunya Gevano akan meminta maaf terlebih dahulu karena telah membentak dan meninggalkan Thania begitu saja di rumah.


Sampai di sana, Gevano sedikit tersenyum. Dia sudah menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf kepada Thania. Namun senyumnya tak bertahan lama kala melihat atensi seorang pria yang tengah berbincang dengan Thania di luar rumah mereka.


Pria itu adalah Alex. Pria yang menjadi alasan kemarahan Gevano. Tangannya mengepal kuat. Kemarahan yang tadi sudah padam, sekarang kembali bangkit. Gevano menghampiri kedua manusia itu. Dirinya membalikkan Alex dan memberi tendangan di perut.


"MASIH BERANI LO KE SINI?!"


Alex memegang perutnya yang ditendang oleh Gevano.


"Ngapain lo ke rumah gue malam-malam begini, hah?!!"


Alex meringis sakit, tapi tetap menjawab ucapan Gevano. "Gue ke sini cuma--"


"Cuma apa?! Cuma mau ketemu Istri gue?! Lo mau ngerebut Istri orang?!" tuduh Gevano.


"Gue sama sekali nggak ada niatan ngerebut Thania dari lo! Meski gue sempet tertarik ke dia." Alex melirik sedikit ke arah Thania.


"Bangsat!" Mendengar ucapan seperti itu membuat hatinya terasa panas. Saat hendak menghajar lagi, Thania mengehentikan aksi Gevano.


"Gevan, udah! Kamu apa-apaan si?!"


Gevano menatap tajam Thania, ia menghempas tangan yang melingkupi kepalannya. "Lo diem!!! Lo juga salah ya di sini!!"


"Bukannya merenungi kesalahan. Lo malah asik berduaan sama cowok lain! Di depan rumah gue lagi! Nggak punya malu lo?!"


Gevano mengalihkan diri memandang Alex. "Jangan-jangan dia selingkuhan lo lagi?"


Thania membulatkan matanya. "Nggak!! Kamu jangan nuduh-nuduh aku sembarangan ya! Aku sama Alex nggak punya hubungan apapun!"


Gevano tertawa sinis. "Nggak punya? Terus ngapain dia ke sini malam-malam kalo bukan mau ketemu sama selingkuhannya?!" Matanya berkilat tajam.


"Kamu nuduh aku selingkuhan Alex, gitu?!"


"Emang iya, kan?"


Plak!


"Bisa-bisanya kamu nuduh aku selingkuh! Aku sama sekali nggak pernah selingkuh dari kamu, Gev! Kenapa kamu nggak pernah dengerin penjelasan aku dulu, sih?!" Thania ikut tersulut, kekesalannya melonjak.


Alex yang sejak tadi diam, mulai angkat bicara. "Mending dengerin dulu penjelasan kita. Kasian Istri lo lagi hamil."


"Nggak perlu sok khawatir deh lo! Dia Istri gue!" ketus Gevano sinis.


"Gue ke sini cuma mau nganter tas Thania yang ketinggalan di resto! Cuma itu doang!"


"Alasan!!"


Alex memutar bola matanya kesal. Saat akan membalas ucapan ketus Gevano. Suara rintihan mengurungkan niatnya. Ia melihat Thania yang meringis sambil memegang perut besarnya.


Gevano ikut menoleh, ia bergerak cepat menompang badan Thania.


"Sa- sakit. Pe- perut aku sa- sakit, Gevan!" rintih Thania dengan suara tertahan untuk bicara.


Gevano melirik ke bawah, terlihat sebuah cairan mengalir melewati kaki Thania. Air ketuban Thania pecah. Istrinya akan melahirkan!


Tanpa membuang waktu lagi, ia membopong tubuh Thania menuju mobil yang terparkir di garasi. Alex mengikuti dari belakang. Ia membukakan pintu mobil untuk Gevano.


"Biar gue yang nyetir. Lo temani Thania di jok belakang," ujar Alex kepada Gevano.

__ADS_1


Gevano yang panik tak ambil pusing dengan ujaran Alex. Yang terpenting adalah istrinya! Mobil mewah itu keluar dari halaman rumah Gevano. Alex melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Di belakangnya, Gevano menenangkan Thania yang menangis lirih dengan suara lembut.


"Sakit, Van," lirihnya menggenggam tangan Gevano kuat.


Gevano mengusap peluh di dahi Thania. Dia berbisik lembut. "Sabar ya. Bentar lagi kita sampai ke rumah sakit."


"Bisa lebih cepet nggak si?!!" kesal Gevano kepada Alex.


Alex menatap tajam ke arah spion atas. "Ini udah cepet, tolol!" Ia membalas kesal juga.


Gevano berdecak. "Tambahin kecepatannya!"


Alex mendengus, tapi tetap menurut untuk menambah kecepatan. Tak berselang lama mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Gevano membawa Thania ke dalam. Sedangkan Alex memarkirkan mobil sebelum turut menyusul ke dalam.


...***...


Gevano berjalan ke sana kemari dengan raut cemas. Sesekali berhenti dan memandang pintu yang tertutup. Alex yang duduk di kursi tunggu menatap jengah Gevano.


"Mending lo duduk, dari pada mondar mandir nggak jelas," ujarnya tanpa menatap Gevano. Ia sibuk mengobati luka wajahnya dibantu oleh Friska.


Tadi gadis itu menyusul ketika tau bahwa Alex berada di rumah sakit. Gevano juga sudah mengetahui kejelasan dari gadis bernama Friska itu.


"Gimana gue bisa duduk tenang kalo istri gue lagi mempertaruhkan nyawa di dalam sana!"


Alex menghela nafas berat, ia menyenderkan diri ke belakang. Melirik Friska yang tengah membereskan kotak obat. Lalu kembali memandang Gevano yang masih berdiri gelisah. Tak ada gunanya menyuruh pria keras kepala itu. Lebih baik dia diam saja.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Keluar seorang perawat wanita yang menangani persalinan Thania.


"Permisi, apakah suami pasien ada di sini?" tanyanya.


Gevano dengan gercap mengangkat tangannya. Perawat wanita itu mengangguk dan mempersilahkan Gevano untuk masuk ke dalam. Sedangkan Alex dan Friska menunggu di luar.


Di dalam sana Gevano menemani Thania yang terus merintih sambil menjambak rambutnya. Tadi saat sampai di samping Thania, rambut Gevano langsung menjadi sasaran tangan wanita itu.


Rasanya sakit, tapi tak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh Thania. Untung saja jambakan itu tak bertahan lama. Kini tangannya lah yang diremas kuat oleh Thania.


"Sakit, Van!" ujar Thania merintih sambil mengatur nafasnya.


Peluhnya menetes, wajahnya terlihat begitu kesakitan dan Gevano tak tega melihat Thania seperti itu.


"Aku yakin kamu pasti kuat. Demi anak kita," bisik Gevano mengecup kening berpeluh itu.


"Maaf aku nggak bisa ngerasain sakit yang kamu rasa," lanjutnya setelah selesai mengecup dahi Thania.


Thania mendengar ucapan Gevano. Namun ia tak bisa membalasnya. Ia kembali mengejan dengan kuat lalu berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Terus seperti itu hingga akhirnya yang ditunggu tiba.


"OEK...OEK..."


Bayi dengan tangisan nyaring itu akhirnya lahir ke dunia. Gevano memandang tubuh mungil bayinya di gendongan sang Dokter. Putra pertamanya dengan Thania. Lengkungan kurva kebahagiaan terbit di wajah Gevano.


"Bayinya laki-laki dan sehat," ucap sang Dokter wanita seraya tersenyum.


Pria yang resmi menjadi seorang ayah itu mengucapkan kalimat syukur tanpa henti dalam hatinya. Air matanya bahkan keluar sedikit karena terlalu bahagia. Ia mengecup punggung tangan Thania dalam genggamannya.


Kemudian merunduk untuk mencium Thania. Bibirnya berbisik lirih tanpa menjauhkan wajahnya.


"Makasih."

__ADS_1


Thania membalasnya dengan senyum tipis di bibir pucatnya. Tenaganya sudah terkuras habis hanya untuk membalas perkataan Gevano.


...***...


Setelah beberapa jam berlalu, Thania kini sudah dipindahkan ke ruang rawat. Di sini ada orang tua beserta adik Gevano. Mereka diberi kabar oleh pria itu bahwa Thania sudah melahirkan.


Kiara yang tengah membuat Kue kering untuk menantunya segera meninggalkan dapur. Sementara Kue kering buatannya dilanjutkan oleh asisten rumah tangganya. Wanita paruh baya menelfon suaminya saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Rey ikut menyusul ke rumah sakit. Meetingnya ia tinggalkan begitu saja, untungnya saja sekretarisnya bisa menghandle semuanya. Jadi semuanya masih aman dan terkendali.


Sedangkan Geisya sendiri, ia datang bersama Gibran. Namun pria itu sudah pulang beberapa saat lalu karena ada urusan mendadak.


"Kamu udah kasih nama belum?" tanya Rey yang membuat ketiga perempuan di sana mengalihkan pandang ke arah Gevano.


"Udah," balas Gevano dengan anggukan kepalanya.


"Siapa?" Kali ini Kiara yang bertanya.


Gevano dengan senyum tipisnya mulai membalas pertanyaan Kiara. "Gavinzo Athala Zibrano."


"Gavinzo?" beo Thania.


Gevano memandang Thania. "Iya, Gavinzo. Nanti anak kita bisa dipanggil Gavin. Kamu suka?"


Thania menggangguk pelan dengan senyuman di bibir pucatnya. "Suka."


"Papa juga suka namanya," ujar Rey.


Pria itu menatap cucunya dalam gendongan Kiara. "Tumbuh yang sehat ya cucu kakek~" Ia mencium pipi putih kemerahan bayi itu.


"Geisya juga mau cium!" seru gadis itu dengan nada riangnya.


Dia sudah merasa gemas dengan adik bayi yang berada di gendongan Mama nya sejak tadi. Dalam pandangannya, bayi itu terlihat lucu dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. Begitu melihat sang Papa mencium adik bayi, Geisya langsung ingin. Dia juga mau mencium pipi gembul itu.


Kiara dan Rey terkekeh melihat wajah penuh keinginan milik Geisya. " Ya udah sini, cium aja adik bayinya. Tapi jangan keras-keras ya," kata Kiara dengan lembut.


Geisya mengangguk antusias, dia berpindah tempat duduk di samping Mama nya. Mencium pipi gembul itu dengan lembut dan hati-hati. Binar matanya terlihat antusias.


"Kenyal banget! Geisya pingin gigit~" ujarnya setelah berhasil mencium pipi ponakan kecilnya itu.


"Heh! Gigit-gigit, lo pikir anak gue makanan apa?!" nyalak Gevano dengan kesal.


Geisya tak peduli dengan kekesalan Gevano. Dia malah menjulurkan lidahnya mengejek. Gevano yang kesal ingin membalas, tapi Thania menatap tajam pria itu.


"Jangan mulai deh, Van."


"Tapi dia ngejek aku, by~ Kamu liat sendiri kan tadi, dia julurin lidahnya. Kayak gini." Gevano menirukan hal yang dilakukan oleh Geisya tadi.


Tentu mengundang tawa gadis itu. "Muka Abang jelek banget. Hahaha."


"Diem lo, bocil!"


Thania menghela nafasnya dengan lelah. "Kamu juga mending diem. Berisik tau nggak."


Geisya tertawa kecil melihat muka tak terima Gevano. Ketika ingin memprotes, kakaknya itu langsung ciut saat ditatap tajam oleh Thania. Lucu sekali melihat kakaknya takut oleh istrinya sendiri.


Kedua orang tua Gevano hanya menggelengkan kepalanya. Gevano dan Geisya tidak akan pernah bisa akur. Mereka selalu berdebat, Gevano tak ingin mengalah begitupun Geisya. Namun sekarang, mau tak mau Gevano harus rela mengalah dari gadis itu.


Tentunya karena ancaman mata dari Thania. Jika bukan, mungkin perdebatan ini akan terus berlanjut hingga nanti.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2